
"Perutku mual sekali!" Cleon memegang perutnya yang terasa diaduk aduk. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya di wastafel.
Setelah keluar dari kamar mandi, matanya menelusuri ruangan kamar apartemennya yang sudah rapi. Seingat Cleon, semalam ia memecahkan foto-foto Alula dan vas bunga yang ada di meja. Botol wine yang ia beli pun sudah tidak ada. Mata Cleon terfokus kepada Chelsea yang sedang tertidur di atas sofa. Sedang apa Chelsea di sini, begitu fikirnya. Dengan tertatih, Cleon mencoba untuk menggapai sofa yang tengah di tiduri oleh Chelsea.
"Chel, bangun!" Cleon menepuk pelan lengan Chelsea.
"Kau sudah bangun?" Chelsea mengucek matanya.
"Mengapa kau ada di sini?" Tanya Cleon.
"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu, jadi aku datang kemari."
"Kalau begitu, aku pulang dulu Cleon. Aku harus segera ke butik," Chelsea segera berdiri dan mengambil tas miliknya.
"Akan ku antarkan kau pulang," tutur Cleon menghentikan langkah Chelsea yang akan segera keluar dari dalam apartemen.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," Chelsea tersenyum simpul. Senyumnya seakan dibuat-buat.
Cleon merasa ada yang aneh dengan perubahan sifat Chelsea. Chelsea seperti menghindari dirinya.
"Chels?" Cleon menangkap lengan Chelsea yang akan segera keluar dari kamar apartemennya.
"Apa yang ku lakukan padamu saat semalam?" Cleon bertanya dengan gusar. Ia khawatir melakukan hal yang tidak-tidak pada Chelsea.
"Tidak ada. Kau tidak melakukan apapun padaku. Aku pulang!" Chelsea melepaskan pegangan tangan Cleon dari lengannya dan segera berlalu meninggalkan Cleon seorang diri.
Cleon terduduk kembali di ranjangnya. Ia mengingat kejadian semalam. Yang ia ingat adalah Cleon menyuruh Alula datang ke apartemennya, lalu ia mengingat sekelebat dirinya tengah mencium Alula.
"Apakah semalam yang kucium adalah Chelsea?" Cleon membulatkan matanya dengan sempurna.
****
Alula dan Kaivan sudah pulang berbulan madu dari negara Switzerland. Setelah bulan madu, hubungan keduanya semakin dekat. Kaivan selalu meluangkan waktunya dengan Alula. Ia bahkan selalu pulang tepat ke rumah agar segera bertemu dengan istrinya.
Pagi ini Alula tengah memasak di dapur. Ia sedang membuatkan sarapan untuk suaminya. Walaupun ada bibi May, tetapi Alula selalu ingin memasak sendiri agar ia bisa mengurus Kai dengan baik.
Alula tengah memasak Suddervlees. Suddervlees adalah makanan musim dingin yang berasal dari Amsterdam. Makanan itu terbuat dari daging sapi yang di rebus dan diberi saus khusus. Akhir-akhir ini Alula memang sengaja mencari resep masakan di internet, agar ia bisa memasak makanan yang tidak membosankan untuk Kai. Saat Alula tengah mengiris kentang, tiba-tiba sepasang lengan melingkar di pinggang Alula yang ramping.
"Kai?" Alula sudah menyangka bahwa suaminya yang sedang mengganggu masak paginya.
Kai tidak menjawab, ia sedang menciumi rambut Alula yang begitu candu baginya. Perlahan wajahnya bergerak ke arah leher Alula.
"Kai hentikan! Bukankah kau harus mandi?" Alula membalikan badannya ke arah Kai. Tampak pemuda itu masih menggunakan piyama dan juga sandal tidurnya.
"Ayo cepat mandi!" Alula mencubit pipi Kai.
"Mandikan aku!" Kai mencium pipi Alula dengan lembut.
"Kau bukan bayi. Mandilah sendiri! Setelah kau mandi, ayo kita sarapan! Aku sudah membuatkanmu makanan yang enak."
"Sebelum aku mandi. aku ingin bertanya. Apakah kau sudah memakai cincin pernikahan kita?"
"Baiklah kalau begitu. Aku mandi dulu!" Kai tersenyum senang, kemudian ia mengelus pipi Alula dan meninggalkan dapur untuk segera naik ke atas tangga. Tanpa mereka sadari, bibi May sedari tadi tengah memperhatikan mereka sembari mencuci piring di wastafel dapur.
"Tuan Kai sepertinya sangat mencintai Nona," bibi May tersenyum senang.
Setelah Alula memakaikan Kai dasi, mereka segera sarapan bersama di meja makan.
"Kai, siang ini aku ada wawancara kerja dan juga micro teaching dari universitas swasta yang ada di dekat sini," Alula menatap Kai yang tengah mengiris daging di piringnya.
"Aku turut senang untukmu. Tapi, apa itu micro teaching?" Tanya Kai dengan nada yang bingung.
"Simplenya micro teaching itu praktek mengajar. Jadi, hari ini setelah wawancara, dosen yang aku asisteni akan mengetes kemampuanku dalam mengajar. Begitu," papar Alula.
"Kalau begitu semangat ya. Kau pasti bisa. Aku akan datang ke universitas itu agar aku bisa menyemangatimu secara langsung," Kai tersenyum dengan tulus. Alula menghangat mendengar kata-kata dari suaminya.
"Benarkah kau akan datang?" Tanya Alula ragu. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, saat Kai berbicara jika ia akan datang saat mirco teaching nanti.
"Iya. Aku akan meluangkan waktuku untukmu," Kai mengusap tangan Alula lembut.
"Baiklah, terimakasih. Tapi, aku penasaran Kai. Mengapa universitas itu memanggilku untuk wawancara. Padahal saat hari aku bertemu denganmu, saat kita akan membuat passpor, aku sudah ditolak langsung oleh universitas itu. Alasannya sih katanya lowongan asisten dosen itu sudah terisi," ujar Alula yang mulai memakan Suddervlees miliknya.
"Mungkin karena mereka melihat kemampuanmu di cv yang kau kirimkan. Sudahlah, jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Yang penting kau harus mempersiapkan untuk hari ini."
"Baiklah, Kai."
Kaivan sudah selesai dengan sarapannya, kemudian ia mendekat ke arah kursi Alula.
"Aku pergi kerja dulu. Kau hati-hati di rumah dan semangat untuk nanti siang," Kai mengusap lembut rambut Alula.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Hanya itu saja?" Kai tampak kecewa.
"Maksudnya?"
"Kau tidak ingin mencium suamimu saat akan berangkat bekerja?" Tukas Kai dengan nada yang manja.
"Aku tidak mau."
"Kalau begitu, aku tidak akan berangkat," Kai hendak duduk kembali di kursinya.
"Baiklah," Alula menyerah. Kemudian ia berdiri dari duduknya dan mencium pipi Kai.
"Di sini tidak?" Kai menunjuk bibirnya.
"Tidak," Alula memelototkan matanya dengan gemas.
"Baiklah, aku pergi," Kai tertawa melihat raut wajah istrinya. Kemudian ia segera berlalu dari rumah menuju kantor miliknya.
Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 jika kalian suka novel ini. Terimakasih š¤