Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Mengetes


Alula sedang berdiri di depan wastafel yang ada di dalam kamar mandi. Alula memuntahkan semua sarapan yang sudah ia makan. Alula tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Dugaannya adalah asam lambungnya sedang kumat. Sementara Kai memijit tengkuknya dari belakang.


"Sayang, akan ku panggilkan Dokter Thomas untuk memeriksa tubuhmu!" Kai mengelus elus punggung istrinya.


Alula membalikan tubuhnya.


"Tidak usah. Sepertinya asam lambungku naik lagi. Nanti siang juga baikan."


"Wajahmu pucat sekali sayang," Kai mengusap wajah Alula.


"Sebentar lagi aku baikan. Kau jangan khawatir!" Alula mengambil lengan suaminya.


"Kalau begitu, kau tidak usah bekerja hari ini! Istirahatlah di rumah!" Kai melarang Alula untuk pergi ke kampus.


"Tidak bisa, Kai. Hari ini adalah ujian akhir semester sebelum memasuki libur musim panas. Lagi pula aku hanya mengawas saja hari ini," Alula menolak perintah suaminya, karena ia mempunyai tanggung jawab di kampus.


"Kau yakin kuat?" Kai tampak ragu.


"Iya. Kau jangan khawatir!" Alula berusaha meyakinkan.


"Baiklah. Aku akan mengantarkanmu sebelum pergi ke kantor," raut wajah Kai masih belum yakin. Alula hanya mengangguk dan segera bersiap untuk pergi ke kampus tempatnya mengajar.


"Kai, Daddy ingin bicara dengamu!" William menghentikan langkah kaki anakny yang akan segera keluar dari dalam rumah.


"Nanti saja, Dadd. Kai harus mengantar Alula ke kampus. Dia sedang sakit," Kai menolak.


"Menantuku sakit?" Sofia tampak panik.


"Kau kenapa sayang?" Sofia menyentuh wajah Alula.


"Alula baik-baik saja, Mom. Sepertinya asam lambung Alula naik lagi," Alula mencoba membuat Sofia tidak khawatir.


"Dan kau akan mengajar hari ini?" Sofia tampak cemas melihat wajah Alula yang pucat.


"Iya, Mom. Alula tidak mau bolos."


"Sayang, kau tidak melarang istrimu pergi bekerja?" Sofia tampak kesal kepada Kai.


"Tentu saja. Tapi putri mommy ini membangkang terus," Kai berseloroh kesal.


"Sayang, kau jangan berlebihan ! Pasti tubuhku segera membaik," Alula mencoba tersenyum.


"Sepertinya istri dan anakku sangat menyayangi Alula," batin William.


"Kai? Daddy ingin bicara denganmu sekarang. Biar Leo saja yang mengantar Alula," bujuk William.


"Tapi Dadd-"


"Sayang biar Leo yang mengantarku ke kampus," potong Alula.


"Aku yang akan mengantarmu," Kai bersikeras.


"Kai ini penting," William menimpali.


"Baiklah. Sayang tidak apa-apa kan jika Leo yang mengantar?" Kai memegang pipi Alula dengan lengannya.


"Tidak apa-apa," Alula tersenyum.


"Baiklah. Ayo ku antarkan kau ke mobil!" Kai segera mengangkat tubuh Alula.


"Kai, apa yang kau lakukan?" Alula tampak malu pada Sofia dan William.


"Aku takut kau pingsan. Diamlah!" Kai memangku Alula ke luar rumah dan memasukannya ke dalam mobil.


"Anak kita sudah banyak berubah ya honey? Kapan coba dia sepeduli itu kepada orang lain?" Sofia tersenyum kepada William. William hanya memperhatikan Kai yang tengah membopong Alula keluar.


"Jadi, apa yang akan Daddy bicarakan?" Tanya Kai saat ia sudah berada di ruangan kerja ayahnya.


Tanpa berkata-kata, William segera melempar sebuah map di hadapan Kai.


"Apa ini Dadd?" Kai tampak kebingungan.


"Tanda tangani itu!" Perintah William dingin.


Kai membuka map itu. Matanya terbelalak dengan sempurna saat membaca secarcik kertas yang ada di dalam map.


"Apa maksudnya ini?" Kai berteriak kepada William. Sofia yang mendengar Kai berteriak segera masuk ke ruangan kerja suaminya.


"Itu surat gugatan cerai darimu untuk Alula. Ceraikan dia !" Titah William dengan enteng.


"Dad, kau gila?" Emosi Kai memuncak saat ia tahu itu adalah sebuah surat gugatan cerai.


"Apa yang salah?" Tantang William.


Kai segera melemparkan map berisi surat gugatan perceraian itu ke lantai. Nafasnya terlihat naik turun menahan emosi.


"Honey, ada apa?" Tanya Sofia saat melihat Kai memandang ayahnya dengan tatapan penuh amarah.


"Aku menyuruhnya untuk menceraikan istrinya," jawab William sembari terus menatap putranya.


"Ada apa denganmu? Aku tidak setuju! Aku sudah menyayangi Alula seperti anakku," bela Sofia.


"Lihatlah Dadd ! Bahkan mommy tidak setuju aku menceraikan istriku," geram Kai.


"Kau tidak ingin kembali lagi dengan Arabella?" William memastikan.


"Aku sudah tidak mempunyai rasa apa pun kepada Bella. Mengapa Daddy masih menyuruh dan memaksaku untuk kembali padanya?" Hardik Kai.


"Istrimu tidak seperti Bella. Bella seorang anak pengusaha sukses."


"Aku tidak peduli Alula anak siapa dan apa pekerjaan kedua orang tuanya. Bahkan jika Alula adalah seorang anak dari orang termiskin yang ada di negara ini, Aku akan tetap mencintainya," mata Kai memerah.


"Lagi pula bukankah kedua orang tuanya seorang pendidik yang baik?" Lanjut Kai dengan amarah yang meluap-luap di dadanya.


"Tidak usah banyak bicara ! Daddy hanya ingin kau tanda tangani surat gugatan perceraian itu!" Perintah William sekali lagi.


"Hentikan ! Kau menyakiti putraku!" Sofia berteriak kepada William sembari menangis.


"Jika kau tidak mau menceraikan gadis itu, Daddy akan merusak keluarganya. Kau pun sungguh tahu, Daddy bisa membuat kedua orang tuanya kehilangan pekerjaan. Kita donatur terbesar di universitas tempat mereka bekerja. Daddy bisa saja meminta universitas untuk memecat mereka," ancam William.


Kai tampak menelan ludahnya. Matanya sudah benar-benar memerah. Ia sungguh tidak menyangka ayahnya mempunyai pikiran sejahat itu. Kai masih berdiri dari tempatnya berpijak. Tubuhnya seakan dijatuhi oleh berton-ton batu sekaligus.


"Sayang, sudah ! Ayo kita keluar dari sini! Daddymu sedang tidak bisa berfikir jernih," Sofia menarik lengan Kai untuk keluar.


"Tidak, Mom," Kai menghempaskan tangan ibunya.


Kai berjalan mendekat ke arah William. Ia menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di kaki ayahnya.


"Dadd, aku mohon jangan lakukan itu ! Jangan hancurkan keluarga istriku ! Aku mencintainya, Alula adalah hidupku," Kai berkata sembari bersimpuh di depan kaki ayahnya.


Sofia hanya menangis melihat anaknya sampai bersimpuh seperti itu di kaki William.


"Daddy bisa mengambil perusahaanku dan bisa mengambil semua aset milikku, tapi aku mohon biarkan aku hidup bahagia dengan istriku. Aku benar-benar mencintainya," suara Kai terdengar parau. Sudut matanya pun tampak basah. Kai membayangkan dirinya harus bercerai dengan wanita yang sangat ia cintai. Kai membayangkan hidupnya yang sudah bahagia seketika hancur karena permintaan dari William.


William menatap Kai yang masih bersimpuh di kakinya. Tanpa berkata-kata, William segera mengambil tas kerjanya dan berjalan melewati Kai, lalu ia keluar dari ruangan itu untuk pergi ke kantor.


"Anak yang selama ini aku kenal sangat angkuh sampai seperti itu karena wanita yang bernama Alula. Daddy tadi hanya mengetesmu saja. Ternyata kau benar-benar mencintai istrimu. Daddy tidak sejahat itu, daddy juga memiliki istri yang daddy cintai. Daddy pun tak akan meninggalkan ibumu jika kakekmu menyuruhku untuk menceraikannya. Daddy akan bicara pada Arabella dan menyuruhnya untuk hidup dengan bebas tanpamu," William tersenyum penuh arti.