Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Penawaran Alula


Hari ini Kai pulang ke rumahnya dengan keadaan hati yang sedikit resah. Apa lagi jika bukan tentang sekretaris pribadinya.


"Aku harus memberi tahu Alula. Bagaimana pun dia harus tahu," Kai berjalan ke arah kamarnya.


"Sayang, sudah pulang?" Sapa Alula saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar.


"Maaf, aku tidak menyambutmu di depan. Kakiku agak sedikit sakit!" Alula meluruskan kakinya.


"Benarkah, sayang? Mana yang sakit?" Kai memeriksa kaki istrinya dengan seksama.


"Sayang, mengapa kakimu ada lebam seperti ini?" Kai memperhatikan bulatan lebam kecil di kaki Alula.


"Aku tidak tahu. Mungkin hanya pegal saja."


"Tadi kau melakukan apa saja di rumah?" Tanya Kai penuh selidik.


"Emm.."


"Jangan bilang kau tadi memasak!" Kai menyipitkan kedua matanya.


"Iya," Alula tersenyum semanis mungkin.


"Sudah ku bilang, jangan melakukan apa pun! Kau mau bayi kita kenapa-kenapa?" Raut wajah Kai mendadak serius.


"Tapi aku bosan, Kai. Oh iya, nanti apa aku bisa kembali bekerja?" Tanya Alula kembali kepada suaminya.


"Tidak. Nanti kandunganmu semakin membesar. Lebih baik kau diam saja di rumah! Aku bisa mencukupi semua kebutuhanmu."


"Kai, aku bekerja bukan hanya karena uang. Masa iya, aku harus resign dari pekerjaanku," Alula merengek kepada suaminya.


"Sayang, bukan seperti itu. Aku hanya tidak mau kau melakukan aktivitas yang berat," Kai mencoba berbicara sehalus mungkin.


"Iya. Tapi aku bosan Kai," Alula memperlihatkan raut wajahnya yang sedih.


"Keputusanku sudah final, sayang. aku ingin kau berhenti bekerja," Kai memberikan keputusannya.


"Kai, kau jahat!" Alula segera membaringkan dirinya di kasur dan menyelimuti tubuhnya hingga kepala. Kai yang melihat hanya menghembuskan nafasnya pelan.


"Sayang, aku ganti baju dulu!" Kai masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya dari segala kepenatan sehabis bekerja.


Setelah memakai piyamanya, Kai segera membaringkan tubuhnya di samping Alula.


"Sayang?" Kai mencoba membuka selimut yang menutupi wajah istrinya.


Alula tidak menjawab panggilan dari suaminya.


"Sayang, aku ingin berbicara padamu!" Kai memberanikan diri untuk berbicara perihal masalah Andrea atau sekretaris pribadinya. Dia memang harus memberi tahukan hal itu kepada istrinya agar tidak ada lagi salah paham.


Alula masih tak menyahuti perkataan suaminya.


"Sayang? Aku ingin berbicara mengenai sekretaris pribadiku di kantor," Kai mulai mengumpulkan keberanian untuk memberi tahukan posisinya di kantor.


Alula langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya dan seketika menghadapkan tubuhnya ke arah Kai.


"Ada apa?" Alula bertanya dengan penuh rasa penasaran. Ia sudah berfikiran buruk mengenai suaminya.


"Apa kau mengatakan jika kau sudah berselingkuh dengan sekretaris pribadimu?" Alula bertanya dengan raut wajah yang cemas.


"Sayang, mengapa kau berfikir ke arah sana?"


"Lalu, kau ingin mengatakan apa perihal sekretaris pribadimu? Beri tahu aku sekarang!" Ucap Alula dengan wajahnya yang tak ramah.


"Sayang, jika kau seperti ini aku jadi takut untuk mengatakannya," Kai menatap wajah istrinya dengan gusar.


"Nah, apa ku bilang? Berarti kau berselingkuh dengan sekretaris pribadimu yang bernama Rachel itu?" Alula melayangkan kembali tuduhannya.


"Sayang, aku tidak seperti itu. Malah sekarang Rachel sudah berhenti bekerja di kantorku," Kai menyanggah tuduhan istrinya.


"Lalu, kau ingin berbicara mengenai hal apa?" Alula melunakan suaranya.


"Rachel sudah resign dari kantorku dan aku sudah menemukan sekretaris pribadi baru untuk membantuku menghandle semua pekerjaan," Kai mulai menjelaskan.


"Lalu?" Alula sudah tidak sabar dengan penjelasan lanjutan dari suaminya.


"Emm," Kai sedang berfikir untuk memilih kosa kata yang tepat saat menjelaskan duduk permasalahan kepada Alula.


"Aku sudah mendapatkan sekretaris pribadi baru yang bernama Andrea. Aku tidak menyeleksinya secara langsung, tetapi saat wawancara direksi aku wakilkan kepada sekretaris umum senior untuk mewawancarainya."


"Sayang, Andrea adalah mantan pacarku. Itu hanya kebetulan, sayang. Aku benar-benar tidak memilihnya secara langsung," Kai dengan cepat menjelaskan agar Alula tidak salah paham kepadanya.


"Dia mantan kekasihmu yang ke berapa?" Alula bertanya dengan lemas.


"Pertama," Kai menjawab dengan singkat.


"Maksudnya dia adalah cinta pertamamu?" Mata Alula mulai berkaca-kaca.


"Sayang, cinta pertama ku adalah dirimu. Saat itu bahkan aku tidak tahu apa arti cinta. Itu hanya lelucon ketika masa SMP. Ku mohon mengertilah!" Kai menggenggam tangan istrinya erat.


"Kau benar-benar naif! Tentu saja, dia cinta pertamamu! Kau pertama kali menyukai perempuan dan perempuan itu sekarang menjadi sekretaris pribadimu di kantor," Alula tersenyum sinis.


"Lalu, selanjutnya apa? Kau akan bernostalgia bersamanya dan melakukan hal terlarang di belakangku?" Tuduh Alula dengan menggebu-gebu. Alula kemudian bangun dari posisi tidurnya dan mendudukan dirinya membelakangi suaminya.


"Sayang, bahkan aku tidak berfikir ke arah sana!" Kai ikut terduduk dan memeluk Alula dari belakang.


"Kau memintaku untuk resign dari pekerjaanku. Baiklah, aku akan resign dari pekerjaanku asalkan kau memecat Andrea menjadi sekretaris pribadimu. Bagaimana penawaranku?" Alula berkata dengan lirih sembari terus membelakangi Kai.


"Sayang, jangan seperti ini! Aku sekarang benar-benar sedang membutuhkan sekretaris pribadi. Ku mohon mengertilah! Hanya satu bulan saja, lalu aku akan menariknya ke divisi lain!" Kai masih memeluk tubuh Alula dari belakang.


Alula diam tak bersuara. Kai mendengar Alula terisak.


"Sayang, kau menangis?" Kai bertanya dengan panik dan khawatir. Ia langsung berdiri dan berjalan ke arah wajah istrinya.


"Sayang, jangan menangis!" Kai menyentuh wajah Alula dengan tangannya, ia bermaksud untuk menghapus air mata yang berderai di wajah istrinya, tetapi Alula langsung menjauhkan wajahnya.


"Sekarang aku membuat penawaran. Pecat Andrea dan aku akan resign dari pekerjaanku," Alula kembali memberikan penawaran yang ia sebutkan tadi.


"Sayang, besok aku harus bertemu dengan clien penting. Aku benar-benar membutuhkan seorang sekretaris untuk membantu semuanya," Kai berkata dengan frustasi.


"Baiklah. Kau sudah memilih," Alula berdiri dan beranjak dari duduknya. Alula segera melangkahkan kakinya untuk ke luar dari kamar suaminya.


"Sayang, kau mau ke mana?" Kai mencekal lengan Alula.


"Aku ingin tidur di kamar yang lain."


"Sayang, jangan seperti ini!"


"Jangan seperti ini apa maksudmu? Kau ingin aku membolehkan kau menjalani hari-harimu bersama gadis itu? Lalu kalian bisa mengenang masa pacaran kalian kembali? Kai, aku mencintaimu dan pernikahan ini! Maka dari itu aku bertindak seperti ini. Aku tidak akan membiarkan orang lain masuk ke dalam pernikahan kita dan merusak semuanya."


"Sayang, dia sekarang hanya temanku!"


"Bukankah seorang teman bisa menjadi seorang kekasih? Kau bisa saja mengatakan tidak akan ada yang terjadi antara dirimu dan dia. Tetapi seiring berjalannya waktu dan kau menghabiskan hari harimu bersamanya setiap hari, bukan tidak mungkin kau bisa kembali jatuh cinta padanya."


"Sayang, aku akan selalu setia kepadamu. Aku tidak tertarik dengan wanita lain."


"Kau manusia Kai dan bukan malaikat. Kau pun memiliki hati," Alula kembali melangkahkan kakinya untuk ke luar dari kamar suaminya.


"Aku tidak akan membiarkan kau ke luar dari kamar ini!" Kai menghadang langkah Alula dan mengambil kunci yang tergantung di pintu.


"Berikan kuncinya!"


"Aku tidak mau!"


"Aku bilang berikan kuncinya!!" Alula berteriak dan bernafas dengan cepat.


"Tidak," tolak Kai tegas.


Alula menatap tajam ke arah wajah suaminya.


"Kau mau memberikan kuncinya atau tidak?"


"Tidak. Jangan ke luar dari kamar ini!"


Alula segera berjalan kembali ke kasurnya dan merebahkan dirinya di sana. Ia kembali menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu.


"Sayang?" Kai memeluk istrinya dari belakang.


"Pergi, Kai!" Perintah Alula dengan suaranya yang parau. Kini Kai mendengar suara tangis istrinya membelah kesunyian kamar.


Kai turun dari kasur dan memejamkan matanya dengan frustasi.


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—