Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Rencana Bulan Madu


Cleon sedang mengemudikan mobilnya menuju ke tempat kerjanya. Saat ia melewati toko bunga, tiba-tiba wajah Chelsea terbayang di kepalanya. Cleon pun segera menghentikan mobilnya dan memarkirkan mobil miliknya di parkir yang telah di sediakan.


Cleon segera ke luar dari dalam mobil dan masuk ke dalam toko bunga.


"Tuan, bunga yang paling cocok untuk diberikan kepada wanita yang kita cintai yang mana?" Cleon bertanya kepada penjual bunga.


"Yang ini, tuan!" Penjual bunga menunjuk ke arah bunga Peony.


"Bunga Peony melambangkan sebuah hubungan yang bahagia," ujar penjual bunga kembali.


"Kalau begitu, saya ingin bunga itu," jawab Cleon.


"Baik, tuan," penjual bunga segera mengambil bunga Peony itu dan membawanya ke meja kasir. Cleon pun segera membayar dan membawa bunga Peony yang baru ia beli, untuk diberikan kepada kekasih tercintanya.


"Sepertinya aku masih punya banyak waktu," Cleon melihat jam yang melingkar di tangannya.


Cleon segera mengemudikan mobilnya menuju butik milik kekasihnya. Chelsea memang selalu berangkat pagi-pagi ke butik.


"Pasti dia senang," Cleon menoleh ke arah bunga Peony yang ia simpan di sampingnya.


Senyum Cleon menyurut ketika ia sampai di halaman butik milik Chelsea. Ia melihat kekasihnya tengah di jambak oleh seorang pria. Cleon pun segera turun dari dalam mobil.


"Apa yang kau lakukan?" Cleon mengambil tangan pria yang berada di rambut Chelsea. Cleon memelinting tangan pria itu sampai dia kesakitan.


"Cleon?" Chelsea menangis melihat kekasihnya datang.


"Oh, ternyata kau lagi! Untuk apa kau masih menemui Chelsea?" Cleon menggeram ketika ia mengetahui bahwa pria itu adalah Sean. Sean adalah mantan kekasih Chelsea, yang pernah memukul Chelsea beberapa waktu lalu.


"Lepaskan!" Sean berontak saat Cleon masih memelinting tangannya.


"Kau tahu rambut siapa yang telah kau jambak tadi?" Rahang Cleon mengeras. Terlihat ia sangat emosi kepada Sean.


"Dia adalah kekasihku, aku akan kembali padanya," teriak Sean kepada Cleon.


"Kurang ajar!" Cleon melepaskan tangan Sean dan segera meninju wajah Sean sampai dia tersungkur ke tanah.


"Katakan sekali lagi!" Hardik Cleon seraya mengambil kerah kemeja Sean.


"Apa? Kau pikir, aku takut padamu?" Sean tersenyum sinis.


"Dia adalah kekasihku!" Cleon meninju kembali wajah Sean bertubu tubi dengan lengannya. Sean tampak tidak bisa melawan.


"Cleon, sudah!" Chelsea berusaha untuk mencegah Cleon memukul Sean kembali.


"Pergilah! Jangan pernah kau mendatangi kekasihku lagi! Jika kau melakukannya, aku akan membunuhmu!" Cleon melepaskan tangannya di kemeja Sean. Sean pun segera berdiri dan berjalan ke mobilnya sembari mengelap sudut bibirnya yang berdarah.


"Kau tidak apa-apa?" Cleon menoleh kepada Chelsea. Chelsea pun langsung berhambur memeluknya.


"Sayang, aku takut!" Chelsea terisak di dada Cleon.


"Tenanglah! Dia sudah pergi. Untuk apa dia datang ke sini?" Cleon memeluk dan mengusap lembut punggung kekasihnya.


"Dia datang dan berkata ingin kembali padaku. Aku sudah bilang, aku tidak mau. Dia lalu menjambak rambutku," Chelsea menjawab dengan suara yang serak.


Cleon pun melepaskan pelukannya.


"Jika dia datang lagi, beri tahu aku!" Cleon menghapus air mata yang berderai di pipi Chelsea.


"Iya. Terima kasih sudah datang."


"Oh, iya. Tunggu sebentar!" Cleon segera berjalan kembali ke arah mobilnya. Dia mengambil bunga Peony yang baru ia beli tadi.


"Ini untukmu!" Cleon memberikan bunga itu kepada Chelsea.


"Penjual bunga ini berkata padaku, jika bunga Peony melambangkan sebuah hubungan yang bahagia. Jadi, aku membelikannya untukmu," Cleon memberikan bunga itu ke tangan Chelsea.


"Sejak kapan kau jadi begitu romantis?" Chelsea tertawa dengan perlakuan kekasihnya.


"Sejak aku mencintaimu," Cleon menarik tangan Chelsea dan memeluknya kembali.


"Terima kasih. Terima kasih karena kau sudah mencintaiku," Chelsea terisak kembali. Dia masih belum menyangka, bahwa pria yang ada di hadapannya kini adalah kekasihnya.


"Sama sama. Terima kasih karena sudah sabar menungguku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu," Cleon semakin mengeratkan pelukannya.


****


Sesudah menikah, Henry dan Beverly pulang ke rumah yang sudah di sediakan oleh orang tua Henry. Alice dan Ron memang membelikan rumah untuk putra sulungnya sebagai hadiah pernikahannya. Rumah itu berada dekat dengan rumah Kate dan juga rumah Alice. Dengan kata lain, masih berada di area perumahan yang sama dengan kedua orang tua dan mertuanya.


Hari ini, Beverly dan Henry sedang membereskan barang-barangnya di rumah yang akan menjadi hunian baru mereka. Henry sendiri sekarang sudah dipindah tugaskan ke kantor kedutaan besar Kanada yang ada di kota London.


"Memangnya kau tidak masalah setiap hari pulang pergi? Kota Birmingham ke kota London memakan waktu 2 jam jika menggunakan mobil," Beverly menatap Henry yang sedang memindahkan baju-bajunya ke dalam lemari.


"Aku akan berangkat kerja menggunakan kereta. Dengan kereta, akan sampai lebih cepat. 1 jam lebih 22 menit sudah sampai di kota London," Henry berkata dengan mantap.


"Benar, tidak apa-apa?" Beverly memastikan.


"Kau ini kenapa? Sepertinya tidak rela aku pergi," Henry mencoba menggoda istrinya.


"Mengapa kau sangat percaya diri sekali? Aku hanya mengkhawatirkanmu yang setiap hari harus pulang pergi kota Birmingham-London."


"Kau ini hobby sekali mencolek pipiku. Pipiku bukan sabun colek," Beverly mengambil jari Henry dari pipinya dan menggigitnya.


"Aww, mengapa kau ini sangat bar-bar?" Henry mengibaskan tangannya yang sudah di gigit oleh Beverly.


"Biar saja!"


"Kau tahu? Tadi aku baru saja pup dan tidak mencuci tanganku dengan sabun," Henry berusaha mengusili Beverly kembali.


"Henry!!!!" Teriak Beverly.


"Kau ini benar-benar ya?" Beverly memukuli dada Henry sampai ia terjengkang ke belakang. Tubuh Beverly pun ikut terjengkang karena ditarik oleh Henry.


"Apa? Kau terpesona kan melihatku?" Beverly menaikan alisnya. Wajah Henry langsung bersemu merah ketika melihat wajah istrinya dalam jarak yang dekat.


"Cih, dasar gadis menyebalkan!" Henry mendorong pelan tubuh Beverly.


"Mengapa kau salah tingkah?" Beverly terus menggoda pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


"Dari pada kau menggodaku, lebih baik kau mencuci," Henry memberikan saran.


"Mencuci?" Beverly tampak berfikir


"Kau benar, baju milikku banyak yang kotor karena aku belum sempat mencucinya," Beverly tampak mengingat ngingat.


"Iya. Bajuku juga belum di cuci. Kau pun tahu, begitu kita pulang dari Kanada, mama langsung menikahkan kita," Henry menimpali.


"Memangnya kau bisa mencuci?" Beverly tersenyum meledek.


"Tentu saja. Memangnya selama ini, siapa yang mencuci baju-bajuku di Kanada jika bukan diriku sendiri?"


"Serius kau melakukannya?" Beverly tampak masih tidak percaya.


"Tentu saja. Kalau ke laundry akan memakan biaya yang besar."


"Dasar pria pelit!"


"Aku bukan pria pelit. Aku akan menafkahimu dengan nafkah yang cukup," jawab Henry.


"Benarkah?" Beverly tersenyum senang saat mendengar penuturan suaminya..


"Tentu saja. Kau kan istriku! 2 poundsterling cukup untuk menafkahimu," seru Henry sembari berjalan ke arah kamar mandi.


"Henry!! Kau kira aku anak kecil," Beverly berteriak dan menyusul Henry yang bergegas pergi ke kamar mandi.


Henry dan Beverly saat ini tengah mencuci bersama di kamar mandi. Mereka terpaksa harus mencuci dengan tangan karena perabotan di rumahnya belum lengkap.


Beverly sesekali melirik Henry yang tengah menggosok baju-bajunya.


"Dia benar-benar pria yang langka !" Batin Beverly saat melihat Henry mencuci dengan baik.


"Sudah puas menatapku?" Ucap Henry sambil terus menggosok baju-bajunya.


"Kau menyebalkan!" Beverly mengambil busa sabun dan mencipratkannya ke wajah Henry.


Henry pun ikut mengambil busa sabun dan menaruhnya di kepala Beverly. Beverly membalas lagi dengan mencipratkan busa sabun ke arah suaminya.


"Aaaa mataku perih!" Henry memegangi mata kirinya.


"Henry, kau kenapa?" Tanya Beverly panik.


"Mataku perih."


Beverly segera membersihkan tangannya dan mendekat ke arah Henry.


"Sini, aku tiup!" Beverly memegangi wajah Henry dan meniup matanya.


Henry mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia melihat wajah cantik Beverly yang tengah menatapnya dengan khawatir.


"Mengapa dia begitu menggemaskan sih?" Gumam Henry dalam hatinya.


"Mengapa jantungku berdebar seperti ini?" Resah Beverly.


Dengan canggung, Beverly segera menjauhkan tangannya dari wajah Henry.


"Emm, Bev? Bersiaplah, besok kita akan pergi berbulan madu," ucap Henry memecahkan kesunyian di antara mereka.


"Maksudmu berlibur?" Beverly tersenyum senang.


"Iya."


"Yeeaayy. Kita akan berlibur!! Alula dan Kai memberikan kita voucher berbulan madu ke kota London. Apakah kita akan ke sana?" Tanya Beverly.


"Sebenarnya aku ingin pergi ke negara Austria. Tetapi, aku rasa tidak memungkinkan pergi ke kawasan Eropa Tengah. Cuti yang kita ambil pun sebentar lagi akan habis. Dan kasihan sekali Alula jika voucher itu tidak kita gunakan. Kita pakai saja untuk keliling London, lalu kita bisa pergi ke kota lainnya. Bagaimana?" Tanya Henry.


"Baiklah. Aku setuju."


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—