
Hari ini tepat 2 minggu usia baby Jasper. Selama 2 minggu itu pula kadang Alula tidak tidur karena harus menyusui Jasper di tengah malam. Kai pun selalu menemani Alula begadang untuk menyusui Jasper. Siang ini, Alula kedatangan tamu yang tak lain adalah Beverly dan juga Henry.
"Al, maaf ya aku baru ke sini? Selama 2 minggu ini aku mengalami morning sickness yang parah, bahkan aku harus menghabiskan cuti tahunanku. Iya kan Kai?" Beverly menatap Kai yang sedang terduduk di samping Alula.
"Iya," jawab Kai.
"Bev, sekarang kau sedang hamil? Aku ikut senang, semoga kalian selalu sehat ya? Berapa sekarang usia kandunganmu Bev?" Alula menatap Beverly yang terduduk di hadapannya.
"Usia kandunganku baru 8 minggu, Al," jawab Beverly.
"Al, Kai? selamat atas kelahiran bayi kalian ya?" Ucap Henry sembari memberikan bingkisan berisi kado yang sudah ia siapkan untuk Jasper.
"Terima kasih, kak. Aku jadi tidak enak merepotkan," jawab Alula.
"Terima kasih, Kak," Kai ikut mengucapkan terima kasih.
"Kai, kau aneh sekali memanggil suamiku kaka," Beverly mengipitkan matanya.
"Lalu, aku harus memanggil kak Henry apa? Kakek?" Sembur Kai kepada Beverly yang membuat Alula dan Henry seketika tertawa.
"Kau ini selalu saja menyebalkan!" Beverly mengerucutkan bibirnya.
"Al, sini! Aku ingin menggendong bayimu! Namanya siapa?" Beverly menatap Jasper yang sedang ada di dalam pangkuan Alula.
"Namanya Jasper Allen," Alula berdiri dan merebahkan Jasper dengan hati-hati di pangkuan Beverly.
"Jasper, ini aunty sayang!" Beverly menatap lembut Jasper yang sedang ada di pangkuannya.
"Oh, tidak. Mengapa kau sangat mirip dengan ayahmu? Kenapa tidak mirip saja dengan uncle Henry?" Beverly masih mengajak Jasper berbicara.
"Ya, tentu saja mirip Kai, Bev. Masa iya harus mirip aku? Aku kan tidak ikut menanam saham," jawab Henry kepada istrinya. Alula hanya tertawa mendengar ucapan Henry.
"Saham?" Kai tampak berfikir.
"Oh iya juga ya," jawab Beverly masih dengan memperhatikan wajah Jasper.
"Al, bagaimana rasanya jadi seorang ibu? Apakah melahirkan sakit?" Tanya Beverly.
"Tentu saja, Bev. Melahirkan normal atau caesar sama sama sakit," jawab Alula.
"Tetapi setelah itu kau akan seperti mendapat keajaiban saat menatap wajah anakmu pertama kalinya," lanjut Alula kembali.
"Aku jadi tidak sabar kalau begitu."
"Kak, bagaimana ngidam istrimu?" Tanya Kai kepada Henry.
"Sangat sangat mengasyikan!" Jawab Henry dengan raut wajah yang masam.
"Apalagi akhir akhir ini permintaannya tambah-tambah membuatku mengelus dada," jawab Henry lagi.
"Jadi kau tidak ikhlas?" Beverly menoleh kepada suaminya.
"Tentu saja ikhlas. Aku kan hanya bercanda," kilah Henry.
"Aku pikir beneran," Beverly menggoyangkan pelan tangannya, agar Jasper dapat rilex.
Tak lama, Jasper pun menangis di pangkuan Beverly.
"Bev, sepertinya Jasper haus. Biar aku susui dulu!" Alula berdiri dan mengambil Jasper dari pangkuan Beverly.
"Al, kalau begitu sekalian saja ya? Aku dan Henry pamit pulang. Aku harus memasak untuk Henry," ucap Beverly kepada Alula.
"Baiklah. Asal nanti kau main lagi ke sini ya?"
"Tentu saja. Apalagi sebentar lagi pernikahan Chelsea. Kita harus sering bertemu untuk membahas bridal shower dan untuk membahas baju bridesmaid. Oh iya kita pun harus berlibur terlebih dahulu bertiga sebelum Chelsea menikah, oke?"
"Aku usahan, Bev. Kalau ada yang menjaga Jasper, ayo kita berlibur!" Jawab Alula.
"Baiklah, Al. Kalau begitu kami pamit. Kai, kami pergi dulu!" Beverly berpamitan.
"Al, Kai kami pulang dulu?" Henry ikut berpamitan.
"Baiklah, terima kasih banyak ya Bev, kak? Sudah menjenguk Jasper," Alula berterima kasih.
"Iya terima kasih sudah menjenguk putra kami," Kai menimpali.
Alula dan Kai pun mengantar Beverly dan Henry sampai depan.
*****
Sore harinya...
"Sayang, lihatlah! Sepertinya itu tembus!" Kai menunjuk darah yang ada di celana Alula.
"Iya, sayang. Pembalutnya habis. Nanti aku minta bi Esther membelinya sekalian belanja," jawab Alula.
"Sayang, tapi kan itu masih lama. Palingan bi Esther bisa belanja esok pagi. Biar aku yang membelinya ya sayang?" Kai menawarkan.
"Tidak perlu, Kai. Tidak baik kau membeli kebutuhan wanita yang seperti itu. Kau tidak malu?" Tanya Alula kepada suaminya.
"Tentu saja tidak, sayang. Aku kan membelinya untuk istriku," timpal Kai cepat.
"Ya sudah, sayang. Tolong belikan kalau begitu!" Alula akhirnya menyuruh Kai untuk membeli.
"Baiklah. Aku berangkat dulu ke super market," Kai segera ke luar dari kamar untuk membeli pembalut ke super market.
Saat Kai akan masuk ke dalam mobilnya, ia melihat mobil Alden dan Nino masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
"Kebetulan mereka ke sini!" Kai menyeringai jahat.
"Itu untuk siapa?" Tanya Kai saat melihat mainan anak laki-laki yang lumayan banyak.
"Ya untuk Jasper Allen masa iya untuk Kaivan Allen," jawab Alden sembari memangku mainan-mainan itu.
"Anakku masih bayi, masa iya sudah bermain. Tapi aku ucapkan terima kasih ya?" Kai berkata dengan tulus kepada kedua sahabatnya.
"Sama-sama. Aku selalu merinding setiap kali mendengar kau mengucapkan terima kasih," seru Nino.
"Kalau begitu simpanlah mainannya ke dalam! Lalu kalian ke luar lagi dan temani aku membeli sesuatu," tutur Kai kepada kedua sahabatnya.
"Pergi ke mana?" Alden merasa penasaran karena semenjak Alula melahirkan, Kai tidak pergi ke mana pun selain bekerja.
"Simpan dulu mainannya!"
"Oke, oke," Alden dan Nino segera menyimpan mainan yang mereka bawa ke dalam rumah. Lalu, mereka ke luar kembali untuk menemani Kai.
"Naik mobilku saja ya!" Pinta Kai kepasa Alden dan Nino. Mereka pun segera naik ke mobil untuk pergi ke super market.
"Kai, kita mau apa ke super market?" Tanya Nino saat Kai memarkirkan mobilnya di parkiran super market.
"Perasaanku tidak enak," Alden memegangi dadanya.
"Ayo ke luar!" Kai segera ke luar dari dalam mobilnya.
Ia berjalan cepat untuk sampai di rak yang menyimpan pembalut. Alden dan Nino mengikuti Kai dari belakang.
"Kau mengajak kami ke mari untuk membeli pembalut? Ya ampun!" Nino mengusap wajahnya.
"Kai tidak berubah," Alden menggelengkan kepalanya.
"Ayo bantu aku pilihkan! Aku tidak mengerti," Kai melihat-lihat semua pembalut yang terjajar rapi di rak.
"Aku pernah melihat iklan, yang bersayap lebih bagus," Alden memperhatikan kemasan pembalut itu.
"Ah, aku tidak mengerti," Nino merasa semuanya sama.
"Sebentar, aku buka dulu internet!" Alden membuka ponselnya. Kemudian ia mencari info mengenai pembalut yang nyaman digunakan. Nino pun ikut melakukan pencarian di internet.
"Kai, katanya yang malam lebih nyaman karena ukurannya lebih panjang," Alden membaca artikel di ponselnya.
"Menurut info yang aku baca, ini yang lebih bagus!" Alden mengambil sebungkus pembalut yang ada di rak yang sesuai dengan yang ia lihat di internet.
"Tidak, bukan itu! Yang aku baca, merk itu mengandung klorin yang tinggi," Nino merebut pembalut itu dari tangan Alden.
"Apa itu klorin?" Kai mengernyitkan dahinya.
"Klorin itu adalah salah satu zat kimia untuk membasmi kuman. Kalau pembalut mengandung klorin tinggi itu tentu tidak baik," Nino menyimpan pembalut yang Alden pilih ke dalam rak.
"Nah ini saja. Ini klorinnya rendah!" Nino mengambil satu merk pembalut dari rak super market.
"Hey, kau tidak lihat? Itu tidak ada sayapnya!" Alden menarik pembalut yang ada di tangan Nino.
"Sudah, ini saja!" Nino menarik kembali pembalut itu. Kai yang melihat tingkah dua sahabatnya hanya menghembuskan nafasnya pelan.
"Sudah. Kita beli saja semua merk! Lalu kita pilah di rumah. Bagaimana?" Kai memberikan opsi.
"Ya sudah," jawab Alden dan Nino berbarengan.
Mereka pun segera memasukan semua merk pembalut ke dalam troli yang mereka bawa. Semua orang yang ada di sana tampak menahan senyum karena troli Kai hanya berisi pembalut.
"Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini," Nino tersenyum. Nino dan Alden memang selalu dilibatkan saat kehamilan Alula termasuk saat mengidamnya dulu.
Setelah membayar, mereka pun segera pulang ke rumah William.
"Sayang, ini aku sudah bawa!" Kai memberikan beberapa bungkusan pembalut itu.
"Kai, mengapa sangat banyak?" Alula merasa kaget.
"Tidak apa, untuk stok."
"Kai, kita belum memilahnya," Alden hendak membawa bungkusan itu kembali.
"Tidak apa, Den. Aku yang akan memilahnya," ucap Alula yang menghentikan niat Alden.
"Baiklah."
"Terima kasih ya? Aku pikir Kai akan membelinya sendiri."
"Kau seperti tidak tahu saja suamimu," Nino mencebikan bibirnya.
"Aku ingin melihat Jasper," seru Alden.
"Kalau begitu ayo!" Ajak Alula kepada Alden dan Nino. Mereka pun masuk ke dalam kamar. Terlihat Jasper sedang berada di ranjang bayinya.
"Anak papa tidak tidur?" Kai memangku tubuh Jasper dan membawanya kepada Alula.
"Lihatlah! Dia sangat mirip denganku sayang!" Seru Kai kepada Alula.
"Iya, iya. Mirip denganmu. Setiap hari kau selalu mengatakannya," Alula mencubit gemas pipi suaminya
Sementara Nino dan Alden hanya melihat pemandangan itu dengan seulas senyum.
"Aku sungguh berharap bisa segera memiliki keluarga kecil bahagia seperti mereka," batin Nino.
"Ah, pemandangan apa ini? Aku jadi ingin segera berkeluarga," ucap Alden di dalam hatinya.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤