
Alula segera membalas pesan dari William dan ia pun masuk ke dalam mobil Chelsea.
"Chel, nanti aku minta turun di depan Caldbury World ya?"
"Mengapa kau meminta turun di sana, Al? Aku akan mengantarkanmu sampai rumahmu," Chelsea menolak permintaan Alula, karena Caldbury World lumayan jauh dari rumahnya.
"Aku ada urusan sebentar, Chel."
"Urusan apa, Al?" Chelsea merasa penasaran.
"Aku akan bertemu ayah mertuaku. Dia bilang ingin berbicara padaku. Aku takut Chel," Alula meremas tangan Chelsea.
"Tenanglah, Al! Memangnya apa yang kau takutkan?" Chelsea tampak tidak mengerti.
"Waktu aku ke rumah orang tua Kai dan menginap di sana. Ayahnya menyuruhku untuk bercerai dengan Kai. Daddy William ingin Kai kembali pada Arabella," Alula menjelaskan dengan raut wajah yang sedih, bingung dan juga gelisah.
"Dia benar-benar mengatakan hal itu padamu? Dia seorang ayah, mengapa dia tega berusaha untuk menghancurkan pernikahan anaknya?" Chelsea terlihat emosi.
"Begini saja, kau temui dia dan kau beri tahu mengenai kehamilanmu. Siapa tahu ayah Kai akan merestui hubungan kalian," lanjut Chelsea.
"Baiklah. Doakan aku ya Chel!" Alula masih tampak cemas akan pertemuan yang akan ia lakukan dengan William.
"Kau tenanglah ! Berfikirlah positif! Kau tidak mendengar tadi kata dokter? Kau tidak boleh stres atau tertekan secara emosional," Chelsea mengingatkan.
"Baiklah, Chel," Alula menghembuskan nafasnya kasar.
Chelsea pun segera melajukan mobilnya untuk mengantarkan Alula ke Cadbury World (tempat wisata di kota Birmingham).
Setelah 30 menit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan Alula. Alula dan William memang janjian di depan Cadbury World, karena Cadbury World lumayan dekat dengan kantor perusahaan fashion milik William.
"Chel, terima kasih kau sudah mengantarkanku. Terima kasih kau sudah menemaniku ke dokter. Pokoknya terima kasih untuk hari ini," Alula merasa beruntung mempunyai sahabat yang baik seperti Chelsea.
"Sama-sama, Al. Malah aku sangat senang mengantarmu. Semoga tuan William melunak hatinya ya? Setelah ini kabari aku, oke?"
"Aku pasti akan mengabarimu," Alula tersenyum dan memeluk Chelsea sebelum ia turun dari mobil.
"Bye Chel !!" Alula melambaikan tangannya saat mobil Chelsea bergerak menjauhinya.
Alula terduduk di kursi yang ada di depan Cadbury World. William memang berkata jika ia akan menjemput Alula.
Sebuah mobil bermerk peugeot tampak berhenti di depan Alula. Alula sudah mengenali mobil itu dari kejauhan.
"Dadd?" Sapa Alula saat William turun dari mobilnya. Tampaknya hari ini ia menyetir sendiri dan tidak di temani oleh supir seperti biasanya.
"Masuklah!" William membukakan pintu mobil untuk Alula.
"Dadd, kau tidak perlu membukakan pintunya untuk ku. Alula bisa membukanya sendiri," Alula merasa tidak enak diperlakukan seperti itu oleh William. William hanya tersenyum.
Dengan canggung Alula segera masuk ke dalam mobil ayah mertuanya. Alula mendudukan dirinya di samping William yang akan mengemudi.
William pun segera melajukan mobilnya menembus keramaian jalanan kota Birmingham.
"Dadd, kita akan mengobrol di mana?" Tanya Alula.
"Kita mengobrol di dalam mobil saja. Daddy sangat sibuk hari ini. Setelah bertemu denganmu, daddy harus kembali ke kantor," jelas William.
"Mengapa Daddy memaksakan? Padahal Alula bisa datang ke kantor Daddy," Alula semakin tidak enak hati ketika tahu William meluangkan waktu untuk bertemu dengannya di tengah kesibukan mengurus perusahaan.
"Yang akan kita bicarakan masalah sangat private. Tidak etis jika membicarakannya di kantor," tegas William.
Setelah melaju 1 KM dari Cadbury World, William menepikan mobilnya di jalanan yang cukup lengang. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko bunga yang terlihat tutup hari ini. Di sebelah toko bunga itu adalah sebuah halte bus yang lumayan lengang dan sepi. William sengaja berhenti di sana, karena setelah ia berbicara dengan Alula, William tidak bisa mengantar menantunya ke rumah. Jadi, William mencari alternatif dengan berbicara dekat sebuah halte bus, agar Alula bisa mudah mendapatkan kendaraan untuk pulang.
Alula langsung mengerti apa yang dimaksud oleh William.
"Maaf Dadd, Alula tidak bisa !" Alula menundukan wajahnya.
"Mengapa? Karena kau ingin harta anakku?" William melirik Alula dengan tajam.
"Tidak, bukan itu. Alula sudah mencintai Kai. Begitu pun dengan Kai. Alula tidak bisa bercerai dengannya. Terlebih sekarang-" Alula menggantung kata-katanya.
"Terlebih apa?"
"Terlebih aku sedang mengandung calon cucumu, Dadd," Alula merogoh tasnya dan mengeluarkan foto hasil usg nya.
William tampak kaget dengan apa yang ia dengar. William mengambil foto usg dari tangan Alula. William tersenyum ketika ia tahu sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang kakek.
"Aku tidak bisa memisahkan anak ini dengan ayahnya," Alula terisak. Ia menunggu kata-kata selanjutnya yang akan William ucapkan padanya. Alula sudah menyiapkan hatinya jika memang William masih menyuruh dirinya untuk bercerai dengan Kai.
"Kalau begitu lahirkanlah cucu-cucu yang lucu dan sehat untukku!" Tutur William lembut tetapi masih berwibawa.
Alula menadahkan wajahnya menatap wajah William.
"Sebenarnya Daddy mengajakmu bertemu karena Daddy ingin memberi tahumu, jika Daddy sudah merestui pernikahan kalian. Daddy sudah mencari Kai ke kantornya, tetapi anak itu sepertinya menghindari Daddy," jelas William sembari menatap Alula hangat.
"Benarkah Dadd?" Alula tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar. Alula menyangka jika William masih akan memaksanya untuk bercerai dengan Kai.
"Iya. Dampingi lah putraku sampai dia tua!" William mengusap lembut rambut Alula.
Alula segera memeluk tubuh ayah mertuanya. Air mata kebahagiaan jatuh dari pelupuk matanya. Alula seperti mendapatkan kebahagiaan bertubi-tubi hari ini.
"Terima kasih, Dadd," Alula memeluk William seperti ia memeluk Halbert ayahnya. William hanya tersenyum dan mengusap punggung Alula lembut.
"Jagalah kesehatanmu! Jangan biarkan cucuku kekurangan apapun!" Perintah William kepada Alula saat mereka melepaskan pelukannya.
"Pasti, Dadd. Alula akan menjaganya seperti Alula menjaga diri Alula sendiri," Alula mengusap lembut perutnya.
"Kalau begitu Daddy akhiri pembicaraan ini. Daddy harus segera pergi ke kantor. Tapi Al, apakah kau bisa pulang sendiri? Daddy tidak bisa mengantarmu ke rumah," William melirik jam tangan yang melingkar di lengan kanannya.
"Tidak apa-apa, Dadd. Alula bisa naik taksi atau bus."
"Benar tidak apa-apa? Apa perlu Daddy menelfon Leo?" William memastikan
"Tidak usah. Alula bisa pulang sendiri," ujar Alula mantap.
"Baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan! Jaga dirimu dan cucuku baik-baik!"
Alula mengangguk dan segera keluar dari dalam mobil William. Ia berjalan ke depan mobil William dan kebetulan sebuah bus berhenti di depannya. Alula pun segera masuk ke dalam bus itu.
Beberapa jam kemudian, Alula sampai ke dalam rumahnya. Alula tadi mampir ke super market terlebih dahulu untuk membeli buah-buahan. Wajahnya tak henti memancarkan kebahagiaan yang amat besar. Alula sungguh tak sabar untuk memberi tahu Kai mengenai kehamilan dan juga mengenai William yang sudah merestui pernikahan mereka. Alula menyimpan tespack dan hasil usg di laci lemarinya. Ia ingin Kai menemukan foto usg dan tespack itu sendiri.
Alula berjalan ke arah dapur dan mengambil buah-buahan, lalu ia membawa buah-buahan itu ke ruang keluarga. Alula memang ingin menonton televisi sembari menyemil buah-buahan yang ia beli di super market.
Saat Alula menyalakan televisi, ia melihat sebuah tayangan yang membuatnya terkejut.
"Breaking News : Seorang pengusaha fashion ternama yang bernama William Allen yang tak lain adalah ayah dari pengusaha muda Kaivan Allen di temukan bersimbah darah di dalam mobilnya. William ditusuk oleh seseorang di dalam mobil miliknya. William ditemukan oleh polisi karena polisi sedang melakukan patroli dan melihat mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Kini ia sudah dibawa ke rumah sakit terdekat."
Alula menjatuhkan buah yang ia pegang. Alula seperti tersambar petir saat mendengar berita yang sangat buruk mengenai ayah mertuanya.
Jangan lupa untuk memberikan like, komen, vote dan rate 5 untuk mendukung Author. Terima kasih š¤