Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Sekretaris Pribadi Baru


Hari ini Kai bekerja seperti biasa di kantornya. Akan tetapi, pekerjaannya sedikit banyak terhambat karena sekretaris pribadinya yang bernama Rachel sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Rachel mengundurkan diri karena baru saja menikah dan di bawa pindah oleh suaminya ke kota Cambridge.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan sekretaris baru untukku?" Tanya Kai kepada HRD di perusahaannya.


"Sudah, tuan. Hari ini dia sudah mulai masuk kerja," jawab HRD itu.


"Baiklah. Panggilkan dia kemari!" Perintah Kai sembari masih sibuk dengan laptopnya.


Tak lama, HRD itu pun membawa masuk seorang wanita cantik yang akan menjadi sekretaris pribadi Kai menggantikan Rachel di kantor.


"Selamat pagi, tuan!" Sapa sekretaris pribadi Kai yang baru.


"Selamat pa-" Kai tidak melanjutkan sapaannya ketika melihat sekretaris pribadi barunya itu. Ia terlihat kaget melihat wanita yang akan menjadi sekretaris pribadi barunya. Begitu pun dengan wanita itu, ia pun kaget ketika melihat atasannya adalah Kai.


"Andrea?" Panggil Kai kepada wanita itu.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya HRD yang masih ada di ruangan Kai.


"Tuan Kai ini adalah-"


"Kami teman lama," Kai memotong ucapan Andrea.


"Baiklah. Kalau begitu kau bisa bekerja hari ini. Kalian boleh keluar dari ruangan ini!" Tutur Kai kepada kedua orang yang ada di hadapannya. Mereka pun segera ke luar dari dalam ruangan Kai untuk memulai kerjanya hari ini.


"Andrea? Dia sudah kembali ke kota ini?" Kai bertanya pada dirinya sendiri.


Andrea adalah cinta pertama Kai. Kai mengenalnya saat duduk di bangku kelas 1 SMP. Mereka sempat berpacaran, tetapi tak lama mereka berpisah karena Andrea memutuskan pindah sekolah ke kota London. Waktu itu, Kai pertama kali merasakan patah hati karena mendadak ditinggalkan secara sepihak oleh cinta pertamanya.


Kai terbuyar dari lamunannya saat seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk!" Seru Kai.


Tak lama, Andrea masuk ke ruangan pribadi Kai.


"Kai, ah maaf maksudku, tuan! Saya ke sini ingin meminta catatan milik Nona Rachel, saya ingin menambahkan jadwal anda bertemu dengan clien," pinta Andrea kepada Kai.


Kai segera membuka laci miliknya dan mengambil sebuah buku catatan milik Rachel yang berisi jadwal dirinya bertemu dengan clien.


"Ini!" Kai menyodorkan buku catatan itu.


"Kai, bagaimana kabarmu?" Tanya Andrea hati-hati.


"Tolong panggil aku seperti orang lain memanggilku di sini! Aku tidak ingin ada yang salah sangka," Kai menegur Andrea.


"Oh, maaf! Aku hanya terbawa suasana," Andrea tersenyum kecil.


"Kabarku baik-baik saja. Aku sudah menikah sekarang," jelas Kai. Matanya menatap kembali ke arah monitor laptop yang ada di depannya.


"Benarkah?" Tanya Andrea. Raut wajahnya tampak sedikit kecewa mendengar penuturan dari Kai.


"Iya," jawab Kai singkat.


"Kai, aku datang!" Seru Alden dengan suara cemprengnya yang di ikuti dengan Nino. Mereka masuk seperti biasanya, dengan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Andrea?" Tanya Alden dan Nino bersamaan.


"Alden? Nino? Hey, kalian apa kabar?" Andrea berjalan dan menyapa teman lamanya itu dengan berpelukan.


"Aku baik-baik saja. Sedang apa kau di sini?" Nino menatap Kai dan Andrea penuh selidik.


"Dia sekretaris pribadiku yang baru," sahut Kai terus terang. Ia tidak ingin sahabat-sahabatnya itu salah sangka kepadanya.


"Andrea, kau bisa ke luar sekarang!" Usir Kai kepada Andrea. Andrea pun segera mengambil buku catatannya dan berlalu dari ruangan pribadi milik Kai.


"Kai? Kau tidak salah memperkerjakan Andrea?" Tanya Alden dengan raut wajah yang serius.


"Aku juga tidak tahu dia yang menjadi sekretaris pribadiku," jawab Kai apa adanya.


"Memangnya kau tidak menyeleksi sekretaris pribadi mu secara langsung? Biasanya ada wawancara dengan pimpinan?" Nino mengernyitkan dahinya heran.


"Kai, bagaimana jika Alula tahu kalau sekretaris pribadimu adalah mantan kekasihmu? Terlebih dia adalah cinta pertama untukmu," Alden bertanya dengan hati-hati.


"Cinta pertamaku adalah istriku. Bahkan dulu aku tidak tahu apa itu cinta," Kai menjawab seolah tidak terima jika Andrea adalah cinta pertamanya.


"Ya, cinta monyetmu kalau begitu," jawab Alden dengan tawa meledeknya.


"Kau pikir aku monyet?"


"Bukan itu maksudku, tapi-"


"Sudahlah, kenapa kalian menjadi membahas yang tidak perlu? Sekarang aku tanya, bagaimana jika Alula tahu? Apalagi sekarang dia sedang hamil, kau tahu kan bagaimana moodnya saat ini? Terlebih jika dia tahu yang menjadi sekretaris pribadi suaminya adalah mantan kekasihnya," Nino memotong ucapan Alden.


"Aku akan menjelaskan kepadanya," Kai membulatkan tekadnya.


"Hati-hati, Kai! Aku takut dia akan mengamuk," Alden merasa khawatir.


"Lalu, kami lagi yang jadi korbannya," Nino menambahkan.


"Aku akan berbicara kepadanya dengan hati-hati. Kalian tidak usah khawatir!"


"Baiklah. Itu lebih baik," Nino menyahuti.


"Setelah sebulan, aku akan menariknya ke divisi lain. Saat ini aku memang sedang membutuhkan sekretaris pribadi dengan cepat karena pekerjaanku sangat banyak. Setelah pekerjaanku tuntas aku akan mencari sekretaris pribadi baru."


"Nah, jika itu kami setuju," Alden merasa puas dengan jawaban sahabatnya.


"Aku pun setuju. Lebih baik hindari hal-hal yang akan membuat salah paham dengan istrimu," jawab Nino kemudian.


"Ada apa kalian ke mari?" Tanya Kai ketika melihat Alden dan Nino merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan pribadi milik Kai.


"Aku sedang ingin mengunjungimu. Kepalaku sedang pusing!" Nino memijit kepalanya.


"Kenapa dia?" Tanya Kai kepada Alden.


"Biasa. Masalah wanita," Alden mengambil snack yang ada di meja.


"Tumben sekali dia galau masalah wanita!" Kai meminum air mineral yang ada di hadapannya sembari menunggu kata-kata Alden selanjutnya.


"Hey, kau tidak tahu wanita itu siapa? Dia Tifanny," Alden memberi tahukan.


Kai yang sedang meminum minumannya langsung tersedak mendengar penuturan Alden.


"Ti-tifanny?" Tanya Kai dengan terbata.


"Iya. Kau masih ingat kan?"


"Tentu saja. Kau pikir aku amnesia?"


"Hey, kalian diamlah! Kepalaku sungguh pusing!" Nino menghentikan percakapan kedua sahabatnya.


"Malam ini ayo kita pergi ngegym!" Ajak Nino kepada Kai dan Alden.


"Bagaimana Kai? Apa kau bisa?" Tanya Alden.


"Aku tidak tahu. Aku harus meminta izin kepada istriku."


"Kai, kau memang budak cinta sekarang. Kita kan hanya pergi ke tempat gym bukan pergi ke klub malam," Alden berdecak pelan.


"Tetap saja. Aku tidak ingin Alula merasa sendirian dan kesepian di rumah, terlebih sekarang dia tengah mengandung anakku. Aku harus lebih peka."


"Kan di rumah ada kedua orang tuamu," sahut Nino.


"Ya. Tapi tetap saja, aku harus meminta izin terlebih dahulu kepadanya."


"Kai yang dulu memang sudah tidak ada di dalam dirimu," Alden menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan Kai.


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—