Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Menjemput Suami


Saat Kai masih memangku istrinya, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Alula segera berdiri dari duduknya.


"Masuk!" Perintah Kai.


Tak lama, Beverly masuk dengan membawa setumpuk laporan yang ada di tangannya.


"Al, kau di sini?" Beverly segera menyimpan laporan harian kerjanya di meja dan mendekat ke arah Alula.


"Iya. Sekarang aku bekerja sebagai sekretaris pribadi Kai," Alula menjawab dengan ceria.


"Wah. Baguslah! Aku ikut senang!" Beverly mengelus tangan Alula lembut.


"Perutmu sudah mulai menonjol ya, Al?" Beverly menunduk dan mengelus perut Alula lembut.


"Iya. Kira kira sudah masuk 15 minggu jalan."


"Sehat sehat di perut sahabat aunty ya, Nak? Jangan menyebalkan seperti ayahmu!" Beverly seolah berbicara dengan bayi Alula.


"Hey, apa maksudmu?" Kai bertanya dengan nada yang tinggi.


Alula tertawa mendengar perkataaan Beverly.


"Iya. Jangan mirip dengan ayahmu! Mirip saja dengan uncle Henry ya?" Ujar Beverly kembali.


"Ya, tentu saja mirip denganku. Kau pikir yang di perut Alula itu anak dari suamimu?" Kai memelototkan matanya. Alula kemudian tertawa melihat ekspresi suaminya.


"Al, doakan aku ya? Semoga aku segera hamil!" Beverly tidak menyahuti ucapan Kai dan meminta doa kepada Alula.


"Iya, aku doakan ya? Semoga kau segera hamil!" Alula mengelus perut datar Beverly.


"Terima kasih. Kalau begitu ayo kita makan siang!" Beverly menuntun tangan Alula.


"Sayang, aku makan siang dulu!" Alula berpamitan kepada Kai.


"Baiklah. Aku masih ada sedikit pekerjaan. Jangan memberinya makan yang tidak tidak ya? Bev, tuntunlah tangan istriku!" Perintah Kai kepada Beverly.


"Iya, aku akan menuntunnya!" Jawab Beverly, kemudian mereka segera berlalu menuju kantin yang ada di lantai satu.


****


Sepulang bekerja dari kantor, Beverly segera datang ke stasiun kereta New Street untuk menjemput suaminya. Untung saja jarak kantor milik Kai dengan stasiun kereta New Street tidak jauh.


Beverly mendudukan dirinya di kursi yang ada di samping rel kereta. Ia tak kunjung melihat suaminya turun dari kereta.


Setiap ada kereta yang berhenti di depannya, Beverly langsung berdiri dan berharap suaminya akan turun dari kereta.


"Henry, kau ke mana?" Beverly menahan tangis ketika dirinya tak kunjung melihat suaminya ke luar dari kereta.


"Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?" Pikiran Beverly berlarian ke sana ke mari saat membayangkan sesuatu buruk yang mungkin terjadi kepada suaminya.


Beverly mendudukan dirinya kembali di kursi yang ada di dekat rel. Saat ia terduduk, sepasang tangan menutup kedua matanya dari belakang.


"Henry?" Seru Beverly. Ia langsung melepas tangan itu dari matanya dan langsung membalikan badannya ke belakang.


"Hallo istriku!" Sapa Henry dengan senyum yang tak memudar dari wajahnya.


"Henry, kau menakutiku!" Beverly memukul pelan bahu suaminya. Bulir air mata kemudian ke luar dari matanya.


"Kau kenapa?" Henry merasa tidak mengerti, kemudian ia segera menarik Beverly ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku! Tadi aku sudah sampai saat kau belum datang dan pergi ke toilet terlebih dahulu. Toiletnya penuh sehingga aku harus antri," Henry berbicara sembari mengelus punggung Beverly lembut.


"Lain kali, kabari aku!" Beverly menghapus air mata dari sudut matanya.


"Iya, istriku yang menyebalkan!" Henry mencubit pipi Beverly dengan gemas.


"Aku bawakan!" Beverly mengambil tas kerja milik Henry dan segera ke luar dari stasiun kereta untuk pulang ke rumah.


"Henry?" Panggil Beverly ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya?" Jawab Henry sembari fokus melajukan mobilnya menembus keramaian jalanan kota metropolitan terbesar kedua di Inggris raya itu.


"Katakan lagi kata yang kau ucapkan sebelum tadi kau naik ke kereta!" Suruh Beverly dengan senyum yang terulas sempurna di wajahnya.


"Kata-kata yang mana ya?" Henry berpura pura tidak mengerti.


"Itu yang sebelum kau naik ke kereta. Yang kau berbisik di telingaku!!" Beverly masih memancing suaminya untuk berbicara.


"Henry, kau menyebalkan!" Beverly mencebikan bibirnya kesal.


Henry menoleh dan tertawa melihat raut wajah kesal dari Beverly.


"Kau ingin aku mengatakannya lagi?" Tanya Henry kepada istrinya.


"Iya. Aku mau!" Beverly mengangguk dengan cepat dengan senyum yang merona di wajahnya.


"Masakan aku terlebih dahulu ya? Aku lapar," Henry mengusap perutnya.


"Kau ini! Baiklah aku akan memasak."


Beberapa menit kemudian, Beverly dan Henry sampai di rumah pribadi mereka.


Beverly segera mengganti baju kerjanya dan langsung pergi ke dapur untuk memasak. Sedangkan Henry tengah membersihkan dirinya di kamar mandi seusai menjalani pekerjaan barunya hari ini.


Seusai mandi, Henry segera mendudukan dirinya di kursi meja makan. Sementara Beverly masih memasak di dapur. Terdengar suara batuk dari dapur dan alat masak berdentingan dengan keras.


"Bev? Kau tidak apa?" Henry berteriak ke arah dapur.


"Aku baik-baik saja. Duduklah di sana! Sebentar lagi selesai," teriak Beverly dari dapur.


Tak lama Beverly ke luar dari dapur dengan wajah yang berantakan. Pipinya terlihat hitam, mungkin berasal dari pantat wajan.


"Ini suamiku! Makanlah!" Beverly menyimpan sepiring telur dadar di meja makan.


Henry langsung membelalakan matanya ketika melihat telur dadar itu hitam dan tak berbentuk.


"Bev, ini gosong?" Tunjuk Henry kepada Beverly.


"Iya, aku tidak bisa memasak. Kau boleh membuangnya!" Beverly menundukan kepalanya dan segera berjalan menuju kamarnya.


"Kau ini bicara apa? Tentu saja aku akan memakannya. Aku sudah sangat berselera melihat tampilan warnanya," Henry mencekal tangan Beverly yang akan segera berlalu.


"Kau bohong!" Ucap Beverly dengan lirih.


"Tentu saja tidak! Untuk apa aku berbohong? Aku menyukai telur yang terlampau matang. Duduklah dan lihat aku makan!"


"Benarkah?" Wajah Beverly seketika berbinar kemudian ia segera terduduk di kursinya, kursi yang berhadapan langsung dengan Henry.


Henry segera mengambil roti dan memasukan telur dadar itu di tengah roti. Tak lupa ia juga membubuhkan salad di tengahnya. Henry segera memakan roti berisi telur dadar itu dengan lahap


"Ya ampun, ini sangat pahit! Bahkan rasa roti ini tidak bisa meminimalisir kepahitan telurnya," batin Henry sembari sedikit meringis.


"Henry, kau kenapa?" Beverly bertanya dengan heran.


"Aku hanya sedang menikmati masakan istriku. Rasanya sangat enak sekali!" Henry berkilah. Ia tidak mau menyakiti perasaan Beverly yang sudah bersusah payah membuatkannya makanan.


"Syukurlah jika kau suka!" Beverly tersenyum puas.


Setelah Henry selesai makan, ia segera berjalan ke dapur untuk mencuci tangannya.


"Henry jadi bagaimana?" Beverly mengekori Henry dari belakang.


"Bagaimana apa?"


"Itu! Kata yang kau ucapkan saat akan masuk ke dalam kereta. Katakan sekali lagi!" Pinta Beverly dengan penuh harap.


"Emm. Bagaimana ya?" Henry tampak berfikir. Ia kemudan mencuci tangannya di atas wastafel yang ada di dapur.


"Henry, aku ingin mendengarnya lagi!" Beverly masih merajuk


"Kau yakin ingin mendengarnya?" Henry mengelap tangannya.


"Iya," Beverly mengangguk cepat.


"Kemarilah! Akan aku bisiki!" Henry menarik tangan Beverly mendekat ke arahnya. Beverly tampak tidak sabar mendengar penuturan kata cinta dari suaminya.


Wajah Henry mendekat ke telinga Beverly kemudian ia berbisik "Kau istriku yang menyebalkan!" Henry segera berjalan menjauh dari Beverly menuju ke arah kamarnya.


"Henry, kau menyebalkan!" Beverly tertawa kemudian segera menyusul Henry dan meloncat ke punggungnya.


Maaf ya hari ini author hanya mampu mengupdate satu episode, karena kepala benar benar muter dan nge hang. Besok author usahakan update 2 episode lagi. Oh iya, novel author satu lagi yang berjudul "Pernikahan Karena Dendam" sudah update ya. Terima kasih kepada para readers yang masih mengikuti cerita novel author ini. Stay safe and stay healthy everyone. šŸ¤—