Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Ngidam


"Henry, ayo kita jalan jalan ke taman!" Ajak Beverly kepada Henry yang masih tertidur di kasurnya.


"Bev, aku masih mengantuk. Ini hari libur," jawab Henry dengan suara yang serak, kemudian ia segera menaikan selimut sampai leher.


"Henry, anakmu ingin menghirup udara segar," Beverly menggoyangkan tubuh Henry agar ia segera terbangun.


"Satu jam lagi Bev!" Henry menawar.


"Aku ingin sekarang."


"Setengah jam lagi kalau begitu."


"Pokoknya aku ingin sekarang. Kalau kau tidak mau, aku akan berjalan jalan sendiri," Beverly segera berhenti membangunkan Henry dan berpura-pura berjalan ke luar kamar.


"Ayo, Bev! Aku akan menemanimu," Henry menyingkirkan selimut dan membangunkan tubuhnya.


"Tunggu, aku siap siap terlebih dahulu," Henry segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku tunggu di meja makan," Beverly segera menunggu suaminya di meja makan.


Beberapa saat kemudian....


"Ayo Bev!" Ajak Henry yang sudah bersiap untuk pergi.


"Makanlah dulu! Aku sudah masak tadi," Beverly tersenyum dengan bangga.


Henry langsung terduduk dan menatap sarapan di depan matanya.


"Telur dadar lagi! Tetapi setidaknya kini warnanya tidak terlalu hitam," Henry meneguk air liurnya.


"Aku suapi ya?" Beverly segera mengambil telur dadar dengan daging sapi yang sudah ia rebus.


"Aaaaa!" Beverly menyuapi Henry dengan makanan yang ia buat.


"Bev, kau tidak membumbui daging sapinya?" Tanya Henry dengan senyumnya yang sangat manis.


"Tentu saja tidak. Kan ini di rebus."


"Oh, iya. Tidak masalah," Henry memakan kembali makanan yang disuapi oleh istrinya.


"Henry, bagaimana? Masakanku ada kemajuan tidak?" Beverly bertanya dengan raut wajah yang ceria.


"Tentu saja. Makananmu enak dari hari ke hari," timpal Henry.


"Tolong berikan aku piala oscar!" Batin Henry kembali.


"Nanti giliran aku yang memasak untukmu ya?" Henry mengelus tangan Beverly lembut.


"Baiklah. Nanti masakan aku makanan yang spesial!"


"Kalau begitu ayo kita berangkat!" Henry berdiri dan menggenggam tangan istrinya lembut.


"Kau tidak mual atau muntah?" Tanya Henry saat Beverly berdiri dari duduknya.


"Sedikit tapi tidak sampai muntah."


"Syukurlah. Ayo kita ke taman!"


Mereka pun berjalan kaki menuju taman yang ada di dekat kawasan perumahan tempat tinggalnya.


"Kau lelah?" Henry melirik Beverly yang tengah menyeka keringat di keningnya.


"Tidak kok. Henry, aku ingin sesuatu!" Seru Beverly ketika mereka mendudukan dirinya di kursi yang ada di taman.


"Sesuatu apa? Kau ingin es krim atau ingin apa?" Henry menawarkan. Ia sungguh sangat mengerti jika wanita yang tengah hamil akan merasakan yang namanya mengidam.


Beverly tampak melihat kepada seorang pria berkepala plontos yang tengah memakan es krim di kursi yang bersebrangan dengannya. Henry pun mengikuti arah tatapan Beverly.


"Kau ingin es krim seperti yang di makan pria itu?" Henry bertanya.


"Bukan. Lalu?" Henry tampak tak mengerti.


"Lihatlah kepalanya! Sepertinya sungguh sangat licin dan bisa dijadikan cermin!" Beverly memperhatikan kepala pria itu yang benar-benar tidak di tumbuhi satu helai pun rambut.


"Aku ingin memyentuh kepalanya!" Lanjut Beverly kembali.


"Bev, jangan pikirkan hal yang tidak-tidak ya?" Henry mencoba menasehati.


"Tapi aku sungguh tidak kuat melihat kepalanya!" Beverly tampak gemas.


"Ini kemauan anakmu!" Beverly menatap Henry dengan mata yang mengiba.


"Baiklah, Bev! Aku akan meminta izin agar kau bisa menyentuh kepalanya," Henry mengalah dan berdiri dari duduknya.


"Siapa bilang aku yang akan menyentuhnya?" Tanya Beverly yang membuat langkah Henry terhenti.


"Kau bilang ingin menyentuh kepalanya tadi?" Tanya Henry tampak tidak mengerti.


"Iya. Tapi aku ingin kau yang menyentuhnya," sahut Beverly dengan senyumnya.


"Bev, aku tidak mau," Henry menolak.


"Kau benar-benar tidak mau?" Beverly bertanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Baiklah. Aku akan menyentuh kepalanya," Henry mengalah.


"Sentuhlah seperti ini ya?" Beverly memperagakan kepada lampu taman yang ada di sampingnya.


"Ya tidak seperti itu juga!" Henry melihat pergerakan Beverly yang berlebihan.


"Baiklah. Asal kau mengelusnya!"


Henry pun segera pergi menuju kepada kursi pria botak itu.


"Permisi tuan!" Ucap Henry kepada pria botak tadi.


"Iya?"


"Tuan, istri saya sedang hamil. Dia bilang ingin menyentuh kepala tuan sebagai permintaan mengidamnya. Tetapi dia ingin di wakilkan kepada saya sebagai suaminya. Apakah boleh?" Henry bertanya dengan was was.


"Itu istrimu?" Pria itu melirik ke arah Beverly.


"Iya, tuan."


Dia terlihat berfikir dan menimbang-nimbang.


"Baiklah. Jangan lama lama! Aku memperbolehkanmu karena istriku pun sedang hamil," Pria itu mencondongkan kepalanya.


"Terima kasih, tuan," Henry berkata dengan ceria. Untunglah ia bertemu dengan orang baik yang tidak mempersulit dirinya.


Henry segera menyentuh dan mengelus kepala botaknya sambil menghembuskan nafasnya kasar. Jika bukan karena permintaan istrinya yang tengah hamil tak mungkin dia akan mau.


"Sudah, tuan. Terima kasih," Henry berucap dengan ramah.


"Sama-sama. Jaga selalu istrimu ya? Penuhi segala keinginannya!" Pesan pria itu.


"Iya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Dan saya permisi tuan!" Henry segera pergi menuju kursi Beverly kembali.


"Bev, sudah!"


"Terima kasih suamiku," Beverly memeluk Henry.


"Bagaimana rasanya?"


"Rasanya licin," Henry berbisik. Kemudian sepasang suami istri itu tertawa bersama.


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—