
Siang hari....
Nino dan Alden hendak berpamitan kepada Kai untuk pulang. Akan tetapi, Kai tidak kunjung keluar dari kamar walau pun waktu sudah menunjukan siang hari.
"Bi, Kai belum turun?" Tanya Nino kepada bibi May yang tengah menyajikan sarapan untuk mereka.
"Belum, Tuan. Sepertinya tuan Kai tidak akan turun. Sudah 3 hari ini dia mengurung di dalam kamarnya," jawab Bibi May sembari menuangkan air ke dalam gelas.
"Seandainya waktu itu dia memikirkan jauh. Pasti dia tidak akan mengalami hal semacam ini," ujar Nino sembari memakan rotinya.
"Bi, makanlah bersama kami!" Ajak Alden kepada bibi May.
"Benar, Bi. Duduklah dan temani kami sarapan!" Nino ikut mengajak Bibi May.
"Tuan, tidak usah. Bibi bisa makan di dapur," bibi May menolak.
"Tidak apa, Bi. Ayo makanlah bersama kami!" Desak Nino.
"Tidak, Tuan. Lanjutkan saja sarapannya! Bibi harus ke dapur dulu untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda."
"Baiklah, Bi. Terima kasih karena sudah berkenan untuk menyiapkan sarapan untuk kami," Alden tersenyum.
"Iya, Bi. Terima kasih ya?" Nino ikut berterima kasih.
"Sama sama tuan Nino dan Alden. Ini kan sudah menjadi tugas bibi untuk melayani orang yang ada di rumah ini," Bibi May tersenyum.
"Kalau begitu, bibi tinggal dulu."
Alden dan Nino pun mengangguk. Bibi May segera berlalu dari hadapan Alden dan Nino untuk membereskan urusannya di dapur.
Selesai dengan sarapannya, Nino dan Alden segera naik ke lantai dua menuju kamar sahabatnya. Mereka ingin berpamitan untuk pulang.
"Kai?" Alden mengetuk pintu.
"Kai, kau sudah bangun?" Tanya Nino dari balik pintu.
Mereka pun mencoba mengetuk kembali, tetapi tak kunjung ada jawaban dari dalam. Akhirnya Alden dan Nino memutuskan untuk masuk. Mereka melihat Kai tengah terduduk di depan jendela dengan tatapan kosong.
"Kai, turunlah ke bawah! Kau harus makan. Perutmu belum terisi sama sekali dengan makanan," Alden menepuk bahu Kai.
"Aku tidak berselera makan," jawab Kai dengan lemah. Seperti tidak ada gairah hidup di wajahnya saat ini. Tatapannya kosong menerawang entah kemana.
"Makanlah! Bukankah kau harus bekerja?" Nino berucap.
"Sudah ku bilang aku tidak berselera makan!!" Kai berteriak.
"Kau ini sungguh pria yang lemah! Kau ingin menemukan istrimu, tetapi kau pun tidak mempersiapkan apa pun untuk mencarinya," ejek Nino.
"Apa maksudmu?" Kai berdiri dan menatap Nino tajam.
"Aku sudah mencarinya selama tiga hari ini. Aku tidak berdiam diri," lanjut Kai.
"Kau baru mencarinya selama tiga hari. Bagaimana kau akan menemukannya?" Alden menimpali.
"Aku sudah mengerahkan orang-orang suruhanku. Tetapi mereka belum kunjung menemukan Alula," Kai menyenderkan tubuhnya di tembok. Ia sungguh sangat frustasi dengan keadaan yang kini tengah menjeratnya. Kehilangan wanita yang ia cintai begitu menyiksa hati dan pikirannya.
"Bagaimana? Bagaimana jika aku benar-benar tidak menemukannya?" Mata Kai terlihat tergenang air.
"Belasan tahun aku bersahabat dengannya, aku tidak pernah melihatnya sekacau ini," batin Nino.
"Kau akan menemukannya jika kau terus berusaha. Sekarang makanlah! Bagaimana kau akan mencari istrimu jika tubuhmu sakit?" Nino menatap sahabatnya dengan iba. Bahkan kantung matanya terlihat sangat jelas yang menandakan Kai benar-benar kekurangan tidur.
"Nino benar. Bukankah kau ingin mendampingi Alula melahirkan dan menjadi orang yang pertama menggendong anakmu?" Alden menyahuti.
Kai terdiam mendengar ucapan Alden.
"Kau harus berusaha karena anakmu pasti akan membutuhkan sosok ayah di sampingnya," lanjut Alden.
"Aku akan berusaha lebih keras," perlahan semangat di wajahnya bersinar kembali ketika mendengar ucapan Alden.
"Kalau begitu kami pamit dulu. Papa menyuruhku pulang," Nino berpamitan.
"Tunggu!!" Kai menghentikan langkah mereka.
"Ada apa?" Nino dan Alden berbalik.
Kai berjalan mendekat ke arah kedua sahabatnya.
"Terima kasih. Terima kasih karena sudah membantuku. Jika kalian tidak membantu, mungkin sekarang aku masih tidak mengetahui kebenarannya," Kai berkata dengan tulus.
"Kami melakukan itu semua untukmu. Untuk kebahagiaan rumah tangga mu. Lain kali, jika kau berhasil membawa Alula kembali ke sisimu, percayalah padanya! Bukankah sebuah kepercayaan adalah salah satu pondasi dalam mengarungi sebuah hubungan? Apa lagi itu hubungan suami dan istri," Alden mengeluarkan kata bijaknya.
"Sejak kapan kau begitu bijak. Bagaimana dengan wanita yang telah banyak kau campakan?" Ejek Nino.
Mereka pun tertawa bersama.
"Aku akan berusaha lebih keras untuk menemukan istriku."
"Baguslah. Itu yang ingin kami dengar."
Tak lama mereka pun saling berangkulan, selanjutnya Nino dan Alden segera pulang dari rumah sahabatnya.
****
Setelah kepulangan Nino dan Alden, Kai segera bersiap untuk pergi bekerja. Bagaimana pun ia harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Siapa yang akan menghandle semuanya jika Kai tidak masuk bekerja. Walau pun sudah siang hari, tetapi itu lebih baik dari pada Kai sama sekali tidak datang ke kantornya.
Setelah bersiap-siap, Kai segera turun ke bawah untuk sarapan. Bibi May pun lega melihat Kai makan dengan lahap.
Selesai sarapan, Kai bergegas pergi ke kantor. Di sepanjang perjalanan, ia terus mengulang ngulang lagu Ed Sheeran yang berjudul Perfect. Kai benar-benar sangat merindukan setiap moment bersama istrinya.
Kai masuk ke dalam ruang pribadi miliknya. Lagi-lagi hati dan pikirannya terbang memikirkan Alula yang kini entah di mana keberadaannya.
"Aku benar-benar merindukanmu," Kai memperhatikan bingkai foto yang berisi foto Alula di meja kerjanya.
Saat Kai tengah memandangi wajah Alula, terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Masuk!"
"Tuan, ada dua orang yang ingin bertemu dengan tuan," Rachel masuk ke dalam ruangan Kai.
"Siapa?" Kai menyimpan kembali foto Alula di mejanya.
"Saya tidak tahu, tetapi mereka mengatakan ini sangat penting," sahut Rachel dengan intonasi yang sopan.
"Suruh mereka masuk!
"Baiklah, tuan. Kalau begitu saya permisi," Rachel segera keluar dari ruangan Kai.
Beberapa saat kemudian dua orang pria itu masuk ke ruangan pribadi milik Kai.
"Tuan?" Ucap salah seorang pria itu.
"Ada info terbaru mengenai istriku?" Tanya Kai ketika melihat kedua orang yang masuk ke ruangannya. Ternyata mereka adalah salah satu orang-orang suruhannya untuk mencari Alula.
"Kami sudah mencari info mengenai kediaman kakek dan nenek Nona Alula. Dan kami mendapatkan kabar jika kakek dan nenek atau orang tua dari ayahnya Nona Alula berada di kota York," lapor mereka.
Kai seperti menemukan sebuah harapan lagi untuk menemukan istrinya. Ia berharap Alula ada di kota yang disebutkan oleh informannya.
"Baiklah. Kalian bisa keluar dan terima kasih untuk infonya."
"Baik, tuan. Kami permisi," kedua pria itu segera berlalu dari ruangan Kai.
Kai kembali mengambil ponselnya dan segera menelfon seseorang.
"Leo, tolong temani aku ke kota York!"
Terima kasih kepada para readers yang sudah berkenan mampir, membaca, memberikan like, memberikan komen, rate, vote bahkan ada yang memberikan tip. Semoga kalian sehat selalu dan selalu dalam kebahagiaan.
Enjoy your day!š¤š¤