
Cleon sedang mengadakan kunjungan kerja ke Cannon Hill Park. Sebagai anggota dewan muda di kota Birmingham, Cleon harus memastikan bahwa generasi yang akan datang bisa menikmati panorama dan keindahan alam yang kini semakin sulit di cari, terutama di negara industri seperti negara Inggris.
Semenjak Revolusi industri di gaungkan di kawasan negara-negara Eropa Barat, keindahan alam semakin habis tergerus oleh pembangunan-pembangunan yang cepat dan masif seperti, pembangunan gedung pencakar langit, perumahan, dan pembangunan lainnya. Maka dari itu, Cannon Hill Park menjadi salah satu perhatian Cleon sebagai anggota dewan kota Birmingham. Ia hanya ingin terus memastikan tidak ada yang mengganggu kawasan hijau yang mempunyai luas 250 hektar itu.
Saat Cleon tengah mencatat mengenai apa saja yang harus di kembangkan di wilayah bagian konservasi, ia tak sengaja melihat teman SMA nya yang tengah menangis di area taman. Cleon berjalan keluar dari area konservasi dan mendekat ke arah seorang wanita yang sedang terduduk di taman tersebut.
"Chel? Sapa Cleon.
"Cle..Cleon?" sahut Chelsea terbata-bata. Ia segera mengusap sudut matanya dan mengalihkan wajah agar Cleon tak melihat raut wajahnya.
"Kau kenapa?" Cleon mendudukan dirinya di sebelah gadis berambut cokelat terang itu.
"Tidak, aku tidak kenapa-kenapa," Chelsea menundukan wajahnya.
Dengan cepat Cleon meraih dagu Chelsea lembut.
"Kenapa pipimu memar seperti ini?" tanya Cleon.
"Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir," Chelsea memaksakan senyumnya, kemudian dia segera berdiri untuk menjauh dari Cleon.
Cleon mengejar langkah Chelsea karena sepertinya gadis itu baru saja dipukuli. Salah satu kelemahan Cleon adalah tidak bisa melihat wanita menangis apalagi melihat wanita itu disakiti.
"Siapa yang memukulmu?" Cleon menghadang jalan Chelsea.
"Cleon, minggirlah ! Ini bukan urusanmu," air mata tampak terjatuh di manik mata Chelsea yang berwarna hijau.
"Kau bisa memberitahuku, kau temanku saat SMA," Cleon memegang bahu Chelsea.
Chelsea menatap lirih mata Cleon. Ia segera memeluk Cleon yang ada di hadapannya. Chelsea menangis tersedu-sedu di pelukan Cleon.
"Tenanglah !" Cleon mengusap punggung Chelsea pelan.
"Cleon, maaf," Chelsea melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa, ayo kita duduk disana !" Cleon mengajak Chelsea untuk duduk di tempat mereka duduk tadi.
Saat ini mereka sedang duduk di bangku taman yang berada di bawah sebuh pohon maple merah. Daun-daun berguguran karena memang sekarang ini sedang musim gugur.
"Jadi kenapa pipimu memar dan kenapa kau menangis?" Cleon menatap Chelsea yang terduduk di sebelahnya.
"Aku tadi di pukuli oleh kekasihku, maksudku sekarang mantan kekasihku," rintih Chelsea.
"Dan dia yang memukul wajahmu?" Cleon menatap iba wanita yang ada di hadapannya.
Chelsea hanya mengangguk dan menghapus air matanya yang semakin deras mengguyur pipinya.
"Kenapa dia melakukan ini padamu?"
"Jika kau tidak mau bercerita tidak apa-apa, aku bisa mengerti," ucap Cleon lembut.
"Tidak, aku tidak bisa menahan ini sendirian. Aku ingin bercerita kepada Alula tetapi saat ini masalahnya jauh lebih besar dari masalahku. Hidup dengan Kaivan membuatnya memikul beban yang berat, aku tidak ingin menambah bebannya dengan bercerita mengenai masalahku padanya," Chelsea tersenyum getir.
Cleon menatap kagum wanita yang ada di depannya, karena dia sangat tahu hanya Chelsea lah yang setia berada di samping Alula semenjak dari SMA.
"Aku tadi mengajak kekasihku untuk berkencan, karena di rumah aku sedang memiliki masalah, tetapi dia menolak untuk pergi berkencan denganku. Aku tidak memaksanya, maka aku pergi ke sini sendirian untuk menenangkan fikiranku," Chelsea mulai bercerita.
"Tetapi, saat aku mengunjungi lapang golf mini yang ada disini, aku melihat dia sedang berciuman dengan wanita lain. Aku menghampirinya dan mengatakan siapa wanita itu, tetapi dia malah marah dan memukuliku," papar Chelsea lirih.
"Apakah laki-laki berengsek itu masih ada disini?" Cleon bertanya dengan geram. Sepertinya dia terbawa emosi oleh cerita Chelsea.
"Kurasa dia sudah pergi dengan wanita itu," Chelsea menatap nanar daun-daun maple yang berguguran dari pohonnya.
"Cleon? Kenapa aku harus jatuh cinta, jika pada akhirnya hatiku sakit dan hancur seperti ini?" Chelsea menatap Cleon yang juga tengah menatapnya.
"Kau jangan berkata seperti itu ! Terkadang tuhan menguji kita dengan cinta yang salah, agar di masa depan kita bisa lebih berhati-hati dalam melabuhkan cinta kita kepada seseorang," Cleon mengalihkan pandangannya, lalu memandang ke arah orang-orang yang tengah berselfie di taman itu.
"Sekarang kau boleh bersedih, tetapi akan ada waktunya kau juga berbahagia," sambungnya.
Hati Chelsea terasa menghangat dengan kata-kata yang Cleon diucapkan padanya.
"Dan kau benar-benar mencintai Alula?" tanya Chelsea.
Cleon terdiam. Beberapa saat kemudian dia baru menjawab.
"Yang ku tahu adalah aku selalu memikirkannya setiap waktu, aku selalu mencemaskannya, aku selalu ingin dekat dengannya, aku ingin melindunginya dan aku tidak rela ia hidup dengan orang lain. Saat dia menikahi Kai, hatiku terasa sangat sakit walaupun aku tahu itu hanya pernikahan sementara. Tetapi membayangkan dia hidup satu atap dengan pria lain membuat hatiku terluka," Cleon tersenyum getir.
"Menurutmu apakah aku mencintai Alula?" Sambungnya.
"Kurasa iya. Aku hanya ingin mengatakan berjuanglah untuk mendapatkan Alula. Dia akan datang kepadamu jika nanti dia sudah bercerai dengan Kai," Chelsea menggenggam tangan Cleon untuk menguatkan.
Mata Chelsea dan Cleon bertemu, mereka saling menatap satu sama lain. Cleon lebih dulu mengakhiri tatapan itu.
"Dingin sekali," Chelsea merekatkan mantel di tubuhnya.
Cleon segera melepas syal yang melingkar di lehernya, lalu ia memakaikan syal itu di leher Chelsea yang terbuka. Sementara Chelsea hanya menatap Cleon yang sedang sibuk melilitkan syal miliknya.
"Beruntung sekali Alula di cintai oleh laki-laki seperti Cleon. Dia pria baik, tampan, pintar, kariernya pun cemerlang. Benar-benar laki-laki yang sempurna," batin Chelsea dalam hatinya.
"Ya sudah, ayo kita kompres lukamu," Cleon berdiri dari duduknya. Ia mengajak Chelsea untuk singgah di cafe yang ada di sebelah taman untuk mengobati lukanya dengan es batu.
Kepada para Readers:
Jika kalian menyukai novel ini harap like, komen dan vote ya untuk mendukung Author. Terimakasih š