Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Bawa Pulang Istrimu Kembali


William sudah kembali ke rumahnya saat ini. Ia begitu heran karena Alula tak ada sekali pun menjenguknya. Bahkan menantunya itu tidak terlihat menjemputnya saat pulang dari rumah sakit.


"Apa Alula tidak peduli padaku?" William berkata kepada istrinya, Sofia. Kini mereka tengah mengobrol di sofa ruang keluarga.


"Aku tidak tahu, Honey. Tapi menurutku Alula bukan tipe orang yang seperti itu. Alula adalah anak yang baik," jawab Sofia.


"Lalu, mengapa dia tidak menjengukku? Aku ingin Alula tinggal di sini selama dia hamil, agar kita bisa memperhatikan dan mengikuti perkembangan cucu kita," harap William.


"Aku pun ingin Alula tinggal di sini. Nanti aku hubungi Kai," Sofia berkata dengan raut wajah yang gembira.


"Aku sangat bersyukur anak kita tidak menikahi wanita jahat seperti Arabella," sambung Sofia.


"Aku pun sangat bersyukur. Aku sangat menyesal pernah menyuruh putra kita kembali kepada wanita kriminal itu. Dia sungguh wanita yang sangat licik," William menggeram. Ia mengingat di mana Arabella berusaha untuk membunuhnya.


Saat Sofia dan William tengah mengobrol, bi Esther datang ke hadapan mereka.


"Tuan, mohon maaf. Di depan ada tuan Halbert dan nyonya Ainsley."


"Suruh mereka masuk bi," William berucap dengan riang saat mendengar besannya datang ke rumah miliknya. Ia pun ingin segera menanyakan ke mana Alula belakangan ini, karena William hanya melihat Kai saat menjemputnya di rumah sakit.


"Tuan William?" Panggil Halbert.


"Halbert? Sudah lama kita tidak berjumpa," William berdiri dari duduknya dan merangkul besannya itu. Sofia dan Ainsley pun saling berpelukan.


"Ayo duduk!" Sofia mempersilahkan. Tak lama Bi Esther dan dua asisten rumah tangga lainnya datang dengan membawa cemilan dan juga kopi.


"Tidak perlu repot-repot. Kita bukan tamu," Halbert merasa sungkan.


"Bagaimana keadaanmu?" Lanjutnya.


"Aku sudah membaik. Lukanya sudah mengering," jawab William.


"Halbert. Di mana Alula? Aku belum melihatnya lagi semenjak sadar dari koma," William memandang Halbert dan Ainsley bergantian.


"Tuan William tidak tahu?" Tanya Halbert.


"Ah, kau jangan memanggilku tuan. Kita sudah satu keluarga dan bukan orang asing," protes William. Mereka pun tertawa bersama sama.


"Alula sudah lama pergi ke rumah neneknya," Ainsley berucap dengan sedih.


"Pergi? Mengapa dia pergi? Bukankah Kai ada di sini?" Sofia berkata dengan gurat wajah yang khawatir.


"Mereka sedang memiliki masalah," timpal Halbert.


"Masalah? Masalah apa?" William menaikan volume suaranya.


"Halbert, Alula anakku juga. Aku harus tahu," William menatap serius ke arah besannya.


"Benar. Kita tidak boleh berdiam diri ketika anak-anak kita memiliki masalah," lanjut Sofia.


"Ceritakan sayang!" Perintah Halbert kepada Ainsley.


"Alula pergi karena Kai menyuruhnya pergi dan berkata akan menceraikanya," Ainsley mulai bercerita.


"Ma-maksudmu? Mengapa anakku ingin menceraikan Alula? Dan mengapa kami tidak tahu?" Sofia merasa kebingungan.


Ainsley tak mampu melanjutkan ceritanya. Kini ia menangis mengingat kesedihan Alula saat Kai membuangnya. Sofia mendudukan dirinya di samping Ainsley, ia mengusap punggung besannya dengan lembut untuk menenangkan.


"Saat William tidak sadarkan diri, Kai menuduh Alula yang mencelakainya. Kai menuduh seperti itu karena dashcam mobilmu memperlihatkan Alula sebagai orang yang terakhir yang kau temui," Halbert meneruskan cerita Ainsley


"Anak itu benar-benar bodoh! Bisa-bisanya dia menuduh istrinya yang mencelakaiku," William menggeram penuh emosi.


"Halbert, Ainsley? Kami memohon maaf atas perilaku Kai. Dari kecil dia memang pemarah dan juga tidak mau mendengarkan orang lain. Tolong jangan menyuruh Alula untuk berpisah dengan Kai! Berikan anakku kesempatan lagi!" Sofia berkata sembari menangis.


"Iya. Semoga mereka bisa menyelesaikan sendiri masalah ini. Aku pun tidak ingin cucuku lahir tanpa ayahnya," Ainsley menghapus air matanya.


"Aku tinggal sebentar. Aku harus menghubungi anak itu," William berdiri dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk menelfon Kai.


"Kau di mana?" Tanya William saat Kai mengangkat telfonnya.


"Aku di jalan, Dad. Menuju kota York."


"Bawa pulang istrimu kembali! Jika kau tidak berhasil membawanya pulang, jangan kau injakan kakimu kembali ke kota ini!!" William membentak putra tunggalnya.


"Dad, kau sudah tahu?" Kai terkejut.


"Mengapa kau sangat bodoh menuduh istrimu seperti itu? Di mana otakmu?"


"Maafkan aku Dad!" Hanya itu kata yang mampu Kai ucapkan.


"Kai berjanji akan membawa Alula pulang."


"Baiklah. Tepati janjimu! Masalah pekerjaanmu, Daddy yang akan menghandlenya. Fokuslah untuk membawa istrimu pulang!"


"Baik, Dad. Terima kasih," Kai menutup sambungan telfonnya.


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—