
Setelah acara pernikahannya selesai, Henry dan Beverly bergegas masuk ke dalam kamar hotel yang sudah di booking oleh keluarganya. Keluarga Henry dan juga keluarga Beverly malam ini menginap di hotel tempat terlaksananya acara resepsi pernikahan.
"Kakiku sungguh sangat pegal!" Beverly terduduk dan meluruskan kakinya.
"Sama. Kaki ku pun seperti akan patah. Aku tidak mau menikah lagi," Henry ikut-ikutan berselonjor.
"Jika kau menikah lagi, aku akan membunuhmu," ancam Beverly.
"Bunuh saja aku. Aku ingin melihat bagaimana caranya kau membunuhku," tantang Henry kepada wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.
"Benar, kau ingin tahu?" Beverly tersenyum penuh maksud dan mengambil obat nyamuk cair yang ada di kamar hotel.
"Ti-tidak. Aku hanya bercanda. Haha," Henry memaksakan tawanya.
"Ayo! Bukankah kau mengajakku ke tempat spa yang ada di hotel ini?" Beverly menyimpan obat nyamuk itu.
"Iya, aku pun sudah tidak sabar ingin pergi ke tempat spa. Kakiku sangat sakit," Henry meringis ketika menggerakan kakinya. Memang hampir seharian mereka berdiri untuk menyambut para tamu.
"Kalau begitu aku ganti baju dulu," Henry berjalan menuju koper miliknya. Ia mengeluarkan satu stel baju. Henry segera melepaskan baju pengantin yang melekat pada tubuhnya.
"Kau ini apa-apaan! Mengapa kau berganti baju di hadapanku?" Beverly berteriak dan melihat Henry yang akan melepas celana boxer miliknya.
"Lho memangnya kenapa? Bukankah kau istriku?" Tanya Henry dengan wajah polosnya.
"Tetapi aku tidak mau melihat tubuhmu itu," Beverly mengalihkan wajahnya.
"Kau takut terpesona kan kepadaku? Iya kan?" Henry berjalan dan mencolek pipi Beverly bermaksud untuk membuat Beverly tidak nyaman.
"Kau kira hanya kau yang bisa seperti itu?" Beverly segera berdiri dari duduknya dan mengambil baju miliknya yang ada di dalam koper. Setelah itu, ia segera melepas gaun pengantin yang melekat pada tubuhnya.
"Hey, apa yang kau lakukan?" Henry panik saat Beverly membuka gaun pengantinnya.
"Kan kau suamiku, jadi kau bisa melihat," Beverly menyeringai jahat. Sekarang hanya tersisa tanktop dan celana pendek di tubuhnya.
"Hey, gadis menyebalkan hentikan!" Henry segera membelakangi Beverly dan dengan cepat ia memakai baju dan celana yang telah ia ambil. Beverly pun tertawa melihat wajah malu suaminya.
"Sudah?" Tanya Henry sembari masih membelakangi Beverly.
"Sudah."
Henry pun membalikan tubuhnya. Ia sudah melihat Beverly dengan piyama lengkapnya.
"Ayo kita ke tempat spa!" Beverly menggandeng tangan Henry ke luar dari kamar.
Mereka berjalan ke luar kamar menuju tempat spa yang ada di lantai bawah.
"Henry, Bev? Kalian mau ke mana?" Tanya Kate yang terlihat berjalan mendekat ke arah mereka.
"Aku dan Beverly akan pergi ke tempat spa, mom," jawab Henry dengan jujur.
"Untuk apa ke tempat spa? Kan ada istrimu. Kalian bisa bermain pijat-pijatan di dalam. Iya kan, Kate?" Timpal Alice dengan senyum nakalnya.
"Mamamu benar Henry. Kan ada Bev yang bisa memijatmu," Kate menyetujui.
"Tapi-"
"Sudah, kalian masuklah sana! Ini sudah malam. Kan kalian harus melakukan malam pertama," Alice mendorong tubuh putra dan menantunya masuk kembali ke dalam kamar.
"Jangan lupa kunci pintunya!" Kate berteriak dari luar.
"Bagaimana ini, Bev?" Henry menatap Beverly.
"Ya sudah. Bagaimana lagi?" Beverly segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Henry pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Beverly.
"Siapa yang membolehkanmu untuk tidur di sini?" Beverly menjewer telinga Henry.
"Aku kan suamimu. Lagi pula aku harus tidur di mana? Kau tidak kasihan padaku?" Henry memasang wajah memelasnya.
"Baiklah, kau bisa tidur denganku asal jangan macam-macam!" Beverly menatap Henry dengan tajam.
"Aku tidak janji," Henry tersenyum. Beverly pun memelototkan matanya.
Henry pun berguling mencari posisi yang membuatnya nyaman.
"Diamlah!" Beverly merasa terganggu dengan pergerakan tubuh Henry.
"Bev? Aku bosan sekali," Henry memiringkan tubuhnya menghadap Beverly.
"Aku pun sama bosannya denganmu terlebih aku belum mengantuk," Beverly ikut memiringkan tubuhnya menghadap Henry.
"Ah, aku tahu. Bagaimana jika kita bermain permainan?" Henry memberikan ide.
"Seperti?"
"Ular tangga atau apa saja yang bisa di mainkan berdua."
"Aku setuju," Beverly tersenyum senang
"Tapi, dari mana kita dapat alat permainannya?" Tanya Beverly.
"Kau tenang saja. Aku akan menyuruh staff hotel untuk mencarinya," Henry segera bangun dan bergegas ke luar untuk mencari staff hotel.
"Sudah?" Beverly mendudukan tubuhnya.
"Sudah. Tunggu saja!"
Beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu.
"Ah, itu pasti staff hotel yang mengantar pesanan kita," Henry segera berlari menuju pintu. Dan benar saja, itu adalah staff hotel yang mengantarkan banyak alat permainan.
"Ini tip untukmu dan untuk mengganti uangmu karena sudah membelikan alat permainan ini," Henry mengeluarkan belasan lembar pounds dari dompetnya.
"Terima kasih, tuan," seru staff hotel itu dengan nada yang senang.
Henry pun segera menutup pintu dan menyimpan alat permainan itu di lantai.
"Ayo Bev! Kau ingin bermain games apa? Uno? Monopoli? Catur atau apa?" Henry merapikan alat-alat permainan yang ada di depannya.
"Aku ingin bermain ular tangga saja. Bagaimana?"
"Boleh. Tetapi jika ular turun tangga wajahmu harus di coret. Bagaimana?" Beverly memberikan ide.
"Baiklah. Aku setuju."
Beverly pun segera mengeluarkan lipstik untuk digunakan untuk mencoret wajah yang kalah.
"Aku yang pertama melempar dadu ya?" Beverly mengocok dadu. Beverly menjalankan pion 6 langkah sesuai dengan angka dadu yang keluar.
"Sekarang giliranku!" Henry melempar dadu dan menjalankan 4 langkah pionnya.
"Aku lagi," Beverly melempar dadu itu kembali.
"Yaah, kau turun!" Henry berteriak senang melihat pion Beverly turun tangga.
"Hey, mengapa kau mencoretnya sangat banyak?" Protes Beverly ketika Henry terlihat melukis di wajahnya.
"Apa yang kau gambar?" Teriak Beverly.
"Aku hanya sedang menggambar gunung dan rumah milik petani," Henry memegangi leher Beverly agar istrinya itu tidak bergerak, sementara tangan kanannya terus menggambar.
"Sudah," Henry menjauhkan tangannya. Ia kemudian tertawa terbahak melihat wajah Beverly.
"Kau sangat jelek!" Henry memegangi perutnya sembari terus tertawa.
"Awas saja ya!"
Henry kemudian melempar dadu miliknya, kali ini pionnya harus turun tangga.
"Haha, sekarang giliranku!" Beverly mengambil lipstik miliknya dan segera membuat maha karya di wajah Henry.
"Jangan gambar yang aneh-aneh!"
Beverly tidak menyahuti, dia sedang fokus menggambar di wajah suaminya.
"Sudah," Beverly menutup lipstiknya.
"Apa yang kau gambar?" Henry mengambil ponselnya untuk melihat wajahnya.
"Kau ini apa-apaan!" Henry berteriak ketika melihat wajahnya di gambar seperti kucing.
"Biar saja."
Setelah 15 menit kemudian...
"Henry, aku bosan. Bagaimana jika kita bermain rubik. Jadi, kita bermain adu kecepatan untuk menyelesaikan rubik. Siapa yang lambat menyelesaikan rubik, dia harus menuruti perintah dari yang menang. Bagaimana?" Beverly memberikan ide.
"Nah kalau itu, aku setuju," Henry menyetujui.
Mereka segera mengambil rubik masing-masing.
"1, 2, 3!" Henry dan Beverly mulai memutar rubik itu.
"Yeaaay, aku menang!" Beverly berteriak girang saat ia sudah menyelesaikan rubiknya terlebih dahulu.
"Kau hanya beruntung!" Henry mengerucutkan bibirnya.
"Nah karena aku yang menang. Aku minta, pijatlah kakiku!" Beverly menyelonjorkan kakinya di depan Henry.
"Oke, karena aku bukan orang yang tidak menerima kekalahan," Henry segera mendekat ke arah Beverly dan mulai memijat kaki istrinya.
Sementara itu di luar kamar Beverly dan Henry.
"Ayo Alice! Kita harus tahu, apa mereka sedang melakukannya atau tidak. Aku ingin segera memiliki cucu," Kate menggandeng tangan Alice ke arah pintu kamar Beverly dan Henry. Mereka pun menempelkan telinganya di pintu kamar anak-anaknya.
Terdengar suara Beverly dari dalam.
"Aww sakit! Kau ini mengapa sangat kasar? Kau bisa tidak? Pelan-pelan saja!" Teriak Beverly di dalam kamar.
Alice dan Kate memelototkan matanya. Perlahan mereka tersenyum senang.
"Alice, anakmu sungguh bar-bar," Kate berbisik di telinga Alice.
"Maklum, putraku tidak berpengalaman!" Jawab Alice dengan berbisik.
Mereka pun menempelkan telinganya kembali.
"Nah seperti itu. Ini baru enak!!" Seru Beverly kembali yang terdengar oleh Alice dan Kate.
"Kate, kita akan punya cucu!" Alice dan Kate saling berpelukan satu sama lain.
"Ayo kita pergi ke bawah. Anak kita jangan di ganggu!" Ajak Kate kepada Alice. Mereka pun segera turun ke bawah untuk menikmati pemandangan hotel.
Kembali lagi ke dalam kamar Beverly dan Henry...
"Sudah. Lama lama pijatanmu enak juga! Aku akan berlangganan kepadamu untuk di pijat," Beverly tersenyum puas setelah Henry memijat kakinya dengan baik.
"Kau pikir aku tukang pijat?" Henry menautkan alisnya kesal.
"Pegalku sudah hilang!" Beverly menggerak gerakan kakinya.
"Ayo kita bermain lagi! Kali ini aku yang akan menang!" Seru Henry sembari mengambil kembali rubiknya.
"Ayo, siapa takut?" Beverly ikut mengambil rubik miliknya.
"1, 2, 3!" Henry dan Beverly segera memutar rubik itu dengan lincah.
"Sekarang aku yang menang!" Henry tertawa bahagia ketika ia lebih dulu menyelesaikan permainan.
"Jangan meminta yang aneh-aneh!" Beverly mengingatkan.
"Tidak akan. Aku ingin kau- mmmmm," Henry tampak berfikir.
"Pijat saja ya?" Beverly menawarkan.
"Ah, tidak. Kakiku tidak terlalu pegal sekarang. Emmm...." Henry masih berfikir.
"Ah, aku tahu. Kau harus bergoyang dan menirukan gerakan Baby Shark!" Suruh Henry kepada Beverly.
"Yang seperti ini bukan, baby shark do do do do Baby shark?" Beverly bernyanyi sembari menirukan goyangannya.
"Nah itu. Berdiri lah dan bergoyanglah dengan lincah," Henry mengambil ponsel miliknya untuk merekam Beverly.
"Hey, kau jangan merekamnya!"
"Terserah aku. Kan aku yang menang. Tidak usah bernyanyi. Bergoyang saja!" Henry mulai menyalakan ponselnya untuk merekam Beverly. Henry tertawa melihat wajah Beverly yang penuh dengan coretan, terlebih ia akan bergoyang.
"Baiklah!" Beverly segera berdiri dari duduknya dan mulai menirukan gerakan Baby Shark.
Sementara itu, Alice dan Kate yang baru saja dari lantai bawah kembali melewati kamar Henry dan Beverly.
"Wuuu, kau benar-benar hebat Bev!" Teriak Henry dari dalam.
Alice dan Kate yang melewati kamar mereka seketika langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Henry. Mereka kembali menempelkan telinga di pintu.
"Terus, Bev! Goyanganmu mantap sekali!" Teriak Henry kembali dari dalam kamar.
"Kate, putrimu benar-benar hebat!" Alice menggelengkan kepalanya takjub.
"Siapa dulu dong mommynya?" Kate menepuk dadanya.
"Ayo kita pergi. Aku sudah mengantuk. Jangan ganggu mereka!" Alice menggandeng tangan besannya untuk masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Jangan lupa untuk mampir di novel terbaru author ya? Klik profil author dan buka novelnya. ā¤ā¤ā¤
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤