
"Sampai kapan kau akan kabur dariku?" Tanyanya dengan mata yang penuh dengan luka.
"Kai?"
Alula masih berusaha menguasai keterkejutannya melihat Kai kini ada di depan matanya. Lama mereka saling bersitatap satu sama lain. Kai memandang istrinya dengan kerinduan yang sangat besar, sedangkan Alula memandang suaminya dengan tatapan yang sarat akan kekecewaan.
"Sayang?" Kai berjalan mendekat ke arah Alula.
Alula memundurkan langkahnya ketika tangan Kai mencoba menggapai tubuhnya.
"Mau apa kau ke mari?" Ucap Alula dengan nada dan raut wajah yang dingin.
Hatinya kembali sakit ketika melihat suaminya. Alula teringat di mana Kai tidak mempercayai dirinya dan berkata akan menceraikannya.
"Aku ke mari ingin menjemputmu. Maafkan aku! Maafkan aku sudah salah paham denganmu!" Kai masih mencoba menyentuh tangan Alula.
"Entengnya kau meminta maaf padaku. Aku tidak butuh permintaan maaf darimu. Pergilah! Pergilah dari hadapanku!"
Dengan cepat, Kai berhambur memeluk Alula.
"Lepaskan aku!" Alula berteriak dan menangis saat Kai memeluk tubuhnya.
Kai tidak melepaskan pelukannya. Sementara Alula terus berontak di dekapan suaminya.
"Aku tidak mau lagi bersamamu!!" Alula menangis dan terus memberontak agar Kai melepaskannya.
"Ayo kita bicarakan ini di rumah kita!" Kai melepaskan pelukannya dan menarik tangan Alula ke luar rumah, bermaksud untuk memasukannya ke dalam mobil.
"Aku tidak mau," tangisan Alula semakin menjadi.
"Ada apa ini?" Tanya Kakek dan nenek Alula yang baru sampai rumah.
"Kau mau apakan cucuku?" Anne, nenek Alula melepaskan tangan Kai yang tengah memegang pergelangan tangan cucunya.
"Kau siapa hah?" Anne kemudian masuk ke dalam rumah dan ke luar kembali dengan sebuah tongkat kayu.
"Kau mau menjahati cucuku saat kami tidak ada?" Anne memukulkan tongkat itu ke tubuh Kai.
"Aw aw sakit Nek!" Kai mencoba menghindar dari pukulan tongkat milik Anne.
"Berani-beraninya kau menyentuh cucuku!!" Anne terus memukuli tubuh Kai dengan tongkat itu.
Sementara, Alula dan Charlie hanya menonton adegan yang ada di hadapannya.
"Sepertinya aku pernah melihat anak itu. Tapi di mana?" Charlie, kakek Alula berusaha mengingat-ngingat.
Terang saja Charlie dan istrinya lupa akan wajah Kai, karena mereka hanya bertemu saat pesta pernikahan Alula, itu pun hanya melihat sekilas karena banyaknya tamu undangan yang memenuhi kastil.
"Al, bukankah dia suamimu?" Charlie akhirnya bertanya setelah memperhatikan wajah Kai dengan seksama.
Alula hanya terdiam dan menyeka air matanya.
"Iya, ini aku kek. Aku suami Alula," ucap Kai masih dengan menghindar dari pukulan tongkat nenek Anne.
"Apa? Kau suami cucuku?" Anne berhenti memukuli Kai dengan tongkatnya.
"Bukan. Dia bukan suamiku," jawab Alula cepat.
"Kau tidak mengakui suamimu sendiri?" Kai kecewa saat Alula tidak mau mengakuinya.
"Ah, nenek ingat sekarang. Kau benar-benar suami cucu nenek. Maafkan nenek ya sudah memukulmu?" Anne mengusap jas Kai yang sedikit kotor karena tongkatnya. Tongkat itu memang ia gunakan jika pergi ke kebun saat musim hujan untuk membantunya berjalan di tanah yang becek.
"Usir dia, Nek!" Titah Alula kepada Anne.
Kai berjalan kembali mendekati Alula. Alula langsung berlari ke belakang tubuh Charlie.
"Jangan biarkan orang ini mendekatiku, kek! Usir dia!" Ucap Alula kepada Charlie.
"Kalian ini kenapa? Jika ada masalah bicarakanlah baik-baik!" Jawab Charlie.
"Ayo bicaralah dengan suamimu!" Anne membujuk Alula.
"Aku tidak sudi berbicara dengannya!" Alula langsung berlari ke dalam rumah dan naik ke tangga, lalu segera masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung mengunci pintu karena khawatir Kai akan memaksanya untuk pulang.
"Semudah itu kau datang kemari dan memintaku untuk pulang. Kau tidak tahu bagaimana luka di hatiku karena perlakuanmu," Alula menyenderkan tubuhnya di pintu dan menangis kembali. Otaknya dengan refleks memutar kembali semua yang Kai ucapkan dan tuduhkan mengenai kejadian yang menimpa William.
"Kai, Alula tidak mau bertemu denganmu. Pulanglah dulu! Kakek akan mencoba berbicara dengannya nanti," Charlie menepuk bahu Kai pelan.
"Iya. Kau pulanglah dulu!" Anne menyetujui Kai untuk pulang terlebih dahulu.
"Aku tidak akan pulang jika tidak dengan Alula," tolak Kai tegas.
"Jangankan pulang, berbicara denganmu saja dia tidak mau," timpal Charlie.
"Jika kau mau Alula pulang denganmu, jangan pernah memaksanya! Bujuklah dia dengan lembut! Dari dulu Alula sangat tidak menyukai paksaan," jelas Anne.
Kai pun terdiam. Ia memang harus menggunakan kelembutan untuk menghadapi Alula. Jika Kai menggunakan paksaan, Alula akan semakin jauh dari dirinya.
"Baiklah. Kalau begitu Kai pulang dulu sekarang," Kai berpamitan kepada Charlie dan Anne. Kai memang harus memberikan Alula waktu.
"Berhati hatilah di jalan!" Ucap Charlie dan Anne.
Kai pun masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan kediaman kakek dan nenek dari istrinya. Setidaknya kini Kai mengetahui keberadaan Alula di mana. Sementara Charlie dan Anne segera masuk ke dalam rumah mereka.
"Al, keluarlah Nak! Suamimu sudah pulang!" Anne mengetuk pintu kamar Alula.
"Aku di kamar saja, Nek," jawab Alula dengan suara yang serak. Alula memang tengah menangis. Kehadiran Kai memporak porandakan hatinya yang telah ia tata dengan baik selama dua minggu ini.
****
Keesokan Harinya.
"Al, persediaan makanan kita sudah menipis. Bisakah kau pergi ke super market? Nenek dan kakek harus pergi ke kebun sekarang," pinta Anne kepada Alula yang tengah menikmati sarapan paginya.
"Super market yang di sebelah utara?"
"Iya, sayang. Bisa kan?"
"Bisa, Nek. Alula akan membeli kebutuhan kita di super market," Alula menyetujui.
"Baiklah. Kalau begitu nenek dan kakek pergi dulu ke kebun. Setelah kau berbelanja kuncilah pintunya! Kakek dan nenek khawatir ada orang jahat," pesan Anne kepada Alula.
"Iya. Nanti Alula kunci pintunya."
Selesai dengan sarapan paginya, Alula segera bersiap-siap untuk pergi ke super market. Tak lupa, Alula mengunci pintu terlebih dahulu sebelum pergi. Alula lebih memilih berjalan kaki untuk sampai di super market yang tak jauh dari rumah neneknya.
Saat Alula berjalan, seseorang menghadang jalannya.
"Aku ingin berbicara padamu!" Ucap Kai yang kini tengah menatap wajah Alula.
"Bukankah kau sudah pulang?" Raut wajah Alula berubah menjadi panik.
"Aku menginap di hotel yang ada di kota ini. Ayo kita bicara!"
"Aku tidak mau!" Alula berjalan kembali dan melewati tubuh suaminya.
"Aku ingin berbicara denganmu. Sebentar saja," Kai menggenggam pergelangan tangan Alula.
"Sudah ku bilang tidak mau," Alula menghempas lengan Kai kasar. Tetapi tangan itu masih menggenggam tangannya erat.
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kita berbicara."
Alula terlihat berfikir.
"Baiklah. Jangan lama-lama!"
Kai tersenyum dan segera melepaskan tangannya. Mereka kini sudah berada di atas jembatan yang dibawahnya adalah sungai Foss.
"Aku ingin meminta maaf untuk semua yang telah terjadi. Maafkan aku karena telah menuduhmu melukai Daddy!" ucap Kai. Kini Kai dan Alula berdiri bersisian di atas jembatan dan menghadap ke arah sungai Foss.
"Untuk apa kau meminta maaf?" Alula tersenyum getir.
"Kau sudah sangat sering meragukanku. Jika saja Arabella tidak ketahuan melukai ayahmu, aku yakin sampai detik ini kau pasti masih menuduhku," Alula memperhatikan air sungai yang mengalir di bawah jembatan.
"Aku bukan meragukanmu. Coba kau fikir, siapa yang tidak percaya jika ada bukti yang sangat kuat seperti itu."
"Sekuat apa pun bukti itu, jika kau percaya padaku kau tak akan meragukanku," sanggah Alula.
"Ini bukan pertama kalinya. Dulu kau pun menuduhku melakukan suatu hal yang buruk dengan Cleon di apartemen. Dan kau baru percaya setelah kau meniduriku."
"Al?" Kai memandang wajah Alula dengan perasaan yang sangat bersalah.
"Kau tahu, Kai? Sangat sakit sekali ketika kita tidak mendapatkan kepercayaan dari orang yang hidup bersama kita. Apa artinya sebuah pernikahan jika kau tidak bisa percaya terhadap pasanganmu sendiri?" Alula menatap tajam wajah suaminya.
"Lalu, apa tujuanmu datang ke mari?" Lanjut Alula.
"Aku ingin membangun rumah tangga kita dari awal. Dari 0 kembali," Kai membalikan tubuh Alula menghadapnya. Kini mereka saling berhadapan dengan jarak yang dekat.
"Dan jika di masa depan ada badai di rumah tangga kita, kau meragukanku kembali?" Alula menatap mata cokelat yang ada di hadapannya.
"Untuk apa kau memintaku kembali padamu? Bukankah kau sudah puas dengan tubuhku?" Bibir Alula bergetar ketika mengungkit ucapan menyakitkan Kai kepadanya.
"Al, aku tidak bermaksud. Saat itu aku sedang emosi karena kau malah pergi dengan pria lain," Kai memegangi bahu Alula.
"Dan setiap kali kau emosi, kau berupaya untuk menyakitiku?" Alula melepaskan tangan Kai dari bahunya.
"Kau pun dengan mudahnya berkata ingin bercerai denganku. Ke mana janjimu saat kau berkata tidak akan pernah menceraikanku? Kau selalu berkata sampai mati pun kau tidak akan pernah menceraikanku. Mana buktinya?" Wajah Alula masih menadah menatap wajah Kai yang memiliki postur tubuh yang tinggi.
"Itu karena aku melihat Daddy celaka. Aku tidak bisa berfikir secara rasional," Kai mengusap wajahnya frustasi.
"Tidak. Kau bukan tidak berfikir secara rasional, tetapi pada hakikatnya kau memang tidak pernah mempercayaiku sebagai istrimu. Dan ini sangat lucu sekali, kau menyuruhku untuk pergi meninggalkanmu. Kau menyuruhku untuk tidak memperlihatkan wajahku kembali di hadapanmu, tetapi justru sekarang kau yang mencari wanita yang kau sebut barang bekas!" Alula berkata tanpa jeda dan dengan dada yang naik turun menahan amarah.
"Sayang tenanglah!" Kai mencoba menenangkan Alula yang sudah terlihat sangat emosi.
"Jangan pernah memanggilku sayang lagi! Aku sangat jijik mendengarnya!!" Alula berkata dengan geram.
"Sayang?" Kai memanggil kembali Alula dengan lirih.
"Tuan Kaivan Allen, kau tidak memiliki telinga? Aku bilang jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi!!" Alula menggeram kesal.
Kai merasakan sakit yang menjalar di hatinya ketika mendengar istrinya memanggil nama lengkapnya dengan begitu emosional. Alula membalikan tubuhnya untuk pergi meninggalkan Kai. Alula berjalan cepat meninggalkan jembatan itu. Kai berlari mengejarnya.
"Aku mohon jangan seperti ini!" Kai menahan tangan Alula.
Alula kembali membalikan badannya.
"Apa maumu?" Alula menatap tajam suaminya.
"Aku hanya ingin bersamamu. Kau jangan egois! Kau sekarang sedang mengandung anakku," tutur Kai lembut.
Alula begitu tersentak ketika mendengar ucapan Kai.
"Kau sudah tahu?"
Kai pun menganggukan kepalanya.
"Pikirkan anak kita! Dia membutuhkanku saat nanti lahir ke dunia," mata Kai berkaca-kaca.
"Dia tidak membutuhkan ayahnya yang tidak pernah memberikan kepercayaan kepada ibunya. Aku bisa mengurus dan membesarkan anak ini sendiri tanpamu. Aku ingin kita berpisah saja," Alula menangis sesenggukan.
"ALULAAAA!!" Kai berteriak.
"Apa? Kau pikir aku takut denganmu?" Alula menatap Kai dengan wajah menantang. Sementara air mata kini sudah memenuhi wajahnya.
"Mari kita mulai kembali rumah tangga ini! Mari kita besarkan anak itu bersama-sama!" Kai merendahkan suaranya.
"Jika aku tidak mau?"
Kai bersimpuh di hadapan Alula. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Itu adalah cincin pernikahan milik Alula. Kai mengambil tangan Alula, ia mencoba memakaikan cincin itu kembali di jari manis istrinya.
Saat cincin itu akan Kai lingkarkan, Alula segera mengepalkan lengannya agar cincin itu tidak bisa di lingkarkan di jarinya.
Alula mengambil cincin itu dari tangan Kai dan melemparnya ke got yang ada di sampingnya.
"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menjalani kembali rumah tangga denganmu. Lupakanlah aku! Pulanglah ke kota Birmingham dan uruslah perceraian kita!" Alula segera beranjak pergi dan sedikit berlari meninggalkan Kai yang masih bersimpuh.
Kai segera berdiri dan melepas sepatunya. Ia turun ke got itu untuk mencari cincin istrinya. Kai meraba raba setiap sudut got itu untuk menemukan cincin istrinya.
"Akhirnya aku menemukan cincin ini," setitik air mata jatuh dari matanya.
Kai segera naik kembali dari got dengan tubuh yang kotor.
"Al, aku tidak akan pernah berhenti. Aku akan terus berusaha untuk mendapatkanmu kembali. Seperti yang telah ku katakan, kau tidak akan pernah bisa lari dari genggamanku. Aku akan selalu mengejarmu ke mana pun kau pergi," Kai memasukan cincin itu kembali ke dalam saku jasnya.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤