
Malam ini Alula, Beverly dan Chelsea menginap bersama dan tentunya dengan satu orang lagi, yang tak lain adalah Jasper, putra Alula.
"Chel, bagaimana persiapan pernikahanmu?" Tanya Alula kepada Chelsea yang tengah memangku Jasper.
"Semua sudah 90%, Al. Aku tidak menyangka hari itu akan datang," jawab Chelsea dengan senyum bahagia di bibirnya.
"Kau terlihat sangat bahagia sekali. Tidak sabar ya untuk malam pertama?" Tuduh Beverly kepada Chelsea.
"Mentang-mentang kau sudah menikah, bahasanmu malam pertama saja!" Chelsea mencebikan bibirnya.
"Kau sudah melakukannya kan? Mengaku saja! Satu celup dua celup pasti sudah!" Beverly memberikan analisa ngawurnya.
"Satu celup dua celup? Maksudmu membuat teh?" Jawab Alula dengan raut wajah bingung.
"Al, kau sudah punya anak. Masa tidak mengerti!" Beverly menggerutu.
"Jangan dengarkan Beverly, Al! Dia sesat!" Chelsea tertawa.
"Jawablah pertanyaanku! Kalian sudah tidur bersama bukan? Ayolah kita hidup di Eropa Barat!" Beverly bertanya dengan blak-blakan.
"Tentu saja tidak. Kau pasti tahu Cleon pria seperti apa," Chelsea berterus terang.
"Aku tahu sekali dia. Tidak mungkin dia berbuat seperti itu," Alula menimpali.
"Iya sih, aku juga heran. Henry pun kakaknya sama. Dia belum pernah tidur dengan wanita selain aku," sahut Beverly.
"Kita harus bersyukur. Walau pun kita tinggal di negara dengan prinsip sekuler tapi kita mendapat pria yang baik-baik dan ori," Chelsea menimpali sembari terus menggendong Jasper di pangkuannya.
"Al, mengapa anakmu sangat menggemaskan sih? Aku jadi ingin satu," Chelsea mencubit gemas pipi Jasper.
"Nanti jika anakku lahir, aku akan memberikannya padamu. Kan nanti kau menjadi bibinya. Dengan begitu aku bisa bekerja kembali," Beverly memberikan ide.
"Aku laporkan ke kak Henry ya?" Ancam Chelsea.
"Laporkan saja! Aku tidak takut," Beverly menjulurkan lidahnya.
"Bev, kata Kai kau sudah memberikan surat pengunduran diri?" Alula menoleh kepada Beverly.
"Iya, Al. Henry menyuruhku resign. Nanti jika kandunganku sudah 7 bulan aku resign. Kai juga perlu mencari orang kan untuk menggantikan posisiku dan aku harus melatih orang baru itu dulu," jelas Beverly.
"Baguslah, Bev. Lebih baik menurut saja dengan keputusan suamimu," jawab Alula kembali.
"Iya, Al."
"Chel, pegang dulu Jasper ya?" Aku ingin ke toilet dulu!" Alula pergi dari kamar Chelsea.
"Chel, aku juga ikut Alula. Pengen pipis," Beverly ikut-ikutan.
"Baiklah."
30 menit kemudian...
Chelsea sudah membaringkan Jasper di kasurnya karena Jasper sudah nyenyak dalam tidurnya.
"Mengapa mereka tidak kunjung kembali? Mereka tidur atau apa sih?" Chelsea membuka pintu kamarnya, tetapi terkunci dari luar.
"Mengapa di kunci?" Chelsea menggerak gerakan gagang pintu.
Chelsea ingin berteriak dan menggedor pintu, tetapi ia urungkan karena takut Jasper bangun dari tidurnya. 15 menit kemudian Alula dan Beverly masuk kembali ke dalam kamar.
"Kalian mengapa mengunciku dari luar?" Chelsea menggerutu saat Alula dan Beverly masuk.
"Ke kunci," jawab Beverly pendek.
"Chel, ayo ikut kami ke bawah! Kita makan. Perutku lapar," Alula mengelus perutnya.
"Bagaimana dengan Jasper? Aku khawatir dia akan jatuh," Chelsea melirik Jasper yang sedang tertidur di kasur miliknya.
"Tidak akan. Jasper jika tidur akan sangat nyenyak dan lelap," Alula mengambil 2 guling untuk menghimpit tubuh putranya.
"Baiklah, ayo kita makan!"
Mereka pun segera pergi ke lantai bawah. Saat Chelsea turun dari tangga, ia terkejut karena ruang makan sudah dipenuhi oleh dekor bunga dan lilin juga penuh dengan foto dirinya. Seketika Chelsea menoleh kepada Alula dan juga Beverly.
"Ini kalian yang mendekor?" Chelsea menutup mulutnya.
"Bukan, tadi team planner party datang untuk mendekor. Masa iya kami yang mendekor," Beverly tertawa.
"Ya, karena mereka kan masuk dengan diam diam."
"Ini bridal shower untukmu, Chel," jawab Alula.
"Ayo kita duduk!" Beverly menarik tangan Chelsea dan Alula.
Chelsea memperhatikan foto-fotonya yang terjajar rapi di meja makan. Foto itu kebanyakan adalah pose dirinya dengan Alula dan Beverly saat SMA dulu.
"Foto-foto kita masih ada?" Tanya Chelsea saat memperhatikan foto-foto dirinya.
"Aku juga heran Beverly dapat dari mana," timpal Alula.
"Aku dapat dari laptop lamaku. Ayo kita makan!"
Mereka bertiga pun makan dengan canda tawa yang menghiasi meja makan. Banyak sekali hal yang mereka obrolkan. Setelah sesi makan malam, Beverly dan Alula segera mencoret coret wajah Chelsea dengan lipstik yang ada.
"Lihatlah wajahku sudah tak berbentuk!" Chelsea menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Saat Chelsea masih memperhatikan wajahnya dari pantulan cermin, seseorang tampak masuk ke dalam rumah.
"Hallo sayang!" Sapa seorang pria. Chelsea menoleh dan ia sangat terkejut ketika tunangannya datang.
"Cleon, kau di sini?" Chelsea bertanya dengan panik dan menutup wajahnya.
"Tidak usah di tutup!" Cleon mengambil tangan Chelsea.
"Aku malu!" Chelsea menutup wajahnya lagi.
"Jangan ditutup! Mau bagaimana pun kau akan selalu cantik," puji Cleon masih dengan memperhatikan wajah wanita yang di cintainya.
"Cleon, sejak kapan kau bisa menggombal?" Tanya Alula dengan tawanya.
"Dia memang selalu menggombal, Al!" Chelsea mencubit pipi pria yang ia cintai.
"Andai Henry ada di sini, aku tidak akan gigit jari!" Beverly menatap pasangan yang akan segera menikah itu dengan iri.
"Apa perlu aku menyuruh kaka ke sini?" Tanya Cleon kepada kakak iparnya itu.
"Ah, jangan! Nanti dia merusak acara kita!" Beverly mencegah.
"Kau ini tega sekali pada suamimu!" Alula menyentil pelan kening Beverly dengan tangannya.
"Ayo Cleon, duduklah!" Ajak Alula.
Cleon dan Chelsea pun langsung duduk bersisian sembari terus menatap wajah satu sama lain dengan senyum yang tak pudar di wajah mereka.
****
"Bagaimana? Nino sudah bangun?" Tanya Kai saat waktu menunjukan pukul 4 dini hari.
"Sudah, lihatlah!" Alden menyuruh Kai untuk masuk. Mereka memang membawa Nino ke rumah Sofia dan William.
"No, kau baik baik saja?" Tanya Kai kepada Nino yang tengah duduk dengan tatapan menerawang.
"Kau lihatnya bagaimana?" Tanya Nino dingin.
"Sudahlah! Wanita masih banyak!" Kai menepuk pelan bahu Nino untuk menguatkan.
"Wanita memang banyak dan semua sama Kai," Nino tersenyum kecut.
"Jangan berkata seperti itu! Nanti pun kau akan menemukan wanita yang pas untuk mendampingi hidupmu!"
"Aku tidak akan menikah. Aku tidak mau berkomitmen dengan siapapun," jawab Nino tegas.
"Jangan begitu! Aku pun menemukan Alula. Kau pun akan menemukan wanita yang mencintaimu dengan tulus!"
"Wanita seperti Alula hanya ada satu di dunia ini. Tak akan ada wanita wanita yang sama seperti dia. Sudahlah! Mengapa kita membahas ini? Perset*n dengan wanita, Kai! Kebanyakan dari mereka hanya ingin uang, uang, dan uang. Percayalah!"
"Tidak semua wanita begitu! Masih banyak wanita yang tidak akan melihat pada kekayaanmu. Carilah wanita baik dan nikahilah! Orang tua mu tentu ingin melihat kau menikah," Kai berusaha untuk menasehati Nino.
"Sudahlah! Aku tidak ingin membahasnya lagi! Aku tidak akan pernah ingin menikah," jawab Nino cepat. Kemudian ia segera membaringkan tubuhnya membelakangi Kai yang masih terduduk di sisi ranjang.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤