Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Mulailah Hidup Baru Tanpanya


Alula di antar pulang kembali oleh Cleon ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Alula hanya menangis. Cleon benar-benar tidak tega melihat Alula, tetapi ia sendiri pun tidak tahu harus bagaimana untuk menghilangkan kesedihan wanita yang ada di sampingnya. Cleon memang bukan pria yang pandai untuk menyenangkan hati wanita.


Saat Cleon memasukan mobilnya ke halaman rumah milik Kai dan Alula, ia melihat sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman rumah itu.


"Itu mobil Kai!" Alula berkata dengan raut wajah yang gembira.


"Kau mau ke mana?" Cleon menahan lengan Alula saat wanita itu hendak turun dari dalam mobil.


"Aku ingin menemui Kai. Dia pasti menungguku di dalam," Alula mengeringkan wajahnya dengan jemari miliknya.


"Aku tidak yakin. Aku khawatir dia menyakitimu."


"Tidak akan. Cleon sebaiknya kau pulang! Bukankah kau harus bekerja?" Alula menatap tangan Cleon yang masih memegangi tangannya.


"Aku khawatir. Biarkan aku di sini dulu!" Cleon menatap Alula dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak. Kau pulang saja! Aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah mengantarku Cleon," Alula tersenyum dengan tulus.


"Kau yakin?" Cleon masih ragu.


"Aku yakin. Pulanglah! Kau harus memenuhi tanggung jawabmu untuk bekerja, bukan mengurusiku. Aku akan baik-baik saja," Alula menepuk pelan lengan Cleon.


"Baiklah. Kalau ada apa-apa hubungi aku!"


"Oke," Alula menaikan jempolnya ke atas.


Alula segera turun dari dalam mobil. Mobil Cleon pun segera berlalu meninggalkan rumah Alula dan Kai.


Alula berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumahnya. Ia ingin segera menemui suaminya dan meluruskan apa yang terjadi. Saat Alula masuk, ia melihat wajah bibi May yang tampak sedih.


"Kai, mana bi?" Tanya Alula kepada bibi May yang sedang melihat ke arah tangga.


"Bibi kenapa?"


"Ti-tidak, Nona," mata bibi May terlihat berkaca-kaca.


Alula segera pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Saat ia masuk, Alula melihat Kai tengah membereskan bajunya ke dalam koper.


"Kai, mengapa kau membereskan bajumu?" Alula berjalan mendekat.


Kai tampak tidak menjawab. Ia masih sibuk memasukan semua barangnya ke dalam koper.


"Kai?" Alula menggenggam tangan Kai yang sedang melipat handuk miliknya.


Kai melepaskan tangan Alula dari tangannya.


"Aku akan pergi dari sini! Nanti pengacara ku akan ke sini untuk mengurus perceraian kita," ujar Kai dingin.


"Maksudmu?" Suara Alula tampak bergetar mendengar perkataan suaminya.


"Aku ingin kita berpisah," Kai menutup koper miliknya.


"Aku tidak ingin berpisah darimu! Bukankah kau mengatakan sampai mati pun tak akan pernah menceraikanku?" Alula menangis sesenggukan.


"Itu sebelum aku tahu kau berniat buruk pada ayahku," Kai menatap Alula tajam.


"Kau tidak bisa seperti ini! Aku mencintaimu," Alula menggenggam baju Kai.


"Aku mohon revisi kata-katamu!" air mata sudah memenuhi wajahnya.


"Bukankah dari awal kita hanya akan menikah selama 7 bulan?" Kai melepaskan genggaman tangan Alula dari kemejanya.


"Katakan! Katakan jika ini hanya lelucon!" Alula tersenyum getir. Dadanya naik turun berusaha mencari oksigen untuk menghilangkan sesak di dadanya.


"Kau sedang emosi. Mari kita bicarakan ini baik-baik!" Air mata semakin deras membanjiri wajah Alula.


"Katakan kau mencintaiku!!" Desak Alula kepada Kai dengan tangisnya yang menyayat hati.


Kai tidak menjawab, ia hanya menatap Alula dengan tajam. Hatinya bergetar melihat Alula menangis seperti itu, tetapi pikirannya memutar kembali kejadian di mana ayahnya masuk ke rumah sakit dengan keadaan yang menyedihkan.


"Kembalilah pada pria itu! Bukankah kau masih menginginkannya?" Kai mengalihkan matanya dari wajah Alula. Ia tidak ingin wajah Alula merubah keputusannya.


"Aku tidak menginginkannya, aku hanya menginginkanmu. Aku hanya ingin bersamamu," Alula tersedu.


"Aku tidak bisa!"


"Aku benar-benar tidak mencelakai Daddy. Mengapa kau tidak percaya padaku?" Ucap Alula getir.


"Kau ingin aku percaya padamu?" Kai kembali menatap wajah istrinya. Alula pun mengangguk.


"Jika kau ingin aku percaya padamu, pergilah ! Pergilah dari hidupku! Pergilah dan jangan tampakan wajahmu di depanku lagi!" Kai segera menarik kopernya dan berlalu dari kamar itu.


Tubuh Alula merosot ke lantai. Ia menangis sejadi-jadinya. Bibi May datang ke kamar dan melihat Alula yang begitu kacau.


"Nona, yang sabar! Kebenaran pasti akan terungkap!" Bibi May memeluk Alula dan ikut menangis.


Setelah mobil Kai berlalu dari sana, Cleon datang kembali untuk memastikan keadaan Alula. Tadi ia sudah setengah jalan untuk sampai di tempatnya bekerja, tetapi pikiran Cleon sungguh tidak tenang. Ia pun memutuskan untuk meminta izin tidak masuk kerja dan memutar kembali mobilnya ke perumahan Boston Villages.


"Al?" Cleon berteriak di lantai bawah. Bibi May yang sedang menenangkan Alula pun segera turun untuk melihat siapa yang masuk ke dalam rumah.


"Alula mana, Bi?" Tanya Cleon dengan raut wajah yang khawatir.


"Nona, sedang di lantai atas. Silahkan tuan temui Nona Alula! Dia sedang membutuhkanmu," titah bibi May kepada Cleon. Cleon pun segera berlari dan naik ke atas.


"Al?" Panggil Cleon saat melihat Alula tengah menangis sembari bersimpuh di lantai. Cleon segera mendudukan tubuhnya di hadapan tubuh Alula.


"Cleon? Kai akan menceraikanku," Alula menangis histeris sembari mengguncang bahu Cleon.


"Al, tenanglah!" Titah Cleon dengan suara yang bergetar. Ia sungguh benar-benar tidak tega melihat Alula seperti ini.


"Aku tidak melukai Daddy. Mengapa Kai tidak percaya padaku? Aku harus bagaimana? Bagaimana dengan anak ini?" Alula berteriak dengan suara yang parau.


"Aku mohon jangan seperti ini!" Cleon menangkup wajah Alula.


"Dengarkan aku! Jika memang Kai mencintaimu, tentu dia akan percaya padamu! Kai sudah tidak menginginkanmu lagi! Aku mohon lepaskan dia! Raihlah kehidupanmu sendiri!" Air mata menetes dari mata Cleon.


"Aku ingin Kai percaya padaku! Dia bilang akan percaya padaku jika aku pergi dari hidupnya," Alula masih menangis sesenggukan.


"Kalau begitu tinggalkan Kai! Mulailah hidup baru tanpanya, jangan kau menyakiti dirimu sendiri seperti ini!" Cleon mengusap air mata Alula dengan tangannya.


"Kau masih ingin hidup dengan pria yang tidak mempercayaimu? Belajar lah untuk hidup tanpanya! Bukankah sebelum kau menikah dengan Kai, kau bisa menjalani kehidupanmu dengan baik?" Lanjut Cleon.


Alula memandang wajah Cleon dengan nanar. Ia meresapi semua yang Cleon katakan padanya.


****


Setelah keluar dari rumahnya, Kai segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Edward. Di sana sudah ada pengacara yang siap untuk mengurus perceraiannya. Di tengah perjalanan, Kai menepikan mobilnya. Ia mengatur nafasnya yang memberat. Kai menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.


"Arrrggghhhh!!!" Kai berteriak.


Tak lama, air matanya tumpah.


"Mengapa aku harus mengalami semua ini? Aku mencintai istriku, tapi aku tidak bisa hidup dengan orang yang mencelakai ayahku sendiri," Kai menungkupkan wajahnya di setir mobil.


Kai pun menarik nafasnya dalam dan segera melajukan kembali mobilnya ke rumah Edward.


Saat Kai sampai di rumah Edward, ia sudah melihat pengacara keluarganya tengah menyiapkan berkas-berkas untuk gugatan perceraiannya. Setelah Kai melihat Alula dan Cleon, ia memang langsung menelfon Edward untuk menyiapkan berkas gugatan perceraian.


"Tuan, silahkan masuk!" Kata Edward saat ia melihat Kai sampai di rumahnya dengan wajah yang sangat kacau.


Kai pun segera mendudukan dirinya di sebelah tuan Smith, pengacar yang akan menangani kasus perceraiannya.


"Tuan, silahkan anda tanda tangani surat gugatan cerai ini!" Tuan Smith menyodorkan satu lembar kertas.


Kai mengambil kertas itu dan menatapnya dengan tatapan kosong. Edward menyodorkan pulpen kepada Kai.


Kai masih menatap kertas yang ada di lengannya.


"Tidak, aku tidak bisa!" Kai merobek kertas gugatan perceraian itu dan segera keluar dari rumah Edward.


Kai segera pergi ke apartemennya untuk menenangkan diri. Ia ingin mendinginkan kepalanya agar bisa berfikir secara rasional. Saat ia akan masuk ke dalam apartemen, terdengar seseorang memanggilnya.


"Arabella? sedang apa kau di sini?" Tanya Kai datar.


"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Aku sudah mendengar semuanya di televisi. Dan-" Arabella menggantung kata-katanya.


"Istrimu yang melukai Daddy William," lanjut Arabella.


Kai tampak terkejut dengan apa yang ia dengar.


"Kau tahu dari mana?" Kai merasa heran karena yang tahu perihal masalah ini hanya orang-orang terdekatnya.


Arabella tampak salah tingkah dan gugup.


"Nino dan Alden bercerita kepadaku," jawab Arabella dengan gugup.


"Shit! mengapa mereka menceritakan ini kepada Bella ?" Umpat Kai dalam hatinya.


"Kai, aku masih mencintaimu dan aku juga menyayangi Daddy seperti ayahku. Ku mohon kembalilah padaku! Kita mulai semuanya dari awal," ucap Arabella dengan suara yang lembut.


"Alula adalah wanita yang jahat. Kau tidak pantas untuknya. Wanita mana yang mencelakai ayah mertuanya sendiri?" Arabella memanas-manasi Kai.


"Ceraikan dia dan kembali padaku!" lanjut Arabella.


Kai tampak terdiam.


"Bell, pergilah! Walau pun nanti aku menceraikan Alula, aku tak akan kembali padamu. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun kepadamu," Kai segera membuka pintu apartemennya dan masuk ke dalam meninggalkan Arabella yang masih berdiri di luar.


"Apa ini? Jadi semua yang ku lakukan sia-sia?" Arabella tampak kalut.


Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—