
Kai mengantarkan istrinya sampai ke rumah, lalu ia segera pergi ke kantornya karena ada beberapa urusan pekerjaan yang harus segera Kai selesaikan. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Kai segera melakukan video call dengan Nino dan Alden.
"Kalian di mana?" Tanya Kai ketika mereka melakukan video call grup.
"Aku sedang di tempat billiard," jawab Nino.
"Aku sedang di tempat karaoke," sahut Alden.
"Temui aku di mall yang ada di pusat kota!" Perintah Kai tegas.
"Hey, hey, kau tidak sedang mengikut sertakan kami dengan hal-hal yang berbau ngidam istrimu kan?" Nino tampak curiga.
"Kalian selalu saja curiga kepadaku," Kai berdecak pelan.
"Lalu, untuk apa kau menyuruh kami untuk bertemu di mall?" Tanya Alden penuh selidik.
"Aku ingin mengobrol dengan kalian di sana, lalu setelah itu kita berangkat ke klub untuk bertemu wanita-wanita cantik," Kai tampak memancing Nino dan Alden. Jika ia berkata meminta untuk di temani membeli boneka, tentu saja Nino dan Alden akan langsung menolak.
"Wow, sejak kapan kau tertarik dengan wanita di klub? Awas istrimu tahu, nanti dia mengamuk dan membunuhmu!" Nino memperingatkan.
"Tidak akan. Ayo cepat, nanti wanita-wanita cantik yang ada di klub malam itu di ambil pria lain," seru Kai dengan wajah usilnya.
"Aku on the way sekarang, Kai. Kalau ini aku bersemangat," Alden tertawa-tawa.
Nino merasa ada yang janggal dengan perintah Kai. Tidak biasanya Kai mau mencari wanita di klub. Ia sangat tahu, Kai paling anti dengan wanita wanita yang ada di klub.
"Baiklah. Aku segera berangkat," Nino akhirnya memutuskan untuk pergi.
Setelah melakukan video call dengan Nino dan Alden, Kai langsung berangkat ke mall yang ia tuju. Kai melihat daftar boneka yang di inginkan istrinya yang ia ketik di ponselnya.
"Bagaimana aku membawanya nanti?" Kai tampak frustasi melihat daftar boneka yang di inginkan Alula.
Beberapa menit kemudian, Kai sampai di mall. Ia langsung menuju food court karena Nino dan Alden mengirimkan pesan singkat jika mereka tengah berada di food court.
"Akhirnya kau datang juga. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita-wanita cantik di klub," Alden berkata dengan girang.
"Kai? Sebaiknya kau batalkan saja, aku kasihan pada istrimu. Dia tengah mengandung anakmu," Nino mengingatkan.
"Emm.. Sebenarnya aku mengajak kalian bertemu agar kalian dapat menemaniku membeli boneka, bukan pergi ke klub," Kai tersenyum semanis mungkin.
"Aku sudah menduganya," Nino menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kai, kau ini apa-apaan? Aku sudah membayangkan wanita-wanita seksi, kau malah meminta untuk di temani membeli boneka. Ah, aku tidak mau. Lebih baik, aku kembali saja ke tempat karaoke," Alden hendak berdiri dari duduknya.
"Pergilah dan anggap aku bukan sahabatmu lagi," Kai berkata dengan santai sembari meminum minuman milik Alden yang sudah terhidang di meja.
"Ah, kau benar-benar menyebalkan," Alden terduduk kembali di kursinya. Sementara Nino hanya tertawa melihat wajah Alden yang di tekuk bagaikan koran usang.
"Aku mau menemanimu asal aku tidak di suruh membawa boneka," Nino menimpali.
"Kalau begitu, ayo kita langsung membeli boneka yang di inginkan istriku!" Kai berdiri dari duduknya. Nino dan Alden pun mengikutinya dari belakang.
"Kai, kau tidak salah membeli boneka sebanyak ini?" Alden tampak frustasi melihat boneka yang sudah Kai bayar.
Boneka itu sangat banyak. Ada boneka teddy bear yang besar, boneka Appa tokoh dalam kartun The Legend Of Aang, boneka minion, boneka spongebob dan kloninya juga boneka sapi.
"Kalian harus ikut aku membawa boneka-boneka ini!" Suruh Kai dengan raut wajah yang tenang. Ia seperti sudah menyiapkan hati dan mentalnya untuk acara mengidam istrinya.
"Kai, mengapa kau jadi pasrah seperti ini? Dulu saat Bella memintamu untuk membelikannya boneka kau tidak mau," gerutu Alden.
"Hey, mengapa kau sebut-sebut nama Bella lagi? Jangan sebut namanya lagi! Aku sudah muak, jika istriku mendengar tentu dia tidak akan nyaman mendengarnya. Aku tidak ingin Alula salah paham," lontar Kai kepada Alden.
"Kau benar-benar budak cinta stadium akhir, Kai!" Nino menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nona, apa di sini tidak ada troli besar untuk membawa boneka-boneka ini ke basement?" Tanya Kai kepada pegawai toko
"Kalau begitu, tunggu di sini! Aku akan membeli sesuatu," Alden segera pergi dari toko boneka.
"Awas saja jika kau kabur!" Teriak Nino yang melihat Alden berlari ke luar dari toko boneka.
Beberapa menit kemudian, Alden kembali dengan bingkisan di tangannya.
"Kau membawa apa?" Tanya Nino heran.
"Aku membawa sebuah gendongan," Alden memperlihatkan 3 gendongan untuk bayi kepada Nino dan Alden.
"Untuk apa kau membelinya? Kau ini sungguh ingin mempermalukanku?" Nino menggerutukan giginya geram.
"Ini untuk menggendong boneka. Gendong yang kecil-kecilnya! Yang besar bisa kita jingjing dengan tangan," Alden memberikan gendongan bermotif beruang kepada Nino dan bermotif hello kitty kepada Kai.
"Den, terima kasih ya?" Kai menepuk bahu Alden.
"Kelak jika istrimu mengidam, aku akan membantumu juga dan maafkan aku, tadi aku berbohong!" Tutur Kai dengan haru.
"Sudahlah, kau ini begitu menggelikan! Anggap saja ini untuk keponakanku," Alden mulai menggendong boneka spongebob ke dalam gendongannya.
"No, terima kasih ya?" Kai berkata dengan tulus.
"Jangan di pikirkan!" Nino menepuk bahu sahabatnya pelan. Mereka pun segera menggendong boneka itu sembari kedua tangannya membawa boneka yang lainnya.
"Kai, aku sungguh malu!" Alden menundukan wajahnya. Para wanita yang melihat langsung berbisik-bisik seraya tersenyum melihat 3 pria yang maco itu menggendong boneka dan membawa boneka yang imut-imut di tangannya.
Sementara Kai dan Nino pun berjalan sembari menundukan kepalanya.
"Kalian sangat lucu. Sebentar!" Alden menghadang jalan Kai dan Nino. Alden menyimpan boneka yang ia pegang ke lantai dan segera mengambil ponsel miliknya.
"Hey, jangan memotretku!" Seru Kai dan Nino bersamaan.
"Aku tidak memfoto kalian. Aku hanya menjadikan kalian storyku di instagr*m," Alden tertawa-tawa.
"Dasar bocah menyebalkan!" Gerutu Kai dan Nino.
***
"Kai, akhirnya kita sampai basement," Alden berkata dengan terengah-engah. Kemudian ia mengambil botol air mineral dari dalam mobilnya dan meneguknya kasar.
"Kau baru saja membawa boneka, bagaimana jika disuruh membawa barang yang lain?" Nino tersenyum meledek.
"Bukan masalah membawa bonekanya, tetapi masalah harga diriku, No."
Nino pun tertawa melihat raut wajah Alden. Sementara Kai masih sibuk memasukan boneka-boneka itu ke dalam mobilnya.
"Kalian ikut pulang bersamaku dan menginap di rumahku ya?" Pinta Kai kepada Alden dan Nino.
"Perasaanku sungguh tidak enak," Nino memegangi dadanya.
"U-untuk apa kau meminta kami menginap di rumahmu?" Alden bertanya dengan terbata.
"Alula ingin dibuatkan cupcake oleh kita bertiga," ujar Kai dengan jujur.
"Benarkah dia ingin memakan cupcake buatanku? Baiklah, mari kita membuat kue!" Seru Alden dengan girang.
Nino hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" Ajak Kai kepada kedua sahabatnya. Nino dan Alden pun segera masuk ke dalam mobil masing-masing dan melajukan mobilnya menuju rumah William dan juga Sofia.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤