
"Sebentar!" Ucap Ainsley saat seseorang memencet bel rumahnya.
Saat Ainsley membuka pintu, Kaivan tengah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kai, kau kesini Nak?" Tanya Ainsley ramah. Ia memang sudah menganggap Kai sebagai anaknya.
"Iya, Ma. Alulanya mana?" Kai celingak celinguk mencari keberadaan istrinya.
"Alula ada di kamarnya. Ayo masuk!" Ainsley tampak mengerti Kai tengah mencari Alula.
"Kamarnya di mana, Ma?" Tanya Kai bingung. Ia memang baru pertama kali masuk ke rumah orang tua istrinya.
"Kamar Alula ada di atas. Kau naik saja. Mama mau bantuin bi Daisy masak dulu. Tentu kau lapar kan?"
Kai hanya mengangguk, tak lama Ainsley segera pergi ke dapur.
Kai menaiki tangga rumah Alula dengan rasa yang begitu berkecamuk di dalam hatinya. Ia sungguh ingin memeluk istrinya dan meminta maaf untuk segala kesalah fahaman yang terjadi.
Kai membuka pintu kamar Alula dengan perlahan. Ia melihat istrinya sedang berdiri sambil melihat pemandangan salju dari jendela kamarnya.
"Ada apa, Ma?" Tanya Alula tanpa menoleh. Ia menyangka yang masuk ke kamar adalah ibunya.
Tanpa aba-aba, Kai segera memeluk tubuh Alula dari belakang. Ia memeluk tubuh Alula dengan erat.
Alula melihat tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia sudah tahu jika itu adalah lengan milik Kai.
"Mau apa kau ke sini?" Alula melepaskan lengan Kai dari pinggangnya.
"Tentu saja untuk bertemu dengan istriku," jawab Kai lirih.
"Untuk apa? Untuk memaki ku lagi dengan kata murahan?" Air mata Alula menetes di pipinya. Ia masih sangat sakit hati atas tuduhan yang Kai tuduhkan padanya.
"Maafkan aku! Aku sudah salah sangka kepadamu," Kai hendak menggapai wajah Alula untuk menghapus air matanya. Tetapi Alula memundurkan tubuhnya. Alula menghapus air matanya dengan lengan lentiknya.
Kai melihat leher Alula. Disana begitu banyak tanda merah yang ia bubuhkan tadi malam. Mata Kai terhenti di pergelangan tangan Alula yang memerah bekas cengkraman tangannya semalam. Kai refleks memegang lengan itu.
"Maafkan aku! Semalam aku benar-benar lepas kontrol," terdengar suaranya memberat. Kai benar-benar merasa bersalah.
"Jangan menyentuhku!" Rintih Alula sembari mengibaskan lengan Kai dari lengannya.
"Keluarlah!" Usir Alula kepada suaminya.
"Aku tidak ingin keluar."
"Keluarlah! Aku mohon!" Alula mendorong tubuh Kai dan berusaha mengeluarkan pria itu dari kamarnya.
Saat situasi tengah memanas, Ainsley membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Maaf, mama hanya ingin mengatakan jika makan malam sudah siap," Ainsley langsung menutup pintu ketika melihat anaknya dan Kai tengah ribut.
"Jika kau tidak mau keluar, biar aku yang keluar," Alula mengambil syal miliknya dan bergegas keluar dari dalam kamar.
Kai pun segera mengganti baju kerjanya dengan baju piyama yang ia bawa dalam tasnya. ia memang berniat untuk menyusul Alula kesini. Setelah berganti baju, Kai mengikuti Alula yang turun ke lantai bawah.
"Ternyata ada menantuku di sini. Ayo kita makan bersama!" Tutur Halbert saat melihat Kai berjalan ke arah meja makan. Kai mendudukan dirinya di kursi makan yang berada di samping Alula.
"Papa baru pulang?" Tanya Alula saat Halbert masih memakai baju kerjanya.
"Iya, Al. Papa harus mengikuti seminar wajib yang diadakan kementrian pendidikan. Setelah makan malam papa dan mama harus pergi ke kota Manchester untuk rapat membahas peningkatan mutu universitas yang kami ajar," jelas Halbert.
"Yah, jadi setelah ini kalian pergi?" Alula merasa kecewa karena ia harus berdua dengan Kai di rumah ini.
"Tidak apa-apa," kata Alula tidak ikhlas.
Kai mulai memakan makan malamnya serta mendengarkan pembicaraan istri dan mertuanya.
"Sayang, mengapa kau memakai syal saat makan seperti ini?" Ainsley merasa heran karena Alula memakai syal saat makan.
Kai yang mendengarnya langsung tersedak dan terbatuk-batuk.
"Kai, kau tidak apa-apa?" Tanya Halbert panik.
"Ambilkan suamimu air, Al!" Perintah Ainsley kepada Alula.
Alula memutar bola matanya dan ia mengambil gelas yang sudah terisi air.
"Nih!" Alula berkata dengan ketus.
"Bantu aku untuk meminumnya," Kai menatap Alula yang terduduk disampingnya. Dengan terpaksa Alula membantu Kai untuk minum.
Halbert dan Ainsley tampak tersenyum melihat kemesraan anak dan menantunya.
"Jadi, mengapa kau memakai syal saat makan malam?" Tanya Ainsley kembali ketika Kai dan Alula sudah mulai memakan makanannya lagi.
"Al kedinginan, ma. Mama tahu kan Al tidak kuat dingin," kilah Alula sembari memakan makanan dipiringnya.
"Oh iya, Al. Apakah sudah ada tanda tanda mama akan punya cucu?" Lanjut Ainsley.
"Iya, bagaimana, Al? Papa ingin segera menimang cucu," tambah Halbert.
Alula langsung menatap ibu dan ayahnya bergantian. Ia melihat sebuah tatapan pengharapan di mata kedua orang tuanya.
"Tenang saja, Ma. Semoga secepatnya Kai memberikan cucu untuk kalian," jawab Kai sembari menyunggikan senyum manisnya.
Alula langsung teringat dengan peristiwa malam kemarin, saat Kai mengambil kesuciannya. Ia teringat kembali dengan kata-kata makian yang Kai lontarkan kepadanya.
"Bagaimana jika aku hamil? Aku teringat saat ayah Kai menyuruh Kai untuk menceraikanku," Alula menatap nanar piringnya.
"Ma, Pa. Alula sudah kenyang. Alula naik dulu ke kamar ya," Alula mendadak tidak berselera makan saat ia mengingat percakapan mertuanya dengan Kai.
"Mengapa hanya makan sedikit? Nanti kau sakit," cemas Kai.
"Nanti jika aku lapar, aku makan lagi. Kalau begitu, Al naik dulu ke kamar ya ma, pa?"
"Iya, sayang. Setelah makan kami akan packing dan berangkat," jawab Halbert.
Alula mengangguk dan segera naik ke lantai atas. Kai hanya memperhatikan Alula yang berlalu meninggalkannya.
"Kai, sebenarnya kau dan Alula kenapa?" Ainley terlihat penasaran.
"Hanya ada masalah kecil, Ma."
"Sudahlah! Kau jangan mencampuri urusan mereka, sayang! Mereka bisa menuntaskan masalahnya sendiri. Alula dan Kai sudah dewasa," tegur Halbert kepada Ainsley.
"Baiklah. Maafkan mama ya, Kai!"
"Tidak apa-apa, Ma. Wajar jika mama mengkhawatirkan Alula," Kai tersenyum tulus.
Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 untuk mendukung Author. Terimakasih š¤