
11 hari kemudian.
Hari ini adalah kepulangan Chelsea dan Cleon ke kota Birmingham. Mereka harus pulang karena Cleon sudah harus kembali bekerja, Chelsea pun tidak bisa terus menerus meninggalkan butik miliknya dan menyuruh sang mama untuk menghandle lebih lama lagi.
"Al, aku berjanji akan mengunjungimu setiap akhir pekan," Chelsea memeluk Alula sambil menangis karena ia sungguh tidak tega meninggalkan sahabatnya itu.
"Aku akan merindukanmu," Alula pun menangis, karena itu berarti ia akan sendirian di rumah. Kakek dan neneknya lebih sering menghabiskan waktunya di kebun apel dari pada di rumah.
"Tepati janjimu ya Chel untuk menemuiku setiap weekend?" Alula mengusap air matanya saat Chelsea melepaskan pelukannya.
"Pasti. Aku akan mengunjungimu," Chelsea mengusap tangan Alula dengan lembut.
"Jaga kesehatanmu, Al! Kalau ada apa-apa hubungi aku dan Chelsea," Cleon menatap Alula sendu. Ia sungguh tidak tega meninggalkan Alula sendirian.
"Aku tidak mempunyai ponsel sekarang," Alula menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Tapi aku akan menelfon kalian dengan telfon rumah nenek," lanjut Alula.
"Aku pergi dulu!" Chelsea memeluk kembali Alula dengan waktu yang cukup lama. Alula pun membalas pelukan sahabatnya dengan hangat. Dalam hati kecilnya, Alula tidak ingin Chelsea dan Cleon pergi. Akan tetapi, Alula pun tidak bisa egois. Chelsea dan Cleon memiliki tanggung jawab di kehidupannya.
"Bye Chel! Bye Cleon!" Alula melambaikan tangannya saat Chelsea dan Cleon masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil mereka segera melaju meninggalkan kota yang dijuluki kota paling misterius di Inggris itu.
"Aku khawatir dengan Alula," Chelsea menatap Cleon yang tengah menyetir.
"Aku pun khawatir dengannya. Tapi bagaimana lagi? Ini lebih baik dari pada dia harus di kota Birmingham dan kembali kepada Kai. Aku khawatir sewaktu-waktu Kai akan melukai Alula kembali," kata Cleon sembari melajukan mobilnya meninggalkan kota York.
***
Keesokan harinya..
Setelah kegagalannya menemukan Alula di kota York. Kai menjelajahi kota lain di luar kota Birmingham untuk menemukan Alula. Kai pun semakin memperbanyak orang-orang suruhannya untuk mencari keberadaan istrinya. Tidak sampai di sana. Kai pun melapor kepada polisi mengenai berita kehilangan istrinya. Ia juga menyebarkan pamplet dengan imbalan hadiah bagi yang dapat memberitahukan keberadaan istrinya di mana.
Saat ini Kai tengah merenung di dalam rumahnya. Ia memikirkan cara lain untuk menemukan Alula dan membawanya kembali ke sisinya.
"Tuan Kai, tuan Cleon sudah kembali ke kota Birmingham," Kai mendapat sebuah pesan dari orang-orang suruhannya. Kai segera segera bergegas berangkat ke rumah Cleon.
Beberapa menit kemudian, Kai sampai di perumahan rumah Cleon. Akan tetapi, Kai melihat mobil Cleon meninggalkan rumah. Kai segera mengikuti mobil itu dan menyalipnya ketika di jalanan yang sepi.
"Hey, kau ingin mati?" Cleon keluar dari mobilnya ketika melihat mobil Kai berhenti di depan mobilnya. Kai pun segera keluar dari dalam mobil.
"Di mana istriku?" Kai melepas kaca mata hitam yang bertengger di matanya dan menatap Cleon penuh dengan kebencian.
"Untuk apa lagi kau mencarinya?" Cleon berkata dengan geram. Ia sungguh tidak habis pikir dengan sikap rival basketnya saat SMA itu. Kai membuang Alula dengan mudah, dan kini ia pun yang mencari Alula dengan bersusah payah.
"Aku suaminya. Aku perlu tahu istriku ada di mana."
"Suami? Maksudmu suami yang tidak pernah percaya akan segala perkataan istrinya? Suami yang lebih mempercayai perkataan orang lain dari pada istrinya?" Cleon tersenyum sinis.
"CLEON!!!!" Hardik Kai dengan berang.
"Untuk apa kau mencarinya setelah kau mencampakannya?" Cleon tak kalah sengit menatap tajam ke arah Kai.
"Jangan uji kesabaranku!!" Tangan Kai mengepal.
"Dan jangan memaksaku untuk mengatakan di mana keberadaan Alula!!" Cleon ikut berteriak.
"Dia istriku. Aku berhak atas hidupnya."
"Dan berhak juga untuk menyakitinya? Sehingga kau membuangnya layaknya sampah?"
"Kurang ajar!!" Kai segera berjalan ke arah Cleon dan meninju wajahnya.
Cleon pun membalas meninju wajah Kai. Mereka kini berkelahi di pinggir jalan yang sepi.
"Katakan! Katakan di mana Alula!!!" Kai menarik kerah kemeja Cleon.
"Jika aku tidak mau mengatakannya, kau bisa apa?" Cleon menyingkirkan lengan Kai di kemejanya. Mereka pun saling memukul kembali satu sama lain.
"Kai? Cleon? Apa yang kalian lakukan?" Chelsea tampak keluar dari dalam mobil miliknya. Chelsea memang berniat untuk ke rumah Cleon untuk mengantar bekal makanan. Maka dari itu, ia melewati jalan yang sama yang dilalui oleh Cleon dan juga Kai.
"Jangan berkelahi!" Chelsea menarik tangan Cleon untuk menjauh dari Kai.
Kai dan Cleon sama-sama menghapus darah yang ada di bibir dan hidungnya masing-masing akibat adu jotos itu.
"Kalian seperti anak ABG saja berkelahi di jalanan. Ingat umur kalian!! Gerutu Chelsea.
Kai menghampiri Chelsea dan Cleon kembali.
"Kau suaminya, jadi harusnya kau tahu di mana keberadaan istrimu. Mengapa kau jadi menanyakannya kepada kami?" Chelsea tersenyum seolah meledek pria yang ada di hadapannya.
"Kalian yang pergi bersama istriku. Jadi, di mana dia sekarang?"
"Aku tidak tahu," timpal Chelsea.
"Aku mohon! Beri tahu Alula ada di mana?" Kai merendahkan suaranya.
"Aku ingin memperbaiki semuanya," lanjutnya.
"Alula sudah tidak mau membina rumah tangganya lagi denganmu," Chelsea menyahuti.
"Aku tidak peduli. Mengapa kalian menghalangiku untuk bertemu dengan istriku sendiri?"
"Karena Alula sudah tidak ingin bertemu denganmu lagi," ucap Cleon dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku masih berstatus suaminya. Dia masih istriku yang sah. Aku mohon sekali lagi. Di mana Alula sekarang?"
"Kau yang menyuruhnya pergi. Kau juga yang harus mencarinya dengan tenagamu sendiri," ujar Chelsea.
"Ayo Cleon kita pergi! Chelsea menarik tangan Cleon dari hadapan Kai. Mereka pun segera masuk ke dalam mobilnya masing-masing.
Kai berjalan kembali ke arah mobilnya. Ia menghembuskan nafasnya kasar.
"Sialan!!" Kai membanting pintu mobilnya yang tengah terbuka dengan sangat keras.
****
Setelah pertemuannya dengan Cleon, Kai segera pergi ke kantornya.
"Minggirlah! Kau menghalangi jalanku!!" Kai membentak salah seorang karyawan. Mereka pun segera memberikan jalan kepada bosnya itu. Mereka tampak mengerti jika mood Kai tengah buruk.
Kai segera masuk ke ruangannya. Ia seolah ingin melampiaskan kemarahannya. Kai memeriksa absen karyawan-karyawan yang memiliki kedudukan penting di kantor.
"Rachel? Panggil Beverly kemari," Kai menelfon Rachel. Tak lama Beverly segera masuk ke dalam ruangan pribadi milik Kai. Beverly masuk ke ruangan itu dengan raut wajah yang bingung.
"Mengapa dua minggu yang lalu kau tidak masuk kerja, padahal kantor belum meliburkan karyawan?" Kai berkata tajam kepada Beverly.
"Kau jangan seenaknya!" Kai membentak. Ia kembali melihat absen karyawan yang memangku jabatan penting lainnya. Suasana hatinya benar-benar sedang buruk.
"Dua minggu yang lalu aku izin karena menyusul Cleon ke kota York," jawab Beverly dengan polos.
Kai langsung menghentikan aktifitasnya. Ia kini memandang Beverly dengan tajam.
"Apa maksudmu? Ulangi!!" Kai berdiri dari duduknya.
"Aku menyusul Cleon ke kota York. Mereka tengah liburan bersama di rumah nenek dan kakek Alula yang ada di kota York. Memang kau tidak mengetahuinya? Kau kan suami Alula!!"
"Jadi, Alula ada di sana?" Bibir Kai tampak bergetar.
"Tentu saja. Mereka berlibur bertiga."
"Tetapi aku melihat rumah itu telah di jual."
"Kau salah! Mereka benar-benar tinggal di sana. Aku benar-benar menyusulnya dan melihat mereka di sana."
Kai tidak menyahuti perkataan Beverly. Ia segera mengambil kunci mobilnya dan berlalu dari ruangan kerjanya.
"Aneh sekali dia," Beverly menggerutu.
Sore hari...
Alula sedang berada di kamarnya sembari mendengarkan lagu yang berjudul We Don't Talk Anymore dari laptop miliknya. Lagu itu benar-benar mewakili perasaan Alula saat ini.
"Ya, aku overdosis. Overdosis karena tak bisa menyingkirkanmu dari benakku," Alula berbicara sendiri. Saat ia masih menikmati lagu itu, seseorang terdengar mengetuk pintu rumahnya.
"Itu pasti nenek dan kakek," Alula segera turun ke bawah dan membuka pintu.
Betapa terkejutnya Alula, ketika yang ia lihat bukan kakek dan neneknya. Akan tetapi, orang yang selama ini ia berusaha lupakan dengan mati-matian.
"Sampai kapan kau akan kabur dariku?" Tanyanya dengan mata yang penuh dengan luka.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤