Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Ayo kita Menonton Film!


Pagi menyapa. Pagi ini William, Sofia, Kaivan dan Alula tengah sarapan bersama. Hari ini Alula dan Kai berencana untuk pulang, karena Kai tidak bisa lebih lama lagi meninggalkan pekerjaannya.


"Kai, weekend kan dua hari lagi. Kamu dan Alula menginap lagi disini ya?" Ucap Sofia sembari menikmati roti corcetto dan juga capuccino miliknya. Keadaan Sofia kini sudah membaik setelah dokter Thomas meresepkan obat anti vertigo.


"Tidak bisa, Mom. Weekend Kai ada undangan acara pesta Halloween bersama teman-teman SMA. Semua teman-teman SMA Kai pasti akan datang," jawab Kai.


Alula menoleh kepada suaminya. Ia tidak tahu jika ada acara pesta Halloween.


"Kai, kenapa aku tidak tahu?" Tanya Alula polos.


"Kau tidak melihat undangannya di grup SMA?"


"Ya ampun, aku lupa. Aku belum mencharger ponselku," Alula menepuk dahinya.


Mungkin karena hari-hari kemarin Alula sibuk dengan pekerjaan rumah yang Kai bebankan padanya, juga karena ia sedang sakit jadi Alula melupakan ponselnya.


"Kalau begitu kalian akan berangkat bersama kan?" Sofia tersenyum riang.


"Aku tidak akan ikut, Mom," timpal Alula.


"Kau harus datang! Jika kau tidak datang, aku akan dicap sebagai suami yang jahat karena tidak mengajakmu," Kai menghunuskan tatapan tajam kepada Alula.


"Iya. Lebih baik kamu datang saja, Nak!" Timpal Sofia sambil tersenyum kepada Alula.


"Sudah, lebih baik kalian habiskan sarapan kalian!" Timpal William yang dari sedari tadi asik menikmati roti Banitzanya.


"Aku datang atau tidak ya?" Alula bertanya-tanya dalam hatinya. Ia merasa bingung karena belum pernah datang ke acara pesta halloween sebelumnya.


Semua menikmati sarapan paginya dengan hening, hanya terdengar suara alat makan berdentingan di atas meja makan.


"Biar Alula bereskan, Bi! Alula berdiri dan hendak membantu bi Esther untuk mengambil piring kotor yang ada di meja makan.


"Nona, duduk saja! Ini sudah jadi tugas saya," Bi Esther tersenyum ramah lalu mulai mengambil piring-piring kotor yang ada di atas meja.


"Benar, Al. Kau duduk saja! Nanti tanganmu kotor," ujar Sofia.


"Tidak apa-apa, Mom," Alula mulai membantu mengambil gelas-gelas kotor yang ada di meja makan dan mengikuti bi Esther ke dapur.


"Lihatlah Kai! Dia benar-benar anak yang baik dan rajin," seru Sofia.


Kaivan hanya memandang Alula yang saat ini tengah membersihkan meja makan dengan sapu tangan.


Sesudah mereka sarapan bersama, Alula langsung naik ke kamar Kaivan untuk membereskan kamar sebelum mereka pulang. Sementara Kai, kini tengah berada di ruang kerja ayahnya.


"Ada apa daddy menyuruh Kai ke sini?" Kai mendudukan dirinya di depan meja kerja ayahnya.


"Daddy ingin berbicara denganmu tentang Alula."


"Ada apa dengannya?" Kai memandang ayahnya dengan seksama.


"Daddy hanya ingin bilang, setelah tujuh bulan kau harus benar-benar menceraikan gadis itu. Lalu, kau kembalilah kepada Arabella," William kemudian berdiri dari duduknya.


"Kau tahu? Sekarang ini bisnis keluarganya benar-benar sedang maju pesat, bahkan perusahaan kontraktor mereka melebarkan sayapnya sampai ke Amerika Serikat," sambung William.


Kali ini tindakan William bertentangan dengan istrinya. Sofia mendukung jika Kaivan bersama dengan Alula dan tidak menceraikannya, sementara William tidak menginginkan itu. Bagi William, saat ini adalah bisnis yang paling utama.


"Tapi bagaimana dengan keluarga Arabella? Apakah mereka mau menikahkan anaknya dengan seseorang yang sudah pernah menikah?" Kai bertanya ragu.


"Baiklah kalau begitu! Itu saja yang akan daddy katakan?"


"Ya, kau harus tepati janjimu!" William menepuk pelan bahu anaknya.


"Baiklah, Dad. Kalau begitu Kai keluar dulu, sore ini Kai akan pulang ke rumah."


William mengangguk pelan, lalu Kai segera keluar dari ruangan kerja ayahnya.


***


Alula dan Kai sampai di rumah mereka yang berada di Boston Villages. Alula segera masuk ke dalam kamar dan mengambil ponsel dan charger miliknya. Saat ponsel itu dinyalakan, terlihat banyak sekali pesan. Terutama dari Cleon. Semenjak kejadian Cleon berkelahi dengan Kaivan di depan Cannon Hill Park, Alula memang belum menghubungi pemuda itu.


Alula mendudukan dirinya di atas kasur, dan segera membalas deretan pesan yang Cleon kirimkan padanya. Selain Cleon, Chelsea pun turut mengirim pesan kepada Alula mengenai pesta Halloween yang akan di adakan 2 hari lagi. Alula dengan cepat membalas bahwa ia pun akan ikut pesta tersebut.


"Kenapa kau senyum senyum sendiri?" Tanya Kai saat melihat Alula tersenyum menatap layar ponselnya. Alula menatap Kai yang tengah berjalan menghampirinya.


"Pasti sedang chatting dengan kekasihmu yang anggota dewan itu?"


"Dia bukan kekasihku, tetapi calon kekasihku saat nanti kita bercerai!!"


"Alasan saja, kau jaga prilakumu saat masih menjadi istriku!" Kai melepaskan pakaian yang membalut tubuhnya.


Alula tampak kaget dengan apa yang dilihatnya, ia segera menundukan pandangan ke arah ponselnya.


"Selama ini aku selalu menjaga prilaku ku, lalu kenapa kau membuka bajumu?" tanya Alula gugup.


"Aku ingin mandi, memangnya kau kira aku mau melakukan apa? Kau kira aku akan menidurimu? Jangan bermimpi!" Kai tersenyum sinis ke arah Alula dan segera mengambil handuknya, lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Siapa juga yang mau disentuh oleh orang sepertimu?" Gerutu Alula.


Alula menyiapkan satu setel baju piyama untuk suaminya. Kai mengambil pakaian itu, lalu memakainya di kamar mandi.


"Besok kita cari kostum untuk pesta halloween," Kai berjalan keluar dari kamar mandi.


"Aku bingung nanti harus memakai kostum apa," Alula menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Berpenampilan lah seperti SMA dulu! Penampilan saat SMA mu dulu sudah lumayan seram," Kai menaikan satu sudut bibirnya ke atas. Alula hanya menatap kesal suaminya itu.


"Kai, aku ingin nonton film. Ayo kita menonton film!" Ajak Alula.


"Kau saja sendiri! Aku sangat malas," Kai merebahkan dirinya di atas kasur.


"Kai, ayo! Aku ingin nonton ini dari tahun kemarin," Alula menarik tangan suaminya agar bangun.


"Jika kau ingin nonton, kenapa dulu kau tidak pergi ke bioskop? Dasar bodoh!" Gerutu Kai kesal.


"Waktu itu aku tidak berani untuk menonton sendiri. Ayolah temani aku nonton!" Alula masih merajuk sambil menarik tangan Kai lebih kuat lagi.


"Aku tidak mau," Kai menarik lengannya.


Tubuh Alula jatuh terjerembab ke atas kasur karena ikut tertarik lengan suaminya. Kini wajah mereka sangat dekat dan hanya berjarak beberapa cm saja. Kai memperhatikan wajah istrinya yang sangat dekat dengan wajahnya. Matanya menjamah setiap sudut wajah gadis itu.


Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—šŸ¤—