
Saat ini, Kaivan tengah memperhatikan Alula yang sedang menyuapi Sofia di dalam kamar.
"Sayang, masakanmu enak sekali," tutur Sofia yang kini tengah disuapi oleh Alula. Sesampainya di rumah Kai, Alula memang langsung memasak Kacang polong dan bubur brokoli untuk ibu mertuanya.
"Rasanya biasa-biasa saja, tidak ada apa-apanya dengan makanan yang selalu mommy makan setiap hari," Alula mengambil gelas dan membantu Sofia untuk minum.
"Tidak, mommy serius. Masakanmu rasanya enak sekali. Kai beruntung, dia bisa makan masakanmu setiap hari," seru Sofia sembari mengelap mulutnya dengan tisu.
"Alula, mommy dari dulu ingin sekali memiliki anak perempuan. Salah satunya adalah agar ada yang mengurus mommy saat sakit seperti ini," Sofia membelai pipi Alula lembut. Sepertinya Sofia memang menyukai menantunya itu.
"Mom, kau jangan berlebihan ! Dokter Thomas bilang mommy hanya mengalami vertigo," Kai menyela obrolan Sofia dan Alula.
"Ya, walau pun hanya vertigo tapi mommy benar-benar ingin diperhatikan oleh anak mommy. Dari dulu jika mommy sakit, kau tidak pernah ada di rumah. Selalu saja menghabiskan waktumu untuk berpesta dengan Alden dan Nino," gerutu Sofia.
"Sekarang mommy senang, karena mommy memiliki anak perempuan secantik dan sebaik istrimu," Sofia tersenyum ke arah Alula.
"Cantik? cantik dari mananya gadis bodoh itu?" bisik Kai dalam hatinya seraya menatap Alula yang tengah tersenyum kikuk kepada Sofia.
"Alula juga senang memiliki satu ibu lagi seperti mommy. Kalau begitu, Alula tinggal ke dapur dulu," Alula mengambil piring dan gelas yang telah kosong lalu berlalu dari kamar Sofia.
"Kai, duduklah disini nak!" perintah Sofia kepada putra tunggalnya.
"Ada apa, mom?" Kai mendudukan dirinya di pinggiran tempat tidur ibunya, sementara William saat ini belum pulang dari kantornya.
"Apakah kau akan tetap menceraikan Alula setelah tujuh bulan?" tanya Sofia.
"Tentu saja, mom. Kai kan sudah bilang, waktu di apartemen itu hanya sebuah kesalah fahaman," jelas Kai.
"Tetapi mommy menyukai Alula dari pada mantan kekasihmu itu. Dia sangat agresif kepadamu, sementara Alula? Dia tidak seperti itu," timpal Sofia.
"Mom, kenapa kau jadi menjelekan Arabella?" Kai mendengus kasar.
"Mommy tidak menjelekan Arabella sayang, tetapi mommy hanya membicarakan kebenaran."
"Kai, mommy ingin segera memiliki cucu," sambung Sofia.
Kai terlihat kaget dengan perkataan ibunya. Kai segera berdiri dari tempat duduknya.
"Mommy tidak salah? Kai bahkan belum pernah menyentuhnya sama sekali," Kai meninggikan suaranya.
"Lagi pula, Kai akan menceraikannya saat nanti sudah tujuh bulan. Bukankah itu ide mommy dan daddy? Lalu kenapa mommy sekarang ingin Kai memiliki anak dari wanita itu?" Kai memberondong ibunya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Lalu, waktu di apartemenmu? Bukannya kau tidur dengan Alula?"
"Tentu saja tidak, mom. Aku kan sudah menjelaskannya kepada mommy dan daddy. Tetapi, kalian tidak kunjung mengerti," Kai terlihat frustasi menjelaskan kepada ibunya.
"Kau benar-benar tidak menyukai Alula?" tanya Sofia dengan nada yang kecewa.
"Tentu saja tidak, mom. Dia bukan tipe wanitaku sama sekali. Dan asal mommy tahu, dulu saat SMA Kai dan Alula bermusuhan," Kai mendecak kesal.
"Masa SMA sudah berlalu, nak. Sekarang kalian sudah menjadi suami istri. Apa salahnya kau mempunyai anak dengan Alula?" desak Sofia.
"Please, mom!" Kai memejamkan matanya mendengar kata-kata ibunya yang ia rasa tidak masuk akal.
"Terlepas kau mencintainya atau tidak, tetapi sekarang hidup dan tubuh Alula adalah milikmu, dan kau berhak untuk itu," tambah Sofia.
"Sudahlah, mom! Kai tidak ingin membahas ini lagi," Kai berlalu dari kamar ibunya.
"Kau mau kemana?" tanya Alula yang berpapasan dengan Kaivan di depan pintu kamar Sofia.
"Kai, malam ini aku tidur dimana?"
"Tidur di kamarku, ayo!" ajak Kai seraya berjalan menuju tangga untuk sampai ke kamar miliknya, sementara Alula mengekor di belakang.
***
Alula memperhatikan kamar suaminya yang memiliki gaya interior bergaya maskulin modern. Kamar itu sangat luas, terdapat kamar mandi yang luas dan juga Balkon di depan kamar untuk menikmati pemandangan.
"Kau suka bermain piano?" Alula menyentuh sebuah piano di kamar Kai.
"Ya, jika sedang tidak ada pekerjaan," Kai berjalan ke arah tempat tidurnya.
Mata Alula masih menyapu kamar pribadi milik suaminya. Mata Alula kemudian tertuju kepada foto-foto yang menghiasi dinding. Alula melihat foto-foto suaminya bersama Arabella di dinding itu. Mereka sangat mesra di foto-foto tersebut. Terlihat Arabella tengah berpose mencium pipi Kaivan di Walt Disney World Resort, Amerika Serikat. Alula lalu melihat foto lain, disana Kai tengah berfose memeluk Arabella di depan patung Liberty yang menjadi icon kebanggaan Amerika Serikat.
"Kau sepertinya sangat mencintai Arabella," ucap Alula sembari matanya masih melihat foto-foto itu.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? timpal Kai.
Sesungguhnya ia sendiri pun tidak tahu dirinya mencintai Arabella atau tidak saat ini. Ia menaruh foto-foto Arabella dikamar saat dirinya pulang ke Inggris dan saat sedang kasmaran kasmarannya dengan wanita itu karena baru resmi memadu kasih.
Mungkin hanya Arabella yang cukup spesial bagi Kaivan, karena dengan wanita itu hubungannya lumayan awet sampai 3 tahun. Kai memang menyayanginya, tetapi ia tidak tahu apakah ia mencintai Arabella atau tidak. Saat di Amerika, Arabella selalu mendatangi apartemennya dan mengajaknya untuk melakukan hubungan suami istri, tetapi Kai tidak pernah mau melakukan itu semua. Seharusnya, jika Kai mencintai Arabella, tentu ia akan mau melakukan hal itu. Akan tetapi, Kai selalu menghindar dan mengalihkan suasana. Mungkin, hal itu yang membuat Kai bertanya-tanya apakah ia mencintai Arabella atau tidak.
"Ya terlihat dari foto-foto ini. Kau sudah lama pacaran dengan Arabella?" tanya Alula seraya tangannya mengambil sebuah foto dari atas laci kecil.
"Ya, sudah tiga tahun," Kai merebahkan dirinya di atas kasur.
"Dulu kalian satu kampus?" Alula menyimpan foto yang ia pegang di tempatnya kembali.
"Iya, bukankah dulu kau menggoda mantan kekasih Bella?"Kai tersenyum sinis seolah merendahkan Alula dengan senyumnya itu.
"Untuk apa aku menggoda kekasihnya? Alula mendudukan dirinya di pinggiran kasur seraya menatap Kaivan.
"Ya, aku tidak heran kau mengambil mantan kekasih Bella. Dulu kau pasti berambisi memiliki banyak kekasih, sehingga kau pun memacari laki-laki berengsek seperti Alfin," cemooh Kai.
"Jaga bicaramu! Berambisi memiliki banyak kekasih apa maksudmu? bahkan aku hanya memiliki satu mantan kekasih dan itu pun hubungan kami hanya berjalan selama dua bulan," tegas Alula kesal.
"Benarkah kau hanya memiliki satu mantan kekasih?" Kai terlihat penasaran.
"Sudahlah! kenapa aku jadi membahas ini denganmu? Aku punya satu mantan kekasih atau seribu mantan kekasih, apa urusannya denganmu?" Alula segera menyimpan guling di tengah-tengah kasur dan merebahkan dirinya, lalu membelakangi suaminya.
"Lalu, kenapa Bella berkata jika gadis bodoh ini menggoda mantan kekasihnya?" Kai menatap rambut Alula dan mencerna apa yang gadis itu katakan.
"Terlepas kau mencintainya atau tidak, tetapi sekarang hidup dan tubuh Alula adalah milikmu, dan kau berhak untuk itu."
Tiba-tiba perkataan ibunya terngiang-ngiang di kepala Kaivan.
"Mommy benar, bukankah sekarang ini dia adalah milikku? apa aku tiduri saja gadis bodoh ini agar aku tidak rugi dengan pernikahan ini?" Kai bergumam lalu menelan salivanya saat ia mengingat punggung mulus milik Alula.
"Tidak, tidak! Aku tidak sudi melakukan pengalaman pertamaku dengannya," gumam Kai kembali sambil memperhatikan tubuh Alula yang membelakanginya.
2 jam kemudian...
Kaivan masih belum tertidur. Dia berguling guling mencari posisi yang membuatnya nyaman. Tiba-tiba Alula membalikan badan menghadap ke arahnya.
Kaivan memperhatikan wajah damai Alula yang tengah terlelap dalam tidurnya. Ia memperhatikan setiap sudut wajah gadis itu, tangan Kai spontan bergerak mengusap lembut rambut Alula.
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤š¤