Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Sudah Move On


Sebelumnya...


"Henry, kau ingin segera jadi ayah?" Tanya Beverly dengan tawanya.


"Iya. Bagaimana jika kita buat sekarang?" Tanya Henry yang membuat Beverly langsung tersedak.


"Hey, mengapa wajahmu merona seperti itu? Jangan jangan kau mulai membayangkan untuk melakukannya denganku kan?" Henry mulai menggoda Beverly.


"Siapa bilang?" Beverly berkata dengan gugup.


"Jangan jangan semalam kau sakit karena kau ingin melakukannya denganku kan? Tetapi aku tidak peka," Henry memberikan analisa ngawurnya.


"Henry, mengapa tingkat kepercayaan dirimu dari hari ke hari makin meningkat?"


"Emm...Tapi aku serius, Bev. Bukankah kita sudah menikah? Apakah boleh jika kita melakukannya?" Tanya Henry kembali.


Beverly pun terdiam, tak lama ia menganggukan kepalanya.


"Jadi, kau mau?" Henry mempertegas.


"Kan aku tadi sudah mengangguk, berarti aku mau," Beverly menggerutu.


"Baiklah. Kalau begitu habiskan!" Henry tersenyum kemudian menyuapi Beverly kembali dengan makanan yang ada di piring.


Suasana tampak hening setelah permintaan malam pertama di ACC oleh Beverly.


"Minumlah!" Henry mengambil gelas dan membantu Beverly untuk minum.


Setelah itu, Henry menyimpan piring dan gelas itu di lantai.


"Ayo kita bersiap-siap!" Perintah Henry sembari membuka bajunya.


"Bersiap siap? Baiklah," Beverly merebahkan tubuhnya di kasur.


"Maksudku bersiap-siap untuk jalan-jalan hari ini, bukan untuk malam pertama kita. Memangnya kau mau melakukannya di pagi hari seperti ini?" Tanya Henry dengan polosnya.


"Ya ampun, Henry kau menyebalkan!" Beverly melempar bantal ke arah suaminya. Sementara Henry hanya tertawa karena sudah berhasil mengusili istrinya.


Henry dan Beverly segera bersiap siap untuk berjalan jalan di hari ini. Tujuan utama destinasi wisata mereka adalah Tower Bridge. Tower Bridge adalah salah satu dari tiga icon kota London selain Buckingham Place dan juga Big Ben.


Sepanjang perjalanan Henry dan Beverly hanya terdiam. Mereka sibuk memikirkan rencana malam pertama mereka malam ini.


"Aduh, apa benar aku akan melakukannya malam ini?" Resah Beverly dalam hatinya.


"Aku tiba-tiba deg degan," resah Henry dalam hatinya. Mereka pun menyusuri Tower Bridge dengan hening.


Saat mereka berjalan ke arah parkiran mobil, Henry menghentikan langkah kakinya ketika melihat wanita yang ia kenal. Wanita itu pun kemudian menatap ke arahnya dan tampak terkejut.


"Nancy?" Panggil Henry dalam hatinya.


"Henry, kau kenapa?" Tanya Beverly kepada suaminya.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Ayo kita masuk ke mobil dan pulang!" Ajak Henry kepada Beverly.


"Henry?" Panggil Nancy.


Henry pun tidak menolehkan wajahnya.


"Henry, dia siapa?" Beverly memperhatikan wanita yang berjalan mendekat ke arah mereka. Tak lama kemudian ia mengenali siapa wanita itu.


"Bukannya dia wanita yang ada di foto?" Batin Beverly. Senyuman kemudian memudar dari wajahnya.


"Henry? Apa kabar?" Nancy menepuk pelan bahu Henry.


"Oh, ternyata kau? Aku pikir siapa," jawab Henry.


"Emm. Henry, bolehkah aku berbicara kepadamu?" Pinta Nancy kepada Henry.


"Aku tidak bisa. Kami akan segera pulang," Henry menolak.


"Sebentar saja. Aku mohon!" Harap Nancy.


"Henry kau berbicaralah dengan Nona ini! Aku tunggu di dalam mobil," Beverly menundukan wajahnya kemudian ia berjalan cepat dan masuk ke dalam mobil.


Henry menatap raut wajah bersedih dari Beverly. Kemudian Henry menoleh kepada Nancy.


"Ada apa?" Tanya Henry.


"Henry, aku hanya ingin meminta maaf untuk semua yang terjadi. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak ketika aku mengingatmu. Aku sudah meninggalkanmu dan menikah dengan orang lain," Nancy menatap Henry dengan perasaan rasa bersalah.


"Tidak apa, itu hanya masa lalu yang tidak perlu di ingat. Ke mana suamimu?" Tanya Henry kemudian.


"Dia sedang di toilet," jawab Nancy kemudian.


"Oh, begitu. Kalau begitu, susulah suamimu! Tidak baik kau malah mengobrol dengan pria lain."


"Kau sudah move on dariku?" Nancy menatap Beverly yang tengah berada di dalam mobil.


"Iya. Aku sudah menikah, dia istriku," jawab Henry yang membuat Nancy begitu terkejut.


"Kau sudah menikah?" Nancy memastikan.


"Iya, aku sudah menikah sekarang."


"Baiklah. Aku doakan kau dan istrimu bahagia selalu," Nancy berkata dengan tulus.


"Terima kasih. Aku juga berdoa untukmu dan suamimu. Semoga kalian selalu bahagia," Henry perlahan tersenyum.


"Kalau begitu, aku masuk dulu. Kasihan istriku menunggu dari tadi."


Nancy pun mengangguk dan tersenyum. Henry langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Sepanjang perjalanan, Beverly hanya diam. Ia tadi tidak mendengar pembicaraan suaminya dan mantan kekasihnya itu.


"Tumben sekali kau diam terus?" Henry menoleh ke arah Beverly.


"Bev?" Panggil Henry, tetapi Beverly tidak menyahuti panggilannya.


Mobil memasuki kawasan parkir hotel. Beverly dengan cepat ke luar dari dalam mobil dan berlari menuju kamarnya. Henry mengerti jika Beverly tengah cemburu padanya.


"Bev?" Panggil Henry lagi saat mereka sudah berada di dalam kamar.


Henry melihat Beverly tengah terduduk membelakanginya.


"Bev?" Henry memeluk istrinya dari belakang.


"Kau jangan khawatir! Aku sudah move on dari Nancy. Tadi dia hanya meminta maaf padaku untuk semua yang telah terjadi. Nancy adalah masa laluku, dan kau adalah masa depanku," Henry berbisik di telinga Beverly.


Beverly pun kemudian membalikan tubuhnya menghadap suaminya.


"Apa kau masih mencintainya?" Tanya Beverly dengan wajah yang sendu.


"Tidak. Semenjak aku menikahimu, aku sudah melupakannya."


Beverly menatap mata Henry dengan dalam. Tidak ada kebohongan di sana.


"Aku percaya padamu," Beverly tersenyum.


Henry mendekatkan wajahnya. Ia membenamkan bibirnya di bibir Beverly.


"Henry, jika berciuman miringkan kepalamu! Hidung kita jadi bertabrakan," Beverly menjauhkan wajahnya dan menggosok hidungnya.


"Kau merusak suasana saja, Bev," Henry mengerucutkan bibirnya.


"Kita bisa melakukannya sekarang? Aku ingin melakukannya jika kau mengizinkannya."


Wajah Beverly seketika merona dan kemudian ia mengangguk. Henry mencium bibir Beverly kembali dan menjatuhkannya di atas tempat tidur. Saat tangannya akan menyentuh tubuh istrinya, tiba-tiba bel pintu kamarnya berbunyi.


"Siapa itu?" Henry langsung menghentikan aktifitasnya.


"Henry buka dulu! Siapa tahu penting!" Suruh Beverly kepada suaminya.


Henry segera bangun dan membuka pintu kamarnya.


"Maaf tuan! Saya datang untuk mengantarkan laundryan anda," petugas hotel memberikan laundryan milik Henry dan Beverly.


"Oh iya. Terima kasih," Henry segera mengambil laundryan nya itu dan tak lupa ia memberikan tip kepada petugas hotel.


"Terima kasih, tuan," petugas hotel tersenyum senang.


Henry pun segera menutup kembali pintunya dan berjalan lagi ke arah Beverly.


"Tadi sampai mana?" Tanya Henry kepada Beverly.


"Sampai kota Manchester," jawab Beverly.


Henry pun tertawa melihat raut wajah Beverly. Ia segera naik kembali ke atas kasur dan memejamkan matanya untuk mencium bibir istrinya kembali. Saat bibirnya akan menempel di bibir Beverly, bel pintu kamarnya berbunyi kembali.


"Sekarang apa lagi?" Henry mengacak rambutnya frustasi. Beverly yang melihat raut wajah suaminya hanya tertawa dengan puas.


Henry segera membuka kembali pintu kamar hotelnya.


"Tuan, ini makan malam anda. Saya mengantarkannya karena di catatan hotel, istri anda sedang sakit," tutur petugas hotel dengan membawa makanan untuk makan malam. Kebijakan beberapa hotel memang harus mengantarkan makanan jika tamu hotel tengah sakit.


"Oh iya, terima kasih," Henry mengambil makanan itu dan menyimpannya di dalam, kemudian ia juga memberikan tip kepada petugas hotel yang mengantarkan makanannya.


"Terima kasih, tuan," petugas hotel tersenyum dan segera berlalu meninggalkan kamar Henry dan Beverly.


Henry pun segera naik kembali ke kasur dan memegang leher Beverly. Ia memajukan kembali wajahnya.


"Henry?" Suara Beverly menghentikan niat Henry untuk menciumnya.


"Kali ini apa lagi?" Henry bertanya dengan gusar.


"Itu pintunya belum kau tutup!" Beverly menunjuk pintu kamar hotel yang terbuka.


"Oh iya, aku lupa. Hampir saja kita jadi tontonan," Henry menggaruk kepalanya kemudian segera menutup pintu kamar hotel dan menguncinya.


"Mudah-mudahan kali ini tidak ada yang mengganggu," Henry naik kembali ke tempat tidur. Ia kemudian mencium bibir Beverly dengan lembut. Beverly pun membalas ciuman suaminya.


"Kau sudah siap?" Tanya Henry ketika ia melepaskan ciumannya.


"Mengapa kau masih bertanya?" Jawab Beverly dengan kesal.


Tangan Henry segera membuka seluruh pakaian Beverly dan pakaian miliknya. Bibirnya menjelajahi leher istrinya dan meninggalkan beberapa tanda merah di sana. Tangan Henry pun bergerak menyentuh setiap sudut tubuh istrinya.


"Henry sakit!" Beverly berteriak sembari menjambak rambut suaminya.


"Bev, aku belum memulai!" Henry menatap wajah Beverly yang sudah berkeringat.


"Oh belum ya? Ku pikir sudah," jawab Beverly dengan polosnya.


Henry melanjutkan kembali aktivitasnya.


"Henry, itu benar-benar sakit!" Beverly mencakar punggung Henry dengan kuku kuku jarinya yang panjang.


"Kau ini kerasukan siluman kucing? Mengapa sangat buas?" Henry menahan perih di punggungnya karena cakaran Beverly.


"Maaf, itu benar benar sakit!"


"Tahanlah, nanti juga tidak sakit!" bisik Henry di telinga Beverly.


Henry pun menghentakan tubuhnya. Beverly menjambak rambut suaminya dengan sangat keras.


"Aaa, sakit Bev!" Teriak Henry.


"Perih sekali!" Beverly memejamkan matanya.


"Tahanlah!" Henry mulai menggerakan tubuhnya.


"Aaa sakit!" Henry kambali mengerang kesakitan saat Beverly mencakar kembali punggungnya.


"Ada apa sih di dalam?" Tanya tamu hotel yang melewati kamar mereka ketika mendengar suara teriakan Henry.


"Sepertinya tengah terjadi penyiksaan istri terhadap suaminya," tamu hotel lain menduga duga.


Note : Jangan lupa untuk mampir di novel author satunya lagi ya.


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—