
Sesampainya di rumah..
Kai, Nino dan Alden segera mengangkut boneka yang telah mereka beli ke dalam rumah.
"Kai, ke mana kedua orang tuamu?" Nino mengedarkan pandangannya saat masuk ke dalam rumah Kai.
"Tadi daddy jadi saksi di persidangan Arabella, sesudah itu daddy dan momny berangkat ke kota London untuk mengurus sesuatu," jawab Kai sembari melepas sepatunya.
"Wah. Jadi kita sekarang bebas di rumah? Kita bisa berpesta seperti dulu. Kau masih punya koleksi wine kan, Kai?" Tanya Alden dengan sumringah.
"Berpesta kepalamu, aku bisa di siksa oleh istriku. Aku sudah tidak pernah meminum wine lagi semenjak aku berbaikan dengan Alula dan aku tidak akan meminumnya lagi," jelas Kai dengan tegas.
"Ah, kau yang benar? Saat istrimu kabur kau pun meminum wine di kamarmu," Alden meledek sahabatnya itu.
"Sayang, pulanglah!" Nino menirukan racauan Kai saat mabuk.
Alden dan Nino pun langsung tertawa mengejek mengingat hal itu.
"Kalian diamlah! Atau ku jejali mulut kalian dengan gelas wine," Kai mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku tidak takut," Alden menjulurkan lidahnya.
"Kemarilah!" Kai mendekat ke arah Alden. Alden pun langsung berlari dan Kai mengejarnya.
"Kalian seperti anak kecil," Nino mengambil snack yang ada di meja dan menonton adegan kejar-kejaran kedua sahabatnya itu.
Saat Kai masih mengejar Alden, Alula keluar dari kamarnya.
"Kalian sedang apa?" Tanya Alula heran.
"Al, tolong aku dari suamimu!" Alden langsung bersembunyi di belakang tubuh Alula sembari memegang bahunya.
"Kai, kau ini seperti anak kecil saja!" Alula memarahi suaminya.
"Marahi saja dia, Al!" Alden merebahkan kepalanya di bahu Alula.
"Hey, kau mencari kesempatan?" Kai langsung menjauhkan tubuh Alden dari istrinya.
"Al, kau ingat tidak? Aku hampir menciummu saat camping waktu dulu. Tapi sayangnya suamimu menganggu momen itu," Alden berkata dengan riang.
"Jangan sampai vas bunga ini mendarat di kepalamu!" Kai mengambil vas bunga yang ada di atas meja.
Nino yang melihat ekspresi wajah Kai langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ampun!" Alden berlari ke arah Nino.
"Mengapa kalian seperti anak kecil?" Alula bertanya dengan heran. Ia baru melihat sisi kekanakan tiga pria yang rajin membullynya ketika SMA itu.
"Mereka memang seperti itu, Al," Nino masih memakan snack yang ada di tangannya. Nino pun mendekat ke arah Alula dan Kai dengan diikuti oleh Alden.
"Ya sudah, kalian segeralah tidur! Bukankah besok kalian akan membuatkanku cupcake?" Alula bertanya dengan semangat.
"Iya, Al. Aku akan membuat cupcake untuk keponakanku," Nino tersenyum manis kepada Alula.
"Jangan tebar pesona!" Perintah Kai kepada Nino.
"Kamar kalian seperti biasa!" Lanjut Kai.
"Kau tidak akan tidur dengan kami? Biasanya kita main catur dan main kartu sampai dini hari," cetus Alden dengan polosnya.
Kai dan Nino berpandangan kemudian mereka menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Alden.
"Itu bonekaku?" Alula berlari menghampiri boneka yang di taruh di atas sofa.
"Sayang, jangan berlari! Kau sedang hamil," Kai menyusul langkah istrinya.
"Bagaimana? Kau suka? Aku sudah membelikan semua permintaanmu dengan lengkap," Kai bertanya dengan bangga sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Tentu saja karena bantuan dariku," Alden menimpali.
"Iya, dan juga bantuan dari kalian," Kai merevisi.
"Sayang, Nino, Alden? Terima kasih. Aku akan menyimpan boneka-boneka ini di kamar kita nanti. Oh iya, tadi sebelum berangkat, Daddy bilang jika ia sudah mendekor kamar bayi yang ada di sana," Alula tersenyum sembari menunjuk ruangan yang sudah William dekor untuk cucunya.
"Sayang, bukankah kita akan pulang ke rumah jika bayi kita sudah lahir?" Tanya Kai memastikan.
"Kata mommy jika bayinya sudah berusia 3 bulan baru kita boleh pergi."
Kai pun mengangguk nganggukan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo kita tidur! Aku sudah ngantuk," Alula mulai menguap dan menggosok matanya. Alula melepaskan pelukan suaminya dan segera berjalan untuk masuk ke dalam kamar.
"Ayo, sayang kita tidur!" Alden mengekor di belakang Alula. Tangan Kai dan Nino segera menarik baju Alden.
"Salah kamar!" Nino mengingatkan dan menarik Alden ke arah kamar tamu.
"Oh, iya aku lupa jika aku belum menikah," Alden terkekeh melihat wajah Kai yang sudah menggeram.
****
Hari ini Kai, Alden dan Nino akan membuat cupcake untuk Alula. Alula sendiri sudah sangat antusias. Dari dini hari ia sudah terbangun, Alula sudah tidak sabar untuk mencoba cupcake buatan Kai, Nino dan Alden. Bahkan Alula harus meneguk liurnya beberapa kali saat membayangkan cupcake yang akan ia makan.
"Kalian pakai ini ya?" Alula memberikan 3 buah afron kepada Kai, Nino dan Alden. Mereka pun tampak melongo dengan afron yang diberikan oleh Alula.
"Kai, aku tidak mau yang ini!" Nino memberikan afron bergambar Dora kepada Kai.
"Aku benci Dora," lanjut Nino.
"Mengapa kau membencinya? Dora dewasa sangat seksi," Alden memakaikan afron yang bergambar Tinkerbell di tubuhnya.
"Ya, aku tidak suka saja. Lebih baik aku memakai afron Cinderella saja," Nino memakai afron itu di tubuhnya. Kai pun ikut memakaikan afron bergambar Dora.
"Kalau begitu, aku baca novel dulu!" Alula berjalan ke arah kamar untuk membaca novel.
"Alden, kau bertugas untuk mengayak bahan seperti terigu, cokelat bubuk dan juga menyerut cokelat batang. Dan Nino kau bertugas untuk menyatukan adonan," Kai mulai membagi tugasnya masing-masing.
"Lalu kau?" Alden melirik ke arah Kai.
"Aku akan bertugas sebagai pengawas kalian. Emm istilahnya Quality Control. Aku yang bertugas untuk mencicipi cupcake buatan kalian, apakah layak atau tidak di makan oleh istri dan anakku," imbuh Kai dengan enteng.
"Kau ini sangat curang! Kan itu anakmu, atau kau ingin aku menggantikan posisimu sebagai ayahnya?" Tanya Nino dengan wajah usilnya.
"Tidak! Pokoknya aku yang bertugas untuk icip-icip," jawab Kai tegas.
Nino dan Alden pun mengalah. Mereka segera mengambil alat-alat untuk membuat cupcake. Alden segera mengayak terigu dan cokelat bubuk agar mendapat hasil yang begitu lembut. Setelah bahan-bahan tersiap, Nino segera membuat adonan cupcake itu. Kai melihat kedua sahabatnya bekerja sambil memakan apel.
Sementara itu...
"Aku tidak sabar untuk makan cupcakenya. Anakku sayang? Sabar ya!" Alula mengelus perutnya.
"Sebaiknya aku memeriksa ke dapur," Alula keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah dapur. Alula membelalakan matanya saat melihat suaminya hanya menjadi penonton.
"Sayang, kau tidak ikut membuat adonan?" Alula muncul tiba-tiba di dapur. Alula langsung menjewer telinga suaminya.
"Sa-sayang? Bukan begitu, aku mempunyai tugas lain," Kai berusaha menjelaskan.
"Dia tidak mau membantu kami, Al. Kai bilang bertugas sebagai pencicip," Alden melapor.
"Sayang, aku tidak mau tahu pokoknya kau harus membuat adonan. Ulangi semuanya! Awas saja jika kau tidak ikut membantu!" Alula melepaskan telinga Kai dan langsung bergegas pergi kembali ke kamarnya.
Alden dan Nino langsung mendekat ke arah Kai.
"Ini semua gara-gara kau!" Alden menceplok telur di kepala Kai.
"Iya, kita jadi harus mengulanginya!" Nino menaburkan cokelat bubuk ke rambut sahabatnya itu.
"Kalian ini apa-apaan?" Kai langsung mencolek mentega dengan sangat banyak dan mengoleskannya ke wajah Nino dan Alden.
Mereka bertiga pun langsung melempar bahan-bahan yang ada di dapur untuk menyerang satu sama lain. Bi Esther yang melihat mereka hanya menggelengkan kepalanya.
"Padahal tuan muda sebentar lagi akan menjadi ayah," Bi Esther membenarkan kaca matanya.
"Sudah hentikan! Perutku sakit!" Nino memegangi perutnya karena puas tertawa.
"Ayo cepat kita buat adonan lagi untuk istrimu!" Alden mengambil bahan-bahan baru dari dalam kulkas dan lemari dapur.
"Kai kau bertugas mengayak, aku mengadon, Alden menyiapkan bahan-bahan untuk menghias atau plating," Nino mulai membagi tugasnya.
30 menit kemudian, Cupcake sudah dikukus dalam kukusan...
"Kai? Sepertinya anakmu tahu kita dulu memperlakukan ibunya dengan kejam," Alden terduduk sembari bernafas dengan terengah-engah.
"Aku pikir juga begitu. Sepertinya anakmu ingin membalas dendam kepada kita bertiga karena telah membully ibunya dulu," Nino membenarkan.
"Kau benar! Anakku sepertinya tahu aku pernah menyiksa ibunya sehingga dia sekarang balik menyiksa kita," Kai mengelap keringat yang bercucuran di dahinya.
"Aku jadi menyesal pernah membullynya. Aku teringat ketika kita menjahilinya saat istirahat setelah pelajaran olahraga," Nino mengenang masa lalu.
"Iya. Kau memberikan handuk yang sudah di bubuhi cokelat cair untuk Alula. Kau berpura-pura memberikan handuk kecil itu dan Alula mengelapkan kepada wajahnya," Alden melanjutkan mengenang masa lalu.
"Dan aku teringat wajahnya seketika penuh dengan cokelat lumer," Kai tertawa terbahak mengingat wajah Alula waktu itu.
"Dan sekarang anakmu yang membalaskan dendam ibunya," Nino menghentikan tawa Kai yang renyah. Kai pun menghentikan tawanya.
"Kira-kira sampai kapan mengidam itu beres?" Tanya Alden.
"Sepertinya sampai anak itu lahir," Nino tertawa lagi mengingat Kai yang harus menghadapi ngidam Alula beberapa bulan ke depan.
"Kai sepertinya sudah matang," Nino memgambil cupcake dari dalam alat pengukus.
Alden segera mengoleskan butter cream dan juga menaburkan cokelat serut di atasnya.
"Ayo kita panggil istrimu!" Ajak Nino sembari membawa piring cupcakenya.
"Sebentar! Aku coba dulu," Kai mengambil salah satu cupcake itu dan memakannya.
Baru masuk ke mulut, Kai langsung memuntahkan cupcake itu dari mulutnya .
"Rasanya sangat tidak enak. Cobalah!" Kai menyuapi Nino dan Alden dengan cupcake itu. Mereka pun langsung memuntahkannya.
"Rasanya sangat tidak enak. Aku merasakan manis, pahit, rasa anyir telur menjadi satu," Nino membersihkan lidahnya dengan tisu.
"Aku tidak mau memakannya lagi. Rasanya sangat aneh," Kai berkumur untuk membersihkan mulutnya.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Alden kepada Kai.
"Wah, kalian sudah beres membuatnya!" Alula muncul tiba-tiba dan mengambil cupcake itu dari atas piring. Alula segera memakan cupcake bertema blackforest itu.
"Sayang, ja-" Kai hendak melarang Alula untuk memakan cupcakenya.
"Sayang, ini sangat enak!" Alula menggigit cupcake itu dengan lahap.
Kai, Alden dan Nino saling berpandangan satu sama lain sembari bergidik ngeri.
Alula pun mengambil cupcake lagi dan memakannya dengan antusias. Setelah memakan 5 cupcake, Alula berhenti dan tampak kekenyangan.
"Sayang, simpan ini! Aku akan memakannya nanti malam. Terima kasih karena sudah membuatkanku ya?" Alula menatap Nino, Alden dan suaminya bergantian.
Alula pun segera berjalan kembali ke arah kamarnya.
"Kai, indra pengecap ibu hamil memang berbeda ya?" Alden menoleh ke arah Kai.
"Sepertinya itu benar-benar keinginan anakmu Kai," Nino berkata dengan serius. Kai hanya diam dan memperhatikan istrinya yang berjalan menjauh.
Jangan lupa mampir juga ke novel terbaru author yang berjudul "Pernikahan Karena Dendam" ya š¤