
Alula sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Hari ini adalah hari di mana ia akan bertemu dengan ayah mertuanya. Pertemuan ini sungguh sangat membebani pikiran Alula, karena ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh William. Alula menyangka William masih akan terus memintanya untuk bercerai dengan Kai.
Sementara itu, Alula tidak memberitahukan perihal rencana pertemuannya dengan William kepada Kai. Alula sungguh ingin tahu dulu apa yang akan dikatakan William kepadanya. Alula pun tak mau membebani pikiran Kai, karena Kai mengatakan jika beberapa hari ke depan ia akan sangat sibuk di kantor.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Kai dengan setelan kerja yang sudah rapi terbalut di tubuhnya yang tegap.
"Aku sedang memikirkan Daddymu," Alula membalikan tubuhnya.
"Ada apa dengan Daddy?"
"Mengapa Daddy belum bisa merestui pernikahan kita?" Alula menatap sendu ke arah wajah suaminya.
"Jika nanti sudah saatnya, Daddy akan merestui hubungan kita," Kai mengelus rambut Alula dengan penuh cinta.
"Mengapa Daddymu sangat egois, Kai?"
"Mengapa kau berkata seperti itu?" Kai merasa terusik ketika Alula berkata ayahnya egois, karena bagaimana pun Kai sangat menyayangi William.
"Aku hanya pusing saja memikirkan Daddymu yang tak kunjung merestui pernikahan kita. Sebuah pernikahan akan sangat membahagiakan jika diiringi dengan restu dari orang tua," Alula membeberkan isi hatinya.
"Bukan tak kunjung tapi belum," Kai merevisi kata-kata Alula.
"Bersabarlah sedikit lagi !" Kai mengusap lembut pipi istrinya. Alula hanya mengangguk mendengar perintah suaminya.
"Kalau begitu aku bekerja dulu."
"Baiklah, semoga harimu menyenangkan!" Alula berjinjit dan mencium pipi Kai. Kai mengangguk dan segera mengambil tas kerjanya. Kemudian ia bergegas keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke kantor.
Setelah Kai berangkat bekerja, Alula mencoba untuk melakukan tespack seperti saran dari Chelsea. Alula kemarin membeli sebuah tespack dari apotek tanpa sepengetahuan dari suaminya. Alula ingin memberikan Kai kejutan jika memang ia terbukti positif hamil.
Alula masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membuka kemasan alat penguji kehamilan itu. Alula mulai mencelupkan tespack tersebut ke dalam urine yang telah ia tampung ke dalam suatu wadah.
Alula memejamkan matanya. Jantungnya sangat berdebar-debar. Ia sungguh sangat berharap agar hasil tespack itu seperti yang ia dan Kai harapkan.
Setelah satu menit, Alula perlahan membuka matanya. Alula mengangkat tespack dari wadah tersebut. Senyumnya merekah dengan sempurna ketika melihat hasil tespack itu.
"Aku hamil !!" Teriak Alula di dalam kamar mandi. Setetes air mata bahagia jatuh dari pelupuk matanya.
"Aku akan jadi seorang ibu," Alula terus tersenyum sembari melihat tespack yang memperlihatkan dua garis biru itu.
"Aku harus menelfon Kai," Alula keluar dari kamar mandi yang ada di kamarnya. Ia bergegas untuk mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
"Ah tidak. Lebih baik aku beri tahu nanti. Kai pun pasti sekarang sedang bekerja. Aku tidak boleh mengganggunya," Alula menyimpan kembali ponsel miliknya, wajahnya masih memancarkan rona bahagia. Seumur hidup Alula merasa tidak pernah sebahagia ini.
"Sehat ya sayang di perut mama !" Alula mengelus perut datarnya. Ia masih belum percaya jika sudah mulai ada kehidupan lain di dalam tubuhnya.
"Aku harus memberi tahu Chelsea," Alula kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Chelsea.
"Iya, Al?" Jawab Chelsea di sebrang telfon.
"Chel, aku sudah melakukan tespack," Alula berkata dengan menggebu-gebu.
"Lalu bagaimana hasilnya, Al?" Chelsea tak kalah antusias.
"Hasilnya positif. Aku hamil, Chel!" Seru Alula dengan sangat bahagia.
"Selamat Al! Akhirnya aku akan mempunyai keponakan. Kalau begitu ayo kita periksakan kehamilanmu ke dokter !" Ajak Chelsea dengan nada yang tak kalah bahagianya.
"Kau mau mengantarkanku?"
"Tentu saja. Hari ini aku bosan sekali di butik. Semua gaun pernikahan clien sudah jadi dan sudah diambil."
"Baiklah. Kalau begitu, ayo temani aku ke dokter spesialis kandungan !"
"Baik. Aku akan menjemputmu ibu hamil," Chelsea terkekeh.
"Apa tidak merepotkan, Chel?" Alula merasa tidak enak, karena semenjak dari SMA jika akan berangkat kemana pun pasti Chelsea selalu menjemputnya ke rumah.
"Biasanya kau tidak pernah bertaya. Malah kau yang selalu menyuruhku untuk menjemput ke rumahmu !"
Alula hanya tertawa mendengar gerutuan dari Chelsea.
"Baiklah. Jemput aku ke rumahku!"
"Siap ibu hamil !"
Mereka pun mengakhiri panggilan telfonnya. Alula segera bergegas bersiap-siap untuk pergi ke dokter kandungan bersama dengan Chelsea.
Setelah 20 menit menunggu. Terdengar sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya.
"Itu pasti Chelsea !" Alula segera mengambil tas dan bergegas turun ke bawah.
"Nona mau ke mana?" Tanya Bibi May yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah.
"Bi, Alula mau pergi dulu dengan teman. Bibi tolong jaga rumah ya?" Tutur Alula ramah.
"Baik, Nona. Berhati-hatilah di jalan !" Balas bibi May.
"Oke, Bi. Dadah bibi !" Alula melambaikan tangannya seperti anak kecil.
"Nona memang wanita yang baik dan ramah. Ia tidak pernah memandangku rendah. Nona menghormatiku dan tidak memperlakukanku seperti seorang asisten rumah tangga. Bahkan Nona selalu mengajakku untuk makan bersama di meja makan," Bibi May tersenyum menatap Alula yang berjalan menjauhinya dan masuk ke dalam mobil Chelsea.
****
"Aku ucapkan selamat untuk sahabatku ini. Sebentar lagi kau akan jadi seorang ibu," Chelsea memeluk Alula ketika Alula mendudukan dirinya di dalam mobil.
"Terima kasih sahabatku. Nanti jika aku bermasalah dengan Kai, aku akan mengajak anakku kabur ke rumahmu," Alula membalas pelukan Chelsea hangat.
"Kau ini memang menyebalkan!" Chelsea mencebikan bibirnya.
"Bercanda," Alula mencubit pipi Chelsea gemas.
"Tapi aku siap menampungmu dan anakmu kelak jika kalian kabur dari rumah," seloroh Chelsea.
"Kau ini mengapa malah mendukungku. Aku tidak akan kabur lagi dari Kai. Akan lebih baik jika kita menyelesaikan masalah kita secara baik-baik dan mencari jalan keluarnya bersama," papar Alula.
"Kau dewasa sekali, Al. Baguslah jika pemikiranmu seperti itu," Chelsea segera menyalakan mobilnya dan bergegas keluar dari halaman rumah Alula dan Kai.
"Chel, bagaimana hubunganmu dengan Cleon?" Tanya Alula saat mobil Chelsea sudah keluar dari halaman rumahnya.
"Ya seperti itu saja, Al. Statis dan tidak ada kemajuan sama sekali," Chelsea menyetir sembari tersenyum getir.
"Bukankah Cleon sudah membuka hatinya untukmu?"
"Aku tidak tahu, Al," Chelsea menggelengkan kepalanya.
"Hubunganku dan Cleon seperti tersekat oleh sebuah jarak yang membentang. Apalagi hadirnya Beverly di tengah-tengah kedekatan kami."
"Beverly? Maksudmu?" Alula tampak tidak mengerti dengan perkataan Chelsea. Alula memang belum mengetahui perihal Beverly karena Chelsea belum bercerita kepadanya.
"Setahuku Beverly masih belum move on dengan Kai. Mungkin perkiraanmu salah Chel," Alula mencoba menenangkan Chelsea.
"Kau salah, Al. Beverly sekarang mencintai Cleon dan ia pun sekarang bertetangga dengan Cleon. Rumah mereka menempel satu sama lain," keluh Chelsea. Terdapat luka pada matanya saat ia bercerita kepada Alula.
Alula merasa kaget mendengar pernyataan dari Chelsea. Mengapa Beverly bisa mencintai Cleon? Begitu kira-kira yang ada di benak Alula.
"Mereka sangat dekat, Al. Bahkan Cleon pergi menonton dengan Beverly. Saat aku ke rumah Cleon, kau tahu mereka sedang apa?"
"Mereka sedang apa, Chel?" Alula bertanya dengan cepat.
"Mereka sedang bermain air dan kejar kejaran seperti film India."
Alula tiba-tiba tertawa mendengar cerita dari Chelsea.
"Mengapa kau tertawa?" Chelsea menoleh sebentar kepada Alula yang terduduk di sampingnya.
"Ya, kau lucu sekali. Apa mereka bernyanyi lagu India juga?" Alula tertawa renyah.
"Kau ini ! Aku bersungguh-sungguh," Chelsea mengerucutkan bibirnya.
"Maaf Chel ! Habisnya kata-katamu lucu sekali. Chel, kau tenang saja ! Kurasa Cleon tidak akan jatuh cinta dengan Beverly. Kau harus tahu, jika Cleon adalah tipe pria yang baik kepada siapa pun. Tentu kau tahu itu bukan?"
"Iya, kau benar, Al," Chelsea mengingat kejadian masa lampau saat Cleon beberapa kali menolongnya, sehingga Chelsea akhirnya jatuh hati kepada Cleon.
"Aku sangat mengenal Cleon, Chel. Dia tipe orang yang sulit untuk jatuh cinta. Dia memang banyak perhitungan. Bayangkan selama enam tahun kami dekat, dia tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya padaku. Dia selalu berfikir matang untuk memutuskan suatu hal termasuk dalam hal jatuh cinta," papar Alula.
"Mengapa aku tidak berpikir ke arah sana ya, Al? Kau pun di gantung selama enam tahun," wajah Chelsea mulai terlihat ceria kembali.
"Iya, Chel. Dulu aku sangat berharap Cleon mengungkapkan perasaannya padaku, tetapi itu tak kunjung terjadi. Saat tiba waktunya Cleon akan mengungkapkan perasaannya padaku, aku malah lebih dulu terjebak dalam suatu peristiwa yang mengantarkan aku dan Kai untuk menikah. Cleon memang tidak berjodoh denganku," Alula tersenyum.
"Apakah kau masih ada rasa terhadap Cleon, Al?" Chelsea bertanya dengan raut wajah yang was-was. Ya sungguh takut Alula masih menyukai Cleon.
"Kau ini bicara apa? Saat ini aku sudah mencintai Kai. Kehidupan pernikahan kami akan lebih lengkap dengan hadirnya anak ini," Alula mengelus perutnya yang masih datar sambil tersenyum. Chelsea pun tersenyum mendengar penuturan Alula. Chelsea berharap dirinya pun akan berakhir bahagia seperti kisah Alula dan Kai.
Setelah mengobrol ke sana ke mari, akhirnya Chelsea dan Alula sampai di rumah sakit yang berada di kota Birmingham. Mereka segera masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Setelah melakukan pendaftaran, mereka berjalan ke salah satu ruang tunggu khusus untuk pasien yang akan datang ke dokter spesialis kandungan dan obygin.
Alula memperhatikan semua pasien yang sama sama tengah mengantri. Kebanyakan para pasien datang bersama suaminya masing-masing.
"Al, apakah Kai tidak menawarkan untuk mengantarmu ke dokter?" Chelsea bertanya ketika melihat rata-rata pasien yang akan kontrol kandungan didampingi suaminya.
"Kai belum mengetahui jika aku hamil, Chel. Aku ingin memberikannya kejutan dengan memperlihatkan tespack dan foto hasil USG."
"Kau ini manis sekali," Chelsea tersenyum.
"Aku sungguh ingin tahu bagaimana reaksi Kai saat tahu kau hamil. Pasti dia akan sangat lebay," Chelsea mencoba menerawang.
"Kau benar, Chel ! Pasti Kai akan sangat over protektif. Tapi aku takut jika Kai menyuruhku untuk berhenti bekerja."
"Kalau masalah itu, lebih baik kalian diskusikan saja bersama-sama," Chelsea memberikan saran. Alula pun mengangguk.
Setelah menunggu beberapa puluh menit, akhirnya seorang perawat keluar dan memanggil nama Alula.
"Nyonya Alula Claire, silahkan masuk !" panggil perawat itu.
"Aku boleh masuk kan, Al?" Harap Chelsea.
"Tentu saja. Inikan calon keponakanmu. Ayo!" Alula menggandeng lengan Chelsea.
Alula dan Chelsea masuk ke ruangan pemeriksaan. Di sana sudah ada seorang dokter wanita yang sedang terduduk di kursinya.
"Siang Dok!" Sapa Alula.
"Siang nyonya! Silahkan duduk ! Perkenalkan saya Dokter Kim," Dokter yang bernama Kim itu memperkenalkan dirinya dengan ramah. Sementara perawat tadi mulai menyiapkan peralatan untuk melakukan USG.
"Saya Alula, Dok. Saya ke sini ingin memeriksakan kehamilan saya. Tadi saya sudah melakukan tespack dan hasilnya positif," jelas Alula.
"Kapan anda terakhir datang bulan?" tanya Dokter Kim.
"Bulan lalu tepatnya tanggal dua belas."
"Kalau begitu saya lakukan dulu pemeriksaan kepada anda Nyonya. Mari !" Dokter Kim berdiri dari duduknya. Alula pun mengikuti dokter Kim.
"Baringkan tubuh anda, Nyonya!" Pinta Dokter Kim. Alula pun segera membaringkan tubuhnya di atas sebuah ranjang pemeriksaan. Sedangkan Chelsea hanya menonton.
Perawat pun segera mengolesi perut bawah Alula dengan sebuah gel pelumas yang begitu terasa dingin di kulit. Dokter Kim pun segera mengambil Transduser. Transduser adalah bagian alat USG yang berbentuk seperti mikrofon. Dokter Kim pun segera menempelkan Transduser itu di bagian perut bawah Alula yang sudah di olesi oleh gel pelumas. Dokter Kim menggerak-gerakan Transduser itu sambil menatap layar komputer yang ada di atas tembok. Alula dan Chelsea pun menatap layar yang memperlihatkan rahim Alula.
Dokter Kim pun tersenyum.
"Lihatlah Nyonya ! Itu kantong bayinya !" Dokter Kim menatap layar komputer yang ada di hadapannya.
Hati Alula bergetar melihat layar komputer itu. Walaupun ia belum melihat secara jelas bagaimana rupa anaknya, tetapi Alula sangat terharu mengetahui ada sebuah nyawa di dalam tubuhnya. Chelsea pun tersenyum menatap layar komputer itu.
"Kehamilan anda sehat Nyonya dan tidak ada hal-hal yang abnormal," Dokter Kim menyimpan kembali Transduser itu kembali ke tempatnya setelah ia selesai melakukan USG terhadap Alula.
"Silahkan anda bisa duduk kembali!" Tutur Dokter Kim ramah. Perawat pun dengan sigap membantu Alula berdiri dan merapikan kembali ranjang pemeriksaan.
"Nyonya, anda sedang memasuki kehamilan trimester pertama. Sebaiknya anda tidak melakukan aktivitas yang berat. Anda juga disarankan untuk selalu memenuhi asupan harian dengan makanan yang sehat. Dan satu lagi Nyonya, anda tidak boleh stres atau tertekan secara emosional," Dokter Kim memberikan arahan kepada Alula, karena Dokter Kim tahu ini adalah kehamilan pertama untuk Alula.
"Baik, Dok. Apakah saya masih boleh untuk melakukan hubungan suami istri dengan suami saya Dok?" Alula bertanya dengan canggung. Pipinya tampak memerah menahan malu. Sedangkan Chelsea yang duduk di sebelahnya terlihat menahan tawa mendengar pertanyaan sahabatnya itu.
"Boleh, Nyonya. Asal suami anda tidak melakukan ej*akul*asi di dalam. Hormon prostaglandin pada sel sp*rma dapat menyebabkan kontraksi pada rahim, sehingga kadang dapat membahayakan janin," Dokter Kim menjelaskan dengan rinci.
Alula pun mengangguk mendengar penjelasan dari Dokter Kim.
"Apa ada yang ingin anda tanyakan lagi, Nyonya?" Tanya Dokter Kim. Ia memang harus memastikan pasiennya merasa puas akan penjelasan darinya.
"Tidak ada, Dokter," jawab Alula.
"Kalau begitu, saya akhiri pemeriksaan kita Nyonya. Ini hasil USG tadi," Dokter Kim tersenyum sembari memberikan sebuah foto hasil USG tadi.
"Terima kasih, Dok," Alula mengambil foto USG itu dan segera berdiri dari duduknya. Ia pun segera keluar dari dalam ruangan dokter dengan diikuti oleh Chelsea.
"Chel, aku akan jadi seorang ibu," Alula menatap Chelsea dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sangat senang, Al. Jagalah kesehatanmu dan calon keponakanku!" Chelsea kembali memeluk sahabatnya. Setelah membayar biaya pemeriksaan, mereka pun segera berjalan ke luar, menuju parkiran rumah sakit. Saat Alula akan masuk ke dalam mobil, ponselnya berdering menandakan adanya sebuah pesan di aplikasi chattingnya.
"Al, Daddy ingin bertemu denganmu sekarang juga," bunyi pesan tersebut. Itu adalah pesan dari William, ayah mertuanya.
...Visual William dan Sofia...
Source Images : Instagram
Jangan lupa untuk memberikan like, komen, vote dan rate 5 untuk mendukung Author. Terima kasih š¤