
...🎶 Mengenang mu 🎶...
Takkan pernah habis
Air mataku
Bila kuingat tentang dirimu
Uu-uu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini
Ku masih sendiri
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu ku putar
Kan kutunggu dirimu
Biarlah kusimpan sampai nanti aku
Kan ada di sana
Tenanglah dirimu dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu ku putar
Kan kutunggu dirimu
Biarlah kusimpan sampai nanti aku
Kan ada disana
Tenanglah dirimu dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi
Biarlah kusimpan sampai nanti aku
Kan ada disana
Tenanglah dirimu dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi
Ohh, (Biarlah ku simpan)
Ohh, (Sampai nanti aku)
(Kan di sana)
Biarlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
~Episode lima puluh//
Setelah lelah belajar beberapa jam, yang sangat menguras otak. Akhirnya bel pulang berbunyi, membuat semua siswa berhambur menuju gerbang, kantin dan bahkan mungkin masih berada di dalam kelas, seperti yang dilakukan Jasmine saat ini.
Jasmine terlihat merapikan buku dan meraih paper bag yang berada di laci meja, dia kemudian terlalu keluar. Namun langkah nya terhenti saat satu tangan meraih tangan Jasmine.
"Kenapa kak?" tanya Jasmine cukup terkejut dengan kedatangan Devan yang tiba².
"Pulang bareng kan?" ucap Devan datar.
Jasmine terlihat berpikir, dan kemudian menggeleng.
"Hari ini kakak pulang duluan aja, aku mau kerumah teman." ucap Jasmine.
"Ngapain? ga usah, langsung pulang aja." ucap Devan tegas.
"Ga bisa kak, aku udah janji." bantah Jasmine.
"Dia pasti ngerti, pulang!" Devan menarik tangan Jasmine menuju parkiran.
Dengan kasar Jasmine melepaskan tangannya, dia menatap Devan tak ramah.
"Tolong ngerti kak, dia sangat berharga bagiku. Ini adalah hari spesial baginya, tak mungkin aku melewatkan kesempatan ini, aku bisa pulang sendiri, tak perlu mengkhawatirkan ku." seru Jasmine datar.
"Segitu berharga kah dia dimata lo? sampai lo berani membantah?" tanya Devan tak senang.
"Ya, dia sangat amat berharga bagiku kak. Aku punya kehidupan sendiri kak, aku ga suka di kekang." ucap Jasmine tegas.
"(menghela nafas berat) oke gue antar." seru Devan santai.
"Aku bisa sendiri, kakak pasti juga sibuk." tolak Jasmine.
Dengan terpaksa Jasmine mengiyakan ajakan Devan, daripada dia bertengkar hanya karna masalah sepele, toh dia juga tidak rugi jika diantar oleh Devan.
*****
Jasmine menatap sebuah kertas dengan coretan tinta berwarna hitam, ya itu adalah alamat yang diberikan salsa semalam sebelum pulang.
"Mana sih rumahnya? jauh banget. Ga sekalian aja melewati hutan terus laut, danau, sungai, gunung, baru sampe." ucap Devan dengan nada sewot.
"Sabar kak, ini juga lagi nyari." ucap Jasmine sambil memperhatikan sekitar, tak ada rumah disana hanya pepohonan yang lebat di kanan dan kiri jalan.
Dari kejauhan Jasmine dapat melihat rumah kecil terbuat dari bambu, atau biasa di sebut gubuk.
"Masa sih itu? tapi kalo diliat emang gada rumah lagi disekitar sini." pikir Jasmine.
Tiba² dari arah belakang seseorang menepuk pundak Jasmine dan Devan secara bersamaan, membuat kedua nya refleks membalik badan.
"Astagfirullah." pekik kedua remaja itu.
"maaf! sedang apa kalian disini?" tanya wanita paruh baya dengan kantong kresek di tangannya.
"Maaf Bu! saya sedang mencari rumah teman saya." ucap Jasmine sopan.
"Rumah teman mu? kenapa sampai kesini? mungkin kamu tersesat, coba tanya ulang alamat nya." ucap ibu itu ramah.
Jasmine menatap kembali kertas yang ia pegang, dan benar! didalam kertas bertulis 'Jika ketemu pohon lebat terus jalan sampai ketemu rumah'.
"Engga Bu, tapi di kertas ini memang benar alamat nya." ucap Jasmine kekeuh.
"Siapa nama teman mu?" tanya wanita paruh baya itu.
"Salsa Bu, dia teman kerja saya." ucap Jasmine.
"Salsa? dia punya teman?" gumam wanita itu.
Jasmine beradu pandang dengan Devan sejenak, terbesit rasa penasaran akan ucapan yang di lontarkan wanita yang sudah berumur.
"Ada apa kamu mencarinya? apa dia melakukan kesalahan? tolong maafkan dia! nanti saya akan memarahi nya." ucap wanita itu dengan perasaan campur aduk. Takut, cemas, dan marah tercampur menjadi satu.
"Engga kok Bu, dia anak yang baik. Saya kesini karna di undang olehnya." ucap Jasmine sopan.
"Benarkah? anak itu, bisa² mengundang anak cantik seperti mu tanpa sepengetahuan saya, kalo tau saya pasti menyiapkan masakan terbaik saya." ucap wanita itu menggebu gebu.
Jasmine hanya tersenyum menanggapi nya, berbeda dengan Devan yang justru terlihat kesal.
"Bisa² gue disini ga dianggap, padahal sudah jelas terlihat kalo kami berdua." pikir Devan kesal.
"Kalo begitu ayo kita kerumah, saya habis belanja jadi ga tau apakah salsa nya ada dirumah atau tidak." ucap wanita paruh baya itu sambil menarik tangan Jasmine dengan semangat membara.
Lagi dan lagi Devan hanya bisa menggerutu melihat dirinya ditinggalkan begitu saja, seolah kehadiran nya tidak dianggap.
Dan benar saja gubuk itu adalah rumah salsa, dan memang terletak jauh dari rumah² warga.
"Aduh sebentar ya, saya lupa naruh kuncinya dimana." ucap wanita itu sambil terus mencari.
"Salsa, nak kamu didalam kah? buka pintu nya sekarang. Ini ada teman kamu loh." teriak ibu salsa lantang.
Tak ada sahutan dari dalam.
"Salsa jangan bercanda, cepat buka pintunya. Jangan biarkan teman mu menunggu terlalu lama." teriak ibu salsa.
Tak ada sahutan, hanya keheningan yang tercipta. Ibu salsa menatap kedua remaja itu dengan pandang khawatir.
Devan yang peka, mendekat dan kemudian tersenyum hangat menatap ibu salsa.
"Biar saya yang buka, kalian minggir dulu saja." ucap Devan.
Jasmine menarik tangan Devan berniat menghentikan tindakan Devan.
"Tak apa, biar saja pintu itu rusak. Emang perlu diganti." ucap ibu salsa menenangkan Jasmine.
Devan mengambil ranting pohon yang cukup kuat untuk menahan agar tak mudah patah, dan kemudian mencongkel kan nya ke pinggiran pintu agar kuncinya rusak.
Jasmine menahan tawa saat melihat tindakan Devan yang diluar nalar nya, Jasmine pikir Devan akan mendobrak pintu nya, ternyata hanya menggunakan cara halus, pantas dia sangat yakin dengan tindakan.
kurang lebih 3 menit akhirnya kunci nya dapat rusak akibat sentuhan ranting yang cukup kuat.
Devan berjalan mundur memberi celah untuk pemilik rumah, Jasmine tersenyum senang. Dia tau dibalik sifat Devan yang dingin dan datar dia memiliki hati yang lembut dan baik.
Ibu salsa membuka pintu dengan antusias karna kedatangan tamu yang menurutnya spesial, namun senyum yang awalnya melekat diwajah yang mulai keriput, berubah menjadi keterkejutan dan kesedihan.
Karna cukup syok dengan apa yang ia lihat, ibu salsa terduduk dengan air mata mengalir deras, Jasmine sekarang menghampiri ibu salsa karna juga terkejut dengan tingkah wanita yang sudah tak muda lagi.
Jasmine menatap ke arah sofa tua yang berada di ruang tamu rumah itu, dia tak kalah terkejut dengan pemandangan didepannya yang sangat sulit dipercaya.
Devan yang masih berada di belakang kedua wanita berbeda usia itu menatap penuh tanda tanya, dia sekilas melihat seseorang sedang berlari mengendap endap di belakangnya, namun saat dilihat tak ada siapapun disana.
Devan berjalan mendekati kedua wanita itu, dan menatap kearah sofa. Sama seperti Jasmine, Devan sangat terkejut dengan apa yang terpampang nyata didepannya.
Seorang gadis muda diikat di sofa dengan luka di tubuh, goresan² di wajah, dan tusukan di beberapa tempat, bahkan matanya yang hitam pekat menatap tepat kearah kami, mulutnya terbuka, darah sudah mengalir deras di ruang tamu itu.
Tepat hari dimana sang ibu ulang tahun, yang seharusnya dipenuhi akan kebahagian, namun sayang nasib berkata lain, dan malah harus melayangkan satu nyawa tak bersalah.
Jasmine menangis tersedu sedu,
"Mengapa aku harus terus menyaksikan kekejian manusia? terbunuh, terbunuh dan terbunuh itulah yang saat ini menghantui ku, aku ingin bahagia layaknya manusia, tapi kenapa sedetik saja itu tak bisa aku dapatkan?" gumam Jasmine lirih.
:
:
:
Bersambung......