Aku Yang Tak Diinginkan

Aku Yang Tak Diinginkan
CHAPTER 49 HADIAH ULANG TAHUN 2


...🎶 Kamu dan Kenangan 🎶...


Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu


Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku


'Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu


Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


Kamu dan segala kenangan


Menyatu dalam waktu yang berjalan


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu (padamu)


Ho-o-o-o-oh ...


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


Kamu dan segala kenangan (kenangan)


Menyatu dalam waktu yang berjalan (berjalan)


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan hanya bayangan


O-o-oh ...


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


'Ku mencintamu (mencintamu)


Kamu (kamu) dan kenangan


🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐🦐


~Episode empat puluh sembilan//


"Jas buruan, nanti telat." seru Salsa.


"Iya bentar, kita mau kemana emang?" tanya Jasmine.


"Katanya mau nemenin gue beli kado, kok sekarang Lo nanya?" jawab Salsa.


" (menghela napas) aku juga tau kamu mau beli kado, yang jadi pertanyaan kita belinya dimana." ucap Jasmine sambil tersenyum paksa.


"Oh, ikut aja. Nanti juga tau." ucap Salsa sambil menaiki taksi yang dia pesan.


Kedua gadis cantik itu pergi menuju sebuah pasar, dengan langkah senang Salsa menarik tangan Jasmine menuju sebuah toko barang² dengan bentuk yang unik.


Salsa terus memperhatikan barang yang berada di toko itu sebelum langkahnya berhenti pada satu album berwarna pink bercampur putih dengan riasan seorang ibu dan anak di bagian tengahnya.


Dia meraih album tersebut dan kemudian menatap Jasmine meminta persetujuan.


"Gimana menurut Lo? bagus ga?" tanya Salsa ragu.


Jasmine merebut album itu dari tangan Salsa dan kemudian menatap nya dengan senyum diwajah cantik nya.


"Boleh, gue rasa ini lebih bagus dari sebuah daster." sindir Jasmine.


Salsa tak menghiraukan ucapan Jasmine, dia terus berjalan meninggalkan Jasmine sendiri.


Jasmine berniat menyusul salsa, namun langkah nya terhenti saat tak sengaja melihat sebuah gelang dengan ukiran nama seseorang.


"Kalo aku dan kak Devan couple gimana ya? emang dia suka?" pikir Jasmine.


Dia meraih gelang itu dan kemudian mengambil nya menuju kasir.


"Permisi mba, ini bisa ga diukir nama saya?" tanya Jasmine polos.


"Bisa mba, ini emang diukir dengan nama yang pembeli mau." ucap kasir itu sopan.


"Ah, kalo begitu saya beli dua." seru Jasmine senang.


"Baiklah, dengan nama siapa? silahkan tulis dibuku ini ya mba." ucap kasir itu sambil menyerahkan buku dan pena.


Lalu kasir berambut pendek itu memanggil teman lelakinya untuk membantu mengukir nama yang Jasmine inginkan.


Kurang lebih 15 menit menunggu, akhirnya pesanan Jasmine selesai, dia segera membayar dan mencari keberadaan salsa yang tak terlihat batang hidungnya.


"Kemana aja sih, lama banget." seru Jasmine.


"Sorry, gue suka sama desain yang ada disini, unik semua. Rasa ingin membeli semua barang." ucap Salsa.


"Serah aja, udah belum? aku harus segara pulang. Udah hampir malam." ucap Jasmine.


"Yaudah ayo, Lo yakin ga beli apapun?" tanya Salsa heran.


"Aku udah beli, ayo buruan." Jasmine mendorong tubuh salsa menuju kasir.


Setelah selesai membayar, Salsa mengajak Jasmine untuk makan sebagai tanda terimakasih, awalnya Jasmine menolak, karna paksaan salsa dan dia juga tak enak hati untuk menolak, akhirnya Jasmine mengiyakan.


"Kita makan di pinggir jalan gini gapapa kan? gue ga punya uang buat traktir Lo makan di tempat mewah." ucap Salsa setelah memesan bakso dan es teh.


"Tenang aja, aku juga lebih suka yang seperti ini, daripada di cafe atau restoran." ucap Jasmine sambil tersenyum lembut.


"Benarkah? bukannya Lo anak orang kaya? kenapa suka tempat seperti ini?" tanya Salsa dengan wajah penuh tanda tanya.


"Apa anak orang kaya ga boleh makan di tempat ini?" ucap Jasmine.


"Bukan gitu, cuman jarang banget ada orang kek Lo. Intinya Lo beda dari yang lain Jas, gue senang kenal sama Lo." ucap Salsa tulus.


Jasmine tertegun sejenak dan kemudian tersenyum lembut menatap Salsa.


"Aku lebih senang bisa ngenal kamu, orang yang punya hati peduli dan selalu buat aku terhibur." ucap Jasmine sambil memegang tangan Salsa.


"Besok datang ya, gue harap Lo mau Dateng ke rumah gue." ucap Salsa ragu.


"Tenang aja, aku pasti datang kok." seru Jasmine.


Mereka kembali ke tempat awal karna pesanan mereka sudah siap, disela sela makan diselipkan candaan dan obrolan ringan.


****


Jasmine merebahkan tubuhnya setelah selesai membersihkan badan, dia benar² lelah setelah seharian penuh menemani Salsa berbelanja.


Tapi tersirat kebahagiaan saat mengingat ucapan Salsa yang begitu tulus, bahkan saat tidur pun Jasmine tetap tersenyum seolah olah hari esok akan kembali sama.


******


Jasmine terbangun dari tidurnya, dia bergegas mandi untuk pergi kesekolah, untungnya acara ulang tahun yang diadakan salsa sore hari, jadi dia tak harus bolos sekolah terlebih dahulu.


Setelah selesai dia menuju meja makan, disana sudah lengkap keluarganya. Jasmine kini mulai terbiasa, bahkan dia juga mulai diperlakukan sama dengan kedua kakaknya, namun bukan berarti Widya tak membenci Jasmine, itu justru membuat nya lebih membenci.


"Jasmine Lo berangkat bareng gue kan? atau di jemput Devan?" tanya Tania dengan sengaja menekankan kata terakhir.


"Kayaknya bareng kak Devan deh, dia bilang mulai sekarang dia yang antar jemput." ucap Jasmine polos.


"Enak banget jadi Lo Jas, di jaga sampe segitunya sama orang yang dicinta, kasian sih gue yang jomblo. Tapi untung deh gue ga jadi orang ketiga." sindir Tania sambil makan dengan santai seolah ucapannya tidak menyinggung siapapun.


Brak....


Dengan wajah merah Widya pergi meninggalkan meja makan, semua yang berada di sana menatap bingung ke arah Widya.


"Tania, jangan seperti itu sama kakak kamu." tegur ayah Jasmine.


"Maaf pah, lagian aku ga bermaksud nyinggung kok, dianya aja yang berlebihan." jawab Tania santai.


Jasmine hanya tersenyum canggung, mau bagaimanapun dia terlibat dalam masalah ini.


"Aku pergi duluan ya Bu, yah, kak." ucap Jasmine setelah menyelesaikan sarapannya.


"Iya." jawab mereka serentak.


Jasmine meninggalkan meja makan dengan perasaan khawatir, ya dia benar² khawatir dengan keadaan Widya sekarang, apalagi dia belum terbiasa pergi menaiki bus, jika terjadi apa² Jasmine tak akan memaafkan dirinya.


Aneh memang, Jasmine tak melakukan kesalahan apapun, namun karna sifat polosnya yang sangat mudah merasa khawatir, tak peduli seberapa jahat orang itu, dia akan tetap menjaga dan mengkhawatirkan nya.


:


:


:


Bersambung.....