Aku Yang Tak Diinginkan

Aku Yang Tak Diinginkan
CHAPTER 16 BAIKAN


...🎵 kekasih bayangan 🎵...


Padamu pemilik


Hati yang tak pernah kumiliki


Yang hadir sebagai


Bagian dari kisah hidupku


Engkau aku cinta


Dengan segenap rasa di hati


Selalu 'ku mencoba


Menjadi seperti yang engkau minta


Aku tahu engkau sebenarnya tahu


Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu


Kau sembunyikan rasa cintaku


Di balik topeng persahabatanmu yang palsu


Kau jadikan aku kekasih bayangan


Untuk menemani saat kau merasa sepi


Bertahun lamanya kujalani kisah


Cinta sendiri


Mungkin memang benar


Cinta itu tak lagi berharga


Semua percuma


Bila engkau tak punyai harta


Aku tahu engkau sebenarnya tahu


Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu


Kau sembunyikan rasa cintaku


Di balik topeng persahabatanmu yang palsu


Kau jadikan aku kekasih bayangan


Untuk menemani saat kau merasa sepi


Bertahun lamanya kujalani kisah


Cinta sendiri


Cinta sendiri


O-ho ...


Aku tahu engkau sebenarnya tahu


Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu


Kau sembunyikan rasa cintaku


Di balik topeng persahabatanmu yang palsu


Kau jadikan aku kekasih bayangan


Untuk menemani saat kau merasa sepi


Bertahun lamanya kujalani kisah


Cinta sendiri


Cinta sendiri


🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶🐶


~Episode enam belas//


#Keesokan harinya disekolah


Seorang gadis cantik terdiam mematung dan menatap kesatu titik dimana terdapat dua sejoli yang sedang berjalan bersama.


"Jadi mereka beneran tunangan? aih ngapain juga aku mikirin mereka?" pikir Jasmine dan berlalu pergi melewati Devan dan Tania.


Devan menatap Jasmine nanar,


"Apa Lo gak marah gue dekat sama yang lain? gue terlalu narsis ngapain juga dia marah?" pikir Devan tersenyum kecut.


"Dev? kamu kenapa? yuk ke kelas." ucap Tania sambil menggandeng tangan Devan.


Devan menghempaskan tangan Tania kasar,


"Bisa gak sih, gak usah ngerepotin? Lo punya kaki, bisa jalan kan? gak usah ngajakin gue, gue sibuk kalo cuman ngurusin Lo!" bentak Devan dan berlalu pergi.


"Ish kesal gue, kenapa sih sifat dingin nya itu sulit banget diilangin?" pikir Tania sambil menghentakkan kaki nya.


Jasmine berjalan menuju kelas, jadi kelas Jasmine itu berada ditingkat 2 dan harus melewati lapangan.


Karna sekolah masih terlihat sepi Jasmine berjalan sambil bersenandung kecil mencoba melupakan kejadian dimana Devan dan Tania yang sedang mesra mesraan, namun saat Jasmine berada ditengah lapangan sebuah pisau melayang kearah Jasmine dengan cepat.


Jasmine berbaring dengan Devan yang berada diatas nya, mereka beradu pandang selama beberapa menit, lalu Devan langsung mengalihkan perhatiannya untuk melihat pelaku yang berusaha melukai Jasmine.


Dari kejauhan terdapat seseorang dengan topi berlogo tengkorak namun anehnya dia menggunakan seragam yang sama dengan Devan dan Jasmine.


"Sialan, siapa dia? apa maksud nya melempar pisau tajam itu?!" geram Devan.


Devan berdiri dan mencoba mengejar orang itu namun sayangnya orang itu jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.


"Sial gue gagal!" pikir Devan dan kembali kearah Jasmine.


"Lo gak apa²?" tanya Devan.


"Makasih, aku gak apa²," ucap Jasmine tulus, Jasmine menatap lengan Devan yang mengeluarkan darah segar.


"Kak kita ke UKS yuk, liat lengan kakak berdarah, pasti karna kena Pisau tadi kan?" ucap Jasmine panik.


"Ah,,, b..bukan, ini bekas semalam gak sengaja jatoh." ucap Devan mencoba mengelak.


"Jatoh sama kena pisau beda tau!" ucap Jasmine dengan senyum manisnya.


"Gue gak apa², gak usah pedulikan gue." ucap Devan.


"Kak, kenapa sih kakak kaya cuekin aku gitu, seharusnya kan aku yang marah?" tanya Jasmine.


"Kenapa Lo harus marah dan gue gak?" tanya Devan dengan mata menyipit.


"K..karna k..kakak bakal tunangan kan sama kak Widya atau kak tania?!" ucap Jasmine sambil menundukkan kepalanya.


"Tunangan? Lo bicara apa sih? siapa yang tunangan?" tanya Devan dengan wajah bingung.


"Bukan nya kata ibu salah satu dari kakak aku bakal tunangan sama kakak?" balas Jasmine.


Devan tersenyum sinis,


"Jadi ini alasan dia canggung sama gue, gak nyangka sampe segitu nya mereka." pikir Devan dengan senyum sinisnya.


"Lo dibohongin sama mereka, gue gak bakal tunangan kalo gak sama Lo." ucap Devan sambil menggoda Jasmine.


Jasmine mengalihkan pandangannya,


"Kakak tau dari mana kalo mereka bohong?" tanya Jasmine sambil menatap kearah lain.


Devan tersenyum dan memegang dagu Jasmine agar bisa menatapnya dengan leluasa.


"Pertama, kalo gue tunangan pasti gue bakal tau semua nya, dan yang kedua, sekali pun itu terjadi gue pasti bakal bawa lo kabur dan nikah sirih sama lo, karna hanya lo yang menempat di hati gue!" ucap Devan mencoba menggoda Jasmine.


Kini Jasmine tak dapat mengalihkan pandangan nya,


"Eh wajah lo kenapa merah gitu?" tanya Devan dengan tampang konyol.


Jasmine langsung menutup pipinya dengan kedua tangan mungil milik nya,


"Kakak! berhenti menggoda ku!" bentak Jasmine.


"Hei hei siapa yang menggoda? gue serius tau!" ucap Devan mencoba menahan tawa nya, kini pipi Jasmine sudah seperti kepiting rebus.


"Gawat, lama² bisa gila aku!" pikir Jasmine.


"Sudahlah, ayo ke kelas." ucap Devan sambil menggandeng tangan Jasmine.


"Jadi sekarang kita baikan?" tanya Jasmine.


"Menurut lo? atau lo gak suka kita baikan." ucap Devan dengan mata menyipit.


"eh,,, enggak kok." ucap Jasmine.


"Oh iya, kakak belum jawab alasan kenapa kakak cuekin aku." ucap Jasmine sambil menatap Devan.


Devan berhenti saat mendengar pertanyaan Jasmine,


"Siapa cowo yang bersama lo semalam?" tanya Devan datar.


"Astaga apa aku salah ngomong? kenapa sifat nya kembali lagi?" pikir Jasmine.


"M..maksud kakak Ari?" tanya Jasmine.


"Gue gak perduli siapa pun itu, yang gur pertanyakan apa hubungan kalian?" ucap Devan datar.


"Em,,, dia cuman teman aku aja kok." ucap Jasmine meyakinkan.


"Teman? atau lebih?" tanya Devan.


"Kakak kenapa sih? mana boleh aku pacaran, yang ada bakal kena marah!" ucap Jasmine.


"Huh~baiklah, tapi mulai sekarang jangan terlalu dekat dengan cowo lain, karna gue gak suka!" ucap Devan melemah.


"Oke." ucap Jasmine.


"Entah harus berterima kasih atau sebaliknya pada orang yang ngelempar pisau itu, tapi berkat dia gue dan Jasmine baikan!" pikir Devan sambil senyam senyum tak jelas.


Ditempat lain seseorang melihat dengan emosi berapi api,


"Sialan gue gagal lagi!" gerutu orang itu.


:


:


:


Bersambung......