Aku Yang Tak Diinginkan

Aku Yang Tak Diinginkan
CHAPTER 1 PERKENALAN


CHAPTER 1 : PERKENALAN


Seorang gadis cantik terbangun dari tidurnya ketika satu ember air yang mengenai wajahnya, tentu saja itu semua ulah sang Ibu yang membangunkan anak gadisnya bernama Jasmine Amera yang sedang tertidur disebuah gudang yang penuh dengan debu dan serangga, dia sudah biasa dengan semua itu.


"Dasar anak gadis kerjaannya tidur aja bukannya bangun buat sekolah!!" bentak Ibu dengan tatapan tajam membuat tubuh gadis di depannya bergetar.


"M.. maaf bu." kata Jasmine takut. Gadis itu hanya bisa menunduk takut, dia bahkan mengabaikan tubuhnya yang kedinginan.


"Maaf, maaf bosan saya dengarnya!! cepat mandi dan siapkan makanan untuk saya dan anak² saya!!" ucap sang ibu kembali membentak, dia kemudian meninggalkan Jasmine yang masih tertunduk dengan wajah lirih.


"I.. iya bu." jawab Jasmine gugup. Dia menghela nafas ketika ibunya pergi, walaupun dia sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini, tapi tetap saja itu menjadi ketakutan bagi Jasmine apalagi ketika melihat wajah menyeramkan ibunya.


Jasmine adalah anak pengusaha kaya yang cukup terkenal, Tuan Abraham dan istrinya Ningrat. Jasmine merupakan anak ke-3 dari empat bersaudara. Kakak pertamanya bernama Widya Amoora Abraham, gadis cantik yang selalu menjadi incaran para buaya, tubuh nya yang tinggi dan mulus tentu saja menarik perhatian banyak orang, Widya juga dikenal Anggun dan baik. Tapi, itu semua hanyalah cover untuk menutupi sifat nya yang cukup kejam dan tak berhati.


Yang Kedua adalah gadis manis bernama Tania Karloova Abraham, tak berbeda jauh dengan Widya, Tania juga menjadi incaran para buaya karna wajah nya yang imut dan lemak bayi yang menempel pada pipinya. Tania merupakan kembaran Widya, namun sayangnya mereka bukan kembar identik. Walaupun Tania memiliki sifat yang tak berbeda jauh dengan Widya, gadis ini masih memiliki hati walau dia enggan menunjukkan nya.


Widya Dan Tania selalu bersama sedari kecil, membully Jasmine adalah hal yang sudah sering mereka lakukan. sedangkan adik laki-laki nya bernama Alvin Putra Abraham, memiliki wajah yang begitu tampan dan lucu. Alvin masih bersekolah dasar jadi dia tak terlalu mengerti urusan rumah tangga, tapi bukan berarti dia tak tau jika Jasmine sering diperlakukan beda. Alvin sudah sering membela Jasmine dan memarahi yang lain, tapi Alvin hanyalah anak kecil yang tak berdaya, jadi itu tak akan mempan.


Jasmine bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk sekolah, dia tak boleh telat di hari pertama nya memasuki masa putih abu. Kurang lebih 30 menit Jasmine menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, jujur saja Jasmine tidak terlalu pintar memasak.


"Bikin apa ya?" Tanya Jasmine pada diri nya sendiri sambil menatap bahan makanan yang tersisa di kulkas, Jasmine menghela nafas saat tak melihat satupun sayuran.


Di rumah ini tak ada satu pun pembantu, hanya Jasmine yang sering di suruh untuk melakukan pekerjaan rumah, sedangkan kedua kakaknya jangan kan menyapu untuk mengambil minum saja sering menyuruh Jasmine.


"Ah.. aku tau bikin nasi goreng ceplok aja deh." pikir Jasmine bersemangat, dia mulai menyiapkan nasi dan 6 buah telur, dia juga mengambil bahan yang lain dan mulai memasak.


Setelah selesai dia meletakkan makanan yang dibuat nya ke meja makan dan kembali ke dapur untuk sarapan.


Jasmine sudah biasa makan di dapur sendirian, pernah dia mencoba makan dimeja makan namun apa yang terjadi? dia malah di caci maki dan di usir tanpa rasa iba.


Jasmine duduk di salah satu kursi dan berniat memakan sarapannya, namun satu teriakan membuat Jasmine mengurung kan niatnya.


"JASMINE!!" teriak sang ayah marah, Jasmine segera menuju meja makan untuk mengetahui apa yang membuat Abraham marah.


"Ada apa yah?" Tanya Jasmine bingung pasalnya dia sudah melaksanakan tugas nya dan tak ada yang salah.


"Apa-apaan ini, kamu mau bikin keluarga saya mati karna makanan murahan ini?" Tanya Abraham geram sambil menunjuk nasi goreng ceplok yang tadi dibuat oleh Jasmine.


"E...enggak yah, tapi bahan di dapur udah habis jadi aku terpaksa masak yang ada." kata Jasmine mencoba meyakinkan ayah nya, dia mencengkram baju sekolahnya untuk mengurangi rasa takut.


"Halah paling cuman alasan yah." kata Widya yang baru saja keluar dari kamar nya, dia bersorak dalam hati saat melihat wajah Jasmine yang pucat.


"Enggak kak aku serius." kata Jasmine mencoba membela diri nya, dia berusaha menatap mata kakaknyaa itu agar tidak dituduh berbohong.


"S...sakit bu." kata Jasmine mencoba menahan rasa sakit di lengannya akibat cengkraman Ningrat yang kuat dan kuku-kukunya yang perlahan menggoreng tubuh mulus Jasmine.


"Rasain maka nya jangan ngelawan." kata Widya, gadis itu menatap Jasmine dengan senyum mengejek. Dari arah belakang terlihat Tania yang keluar dari kamar, gadis itu hanya menatap Jasmine sebentar.


"Mamah!! kenapa mamah selalu ngebentak kak Jasmine? apapun yang kak Jasmine lakukan selalu salah di mata mamah!" Ucap Alvin yang berlari saat mendengar suara berisik dari ruang makan.


"Jangan ikut campur Al, sekarang mending kita berangkat, biar kamu bisa sarapan di sekolah." kata Abraham yang mulai lelah dengan perdebatan di depan nya.


"Al gak mau makan kalo mamah gak lepasin kak Jasmine." Ucap Alvin sambil terus memegang tangan Jasmine agar terlepas dari pegangan mamah nya.


"Alvin! jangan keras kepala, Mamah ga mungkin bunuh anak itu juga." kata Tania.


"Udahlah Al mending sama kakak nanti kakak beliin es krim gimana?" tawar Widya.


"Enggak! mah lepasin kak Jasmine sekarang juga!" ucap Alvin membentak Ningrat, semua orang terdiam beberapa saat, mereka tak menyangka Alvin akan seberani itu.


"Alvin berani sekarang kamu!! siapa yang ajarin kamu gitu, pasti anak gak tau diri ini kan?!" Tanya Ningrat kesal, dia semakin menatap benci kearah Jasmine, dia pikir Jasmine lah yang mengajari Alvin menjadi seperti itu.


"Udah mah mending kita berangkat aja, kamu bilang mau belanja." kata Abraham membuat Ningrat melepas tangan Jasmine kasar.


"Kak, Al pergi dulu ya? mau bareng gak?" Tanya Alvin.


"Gak usah Al, mending sekarang Al pergi sekolah nanti telat." kata Jasmine mencoba setenang mungkin dan menahan air matanya agar tak keluar.


Alvin mengangguk dan pergi mengikuti ayah dan ibu nya, setelah semua pergi Jasmine menangis sejadi jadi nya, jujur saja dia lelah jika harus diperlakukan seperti ini. Masalah kecil pun akan tetap menjadi masalah besar di mata keluarga nya.


Lama Jasmine diam sambil mengeluarkan semua sakit yang dia rasa kan, hingga akhirnya tangis itu reda dan hati nya mulai tenang.


Jasmine berjalan keluar rumah dan mencari angkot untuk mengantar nya ke sekolah, dari dulu dia tak pernah pergi ke sekolah bersama dengan kakak-kakak nya, selalu saja naik angkot. Jika tak ada uang Jasmine hanya bisa berjalan kaki untuk berangkat atau pun pulang sekolah.


Bayangkan saja ketika Jasmine masih sd, anak berusia 7 tahun harus pergi ke sekolah sendiri tanpa didampingi orang tua, berjalan kaki menuju sekolah yang cukup jauh. Tapi itulah Jasmine yang terlalu kuat dan baik, hingga apapun kesalahan yang dilakukan keluarga nya akan di maafkan dengan tulus, seolah itu bukan hal besar.


:


:


:


Bersambung........