
CHAPTER 2 : SEKOLAH BARU
Jasmine berjalan dengan cepat menuju lapangan karna hari ini adalah hari pertama nya bersekolah di SMA Permata, saat berjalan menuju lapangan dia tak sengaja menabrak seseorang.
"Ah.. maaf aku ga sengaja." ucap Jasmine berusaha berdiri.
Orang Yang ditabrak itu mengulurkan tangan nya guna membantu Jasmine, Jasmine mendongak menatap orang itu. Kesan pertama yang didapat Jasmine adalah orang itu memiliki tampang yang hampir sempurna dan mungkin baik hati, tapi dengan cepat Jasmine menggeleng dia tak boleh jatuh cinta pada orang lain, dia sadar bahwa dia tak cocok dengan orang itu tapi hati nya tak dapat berbohong jika dia sudah jatuh cinta pada orang itu, Jasmine berdiri tanpa menyambut tangan orang itu.
"Terimakasih kak." kata Jasmine lalu pergi begitu saja.
"Menarik." Ucap orang itu karna melihat Jasmine yang sama sekali tak terpesona dengan ketampanan nya, ya siapa yang tak mengenal Devan Pratama anak pengusaha kaya dan ketampanan nya yang sudah hampir sempurna, banyak yang mengejar Devan namun Devan sama sekali tak tertarik pada mereka karna menurut Devan mereka hanya mengutamakan harta Dan tampang.
Semua murid baru berebut untuk mendapatkan barisan pertama, sedangkan Jasmine lebih memilih untuk baris di barisan belakang. Bukan apa-apa dia hanya tak ingin memperebutkan sesuatu yang menurutnya tak penting.
Jasmine terus memperhatikan ke satu titik, mata nya tertuju pada seseorang yang berada tepat di samping kepala sekolah. Jasmine terus menatap orang itu yang tak lain Devan, saat Devan juga memperhatikan Jasmine, dengan cepat Jasmine mengalihkan pandangan nya pada kepala sekolah.
"Apa dia baru saja ngeliat gue? masa sih." pikir Devan sambil menatap Jasmine dengan pandangan bingung.
"Wah gila kak devan liatin gue!" pekik seorang gadis tepat berada di depan Jasmine.
"Dih ge'er banget sih lo, orang dia liatin gue." ucap teman di sampingnya yang tak terima akan perkataan temannya.
Jasmine memperhatikan kedua perempuan itu bingung, lalu dia mengikuti arah pandangan kedua orang itu, kini Devan Dan Jasmine saling tatap namun dengan cepat Jasmine kembali mengalihkan pandanga nya.
"Apa! dia baru saja menatap ku? jangan sampai aku suka sama dia, aku gak cocok sama dia, dia terlalu sempurna, aku yang jelek gini masa berharap bisa sama pangeran tampan, engga banget." gumam Jasmine dalam hati mencoba meyakinkan bahwa dia tidak menyukai Devan.
Sedangkan Devan meringis saat Jasmine mengalihkan pandangan nya.
"Apa gue segitu gak menarik nya sampai buat natap aja dia gak mau?" gumam Devan dalam hati.
Tak terasa acara penyambutan sudah selesai, Jasmine berjalan menuju kantin untuk membeli minum, namun langkah nya berhenti saat ada yang memegang tangan nya, Jasmine menoleh kebelakang, lagi dan lagi Jasmine dibuat tergila gila, bagaimana tidak Devan menatap Jasmine dengan gaya cool ala anak dingin.
"Sadar Jasmine dia bukan jodoh kamu, tapi kalo iya syukur deh, gak gak dia bukan jodoh kamu dia terlalu sempurna." pikir Jasmine meyakinkan diri nya bahwa Devan bukan untuk nya.
"Ada apa kak?" Tanya Jasmine berusaha setenang mungkin padahal hati nya sudah tak karuan.
Devan tak menjawab dia menatap lekat Jasmine dan mengulurkan tangannya, Secara refleks Jasmine menghindar dan menatap Devan curiga.
"A..ada apa ya kak?" ucap Jasmine sedikit takut karna menurutnya Devan sangat patut di curigai, bagaimana tidak tatapan Devan yang sangat tajam, dan wajah yang sangat datar membuat Jasmine berpikir bahwa Devan adalah seorang preman sekolah.
"Ada apa? lo ga haus gitu?" ucap Devan datar, matanya melirik ke arah kantin yang terlihat ramai.
Jasmine mengikuti pandangan Devan Dan kembali menatap tangan Devan yang terulur.
"Duh! pake salah paham segala lagi, kenapa ga ngeliat daritadi coba kalo dia mau ngasih minum. Bikin malu aja!" pikir Jasmine sambil menunduk karna malu dengan pikiran nya yang selalu berpikir negatif.
"Kok diam, ga mau? yaudah gue kasih yang lain aja kalo gitu!" ucap Devan sambil memperhatikan sekitar.
Devan terdiam dan terbesit ide untuk mengerjai gadis polos yang baginya begitu cantik dan lucu.
"Gue ga mau! Lo harus ganti hari ini juga. Pake uang lo, kalo ga gue jual ke yang lain aja." ucap Devan.
"T..tapi uang aku udah habis, yaudah gapapa jual aja ke yang lain." ucap Jasmine kembali menunduk.
"Habis? emang apa aja yang lo beli?" tanya Devan heran.
"Gada, tapi tadi aku naik angkot. Jadi uang nya habis buat bayar." ucap Jasmine lirih.
"Emang angkot berapa? masa orang tua Lo ga ngasih." ucap Devan.
"Bayar angkot 7 ribu kak, ibu ngasih kok. Sebulan 200 ribu." ucap Jasmine sambil tersenyum.
Devan terbelalak.
"Lo yakin? 200 ribu cukup buat bayar angkot doang, terus lo ga jajan gitu?" tanya Devan penasaran.
"Engga kak, bisa bayar angkot aja aku udah senang. Lagian aku udah makan di rumah ngapain harus jajan lagi sih?" jawab Jasmine santai.
"Zaman sekarang mana cukup cuma makan di rumah, emang gada yang nganter lo apa?" tanya Devan.
"Lah emangnya kenapa? makan di rumah udah cukup kok. Dan gada yang nganter dari kecil aku udah di biasakan mandiri." jawab Jasmine.
"Lo ga mungkin ada beasiswa kan? orang tua Lo kerja apa?" tanya Devan.
"Ayah punya perusahaan, ibu diam di rumah paling arisan sama tetangga." jawab Jasmine polos.
"Gue tau, lo mau di jadikan mandiri. Tapi cara mereka memperlakukan lo itu salah! masa sebulan cuma 200? kenapa lo ga minta lebih?" tanya Devan kesal.
"Mana berani kak! hehe.. udah ya aku mau pulang, nanti kalo telat aku di marahin." ucap Jasmine.
"Gue antar, gada penolakan!" ucap Devan yang seperti bisa membaca pikiran Jasmine.
Dengan terpaksa Jasmine mengiyakan ajakan Devan.
:
:
:
Bersambung.........