Aku Yang Tak Diinginkan

Aku Yang Tak Diinginkan
CHAPTER 47 MASA LALU


...🎢 Kamulah Takdirku 🎢...


Pernah kulihat lukisan cantik


Tujuh bidadari dari langit


Namun saat kulihat dirimu


Cantikmu mengalahkan semua


Pernah kubaca puisi raja


Syairnya indah getarkan rasa


Namun saat namamu disebut


Ku tergetar jiwa penuh rasa


Tuhan yang berikan rasa cinta


Rasa kasih sayang


Buat apalah susah cari kesana kesini


Sudah didepan mata kamulah takdirku


Tuhan ciptakan aku


Tuhan ciptakan kamu


Kita berdua di izinkan bersama dan bersatu


Selamanya


Seperti embun mengerti pagi


Seperti ombak paham samudra


Kita yang beda tlah disatukan


Dengan kekuatan cinta kasih


Jadilah kisah ini abadi


Kamulah takdirku


Seperti embun mengerti pagi


Seperti ombak paham samudra


Kita yang beda tlah disatukan


Dengan kekuatan cinta kasih


Jadilah kisah ini abadi


Kamulah takdirku


Buat apalah susah cari kesana kesini


Sudah didepan mata kamulah takdirku


Buat apalah susah cari kesana kesini


Sudah didepan mata kamulah takdirku


Buat apalah susah cari kesana kesini


Sudah didepan mata kamulah takdirku


Tuhan ciptakan aku


Tuhan ciptakan kamu


Kita berdua di izinkan bersama dan bersatu


Kamulah takdirku


🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚🐚


~Episode empat puluh tujuh//


Setelah selesai pemakaman Rina, Devan tak kembali ke rumah nya melainkan hanya diam di taman dengan pandang kosong, Jasmine menatap Devan lirih, dia tak menyukai Devan seperti sekarang, dia menginginkan Devan yang selalu ceria, tapi dia sadar bukan saat nya dia egois.


Ya mereka sudah kembali ketempat asal mereka tepat setelah pertengkaran.


"Apa mamah sempat bicara tentang masa lalu gue?" tanya Devan pelan namun masih di dengar Jasmine.


"Sempat, tapi hanya menanyakan saja." ucap Jasmine sambil menunduk memainkan kakinya.


Devan menatap Jasmine dengan dahi mengerut, dan kemudian mengangguk.


"dia tidak menceritakan nya?" tanya Devan.


"Lo ga penasaran gitu?" tanya Devan.


"Penasaran sih, tapi apa hak aku buat maksa?" ucap Jasmine.


"Mau gue cerita?" tanya Devan.


"Kalo kakak mau." ucap Jasmine sambil beralih menatap Devan, sejenak mereka beradu pandang hingga Jasmine mengalihkan pandangannya.


"Tak ada yang penting, hanya tentang sahabat kecil ku saja." ucap Devan lirih.


Jasmine kembali menatap Devan lekat,


"Apa segitu berharga nya dia?" pikir Jasmine.


"Lalu kemana dia sekarang?" tanya Jasmine.


"Gue juga ga tau Jas, mereka pergi gitu aja, padahal gue tersiksa tanpa mereka." ucap Devan.


"Aku rasa mereka punya alasan, dan mereka juga pasti tersiksa." ucap Jasmine lirih.


"Huh~ gue juga berharap begitu, dia cinta pertama gue." ucap Devan.


"Kalo cinta pertama, kalian pasti bakal bersatu kembali." ucap Jasmine sambil menunduk.


Devan menatap Jasmine lirih,


"Aku rasa juga begitu, mereka itu kembar dan aku menyukai salah satunya." ucap Devan.


Jasmine terdiam dengan pandangan kebawah, dia menahan bibir nya agar tak berbicara dulu.


"mereka sekeluarga tabrakan, dan hanya satu yang selamat, yang lainnya entah bagaimana, dan kau tau? salah satu yang tak selamat adalah orang yang aku cinta." ucap Devan tanpa sadar air mata nya menetes.


"Dan setelah aku mencoba lupa tentang kejadian itu, ternyata aku juga harus terpisah dengan gadis kecil, dia dibawa paman nya untuk tinggal bersama, menyisakan aku sendiri, dan sekarang aku kembali kehilangan sesuatu yang berharga yaitu mamah ku, apa takdir tak menginginkan aku bahagia?" ucap Devan panjang lebar.


"Aku tau gimana rasanya jadi kakak, aku juga tau betapa sakitnya hati kakak, tapi jika takdir berkata lain kita ga bisa berbuat lebih, cukup syukuri, karna Allah ga mungkin kasih hambanya cobaan yang ga sanggup di selesaikan, jadi kakak harus percaya bahwa setalah hujan pasti ada pelangi." ucap Jasmine sambil menatap Devan sendu.


"Lo emang selalu ngerti perasaan gue, makasih ya." ucap Devan tersenyum lembut.


"Saat awal kita bertemu, gue juga udah tertarik sama Lo, karna wajah lo sangat mirip dengan dia." ucap Devan.


Jasmine lagi dan lagi terdiam dengan wajah sendu nya.


"Jadi selama ini, kak Devan dekat dengan ku hanya karena aku mirip dengan dia?" pikir Jasmine.


"Tapi setelah gue mencoba, gue akhirnya berhasil melupakan dia, dan..." Devan menggantung kan ucapan dan menatap Jasmine ragu.


"Sekarang gue mulai suka sama lo, mungkin rasa itu muncul karna terbiasa, dan gue takut, bahkan sangat takut untuk bilang seperti ini, gue takut lo akan menjauh dan canggung, tapi gue sudah lelah menahan rasa itu, dan untuk resikonya gue siap menerimanya." ucap Devan dengan senyum manis.


Jasmine menatap Devan dengan pandangan yang sulit di artikan, mereka beradu pandang sejenak sebelum Jasmine bersuara.


"Apa itu nyata? atau hanya sekedar kataΒ²?" tanya Jasmine.


"Apa yang bisa gue lakuin, agar lo percaya bahwa itu bukan sekedar kataΒ²?" tanya Devan serius.


Jasmine tersenyum, dia hanya bercanda mengatakan itu, dia tau bahwa Devan tak mungkin mengatakan sesuatu yang basi.


"Tapi jika suatu saat dia kembali, siapa yang akan kak Devan pilih?" tanya Jasmine.


Devan terdiam, jujur dia masih ragu untuk menjawab pertanyaan Jasmine, bukan labil dia hanya belum yakin bahwa cinta nya benarΒ² lenyap untuk gadis kecil itu.


"Sulit Jas, tapi gue bakal usaha untuk jadi satuΒ² orang yang Lo cinta, dan gue juga ga tau dia akan kembali atau enggak." ucap Devan.


"Siapkan hati kakak, karna hari itu pasti akan datang." ucap Jasmine.


Devan kembali terdiam, dia menatap langit sore dengan pikiran kacau karna ucapan Jasmine yang masuk akal.


"Sekarang mending kita pulang, kak Devan pasti butuh istirahat." ucap Jasmine.


"Baiklah ayo." ajak Devan.


"Hai Dev, gue turut berduka cita ya, semoga mamah Lo tenang." ucap Widya tibaΒ² muncul dengan Tania di belakang Yang sedang memasang wajah kesal.


"Ga usah sok Lo, ish kesal banget gue jadi dihukum kan sama mamah." ucap Tania sambil mengumpat tak jelas.


Devan dan Jasmine saling tatap dengan dahi mengerut, yang ada dipikiran mereka sekarang adalah, apa yang dilakukan Widya hingga membuat Tania di hukum.


"Makasih, ayo Jas." ucap Devan sambil menggandeng tangan Jasmine menjauh meninggalkan Widya dan Tania.


"wkwkwk, rasain di tinggalkan, kan gue udah bilang mending Lo tobat dah jadi orang ketiga, udah tau kalo dua orang bersama pasti yang ketiga se**n." tawa Tania, bahkan dia melupakan kekesalan nya terhadap Widya.


"Gada akhlak punya sodara, bukannya di dukung malah di dorong." gumam Widya.


"Lah Jasmine kan sodara gue juga, jadi gue pengen yang terbaik buat sodara gue, dan buat Lo gue cuman bisa doa biar cepat di Rukiyah." ucap Tania dan berlalu pergi meninggalkan Widya yang sedang menahan marah.


:


:


:


Bersambung.......