
...🎵 Pilih saja aku 🎵...
Cinta mengapa kau sengsara
Benci ku melihatnya
Oh oh dia itu siapa bisa
Membuatmu merana
Cinta apa kau tak bahagia sini
Denganku saja
Oh oh dia itu siapa aku ini lebih
Baik darinya
Jauh dalam hatimu aku tahu
Engkau ingin ada orang yang
Selalu
Mencinta dan memelukmu setiap
Waktu
Kalau dia tak mampu pilih saja
Aku
Cinta apa kau tak bahagia sini
Denganku saja
Oh oh dia itu siapa aku ini lebih
Baik darinya
Jauh dalam hatimu aku tahu
Engkau ingin ada orang yang
Selalu
Mencinta dan memelukmu setiap
Waktu
Kalau dia tak mampu pilih saja
Aku
Ini hatiku untukmu
Percayalah padaku sayangku
Jauh dalam hatimu aku tahu
Engkau ingin ada orang yang
Selalu
Mencinta dan memelukmu setiap
Waktu
Kalau dia tak mampu pilih saja
Aku
Jauh dalam hatimu aku tahu
Engkau ingin ada orang yang
Selalu
Mencinta dan memelukmu setiap
Waktu
Kalau dia tak mampu pilih saja
Aku
Jauh dalam hatimu aku tahu
Engkau ingin ada orang yang
Selalu
Mencinta dan memelukmu setiap
Waktu
Kalau dia tak mampu pilih saja
Aku, pilih saja aku
🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪🐪
~Episode tiga puluh sembilan//
Jasmine membuka matanya perlahan, satu pertanyaan yang keluar dari mulut Jasmine membuat semua orang tersenyum.
"Aku dimana?" tanya Jasmine pelan.
"Akhir nya Lo bangun juga, gue takut Jas Lo kenapa²." ucap Tania sambil memeluk erat tubuh Jasmine.
"Apa yang sebenar nya terjadi?" tanya Jasmine.
"Jas, Lo jangan mikir yang lain dulu, fokus sama kesehatan Lo." ucap Radit lembut.
"Iya jas, masalah ini biar kami yang urus, dan bentar lagi Devan datang, dia yang bakal jaga lo." ucap Dimas.
"K...kak Devan balik? bukan nya masih lama? emang mamah kak Devan udah sembuh?" tanya Jasmine.
Diam! tak ada yang menjawab, mereka bungkam karna tak tau harus menjawab apa.
"Mamah gue masih sakit Jas, tapi dia udah aman, gue balik karna khawatir sama Lo." ucap Devan sambil tersenyum di dekat pintu.
"Kak, aku ga apa², kenapa kakak ninggalin mamah kak Devan demi aku? apa segitu gak penting kah mamah kak Devan?" tanya Jasmine.
"Bukan ga penting, tapi dia udah mulai baikan, dan beberapa hari lagi juga bakal sembuh, dia juga ga sendiri disana." jawab Devan.
"Makasih kak, udah peduli sama aku, aku ga tau gimana harus balas kebaikan kakak." ucap Jasmine lirih.
"Kebaikan apa yang udah gue lakuin? bukan nya yang bawa Lo kesini mereka?" tanya Devan.
"Bukan itu, tapi yang lain, makasih udah mau jadi teman pertama aku, makasih udah jadi orang pertama yang peduli, sayang, dan ngebela aku, makasih untuk semua yang udah kak Devan lakuin buat aku, aku gak tau harus gimana, jika saat itu aku udah gak hidup, aku bakal merasa punya hutang Budi Sama kak Devan, tapi Allah memberi kesempatan aku untuk membalas semua kebaikan kak Devan, aku senang banget!" ucap Jasmine sambil tersenyum lembut.
"Lo salah Jas, gue gak lakuin apapun, itu semua emang berhak Lo dapatin, bahkan Lo lebih berhak bahagia dibanding gue, dan sekarang apa yang Lo mau udah Lo dapat, teman, kakak dan kasih sayang ibu Lo, itu udah buat gue bahagia, bahkan jika gue mati sekarang, gue gak akan nyesel sama sekali, karna akhirnya gue bisa liat Lo bahagia, itu udah lebih dari kata cukup." ucap Devan yakin.
"Aduh terharu gue, mereka kek lagi di ambang kematian aja, saling berterima kasih dan minta maaf." ucap Dimas sambil menghapus air mata buaya nya.
"Woi bodoh, gak seru Lo, orang lagi sedih malah ngelawak." ucap Tania sambil menjewer kuping Dimas.
"Dev, Dim ikut gue bentar, Jasmine biar Tania yang jaga." ucap Radit serius.
"Noh Lo dikasih amanah, kerjain yang bener jangan lari." ucap Dimas.
"Bawel, udah sana." usir Tania kesal.
"Aish, santai! mau gue peluk lagi?" tanya Dimas.
Tanpa pikir panjang Tania menendang pantat Dimas membuat sang pemilik menjerit.
"Wait, gak santai nih bocah." pikir Dimas.
"Yaudah ayo, kita ke kantin aja, sekalian beli makan buat Jasmine sama Tania." ucap Devan.
Ketiga lelaki tampan itu pergi ke kantin untuk membicarakan sesuatu.
•Kantin
"Jadi Lo mau ngomong apa?" tanya Devan.
"Dev, Jasmine emang udah diteror dari dulu?" tanya Radit.
"Tau dari mana Lo?" tanya balik Devan.
"Gue nemu ini, saat gak sengaja ketemu Jasmine di rumah tua, dia bilang ada yang teriak di gudang rumah itu, jadi gue coba masuk sama dia, tapi ga ada apa² cuman ini yang gue temuin." ucap Radit sambil menyerahkan kalung berbentuk bulan.
"Gue yakin ini pemilik orang yang neror Jasmine." ucap Dimas.
"Berarti dalang nya bukan Ari, melainkan orang lain yang bersembunyi dibalik layar." ucap Devan.
"Maksud Lo? siapa Ari?" tanya Radit.
"Sebelum ini semua Jasmine sering diteror, dan pelakunya udah mati, tapi saat tau kalo Jasmine masih diteror, artinya bukan dia dalang nya, dan ini kalung perempuan, masa sih dalang nya perempuan?" Jawab Devan ragu.
Radit dan Dimas saling tatap, namun kemudian mengangguk.
"Lo benar, dalang nya gak mungkin perempuan, apalagi sampai cerobah seperti ini, dalang sebenaranya pasti masih bersembunyi." ucap Dimas yakin.
"Tapi untuk sementara kita ga ada yang tau kebenaranya, jadi jangan mudah percaya sama siapa pun, dan kalau bisa berhati hati sama semua orang yang mencoba menarik perhatian Jasmine." ucap Radit.
"Gue setuju, jadi gue mohon sama Lo berdua, mohon bantu gue nyelesain masalah ini." ucap Devan.
"Tenang aja Dev, kaya sama siapa aja." ucap Dimas.
"Tapi gue penasaran, sejauh apa sih hubungan Lo sama Jasmine." tanya Radit.
"Hanya sebatas teman, gue takut kalo Jasmine gak suka sama gue, jadi gue gak berani ngungkapin perasaan gue." ucap Devan.
"Bodoh! kalo Lo gak ngungkapin perasaan Lo, gimana mau tau perasaan dia? lagian gak enak tau gak di gantung kek jemuran." ucap Dimas.
"Gue masih trauma sama kejadian dulu, gue takut dia bakal ninggalin gue disaat gue mulai punya rasa." ucap Devan.
"Lo boleh trauma, tapi jangan berlebihan, suatu saat Lo harus ngelawan rasa trauma itu." ucap Radit.
"Gue belum siap buat cerita sama Jasmine tentang masalah gue, gue takut dia malah akan terbebani." ucap Devan.
"Dev cepat atau lambat dia bakal tau semuanya, lagian dia pasti ngerti perasaan lo, semua orang punya masa lalu, jadi jangan takut buat cerita masa lalu, kalau dia merasa terbebani, itu artinya dia belum bisa mengerti, tapi suatu saat dia akan paham dan ngerti, emang Lo mau orang lain yang bakal cerita tentang masa lalu Lo? terus mereka akan berlebihan dalam menyampaikan?" ucap Radit.
Devan tersenyum, dia merasa sangat bersyukur karna mendapat teman yang mau mengerti, dan selalu mendukung nya disaat dia terjatuh.
:
:
:
Bersambung.......