Aku Yang Tak Diinginkan

Aku Yang Tak Diinginkan
CHAPTER 46 BANGUN DAN PERGI


...🎶 Luka Yang Ku Rindu 🎶...


Lebih baik diam


Dan menghapus dendam


Tak lagi bicara


Agar tak makin terluka


Cinta punya batas


Tak harus saling keras


Tak bisa dipaksa


S'gala yang kau ucap bohong


Kau lakukan omong kosong


Tak perlu lagi percaya


Kau hanya pura-pura


Kita di ujung perpisahan


Namun selalu kurindukan


Kau luka yang kurindu


Hoo, hoo


Cinta punya batas


Tak harus saling keras


Tak bisa dipaksa


S'gala yang kau ucap bohong


Kau lakukan omong kosong


Tak perlu lagi percaya


Kau hanya pura-pura


Kita di ujung perpisahan


Namun selalu kurindukan


Kau luka yang kurindu


Lelah ku menangis (ooh)


Terluka karnamu


Ini kekalahanku


Wo-uwo-wo, ooh


Pergi lupakanlah aku


Biar aku yang bertahan


Segala yang kau ucap bohong


Kau lakukan omong kosong


Tak perlu lagi percaya


Kau hanya pura-pura


Kita di ujung perpisahan (perpisahan)


Namun selalu kurindukan


Kau luka yang kurindu


🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑🦑


~Episode empat puluh enam//


Sudah beberapa hari Jasmine menemani Devan, dia bahkan tak kembali ke hotel, dan berganti jadi diam di rumah sakit.


Itupun dia hanya tidur di sofa, sedangkan Devan tidur di lantai.


"Jas gue cari makan dulu ya? Lo pasti lapar." ucap Devan.


"Ga usah kak, aku bisa sendiri." tolak Jasmine.


"Gapapa Jas sekalian gue juga mau cari makan, nanti ribet kalo sendiri²." ucap Devan.


"Boleh deh, aku mau nasgor sama minuman botol." ucap Jasmine.


Devan mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan kedua orang yang disayang dalam satu ruangan.


Jasmine duduk di sofa sambil belajar, dia sudah terlalu lama di sini, dan akibatnya dia ketinggalan banyak pelajaran, untung nya dia masih bisa belajar online.


Tanpa Jasmine sadari tangan mamah Devan bergerak perlahan, dan matanya yang semula tertutup mulai terbuka, ya dia sadar dari koma setelah beberapa bulan.


Rina (mamah Devan) menatap sekeliling untuk mencari anak semata wayangnya, namun tak menemukan batang hidung nya sama sekali, dan malah menemukan seorang gadis cantik sedang fokus belajar.


kerutan muncul di wajah Rina, dia tak mengenal gadis itu, bahkan dia tak pernah melihatnya barang sekali pun, namun wajah itu terlihat tak asing, dia juga sangat senang entah mengapa, dia seperti ingin sekali memeluk gadis cantik yang tak lain Jasmine.


"Nak? kamu siapa." tanya Rina pelan namun masih bisa di dengar oleh Jasmine.


Jasmine terbelalak, dia bahkan tak menyadari bahwa mamah Devan sudah sadar, dia bergegas berdiri berniat memanggil dokter.


"Jangan, Tante ga apa²." cegat Rina cepat.


Rina tersenyum hangat, dia benar² nyaman dengan gadis kecil ini, bukan hanya sopan dia juga begitu cantik.


"Apa kamu pacar Devan?" tanya Rina blak blakan.


"Ah... engga Tante, kami hanya teman di sekolah." ucap Jasmine gugup.


"Benarkah? Devan itu, masa anak sebaik kamu di gantung, liat saja akan aku pukul dia." ucap Rina.


"Tante, jangan pukul kak Devan, dia ga salah kok emang kami ga mau pacaran, mau fokus buat belajar." ucap Jasmine.


"Ooh begitu, nak siapa nama mu?" tanya Rina lembut.


"Jasmine Alexander Tante, biasanya aku di panggil Jasmine." ucap Jasmine sopan.


"Nak Jasmine kamu pasti tau banyak tentang Devan? bagaimana dia di sekolah, sifat nya, dan masa lalu nya kan?" ucap Rina.


"Hampir semua aku tau, tapi... untuk masa lalu aku belum tau, kak Devan belum pernah cerita sama aku." ucap Jasmine sambil menunduk.


"Ga apa, mungkin dia masih belum siap, tapi jika suatu saat dia cerita masalah itu, kamu bisa janji sama Tante untuk terus bersama apapun yang terjadi? kalo kamu ga mau tak masalah, itu hak kamu." ucap Rina.


"Aku janji Tante, apapun itu... aku juga udah terlanjur sayang sama kak Devan." ucap Jasmine malu².


Rina tersenyum hangat, dia sudah menebak jawaban yang akan keluar dari mulut mungil Jasmine, dia juga tau betul bahwa Devan pasti juga menyukai Jasmine.


Tiba² pintu terbuka menampakkan Devan yang sedang diam mematung menatap Rina dengan wajah yang sulit di artikan.


Rina dan Jasmine tersenyum hangat menyambut kedatangan Devan.


Nyaman! itu yang saat ini Devan rasakan, seperti di sambut istri dan ibu saat pulang kerja, dia juga salut dengan Jasmine yang sangat mudah akrab dengan mamahnya, padahal yang dia tau mamahnya itu adalah tipe orang yang tak akan mudah kenal.


"Mah? udah sadar, kenapa ga kabarin aku?" ucap Devan sambil meletakkan makanan yang dia beli di meja dekat sofa.


"Sengaja biar kejutan." ucap Rina sambil terkikik.


"Hedeh ada² aja, lagi sakit bukannya diam malah ngasih kejutan." ucap Devan kesal, bukan tak suka dia hanya ingin kesehatan untuk sang mamah.


"Kak Devan kok gitu sih, kasian tau Tante dimarahin." ucap Jasmine tak suka.


"Iya² maaf, gue cuman ga suka kalo lagi sakit sok kuat." ucap Devan sambil mengelus rambut Jasmine.


Jasmine mengalihkan pandanganya, dia malu bahkan lebih malu lagi dari biasa karna teringat ucapannya dengan mamah Devan tadi.


Rina menggeleng melihat tingkah kedua remaja yang sedang di mabuk cinta, dia kembali teringat akan kisah cinta nya dulu, dan tanpa sadar air matanya jatuh.


"Loh Tante kenapa? ada yang sakit ya, aku panggil dokter sekarang." ucap Jasmine khawatir.


"Enggak sayang, Tante cuma teringat masa lalu Tante dengan papah Devan dulu." ucap Rina sambil tersenyum lembut.


Devan menatap tak suka, dia benar² kesal dengan ucapan mamahnya, yang membuatnya menjadi mengingat pria sialan yang sudah membuat dia dan Rina menderita.


Tanpa Jasmine dan Devan sadari Rina sudah menahan sakit di bagian kepalanya, dia menahan agar tak berteriak yang membuat mereka khawatir, cukup dia yang menanggung jangan mereka, begitu pikir Rina.


Jasmine menatap curiga kearah Rina yang sudah mulai memucat, bahkan dia melihat dengan jelas Rina sedang menggigit bibirnya agar tak bersuara.


Karna tak ingin salah paham dia menyikut lengan Devan membuat Devan menatap bingung kearah Jasmine.


Jasmine memberi kode dengan melirik ke arah Rina, Devan yang peka dengan kode itu beralih menatap Rina.


"Astaga! mamah kenapa? aku panggil dokter sekarang, Jasmine tolang jaga mamah aku." ucap Devan panik dan bergegas pergi.


Jasmine terus memegang tangan Rina untuk memberi semangat, sedangkan Rina mencoba terus berjuang agar tetap sadar.


"N...nak J..Jasmine, T..Tante m..mohon s..sama kamu, j. jaga Devan, Tante udah g..gak kuat." ucap Rina dengan mata yang mulai menutup.


"Tante jangan ngomong gitu, aku yakin Tante kuat, Tante aku mohon bertahan." ucap Jasmine dengan air mata yang mulai turun.


Pintu terbuka dan memperlihatkan Devan dengan dokter dan para suster.


Dengan cekatan dokter memeriksa keadaan Rina yang sudah sepenuhnya menutup mata, setelah selesai wajah dokter itu berubah yang menandakan sesuatu terjadi.


"Maaf sebelum nya, tapi nyonya Rina sudah tidak bisa di selamatkan." ucap dokter itu.


Syok! itu yang sedang di alami Jasmine dan Devan saat ini.


"JANGAN BERCANDA! LO PIKIR INI LELUCON? PENYAKIT MAMAH GA SEPARAH INI, JANGAN NGADA² LO." teriak Devan sambil terus memukul dokter.


Jasmine mencoba menahan Devan dengan tangan mungilnya, namun karna perbedaan kekuatan Jasmine malah terjatuh dan sedikit terluka.


Para suster juga tak tinggal diam, ada yang menahan Devan dan ada yang menolong Jasmine untuk kembali berdiri.


"Maaf nak, selama ini ibu anda telah menyembunyikan sesuatu, dan menyuruh kami semua untuk tutup mulut." ucap dokter itu.


"APA MAKSUD LO, SETELAH MENGADA NGADA LO JUGA FITNAH IBU GUE?" ucap Devan tanpa sadar.


"Kak! dengerin dokter dulu, jangan emosi!" ucap Jasmine.


Devan terdiam dan mencoba menahan emosi yang sudah siap meledak.


"Sebenarnya ibu anda mengalami kanker otak stadium lanjut, dan saat ini sel² itu sudah mulai menyebar hingga memakan nyawa." jelas sang dokter.


Jasmine terdiam mematung, dia jadi mengingat tentang penyakit nya sekarang.


"Apa aku juga akan seperti itu? hahaha lucu nya hidup ku, aku tak akan bertahan lama, aku akan segera mati." pikir Jasmine dengan air mata yang mengalir deras.


Semua yang berada di sana menatap Jasmine dengan dahi berkerut, bukankah seharusnya Devan yang menangis seperti itu? tapi kenapa Jasmine yang terisak?


Devan tak kuat menahan air matanya, dia menangis sambil memeluk erat tubuh Jasmine yang bergetar karna isakan.


:


:


:


Bersambung.....