
...πΆ Rasa Sakit πΆ...
Sunyinya malam hari ini
Dinginnya malam hari ini
Tak ada yang temani disini sendiri
Disini ku ditinggalkannya
Tak tahu apa sebabnya
Rasanya ingin kupergi bersama dirinya
Ternyata ku ditinggalkannya
Karena sebab orang tuanya
Namun ku tak ada artinya dengannya
Jujurku, kusayang padanya
Setia kumenemaninya
Hingga akhir menutup mata bersamanya
Tak bisa kumenahan rasa sakit yang kurasa
Kini semua telah sirna sudah
Kau sakiti aku dustai aku
Dirimu selalu tinggalkan aku
Tak pernah mengerti dengan perasaanku
Kau sakiti aku dustai aku
Dirimu selalu tinggalkan aku
Kau hanya bisa sakiti perasaanku
Tak bisa kumenahan rasa sakit yang kurasa
Kini semua telah sirna sudah
Kau sakiti aku dustai aku
Dirimu selalu tinggalkan aku
Tak pernah mengerti dengan perasaanku
Kau sakiti aku dustai aku
Dirimu selalu tinggalkan aku
ππππππππππππππππππ
~Episode empat puluh tiga//
Callπ
"Jas jadi kan kesini? sepi tau ga ada Lo." ucap Devan lesu.
"Jadi kok, tapi kek nya masih lama, aku punya sedikit masalah." ucap Jasmine berbohong.
"Oh ya? kalo gitu kamu ga perlu kesini, selesain aja dulu masalah kamu." ucap devan.
"Bentar lagi juga selesai, aku tutup dulu, ibu udah manggil." pamit Jasmine.
"Iya, semangat ya." ucap Devan sambil mematikan telponnya.
****
Jasmine berbohong untuk ke dua kali nya, bukan karna sang ibu yang memanggil melainkan dia harus segera bekerja.
"Sore kak." sapa Jasmine lesu.
"Sore, kenapa Lo? sakit?" tanya Kevin.
"Enggak cuman cape dikit aja." elak Jasmine.
"Jas Lo itu perempuan, ga seharusnya kerja sampe di paksa gini, kalo cape pulang, istirahat yang cukup." ucap Kevin lirih.
"Enggak kok kak, aku aman! liat aku masih bisa kerja." ucap Jasmine sambil mencoba menahan badan nya yang mulai melemah, bibir nya kini mulai memutih dengan keringat yang keluar, menambah kesan pucat nya.
"Jas, Lo aman kan? please jangan di paksa, kita kerumah sakit sekarang ya?" ucap Kevin khawatir.
Jasmine tak menjawab, pandangan nya kini mulai mengabur, dan tak dapat lagi menahan tubuhnya, setelah kesadaran benarΒ² menghilang, Jasmine terjatuh tepat ke pelukan Kevin.
"Jasmine bertahan, gue mohon." pekik Kevin, dia mencoba menghubungi taksi untuk mengantar Jasmine kerumah sakit.
****
Kevin terduduk lesu di depan ruangan Jasmine, dia benarΒ² sangat bersalah karna tak langsung mengantar Jasmine kerumah sakit.
"Jas gue mohon, jangan bikin khawatir, jangan buat gue merasa bersalah." gumam Kevin.
Selang beberapa menit dokter keluar dengan wajah panik,
"Gimana keadaan nya dok? dia baikΒ² aja kan?" ucap Kevin sambil menggoyangkan tubuh dokter.
"Nak tenang dulu, kamu siapa pasien?" tanya dokter itu.
Ah benar juga, Kevin tak memikirkan itu, dia bahkan tak mengenal siapa keluarga dekat Jasmine.
"Saya kakak nya dok, apa yang terjadi." desak Kevin.
"Mari ikut saya ke ruangan." ajak dokter itu, Kevin hanya mengikuti nya dari belakang.
"Dok saya mohon segara katakan, jangan terbelit Belit." ucap Kevin kesal.
"Baiklah dia menderita kanker stadium awal, tapi untuk saat ini masih ada kemungkinan untuk sembuh, tapi dia harus rajin periksa dan kemoterapi, jika ingin sembuh bisa melakukan operasi, tapi ada kemungkinan kanker itu akan kembali tumbuh." jelas dokter.
"Apalagi yang harus di tunggu? cepat lakukan operasi." bentak Kevin.
"Maaf sebelum nya, tapi rumah sakit kami masih kekurangan alat, jika tetap di lakukan mungkin bisa mempertaruhkan nyawa, kami rekomendasikan untuk pergi ke luar negeri." ucap dokter.
"Huh~ Jasmine sebenarnya apa yang sudah terjadi, kenapa Lo ga mau cerita." pikir Kevin.
"Baiklah kalo begitu saya boleh menemui nya?" tanya Kevin.
"Tentu, dan pastikan dia tidak kecapean atau terlalu banyak pikiran, itu bisa mempercepat kanker menyebar ke selΒ² lain." peringat dokter.
Kevin hanya menjawabnya dengan anggukan dan berlalu pergi menuju ruangan Jasmine.
"Jas, Lo udah sadar?" ucap Kevin sambil menatap Jasmine lirih.
"Iya, bagaimana dengan penyakit ku?" tanya Jasmine, Kevin menatap Jasmine bingung.
"Apa dia sudah tau? tapi dia menyembunyikan nya?" pikir Kevin.
"Bagaimana Lo tau? kenapa Lo nyembunyiin ini?" tanya Kevin.
"Kakak ga perlu tau, aku senang kok dengan penyakit ini." ucap Jasmine sambil menatap Kevin sendu.
"Senang? apa yang Lo pikirin? Lo udah gila?" ucap Kevin tak habis pikir.
"Kak kita pulang ya? kita kan harus kerja, nanti bos marah, aku jadi ga dapet uang deh." ucap Jasmine.
"Jas apa aja sih yang udah Lo sembunyiin? liat keadaan Lo, apa uang lebih penting dari kesehatan Lo?" ucap Kevin kesal.
"Aku butuh uang, aku ingin nyusul kak Devan, dia nungguin aku disana." ucap Jasmine lirih.
"Siapa dia? kakak Lo?" tanya Kevin.
"Bukan, dia amat sangat spesial bagi ku, aku harus nyusul dia, dia butuh aku disana." ucap Jasmine.
Kevin terdiam ada rasa sakit, sedih dan marah yang bercampur menjadi satu, apa begitu spesial orang yang bernama Devan itu? sampai dalam keadaan sakit seperti sekarang Jasmine tetap peduli?
"Lo ga perlu kerja, gue punya kejutan buat Lo." ucap Kevin berusaha tersenyum.
"Kejutan?" tanya Jasmine dengan alis terangkat.
"Tunggu gue bentar, nanti gue pasti balik ke sini." ucap Kevin sambil berlalu pergi meninggal kan Jasmine sendiri.
Satu jam berlalu, Kevin memasuki ruangan dengan langkah pelan, di lihatnya Jasmine yang sedang tertidur dengan wajah pucat pasi.
Di elusnya rambut Jasmine, dengan air mata yang mulai turun tanpa persetujuan.
"Jas, gue ga bisa liat Lo menderita, seperti sebuah ikatan, gue sakit liat Lo gini, gue ingin Lo bahagia, walau itu dengan orang yang Lo sayang, gue hanya bisa bantu Lo sampai sini." ucap Kevin sambil menghapus air matanya kasar.
"kak? kakak udah kembali?" ucap Jasmine sambil berusaha untuk duduk.
"Iya, ini kejutan yang gue maksud, semoga bisa bermanfaat." ucap Kevin sambil tersenyum lembut.
"Apa ini? loh uang, kakak yang ngasih, emang kakak ga butuh uang? aku ga bisa terima, ini uang kakak." tolak Jasmine.
"Jas jangan buat gue kecewa, gue ga butuh uang ini, Lo yang lebih butuh, bukannya Lo pengen ketemu sama orang spesial? ini bisa nambah uang untuk Lo pergi nanti." ucap Kevin.
"Tapi... yaudah deh nanti aku pasti ganti kok." ucap Jasmine.
"Makasih ya kak." Jasmine memeluk erat tubuh Kevin, membuat kedua orang itu merasakan kehangatan.
"Wait gue datang di waktu yang salah." ucap Tania ingin berjalan pergi.
"Kak Tania? kakak mau jenguk aku ya?" ucap Jasmine kembali bersemangat.
"Tadi sih iya, tapi sekarang udah enggak, lanjutin aja gue mau pergi." ucap Tania sambil terkikik.
"Kakak ih, sini dulu aku punya berita bagus loh." ucap Jasmine membuat Tania menjadi kepo.
"Bisa aja sih Bambang, buat gue penasaran." gumam Tania.
Tania berjalan kembali menuju tepat Jasmine berbaring.
"Aku udah punya uang buat ke luar negeri, berkat kak Kevin." ucap Jasmine senang.
"Eh? enggak kok, ini ga ada sangkut pautnya sama gue." elak Kevin.
"Emang kalian punya hubungan apa? terus yang di luar negeri mau dia kemanain?" tanya Tania sambil menggoda Jasmine.
"Ish kami cuman teman kok, yakan kak?" ucap Jasmine meminta persetujuan Kevin.
Kevin hanya mengangguk canggung.
"Btw Lo kok bisa masuk rumah sakit lagi?" tanya Tania.
Jasmine terdiam, dia belum siap untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Kata dokter dia cuman kecapean, nanti juga bakal sembuh." ucap Kevin sambil tersenyum.
"Oh? kebiasaan sih kalo cape tetap di paksain buat kerja, kan gue udah bilang kalo cape ga usah kerja, tinggal bilang sama Devan kalo Lo ga punya uang kan gampang." ucap Tania kesal.
"Lah kapan kakak bilang gitu? perasaan kakak setujuΒ² aja semalam." ucap Jasmine mencoba mengingat.
"Lah bocah ga bisa banget di ajak kompromi." ucap Tania kesal.
Kevin dan Jasmine tertawa melihat tingkah konyol Tania.
:
:
:
Bersambung........