
...🎵 mendua 🎵...
Ku tak habis pikir, kurangku di mana?
Kau tega melepaskan aku
Jauh ku menatap, namun terlalu jauh
Imajinasiku terberai
Terdiam aku, beku tanpamu
Di manakah letak hatimu?
Kau putuskan 'tuk mendua
Dengan dia di belakangku
Padahal ku pilih kamu
Jadi cinta terakhir
Ku tak habis pikir, kurangku di mana?
Kau tega melepaskan aku
Jauh ku menatap, namun terlalu jauh
Imajinasiku terberai
Terdiam aku, beku tanpamu
Di manakah letak hatimu?
Kau putuskan 'tuk mendua
Dengan dia di belakangku
Padahal ku pilih kamu
Jadi cinta terakhir
Kau putuskan 'tuk mendua
Dengan dia di belakangku
Padahal ku pilih kamu
Jadi cinta terakhir
Kau putuskan 'tuk mendua
Dengan dia di belakangku
Padahal ku pilih kamu
Jadi cinta terakhir
Jadi cinta terakhir
🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅🐅
~Episode tiga puluh lima//
•Pulang sekolah
"T....tolong, s...siapapun t....tolong a...aku!" teriak seseorang histeris.
Jasmine yang saat itu berada di dekat gang sepi terkejut mendengar suara itu, dia baru saja pulang dari toko buku untuk membeli novel edisi terbaru.
"A...aku m...mohon, a..aku takut d...disini!" teriakan itu kembali terdengar.
Jasmine terdiam, dia merasa tak asing dengan suara itu, seperti pernah mendengar nya namun dimana?
Dengan pelan Jasmine berjalan mendekat ke sebuah rumah tua, lebih tepat nya bagian gudang rumah itu.
"Apa suara itu berasal dari sini?" pikir Jasmine sambil terus mendekat kearah gudang tua itu.
Jasmine berhenti tepat di depan pintu gudang itu, dia bimbang untuk memilih pergi atau masuk.
"T...tolong b...benar² g..gelap!" teriakan itu terus terngiang ditelinga Jasmine.
Dengan pelan Jasmine mencoba membuka pintu itu,
terkunci! Jasmine berjalan mundur dan berniat mendobrak pintu itu.
Tiba² sebuah tangan menghentikan pergerakan Jasmine, Jasmine menoleh dengan pelan.
"Aakkhhh..." Jasmine berteriak keras, dia kemudian mengintip seseorang yang memegang nya tadi.
"Kamu? Radit kan?" tanya Jasmine sambil membenarkan nafas nya.
"Ya, tapi apa yang kamu lakukan disini? gak takut apa?" tanya Radit bingung.
"T..tadi aku dengar dengan jelas teriakan seseorang dari dalam, aku yakin disini pasti ada kasus penculikan." jawab Jasmine.
"Masa sih? tapi kenapa suara nya gak kedengaran lagi?" tanya Radit.
"Pliss, ngomong nya nanti aja, gimana kalo kamu buka pintu nya dan kita cek sekarang juga?" ucap Jasmine menatap Radit penuh harap.
"Oke, tapi kalo udah gak ada apa² kita langsung pergi ya?" tanya Radit sambil bergidik ngeri melihat sekitar.
Brak.....
Brak.....
Brak.....
Tiga dobrak itu berhasil membuka pintu yang terkunci.
Radit terdiam sebentar sebelum Jasmine menyadarkan nya.
"Kamu kenapa? ga ada yang salah kan?" tanya Jasmine gugup saat melihat ekspresi Radit.
"Ah.... enggak kok, aman!" jawab Radit sambil menuntun Jasmine masuk kedalam.
Kosong! benar² kosong melompong, hanya terdapat beberapa tali, Jasmine memberanikan diri melihat sekitar dan tak menemukan apapun.
Aura disana benar² mencekam membuat Jasmine ingin segera keluar dari gudang itu.
"Kak? kita keluar sekarang yuk!" ucap Jasmine sambil menoleh kebelakang, namun tak ada Radit disana.
Jasmine semakin dibuat takut, jika bukan karna harga diri mungkin sekarang dia sudah kencing di celana.
Jasmine terus menatap ke segala arah hingga dia menemukan Radit yang sedang berjongkok didekat sebuah tali yang terikat di tiang.
"Kak? kakak kemana aja sih, main tinggalin segala lagi." ucap Jasmine kesal.
Radit berdiri dengan gugup, dan memaksakan tersenyum.
"E... enggak kok, eh.... anu maksud aku, ayo kita keluar sekarang." ucap Radit gugup.
"Kakak beneran baik² aja kan?" tanya Jasmine bimbang.
"Iya Jas, tadi cuman liat ada tikus jadi aku nyamperin tanpa bilang kamu." ucap Radit mencoba membuat Jasmine percaya.
Jasmine hanya mengangguk dan berusaha berpikir positif.
***
•call📞
"Jas lo baik² aja kan disana?" tanya seseorang diseberang sana.
"Iya kak aku baik, kak Devan gimana disana baik kan?" tanya balik Jasmine.
"Baik Jas, lo udah ketemu kan sama dua curut?" jawab Devan.
"Udah kak, mereka lucu ya, enak diajak bercanda." ucap Jasmine.
"Jangan terlalu bercanda nanti cinta, awas aja kalo gue balik udah pacaran sama salah satu dari mereka!" ucap Devan kesal, meski tak berhadapan namun Jasmine dapat merasakan nya.
"Iya kak, aku juga gak mau pacaran." ucap Jasmine tenang.
"Terus mau langsung nikah? yaudah nanti pulang langsung ke rumah lo." ucapan devan yang sederhana, mampu membuat kedua sejoli itu memerah.
"Apasih kak, kaya permen karet aja, diawal manis pas akhir pait." ucap Jasmine terkikik.
"Enak aja, gue tuh kek gula, mau awal atau akhir pasti tetap manis." ucap Devan percaya diri.
"Idih percaya diri banget, yaudah aku tutup dulu ya, ibu manggil daritadi nanti malah marah lagi sama aku." ucap Jasmine sambil mematikan telpon tanpa membiarkan Devan berbicara.
pipi Jasmine benar² merah, kata sederhana yang membuatnya malu benar² malu, dia sengaja mematikan telpon karna takut jika ucapan devan bisa membuat nya jungkir balik, bahkan ibunya sama sekali tak memanggil nya.
Semenjak perubahan sikap ibu nya, dia tak pernah lagi mendengar perintah ini atau itu, namun bukan berarti Jasmine bisa berbuat sesuka nya, walau tak disuruh dia sering melakukan pekerjaan rumah.
"Aakhh.... kenapa sih aku bisa gini, padahal cuman kata biasa tapi bisa buat aku jantungan gini." gumam Jasmine.
"Kalo periksa dokter bahaya, takutnya aku kena stroke nanti ibu malah marah karna harus cari uang buat biaya berobat." ucap Jasmine konyol.
"Apasih, kok malah berharap penyakitan, apa mungkin aku jatuh cinta? tapi masa iya kek gini, kaya susah napas gitu, masa jatuh cinta ada efek samping nya?" pikir Jasmine.
Katakanlah sekarang dia gila, ya gila karna pertama kali baginya merasakan jatuh cinta, ~maklum kaum jomblo ngenes.
Disisi lain Devan menatap nanar kearah hp bermerk mangga, dia berpikir jika Jasmine sedang tak ingin diganggu karna sedang berkencan dengan lelaki lain.
"Gini amat hidup, kenapa gak mati aja sih, eh jangan deh nanti kasian Jasmine jadi janda." ucap Devan.
"Devan! siapa yang janda? Lo udah nikah dibelakang gue?" tanya seorang gadis cantik yang duduk disamping devan.
"Apasih Lo, kepo amat jadi orang, makanya jangan jomblo, gak tau kan tentang cinta." ucap Devan sadis.
"idih, gue bilangin nyokap Lo, nanti pas dia sembuh." ucap gadis itu tak terima dikatakan jomblo.
"Hahaha.... dasar gak waras, kek gue punya aja." pikir Devan mencoba menahan tawanya.
"Dev? gue ikut ke tempat Lo ya, sekalian pengen kenal Ama pacar Lo." ucap gadis itu memohon.
"Apasih males ah, nantin Lo cari gara² lagi sama dia." ucap Devan menolak dengan tegas.
"Ish jahat banget sih Lo, yaudah kalo gak boleh nanti gue nyusul, jadi Lo gak ada alasan buat nolak gue." ucap gadis itu percaya diri.
"Tenang gue gak bakal nolak, tapi Lo tidurnya cari sendiri, gue males nampung Lo!" ucap devan sadis dan berlalu pergi menuju kantin RS.
:
:
:
bersambung.........