
"Kamu lah yang malam itu mengantarkan jasad Mamak. Mulutmu yang kotor aroma cerutu hanya berucap kata sabar. Keluarga miskin yang tidak tahu kemana harus mengadu, akhirnya hanya bisa meratap. Kemana kami harus menuntut keadilan? Ah, jangankan keadilan, penjelasan atas kematian Mamak yang tidak wajar saja tidak kami dapatkan. Sakit hati ini mengingatnya. Mendidih darah dalam nadi. Bagaimana kematian Mamak bagai hewan tak mulia. Tidak pernah tertulis dalam berita, pembantu sang pengusaha kaya raya mati di hari yang sama saat perampokan terjadi. Tidak ada yang tahu. Mamakku tercinta tidak pernah dianggap ada. Nyawanya sangat tidak berharga bagi kalian," ucap laki-laki bertongkat naga dengan suara bergetar. Tangan kiri semakin erat menggenggam tongkat beraroma anyir darah.
"Mak Surti adalah korban di luar rencana. Dia terlalu banyak tahu. Membiarkannya hidup tentu akan menghancurkan semua yang sudah berjalan sesuai tujuan awal," sahut Pak Wito setelah menghela nafas.
"Pada akhirnya kalian para Badut seperti hewan, memakan yang lain asalkan hidupnya nyaman," balas laki-laki bertongkat naga.
"Ya bukankah naluri manusia seperti itu? Kita memiliki ego. Bahkan seringkali terdengar kata motivasi, sebelum mencoba menyelamatkan orang lain, selayaknya selamatkan diri sendiri terlebih dahulu." Pak Wito terkekeh sekilas. Suara tawa yang terdengar seperti menertawakan dirinya sendiri. Dalam lubuk hati timbul gejolak, bagaimana dia dulu yang seorang petugas telah cukup banyak berlumuran warna hitam kejahatan.
"Setelah Mamak meninggal, Bapak yang dasarnya pemalas mulai mencari kerja untuk menyambung hidup. Dan saat aku kelas 2 SMP, Bapak pun pergi dari rumah. Meninggalkan aku sendirian dengan uang 5 ribu perak. Berhari-hari aku makan dari belas kasihan tetangga sekitar. Dengan hancurnya hidupku, aku mendendam, tapi tidak tahu kemana kebencian dan amarah itu ku arahkan. Entah karena stres atau tekanan batin, rambutku penuh uban sejak usia muda. Lalu, orang itu datang. Orang asing yang memberiku uang untuk bertahan hidup. Dia mengaku dari luar kota, hanya mengunjungiku sebulan sekali memberi sejumlah uang." Tatapan laki-laki bertongkat naga nampak kosong. Ingatan kilas balik masa lalu tergambar di bola mata yang bening.
"Siapa?" tanya Pak Wito dengan dahi berkerut.
"Santoso. Awalnya aku menduga dia orang baik yang dikirim takdir untuk membantuku. Seiring berjalannya waktu aku pun menyadari, tidak ada kebaikan tanpa alasan. Aku meyakini Santoso adalah salah satu orang yang bertanggungjawab atas kematian Mamak. Setelah aku memiliki pekerjaan dan uang yang cukup, aku pun mencari Santoso. Dia mengakui segala kesalahannya, penyesalan, serta keinginan untuk penebusan. Aku mencari tahu siapa saja yang bersalah menghilangkan nyawa Mamakku. Beberapa nama disebut, termasuk namamu. Sayangnya, tidak semua Badut diingat oleh Santoso yang terkena demensia." Laki-laki bertongkat naga menghela nafas.
"Santoso? Kamu pun menghabisinya?" tanya Pak Wito. Laki-laki bertongkat naga menggeleng pelan.
"Dia lah satu-satunya yang pada akhirnya kuampuni. Lagipula sepanjang hidupnya dipenuhi penyesalan. Santoso bukanlah penjahat, hanya orang yang berada di waktu dan tempat yang salah," jelas laki-laki bertongkat naga.
"Jika kamu mengantongi identitasku sebagai Badut nomor 8 sejak dulu, kenapa baru sekarang kamu datang padaku?" Pak Wito mengernyitkan dahi.
"Karena kamu yang paling kuat. Lagipula aku bergerak mengikuti langkah anak asuh dari Santoso. Aku hanya ingin menjadi hantu, yang menghabisi kalian dengan rasa takut. Aku ingin kalian mati penasaran, tidak mengenal siapa lawan yang sesungguhnya," jawab Laki-laki bertongkat naga dengan mata berapi-api.
"Tapi sayangnya kamu salah, kamu kalah Nak. Aku tidak takut dengan kematian. Aku tidak takut dengan hantu dari masa lalu. Aku sudah mendapatkan dunia dan impian hidup. Tidak ada yang bisa menghancurkan kerajaan kesuksesan yang sudah kubangun," sahut Pak Wito congkak.
Laki-laki bertongkat naga diam saja kali ini. Dia tidak menyahut namun senjata api di tangan kanannya tetap tergenggam dengan erat. Pak Wito tahu betul lawannya kini tengah bimbang. Kemungkinan pelatuk ditarik sangat besar, tapi setidaknya Pak Wito enggan menyerah ataupun kalah.
Pak Wito menimbang-nimbang, kiranya kesempatan untuk dirinya bisa selamat kurang dari tiga puluh persen. Meski demikian, laki-laki tua itu cukup cerdik dan memiliki banyak muslihat yang coba dia gunakan.
"Tunggu apa lagi? Tarik pelatukmu!" perintah Pak Wito sembari berjalan mendekat perlahan. Penting baginya untuk memperkecil jarak dengan lawan. Menghitung jangkauan untuk bisa menyerang.
Anak Mak Surti merogoh saku celana. Mengambil benda kecil berwarna biru yang terlipat rapi. Kemudian kembali menyeringai ke arah Pak Wito.
"Apa itu?" tanya Pak Wito penasaran.
"Aku akan menghabisimu dan membuat keluargamu menderita," jawab anak Mak Surti. Dia menunjukkan selembar uang 50 an ribu lawas hasil rampasan dari Wildan. Anak Mak Surti bertaruh jika uang yang ada di tangannya itu adalah benda yang penting bagi Pak Wito.
Pak Wito terdiam dengan tangan gemetar. Uang kumal seri lama yang membuatnya teringat dengan beberapa barang bukti yang dibawa dan disembunyikan oleh Umar.
"Darimana kamu mendapatkannya?" tanya Pak Wito setengah membentak.
Seulas senyum penuh kemenangan tersungging di bibir anak Mak Surti. Kini dia yakin uang lawas itu adalah benda yang penting untuk Pak Wito. Dalam hati dia memuji kinerja Inka yang berhasil merebut uang itu dari Wildan. Meskipun awalnya ada rasa cemburu kala Inka menyampaikan rencana membawa Wildan ke hotel.
Anak Mak Surti atau laki-laki bertongkat naga teringat akan sosok Inka. Awal perjumpaan mereka di sebuah tempat hiburan malam. Sosok Inka cantik dan manis tiba-tiba saja mendekat dan mengajak untuk minum-minum hingga pagi. Dan entah bagaimana, Inka takluk pada laki-laki bertongkat naga.
Inka selalu mengatakan laki-laki bertongkat naga adalah penyelamat hidupnya. Inka mengabdi, dan mengikuti laki-laki bertongkat naga. Memberikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan tubuhnya untuk laki-laki berambut putih itu.
"Katakan padaku, apakah benda-benda lain juga ada padamu?" tanya Pak Wito tak sabar. Dia benar-benar gusar dan khawatir.
"Ya tentu saja," jawab laki-laki bertongkat naga singkat. Dia sebenarnya tidak mengerti dengan pertanyaan Pak Wito. Benda apa? Kenapa Pak Wito ketakutan? Laki-laki bertongkat naga tidak peduli. Yang penting dia bisa mengirim lawannya ke neraka dengan rasa takut dan penyesalan. Semua demi memperjuangkan keadilan untuk Mamaknya.
"Bukankah kamu siap mati Pak Tua? Kenapa sekarang kamu terlihat ketakutan? Dunia mu, kesuksesan yang telah kamu capai akan hancur dengan benda-benda yang ada padaku saat ini," ejek laki-laki bertongkat naga.
"Brengsek!" umpat Pak Wito. Laki-laki itu kehilangan akal dan berbuat nekat. Tiba-tiba saja berlari hendak menerjang laki-laki bertongkat naga yang sudah siap menarik pelatuk di tangan kanan.
DOORR
Bersambung___