12 Badoet

12 Badoet
Patangpuluh Pitu


Tenggorokan terasa kering. Entah kenapa suhu udara begitu gerah tak tertahankan. Padahal semalam hujan cukup deras mengguyur. Jari-jari lentik meraba meja, mencari kacamata dengan frame warna ungu yang tergeletak di sebelah vas bunga.


Nilla bangun dari tidurnya. Memakai kacamata, agar penglihatannya tak lagi buram. Dia menoleh pada Angel yang masih terlelap. Perempuan tomboy itu nampak tidur terlentang dengan suara dengkuran yang cukup keras. Nilla tersenyum masam.


Jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi. Nilla hendak berdiri, namun matanya tertuju pada bingkai foto di bawah jam dinding bulat itu. Nampak dalam foto, seorang perempuan tengah duduk di kursi. Perempuan yang terlihat anggun memakai setelan pakaian berwarna abu-abu. Di hadapannya, ada dua anak perempuan berusia sekitar 9 tahun tersenyum menghadap kamera.


Nilla menggeliat, meregangkan badannya. Dia hanya mengenakan piyama berenda berbahan kain tipis sedikit transparan. Pakaian yang dia pilih memang terasa paling nyaman saat digunakan untuk tidur malam. Dia juga melepas br* nya, sehingga bagian dada nampak membusung dan menggantung.


Dengan menyeret kakinya, Nilla berjalan keluar kamar. Dia menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Sampai di ruangan tempat menonton TV, Nilla berhenti sejenak. Memandangi kasur lantai yang kosong. Hari-hari sebelumnya ada Wildan yang tidur disana.


Selepas minum segelas air, Nilla membuka pintu depan. Membiarkan tubuhnya yang hanya terbalut kain tipis itu merasakan udara pagi yang dingin. Benar saja, udara gerah berganti. Sensasi sejuk dan segar, membuatnya merasa nyaman.


Saat hendak duduk di kursi yang ada di teras depan, Nilla mendengar suara seseorang yang bergumam tak jelas. Seperti suara isak tangis, juga terdengar seperti seseorang yang tengah meracau.


Nilla menajamkan pendengaran. Suasana pagi yang sepi membuatnya mudah mengetahui asal suara aneh tersebut. Nilla yakin suara itu berasal dari tetangganya, rumah sebelah. Nilla merasa heran. Setahunya rumah itu dalam keadaan kosong. Memang beberapa hari belakangan dia sempat mendengar suara orang gaduh, mungkin memang ada penghuni baru. Nilla tidak terlalu peduli. Namun kini, suara aneh itu cukup mengganggu. Seolah ada yang sedang kesakitan.


Perlahan, Nilla mengintip melalui jeruji pagar samping. Rumah sebelah gelap tanpa pencahayaan. Tapi masih dapat terlihat ada seseorang yang meringkuk di depan pintu. Seseorang yang tengah menggigil dan meracau.


Nilla yakin, siapapun itu pasti tengah kesakitan. Ada sebagian hatinya mengatakan untuk tidak turut campur dan membiarkannya saja. Namun sebagian nalarnya yang lain meminta untuk memeriksa.


"Kalau sampai orang itu mati, bisa repot kan. Polisi akan datang ke wilayah ini. Dan sebagai tetangga terdekat pasti akan ikut ditanya-tanya. Bisa mengganggu rencana-rencana yang sudah tersusun," gumam Nilla sendirian.


Nilla memutuskan melompat pagar dan memeriksa. Setengah berjingkat, dia mendekati sosok yang tengah meringkuk di depan pintu rumah kosong itu. Jantung Nilla berdegup lebih cepat. Dalam benaknya muncul banyak praduga aneh. Bagaimana jika sosok itu bukan manusia? Bagaimana jika hantu? Semakin banyak dugaan-dugaan liar, membuat bulu kuduk Nilla pun berdiri.


Setengah ketakutan, Nilla meraih pundak sosok yang tergeletak itu. Kemudian dia menariknya sehingga tubuh yang meringkuk itu kini terlentang menghadap Nilla. Samar-samar barulah terlihat wajah sosok itu. Tak lain dia adalah Wildan.


"Wildan?" pekik Nilla panik. Dia meletakkan punggung tangannya di dahi Wildan. Terasa panas dan berkeringat. Wajah laki-laki itu pun terlihat pucat pasi.


"Aku sudah di surga ya. Ada bidadari," ucap Wildan meracau. Matanya hanya terbuka separuh.


Nilla segera membantu Wildan berdiri. Tubuh laki-laki itu sangat berat. Nilla kewalahan tapi tak mau menyerah. Dia merangkul Wildan dan membantunya berjalan, terseok-seok menuju ke rumahnya.


Angel yang masih tidur pulas, terusik oleh suara pintu depan yang terbuka seolah tertabrak sesuatu. Terdengar pula langkah kaki yang aneh. Buru-buru Angel melompat dari ranjang kala menyadari Nilla tidak ada di tempat tidurnya. Dan saat keluar kamar, dia cukup terkejut mendapati Nilla yang merangkul Wildan berwajah pucat. Dua kancing piyama Nilla bagian atas terlepas, memperlihatkan daging putih nan mulus.


"Kamu ngapain? Guobl*k!" pekik Angel kesal.


"Apanya? Aku menemukan Wildan tidur di depan pintu rumah sebelah. Badannya panas banget. Ambilkan air hangat untuk kompres dong," pinta Nilla mengacuhkan ekspresi Angel yang kebingungan.


Setelah dikompres, panas badan Wildan berangsur-angsur turun. Dia juga sudah berhenti meracau. Nilla menghela nafas lega.


"Dimana kamu menemukan laki-laki tak berguna ini? Kenapa pula kamu membawanya kembali kesini? Bukankah dia sendiri yang memilih pergi, seharusnya biarkan saja dia membusuk di antah berantah," gerutu Angel. Dia memalingkan wajah, enggan menatap Wildan yang terkulai lemah.


"Aku tahu kamu Ngel. Kamu adalah tipe yang nggak akan komen macam-macam saat tak peduli. Kamu saat ini hanya mencoba membohongi hatimu sendiri," gumam Nilla lirih.


"Waahh, mulutmu," sahut Angel menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Seolah kamu tidak peduli padanya, tapi hatimu senang kan saat dia kembali kesini?" Nilla tersenyum sesaat. Angel diam saja kini.


"Aku mau mandi dulu. Perutku juga agak mules rasanya. Gara-gara membantu laki-laki tinggi besar ini jalan, perutku kram. Hadeh," keluh Nilla segera berdiri dan berlari-lari kecil ke kamar mandi.


Kini di depan TV, hanya ada Angel dan Wildan yang nampak seperti orang tidur pulas. Angel terdiam, menyandarkan punggungnya di dinding. Perkataan Nilla mengusik hatinya. Benarkah dia peduli pada Wildan, merasa lega dengan kembalinya laki-laki itu ke rumah?


"Sial! Darimana saja kamu? Dasar tak berguna!" gumam Angel menatap Wildan yang terlihat tidur pulas.


Seolah mendengar ucapan Angel, Wildan membuka kelopak matanya perlahan. Angel terkesiap, sedikit terkejut, tak menduga laki-laki di hadapannya itu mulai siuman.


"Angel?" panggil Wildan lirih. Angel diam saja tak menyahut.


"Apa aku sudah mati? Atau berhalusinasi saja," gumam Wildan setelah Angel tak berucap sepatah katapun.


Angel menyibak rambut di dahinya dan melepas handuk kompres di dahi Wildan. Kemudian dia mendekatkan wajahnya pada Wildan, sangat dekat, hingga dahi mereka saling menempel bersentuhan. Wildan kini dapat melihat bola mata Angel yang jernih seakan bisa berenang di dalamnya.


"Kamu masih hidup bod*h," bisik Angel lirih.


"Oh, aku hanya mimpi rupanya," ucap Wildan sesaat sebelum memejamkan matanya kembali.


Angel mendengus kesal. Dia berdiri kemudian pergi meninggalkan Wildan sendirian. Angel menuju ke teras depan, dan duduk di kursi rotan menghadap ke jalanan. Seulas senyum tersungging di bibirnya yang tipis merah ranum.


"Mungkin Nilla benar. Entah kenapa aku lebih bersemangat saat laki-laki tak berguna itu ada disini," gumam Angel setelah menghela nafas perlahan.


Bersambung___