12 Badoet

12 Badoet
Sewidak


Dari kejauhan nampak warna kemerahan di atas bukit. Rintik air hujan menjadi katalis memunculkan asap hitam yang melambung di langit malam nan kelam. Aroma terbakar menyeruak di udara, dengan abu beterbangan ke pemukiman warga.


Istri Pak Siswoyo berteriak histeris, menangis sejadi-jadinya. Meskipun dia belum mengetahui kondisi Pak Siswoyo, namun saat mendengar rumah di atas bukit terbakar sudah membuatnya yakin telah terjadi sesuatu yang buruk. Bukankah sang istri sudah mengingatkan untuk tidak berangkat ke rumah itu, apalagi di waktu malam. Semua warga tahu Pak Suryono sudah kehilangan akalnya, dan bisa saja bertindak agresif mencelakai orang lain.


Ibu-ibu tetangga terdekat merangkul istri Pak Siswoyo dan berusaha menenangkannya. Tangisan pilu membuat malam ini terasa lebih muram. Ucapan dan kata-kata untuk bersabar serta berpikir positif nyatanya tak kunjung membuat istri Pak Siswoyo tenang. Yang ada malah membuatnya meraung dan bersimpuh di tanah tepian jalan yang sedikit basah karena hujan.


Warga laki-laki berlarian menuju ke atas bukit sembari membawa ember, ataupun jerigen berisi air. Ada pula yang membawa parang dan sabit. Rasa khawatir dan gusar bercampur aduk. Mereka panik, jika sampai kebakaran merambat pada pohon pinus maka habislah hutan tempat mereka mengambil getah. Di sisi lain mereka gentar jika tak membawa senjata, jangan-jangan Pak Suryono sudah menyiapkan jebakan yang berbahaya untuk para warga. Siapa yang tahu dengan pemikiran orang gendeng? Begitulah yang ada di benak semua orang.


"Api menjalar ke pohon pinus yang kering di sebelah utara!" pekik Pak Kasun panik. Sang kepala dusun itu berada di barisan paling depan membawa senter dan jerigen dengan air yang hanya terisi separuh.


"Pak air yang mbok bawa kok cuma separo?" celetuk salah satu warga yang berambut ikal.


"Lambemu sempal! Berat yooo. Aku sudah tua mbok suruh bawa air banyak-banyak bisa kecepirit dong!" Pak Kasun bersungut-sungut kesal.


Meski awalnya ragu-ragu dan takut terkena jebakan dari Pak Suryono, warga akhirnya menyirami rumah yang terbakar dan sudah roboh itu. Mereka bahu membahu memadamkan api. Bahkan beberapa pemuda terlihat bolak-balik turun ke sungai di bawah bukit untuk mengambil air. Sekitar setengah jam, barulah api bisa dipadamkan dengan bantuan air hujan yang juga kian deras.


"Astaga! Ada mayat!" teriak salah satu warga yang tengah memeriksa puing-puing bekas rumah yang terbakar. Semua orang langsung berkerumun.


"Minggir! Minggir! Minggir!" teriak Pak Kasun menyibak kerumunan.


Memang terlihat jelas sosok manusia dalam kondisi tengkurap sudah tak bernyawa. Tubuh kurusnya hangus, melepuh dan mengelupas di sekujur punggung. Dari perawakannya warga meyakini dia adalah Pak Suryono.


"Ambil mayatnya dan bawa ke bawah. Panggil Mbah Modin biar bantu ngurus mayat. Aku tak telepon Mbah Lurah sama Pak Babin dulu," ucap Pak Kasun memberi perintah. Warga nampak menurut dan segera melaksanakan perintah Pak Kasun.


Belum sempat Pak Kasun membuka kunci layar handphone nya, terdengar teriakan dari warga yang lainnya.


"Mbah Kasuunn! Ada mayat lagi di jurang Mbah!" teriak warga yang berkalung sarung kotak-kotak di lehernya.


"Mayat siapa? Sebelah mana? Jangan membuatku gemeteran begini to ah," rengek Pak Kasun dengan jari-jarinya yang tremor.


Bersama beberapa warga, Pak Kasun segera memeriksa dan benar saja ada sesosok mayat di tepian tebing yang curam. Lokasinya cukup sulit dijangkau meski tak terlalu jauh dari jalan setapak menuju ke pemukiman.


Suasana semakin heboh sekaligus mencekam setelah diperiksa dan diketahui mayat di jurang itu adalah Pak Siswoyo.


Sementara itu, Nilla membonceng Wildan yang tengah meringis kesakitan. Nilla cukup dalam menarik gas motor matic nya, meski sebenarnya dia tidak begitu mahir mengendarai motor. Beberapa kali ban depan terasa oleng dan hampir terjungkal.


"Bagaimana dengan Angel? Kita meninggalkannya sendirian disana," ucap Wildan lirih. Kepalanya disandarkan pada pundak Nilla yang beraroma wangi. Kesadaran Wildan benar-benar di ambang batas. Pandangannya sedari tadi buram. Rasa khawatir pada Angel lah yang membuatnya masih mampu untuk terjaga.


Nilla diam saja tak menyahut. Dia menangis tak bersuara. Beberapa saat yang lalu dia melihat asap hitam dari arah puncak bukit. Dia sangat khawatir dengan keselamatan Angel, namun tidak mampu berbuat apa-apa. Yang dia bisa lakukan saat ini adalah membawa Wildan yang tengah terluka ke klinik terdekat.


Sayangnya karena Nilla yang tak terlalu hafal jalan, tak jua menemukan klinik atau pusat kesehatan. Hujan deras mengguyur membuat Nilla dan Wildan basah kuyup. Lebih dari tiga puluh menit berkendara, Nilla malah sampai di seputaran kota. Nilla memutuskan berhenti di klinik swasta yang pertama kali dia temukan.


Nilla memarkir motornya tepat di depan pos satpam klinik. Dia pun segera meminta tolong pada satpam yang ada disana. Dengan cekatan petugas berseragam abu-abu itu segera menggendong Wildan dan melarikannya ke ruang UGD.


Tubuh mungil Nilla merasakan lelah yang teramat sangat. Dia menjatuhkan dirinya di depan pintu kaca ruang UGD. Terduduk dengan nafas tersengal, Nilla mencoba untuk tetap tegar meski air mata tak mau berhenti menetes. Dia takut, cemas, dan gusar.


Dengan gemetar, Nilla merogoh handphone di saku celana. Sayangnya karena terkena air hujan, layar android itu tak mau menyala. Nilla terus memaksa menekan-nekan seluruh bagian layar, namun semua itu percuma. Layar tetap hitam pekat.


"Mohon maaf Mbak, jangan duduk disini. Silahkan duduk di kursi yang tersedia," tegur Pak Satpam ramah sembari menunjuk kursi besi yang terpasang tak jauh dari tempat Nilla bersimpuh.


Setelah mengusap matanya, Nilla pun berdiri dan duduk di tempat yang ditunjukkan oleh satpam. Suasana klinik sepi malam ini. Hanya ada Nilla seorang yang berada di ruang tunggu UGD.


Pak satpam nampak berjalan pergi membiarkan Nilla yang masih terlihat sesenggukan. Menit berikutnya terdengar suara perawat memanggilnya. Perawat perempuan itu meminta Nilla untuk menandatangani surat persetujuan tindakan.


Pada saat yang sama datang pasien lain yang masuk ke ruang UGD. Seorang laki-laki dengan perban berantakan di bagian kepalanya. Pasien itu diantarkan oleh seorang yang berbadan tegap dan gagah.


"Tolong selamatkan teman saya. Dia seorang polisi," ucap laki-laki berbadan tegap sembari menyerahkan sebuah kartu identitas.


Nilla selesai menandatangani surat persetujuan. Saat dia hendak duduk di tempat semula, Satpam menghampirinya dan menyerahkan sebotol air mineral dingin.


"Tenangkan dirimu Mbak. Minumlah terlebih dahulu. Dan jika membutuhkan bantuan bisa sampaikan ke saya di pos jaga depan," ucap Pak satpam ramah. Nilla mengangguk dan sempat mengamati. Satpam itu mungkin berusia tak terlalu jauh dengannya. Terlihat ramah dengan senyuman yang lembut.


Bersambung___