
Bulan Desember tahun 1991
Dua hari pasca perampokan rumah Sumiran sang konglomerat, suasana jalanan sekitar alun-alun kota sangat lengang. Setiap orang enggan untuk keluar rumah. Cuaca yang terus menerus buruk, dengan hujan dan petir yang datang sewaktu-waktu membuat suhu udara terasa beku. Apalagi muncul desas-desus menyeramkan dari rumah sang konglomerat.
Rumah megah di pusat kota itu memang menjadi saksi bisu tewasnya Sumiran. Beberapa warga memberi kesaksian bahwa mereka mendengar suara-suara rintihan di sekitar rumah itu kala malam tiba. Banyak pula cerita yang mengada-ada, terlalu dibumbui dan berlebihan beredar hingga membuat lingkungan sekitar benar-benar sunyi.
Sementara itu di warung kopi tak jauh dari alun-alun, Jumani dan Nuryanto tengah menikmati kopi susu panas. Warung kopi dengan bangunan kumuh yang benar-benar sepi pengunjung. Hanya ada Jumani dan Nuryanto disana.
Pemilik warung adalah seorang laki-laki sepuh dengan indera pendengar yang tidak berfungsi dengan baik. Jumani dan Nuryanto asyik berbincang sambil sesekali tawanya pecah dengan suara yang menggelegar.
"Padahal ngopi disini tuh paling enak. Mau ketawa sampek serak pun, pemiliknya nggak bakal marah. Lha wong budeg. Ha ha ha ha." Jumani tertawa kencang dengan perutnya yang besar dan bulat nampak berguncang-guncang.
"Oh iyo Jum. Kamu mau anget-anget an?" tanya Nuryanto memainkan alisnya. Laki-laki itu saat ini mengenakan celana cutbray berwarna abu-abu yang tengah menjadi trend fashion di kalangan kawula muda.
"Kamu bawa minuman to? Besok kita masuk kerja lhoh Nur." Jumani geleng-geleng kepala.
"Wes ta lah. Sedikit saja, yang penting nggak sampek pusing," bujuk Nuryanto.
"Ngikut deh. Tak minta gelas ke Mbah budeg kalau gitu," jawab Jumani segera beranjak mengambil gelas.
Menit berikutnya, dua pemuda itu tenggelam dalam minuman beraroma menyengat. Tawa mereka semakin kencang. Bahkan saat guntur menyambar, mereka kian lebar membuka mulut menertawakannya. Kelakuan seperti bocah yang sungguh tidak berfaedah.
Tanpa diduga, datang seseorang dengan langkah cepat langsung menghampiri meja Jumani dan Nuryanto. Laki-laki dengan perban di pelipis. Rambut dan sebagian punggungnya nampak basah oleh air hujan. Laki-laki itu merebut botol minuman Nuryanto dan segera membantingnya ke lantai. Botol pecah berserakan, menimbulkan bunyi nyaring di sela derasnya air hujan yang menghantam atap seng.
"Burhan, jaran! Apa apaan kamu?" bentak Nuryanto dengan wajah yang terlihat merah pengaruh minuman.
Kakek pemilik warung yang sedari tadi sibuk mengelap gelas dan piring sepertinya terusik. Dia menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam pada tiga pengunjungnya yang tengah bersitegang.
"Jangan marahi temanmu. Kan dia nggak sengaja, udah minta maaf. Botol yang pecah biarkan saja. Nanti aku yang beresin. Tenang," ucap pemilik warung memberi nasehat yang nggak nyambung.
"Woh, dasar budeg!" gerutu Jumani.
Burhan tanpa basa basi langsung mencengkeram kerah baju Nuryanto. Wajah laki-laki itu nampak merah, bukan karena minuman tapi karena menahan amarah.
"Apa sih?" Nuryanto ciut nyalinya.
"Matamu nggak lihat pelipisku jebol?! Kunci inggris kamu hantamkan sekuat tenaga padaku. Ada dendam apa kamu padaku? Hah?!" bentak Burhan.
"Sabar-sabar. Itu yang nyuruh kita melukaimu dengan serius kan si Umar nomor 2. Kalau kita-kita ya sesuai perintah saja," sela Jumani mencoba membela Nuryanto.
"Aku beneran pingsan sialan! Terbangun gara-gara suara tembakan. Dan Pak Sumiran ternyata sudah tewas. Anj*ng kalian. Gara-gara itu, aku dicecar polisi selama seharian penuh!" Burhan melepas cengkeram tangannya sembari mendorong tubuh Nuryanto ke kursi.
"Bisa kecilkan volume suaramu?" Jumani tersenyum masam.
"Mbah nya budeg!" bentak Burhan.
"Dia sibuk sialan! Dia harus membereskan segala kesalahan yang telah kalian lakukan. Dan busuknya lagi, setelah semua itu terjadi kalian bubar begitu saja seolah tidak ada sesuatu yang perlu dijelaskan. Pulang dari kepolisian, di bawah rak sepatu aku menemukan se kotak uang jatahku. Oh ayolah, kenapa kita tidak ngumpul-ngumpul dulu. Kenapa aku merasa seolah aku dibuang?" Burhan melotot kesal.
"Jangan tanya aku. Cari si Umar!" sahut Nuryanto cepat.
"Brengsek! Kenapa rencana yang sudah matang diubah tiba-tiba? Kenapa Sumiran harus dibunuh? Lalu, Bagaimana dengan Mak Surti? Suaminya cukup dekat denganku. Dia datang ke rumahku menanyakan bagaimana bisa nasib istrinya seperti itu," cecar Burhan dengan nafas yang semakin memburu.
"Kami nggak tahu, sungguh," sahut Jumani.
"Kami berdua datang naik motor, tidak ikut rombongan. Kami memang terpisah dengan yang lain baik saat datang maupun saat pulang. Dari awal aku memang ditugasi untuk melukaimu Burhan. Agar kamu terbebas dari kecurigaan," ujar Nuryanto mencoba menjelaskan.
"Tapi tidak sampai membuatku pingsan beneran guobl*k!" sela Burhan.
"Ah, sial! Kenapa harus ada yang mati?" Burhan menggebrak meja.
Pemilik warung kembali menghentikan aktivitasnya mengelap gelas. Sepertinya dia terganggu dengan tingkah Burhan.
"Guyon ya guyon, tapi jangan gebrak-gebrak meja gitu," ucap pemilik warung, sekali lagi memberi nasehat yang tidak nyambung.
"Berantem beneran ini Mbah. Kok guyon gimana? Ah, dasar budeg!" sahut Jumani.
Terdengar langkah kaki dari arah pintu depan. Seorang laki-laki berbadan tegap dan berotot memasuki warung sambil melipat lengan kemejanya. Arloji emas mengkilap terpasang di pergelangan tangan kiri.
"Mulut kalian terlalu berisik. Suara kalian terdengar hingga luar warung," ucap arloji emas lirih, namun terasa sangat mengintimidasi. Aura suram yang terpancar dari dalam diri Badut nomor 8 itu membuat udara sekitar seolah menjadi sesak.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Burhan tidak gentar.
"Aku memang sedang mencarimu. Dan kebetulan kulihat motor astrea mu terparkir di depan," jawab arloji emas lebih kalem.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Burhan lagi.
"Aku tahu kita sudah menyusun rencana yang terasa sempurna. Dan ternyata, pelaksanaannya berbeda dengan rencana tersebut. Akibatnya bisa dikatakan kamu harus menanggung masalah, dicecar oleh pihak berwajib selama seharian. Begitupun aku, harus membereskan ini itu untuk menutupi dan membersihkan kesalahan yang telah terjadi." Arloji emas berdehem sesaat.
"Lalu?" Burhan mengangkat dagunya.
"Semua itu, sudah sesuai dengan permintaan nomor 1 dan nomor 12. Jadi meskipun kamu harus bekerja lebih dari yang direncanakan, diharapkan kamu tetap diam dan ingat dengan perjanjian serta komitmen bersama," jawab Arloji emas dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Aku hanya butuh penjelasan. Kenapa Sumiran dihabisi? Lalu kemana Si Surti? Keluarganya datang padaku sambil menangis. Bukankah perjanjian awal, semua ini untuk membuat Sumiran kehilangan hartanya? Merampas uang dan kekayaannya saja agar dia menderita. Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan? Apa sebenarnya tujuan perampokan?" Burhan semakin berani mendekatkan tubuhnya pada Arloji emas.
Sambil tetap tersenyum, Arloji emas meletakkan pisau lipat yang mengkilat di leher Burhan. Gerakannya yang cepat, dan terukur membuat Burhan tak berkutik. Hanya mampu berdiri kaku dengan jakun naik turun menelan ludah.
"Jangan banyak tanya. Semakin sedikit yang kamu tahu semakin mudah untukmu. Toh uang bagianmu sudah diberikan. Nikmatilah hidup dan lupakan semuanya. Kuharap ini terakhir kalinya kamu ngomel seperti mulut istriku. Karena sungguh terdengar memuakkan di telingaku. Lain kali jika kudengar yang seperti ini lagi tentangmu, kupastikan kamu akan menyusul Sumiran," ancam arloji emas lirih. Burhan hanya bisa mengangguk perlahan. Dia tahu betul ancaman dari arloji emas bukan sekedar gertak sambal.
Bersambung___