12 Badoet

12 Badoet
Rongpuluh


Senja datang bersama hiruk pikuk para pekerja yang kembali ke rumahnya. Suasana siang hari di perumahan pusat kota yang terasa lengang, kini mulai terdengar riuh ramai. Orang-orang dikotak-kotakkan dalam sebuah profesi. Jam pulang yang berbeda berdasar baju seragam yang dikenakan.


Langit kemerahan terlihat di ufuk barat. Awan-awan putih tipis berpendar, bergerak perlahan seperti enggan untuk berpindah dari tempatnya semula. Burung-burung liar yang tak bersuara, hanya terbang kesana kemari dan akhirnya bertengger pada sambungan kabel yang nampak semrawut di atas perumahan.


Angel dan Nilla menikmati sore hari dengan duduk santai di teras depan rumah. Sedangkan Wildan masih berdiam di ruang tamu. Sesekali dia mengintip keluar dari balik jendela. Status sebagai buron membuatnya takut menampakkan diri di bawah langit senja perkotaan yang terang.


"Sepertinya kita harus melakukan sesuatu pada laki-laki lembek yang ada di ruang tamu itu," ucap Angel dengan senyuman licik penuh arti.


Nilla meniup-niup satu cup mie instan yang ada di genggamannya. Kacamatanya nampak berembun terpapar uap hangat dari mie rasa soto itu. Dia melirik Angel yang memperhatikan ruang tamu.


"Kamu terlihat lebih girang Angel. Sepertinya bertemu dengan Wildan membuatmu lebih menikmati jalannya kehidupan," ejek Nilla sambil menyeruput kuah mie yang beraroma harum menggiurkan.


"Hah? Apa maksudmu?" Angel melotot ke arah Nilla.


"Yaahh, aku mengenalmu lebih dari siapapun Angel. Kamu selalu terlihat muram selama ini. Tapi hari ini, entah bagaimana ada sedikit binar keceriaan di matamu," jawab Nilla santai.


"Ha ha ha. Jangan sok tahu kamu. Sudah pintar membaca isi pikiran orang lain nih ceritanya," bantah Angel sambil tertawa.


"Dia bernasib sama seperti kita. Tapi dia tidak tahu sama sekali soal masa lalu yang kelam itu. Melihatnya seperti itu, aku sedikit iri. Mungkin saja kamu merasakan hal yang sama denganku dan pada akhirnya kamu tertarik padanya," lanjut Nilla. Dia menghembuskan nafas panjang sambil memandang langit yang semakin berwarna jingga.


"Sialan. Sepertinya suasana 'surup' membuat otakmu sedikit bergeser." Angel geleng-geleng kepala.


"Tapi harus diakui, dia cukup ganteng bukan?" Nilla menyeringai kali ini. Wajah Angel memerah dan segera mendaratkan pukulan pada lengan gadis berkacamata itu.


"Berhenti mengolok-olokku. Besok kita harus bergerak mencari pemilik tattoo kalajengking. Bagaimanapun, penampilan Wildan harus dirubah," ujar Angel kesal.


"Bukankah di kamar ada alat cukur?" Nilla memainkan kedua alisnya naik turun. Angel tersenyum penuh arti.


Adzan maghrib berkumandang. Lampu rumah sudah dinyalakan. Angel duduk di ruang tamu menatap Wildan sambil tersenyum. Laki-laki itu salah tingkah dibuatnya.


"Adakah sesuatu yang aneh di wajahku?" tanya Wildan kebingungan.


"Aku dan Nilla memiliki ide, agar kamu tak perlu khawatir untuk keluar rumah," ucap Angel sambil terus tersenyum.


"Hah? Apa? Kamu membuatku takut," tiba-tiba Wildan merasakan tengkuknya meremang. Dia merinding. Sebuah sinyal bahaya dari tubuhnya, Wildan yakin Angel tengah merencanakan sesuatu.


Pada saat itu, Nilla datang dari kamarnya. Kedua tangan diletakkan di balik punggung. Nilla pun tersenyum penuh arti menatap Wildan.


"Kalian mau apa?" Wildan mulai khawatir.


"Taraaa!" Nilla menunjukkan dua benda di balik punggungnya. Sebuah alat pencukur elektrik dan pewarna rambut berwarna perak.


"Kami akan mendadanimu supaya berbeda dan tidak dikenali orang-orang," sahut Angel menyeringai.


"Jangan aneh-aneh ya! Nanti malah terlihat mencolok, sial!" bantah Wildan. Dia berusaha menolak ide dua perempuan aneh di hadapannya itu.


"Kalau kamu nggak nurut. Aku bakalan telpon kantor polisi. Kubilang saja, ada seorang buron yang masuk rumah tiba-tiba," ancam Nilla.


"Hah? Apa itu?" Nilla mengernyitkan dahi.


"Luck Nut!" Wildan menggerutu. Angel dan Nilla tertawa puas bersama-sama.


Pada akhirnya Wildan menuruti ide dua gadis liar itu. Angel dengan cekatan dan senyuman lebar mencukur habis rambut Wildan yang bergelombang 'ngandhan andhan'. Setelah tersisa sekitar 5 senti saja, Nilla mengambil alih tugas. Dia mencampurkan cairan pewarna dan mengoleskannya merata di seluruh bagian rambut Wildan yang pendek.


Sekitar satu jam lamanya, proses merubah penampilan Wildan akhirnya selesai. Dengan potongan cepak dan warna silver, Wildan memang nampak berbeda. Posturnya yang tinggi kekar, dengan hidung mancung dan kulit cukup bersih, Wildan terlihat cocok dengan potongan barunya. Nilla juga menambahkan sebuah garis yang memotong alis kanan Wildan. Tak lupa sebuah anting magnet di telinga kiri.


"Wooohooo, kamu keren. Seriusan," pekik Nilla girang.


Angel duduk diam memperhatikan. Awalnya Angel ingin membuat tampilan Wildan terlihat konyol. Namun apa yang didapatnya kini di luar ekspektasi. Wildan malah terlihat keren, dan sedikit liar. Entah bagaimana, dada Angel berdegup lebih kencang.


"Bagaimana menurutmu Ngel?" tanya Wildan tiba-tiba. Wajahnya yang polos, terlihat benar-benar meminta pendapat Angel.


"Kenapa tanya padaku?" Angel membuang muka. Khawatir wajahnya yang merah padam terlihat.


"Terlihat norak. Kamu sudah tua, konyol berpenampilan seperti itu!" ledek Angel kemudian.


"Yaahh. . .kupikir juga begitu," sambung Wildan sembari meraba alisnya yang terbelah.


"Ahh, jangan dengarkan Angel. Kamu terlihat cocok seperti ini. Dan kuyakin bahkan mantanmu akan lupa jika bertemu denganmu," celetuk Nilla.


Wildan langsung terdiam. Pikirannya teringat kembali akan sosok Ika. Apakah dia sudah kembali berdamai dengan suaminya? Terpanjat doa dalam hati Wildan, semoga Ika bisa bahagia. Kehidupan yang mapan sesuai harapan Bapaknya.


Senja pun pergi dan berganti malam. Waktu berlalu dengan cepat. Angel dan Nilla sedari tadi sibuk merencanakan pengintaian esok hari. Berdasar google maps, ada beberapa toko kelontong yang hendak mereka kunjungan besok pagi. Wildan hanya menyimak dan menurut saja apa yang dua gadis urakan itu katakan.


"Sudah jam sepuluh. Aku mengantuk," ucap Nilla sambil menguap lebar. Matanya terlihat setengah terpejam dibalik kacamata yang tebal.


"Aku tidur duluan ya. Kutinggalkan kalian berdua, jangan sampai bertukar keringat lhoh ya," ledek Nilla dengan muka bantal.


"Ndiasmuu!" bentak Angel kesal. Nilla tak menggubrisnya. Dia berjalan gontai masuk ke dalam kamar.


Tak berselang lama, suasana berubah sunyi. Nilla sepertinya sudah tidur. Angel pun menyusul ke dalam kamar, mengambil sebuah bantal dan melemparkannya pada Wildan.


"Aku juga mau tidur di kamar. Kamu tidurlah depan tv. Ada kasur lantai dan itu bantal buatmu. Segera tidur, karena besok kita akan bertemu kawan lama dari Bapakku dan Bapakmu," perintah Angel sambil mematikan lampu ruang tamu.


Selepas Angel masuk ke dalam kamar, Wildan pun beranjak ke depan tv. Dia merebahkan badannya yang terasa pegal-pegal sedari tadi. Wildan tidak segera tidur. Dia masih fokus men scroll layar handphone nya. Membaca beberapa artikel tragedi 91. Cukup banyak yang dia temukan. Rupanya tragedi itu sangat booming pada masanya.


Pengusaha kaya raya, t*was dalam kasus peramp*kan. Istrinya hilang bak ditelan bumi. Bahkan dalam sebuah artikel dengan ketikan yang sedikit berantakan, tertulis dugaan sang istri dari pengusaha kaya raya itu berkomplot dengan kawanan pencuri bertopeng badut.


Bersambung___