12 Badoet

12 Badoet
Seket Limo


Keringat dingin menetes di pelipis. Suara tenggorokan menelan ludah serasa bergema di indera pendengaran. Mata bulat berwarna hitam nyalang mengawasi sekitar. Dan lampu senter semakin lama terasa kian redup.


Pak Siswoyo melangkah perlahan dengan kaki yang sedikit gemetar. Turunan curam membuatnya sulit untuk bergerak cepat. Apalagi pikirannya terganggu oleh suara langkah kaki yang seolah terus membuntuti. Nafas semakin sulit diatur. Pak Siswoyo merasakan dadanya sesak. Dia memutuskan berhenti sejenak dan duduk di atas sebuah batu besar di bagian hutan yang lebih lapang.


Dalam kegelapan, Pak Siswoyo mengerjap-ngerjap. Mencoba membiasakan indera penglihatan dalam warna pekat di antara rintik hujan yang kembali turun. Udara dingin melengkapi suasana mencekam yang menyergap.


Suara langkah kaki yang menginjak ranting kering kembali terdengar. Pak Siswoyo menyalakan senternya yang semakin redup. Dan tepat di ujung cahaya lampu senter, nampak sosok yang berjalan mendekat.


"Astaghfirullah," ucap Pak Siswoyo terkejut.


Sosok berambut putih, gondrong nan kusut dengan kumis yang lebat dan tak terurus. Hanya mengenakan kolor berwarna hitam, tanpa memakai baju atasan. Menunjukkan tulang-tulang iga nya yang menonjol. Sebilah parang ada di genggaman tangan kanan, sementara tangan kiri nampak beberapa ruas jari yang buntung.


"Pak Lik?" panggil Pak Siswoyo, saat sosok mengerikan itu sudah berdiri di hadapannya. Sosok itu tak lain adalah Pak Suryono, sang badut nomor 3. Orang yang tengah dicari oleh Angel, Nilla dan Wildan.


"Sedang apa njenengan disini?" tanya Pak Siswoyo sembari mengatur nafas. Ketakutannya sedikit mereda.


"Harusnya aku yang bertanya. Untuk apa kamu ke tempat ini malam-malam begini?" Pak Suryono balik bertanya. Tatapan matanya tajam dengan urat mata merah mengitari pupil yang hitam pekat.


"Ah eng, ya lagi pengen jalan-jalan saja Lik. Tapi kelewat malam. Makanya buru-buru mau turun ini," jawab Pak Siswoyo beralasan.


Tiba-tiba Pak Suryono mendekat sambil mengarahkan parang di tangannya tepat beberapa centi di depan leher Pak Siswoyo. Jakun ketua RT itu nampak naik turun menelan ludah. Keringat dingin mulai membanjiri pori-pori kulit. Rasa takut menjalar di hadapan besi tajam beraroma anyir.


"Jangan bohong! Apa mbok pikir mataku 'pece'? Aku melihat kedatanganmu, membawa orang-orang asing itu. Siapa mereka?" tanya Pak Suryono dengan tatapan yang menyeramkan.


"A A Anu Lik. Mereka bilang kalau sedang bertugas untuk survey dan pendataan lansia yang tinggal sendirian," jawab Pak Siswoyo tergagap.


"Siswoyo, kamu mengenalku sedari dulu. Meski mungkin orang lain menganggapku gila, tapi kamu tahu pasti kalau aku masih memiliki otak untuk berpikir. Mana ada petugas survey berkeliling sehabis maghrib? Lagipula semua administrasi kependudukan ku ada di rumahmu," sanggah Pak Suryono.


"Mereka mengakunya begitu Lik. Aku pun tak tahu." Pak Siswoyo mencoba berkilah.


"Aku yakin, di lubuk hatimu memang sengaja dan suka rela mengantarkan mereka ke rumahku. Sambil berharap sesuatu yang buruk terjadi padaku. Bukankah begitu? Keponakanku yang brengsek?" Pak Suryono menyeringai.


"Jangan berburuk sangka Lik. Aku hanya menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai seorang ketua RT kok," ucap Pak Siswoyo beralasan.


"Luasnya 'alas' ini, masih luas, jembar dan ombo alasanmu!" bentak Pak Suryono.


"Kamu pikir aku nggak ngerti? Kamu mengincar semua tanah milikku. Jika sesuatu terjadi padaku, tentu semua warisanku akan jatuh kepadamu. Aku tahu kamu. Otakmu memang se picik itu," sergah Pak Suryono. Dia dengan sengaja menyentuhkan parang di tangannya pada dagu Pak Siswoyo.


"Sumpah Lik, nggak kayak gitu." Pak Siswoyo mengiba.


Tanpa pikir panjang, Pak Siswoyo segera mengayunkan kakinya. Dia benar-benar takut bertemu dengan Pak Lik nya itu. Namun sayangnya, akibat tergesa-gesa dan kaki yang masih gemetar, Pak Siswoyo kurang waspada. Tanah pijakan yang licin, membuatnya terpeleset dan langsung jatuh menggelinding.


Wilayah yang curam, membuat tubuh Pak Siswoyo terlempar sangat jauh dari tempatnya jatuh. Kini laki-laki itu berlumuran cairan merah kental. Sebagian wajahnya rusak. Begitupun tulang-tulang di sekujur badan patah tak berbentuk lagi.


Tubuh Pak Siswoyo tertekuk di bawah salah satu pohon pinus. Meski demikian, laki-laki itu masih hidup. Terdengar suara nafasnya yang tersengal dan suara mengaduh dari mulutnya yang terus menerus mengeluarkan cairan.


Dalam keadaan yang demikian itu, Pak Siswoyo teringat dengan perjalanan hidupnya. Kilas balik kehidupan yang dia jalani muncul bagai video yang diputar dalam angan. Apa yang dituduhkan Pak Suryono padanya memang sebagian besar benar. Pak Siswoyo berniat segera memiliki aset milik Pak Lik nya itu. Namun nyatanya, menginginkan harta yang bukan menjadi haknya membawa pada kematian. Pak Siswoyo perlahan menutup mata untuk selamanya.


Sementara itu, Angel berjalan berjingkat di halaman rumah milik sang badut nomor 3. Nilla dan Wildan mengekor di belakang sambil memperhatikan sekeliling.


Sampailah mereka di teras depan rumah dengan obor menyala terang. Pintu depan nampak terbuka lebar. Suasana pun sangat lengang dan sepi.


"Kosong," ucap Angel sambil melongok ke dalam rumah.


Tidak ada siapapun di dalam rumah. Rumah sederhana itu terlihat tidak memiliki kamar. Hanya bangunan memanjang dari satu sisi ke sisi lainnya, tanpa ada sekat. Tidak ada satu pun perabotan. Bahkan tumpukan baju ganti teronggok di sudut ruangan. Kondisi yang sangat memprihatinkan.


"Gendeng! Ini sih namanya diasingkan bukan dipindahkan. Orang macam apa yang sanggup bertahan sendirian dengan kondisi seperti ini?" Ujar Nilla sambil geleng kepala.


Wildan masih saja diam mengamati. Perutnya terasa sedikit mual. Dia belum sehat betul, dan kini kepalanya terasa pusing lagi akibat terguyur rintik air hujan.


"Biar kuperiksa ke dalam," usul Wildan kemudian.


Perlahan Wildan melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah. Dalam pencahayaan yang temaram dia tak melihat ada seutas senar pancing transparan membentang di depan pintu masuk.


Ctasss


Pergelangan kaki Wildan tersandung senar pancing itu. Saat senar pancing putus, hanya berselang sekian detik terlihat anak panah meluncur dengan kecepatan tinggi dari arah samping kanan Wildan berdiri. Sudut rumah yang belum mereka periksa dan merupakan titik buta. Tak ada cahaya obor yang menyinari, karena terhalang dinding bagian depan. Anak panah melesat dan langsung menghujam betis Wildan.


"Arrghhh!" Wildan berteriak kesakitan. Dia langsung ambruk ke lantai memegangi kakinya. Nilla panik dan menangis, sedangkan Angel buru-buru menubruk Wildan dan menutupi mulut laki-laki itu dengan telapak tangan.


"Ini jebakan. Aku yakin badut nomor 3 bersembunyi di sekitar sini. Kumohon jangan berteriak. Bertahanlah," pinta Angel pada Wildan.


"Emhhh emmhh," gumam Wildan mengatupkan mulutnya sembari mengangguk. Betis kanannya berdenyut, dengan rasa ngilu yang tak terperi.


Bersambung___