
Mak Lastri terdiam sejenak. Kemudian dia menghela nafas panjang. Dia sama sekali tidak menduga, harus mengingat kembali masa kelam yang ingin dilupakan. Nama Melati yang sudah dilepas dan ditinggalkan, nyatanya kini harus digunakan. Di depan anak-anak yang menuntut penjelasan.
"Waktu aku masih muda, di umur belasan tahun, aku memiliki impian," ujar Mak Lastri memulai ceritanya.
"Di masa itu, hidup begitu sulit. Aku gadis polos yang selalu di elu-elukan sebagai kembang desa bermimpi bisa hidup di kota dan memiliki pekerjaan yang layak. Aku terlalu congkak, merasa hidup di desa tidak akan membuat kemajuan. Bersama temanku yang bernama Rumiarti, kami berangkat ke kota. Aku mengira dengan paras ayu, aku bisa dengan mudah mendapat pekerjaan untuk menyambung hidup. Nyatanya kesombonganku runtuh di kota. Tanpa kemampuan dan ketrampilan, juga pada dasarnya aku memang gadis yang malas, aku tidak menjadi apa-apa di kota ini. Uang saku habis tak bersisa. Beruntung ada Rumiarti. Dia gadis yang rajin bersedia bekerja serabutan apa saja. Hidupku ditanggung olehnya. Hingga akhirnya datang laki-laki yang sudah berumur, berpakaian layaknya bos besar," Mak Lastri menghela nafas.
"Sumiran?" Angga menebak.
"Ya. Laki-laki yang memberi seribu janji, seribu harapan. Membuai gadis desa yang polos, silau dengan kemewahan hingga mengorbankan kehormatan. Pada akhirnya aku menjadi 'aset' dari Sumiran. Bahkan aku pun ikut menjerumuskan Rumiarti agar menjadi sepertiku. Aku menjadi primadona. Melati nama yang dikagumi, nama yang mahal. Awalnya aku bangga atas semua pencapaianku. Orang golongan atas tidak ada yang menolakku, semua mengagumiku, memimpikan aku. Tapi lambat laun aku tersadar, tidak ada yang tulus dalam dunia itu. Percuma bergelimang harta aku tidak pernah memiliki dan merasakan cinta." Mak Lastri nampak menitikkan air mata.
"Aku ingin berhenti. Tapi tidak bisa. Sumiran terlalu kuat. Dia ingin terus menggunakan aku untuk menguasai orang-orang atas. Bisnisnya menggurita, kekayaan semakin membuatnya berjaya. Aku adalah aset, alat baginya. Tidak lagi dipandang sebagai manusia." Mak Lastri terlihat sangat emosional. Nafasnya terdengar memburu.
"Hingga aku melakukan hal nekat. Aku sengaja tidak menggunakan pengaman saat bekerja. Dan tujuanku berhasil. Aku mengandung. Sumiran tidak lagi bisa menggunakan aku. Kamu lahir Angga. Kamu lahir sebagai harapan untukku bisa terlepas dari Sumiran. Namun ketika aku keluar, Rumiarti kawanku itu masih terjerat. Dia menjadi aset baru. Memikirkannya membuatku menderita. Aku merasa sangat bersalah."
Mak Lastri beranjak dari duduknya. Dia berjalan menuju ke dispenser yang berada di sudut ruangan. Tangan keriputnya meraih gelas, dan menuangkan air hingga tumpah, tercecer di lantai. Batinnya tertekan. Mak Lastri gemetar saat menenggak air di gelas hingga tandas. Kemudian perempuan renta itu kembali duduk di hadapan Angga dan Angel.
"Hingga pada tahun 89, Rumiarti melakukan hal yang sama sepertiku. Dia mengandung. Dan salah satu anak buah Sumiran yang bernama Umar jatuh hati padanya. Merawat Rumiarti dengan sungguh-sungguh. Aku bahagia sekali mengetahui hal itu," lanjut Mak Lastri.
"Wildan . . ." gumam Angel lirih.
"Tapi Sumiran benar-benar manusia yang egois. Hanya memikirkan dirinya sendiri. Seolah dunia ini berputar hanya untuknya saja. Dia kembali datang menemuiku. Sumiran mengatakan sudah bosan dengan isterinya yang bernama Seruni. Dia mengajakku menikah. Aku menolak, tapi dia mengancam akan merusak kebahagian Rumiarti dan Umar. Pada akhirnya aku bersedia menjadi istri laki-laki itu. Setahun berikutnya aku memilikimu Angel. Hampir bersamaan dengan Seruni yang juga melahirkan seorang putri. Sumiran memiliki dua anak perempuan dari dua istri nya," jelas Mak Lastri. Angel menelan ludah.
"Kupikir segala pengorbanan yang kulakukan membawa pada kebahagiaan. Nyatanya tidak. Aku mendengar usaha sepatu Sumiran mengalami kemunduran. Sumiran berencana kembali menghidupkan bisnis gelapnya. Aku kembali dirayu untuk dipersiapkan menjadi aset. Atas perintah Sumiran, bayi perempuanku harus dititipkan pada Seruni. Seruni adalah perempuan yang legowo. Tanpa banyak bertanya, dia bersedia mengurusmu, Ngel." Mak Lastri menatap Angel lekat.
"Bagaimana bisa seorang petugas Ibu ajak turut serta dalam perampokan?" bantah Angga tak percaya.
"Sumiran terlalu kuat pengaruhnya pada masa itu. Orang-orang atas yang sudah pernah memakai aset Sumiran khawatir jika sewaktu-waktu kelakuan buruknya diungkap ke publik. Maka banyak di antara mereka yang juga ingin Sumiran disingkirkan. Salah satunya adalah petinggi, atasan dari Wito pada masa itu. Makanya rencana kami bisa benar-benar matang. Senjata, peralatan, semua lengkap dipasok oleh Wito. Setelah semua selesai pun Wito yang membersihkan dan membereskan hingga kasus itu tidak bisa terungkap," balas Mak Lastri.
"Wito, pensiunan yang saat ini anaknya sangat terkenal seantero kota," gumam Angga.
"Saat aku masuk kerja, orang itu sudah pensiun. Andai saja aku tahu dia adalah komplotan, tentu menemukanmu akan lebih mudah Bu." Angga menatap tajam pada Mak Lastri.
"Bahkan induk ayam akan mencari anaknya yang hilang. Tapi kamu sengaja pergi meninggalkan darah daging sendiri. Dari ceritamu aku sadar betul, aku bukanlah anak yang diinginkan," lanjut Angga dengan suara bergetar. Mak Lastri menghela nafas perlahan. Mata bening itu kembali berair di bagian sudutnya.
"Bukan seperti itu!" bantah Mak Lastri.
"Waktu itu komplotan Umar hanya tahu rencana merampok Sumiran. Padahal sebenarnya aku dan Rumiarti memang sudah berniat untuk menghabisinya. Agar kami bisa terlepas dari iblis itu. Namun aku pun sadar, bisnis gelap Sumiran terlanjur besar. Ada anak buah yang loyal. Meski Sumiran tewas, sangat mungkin anak buahnya akan mengejarku. Karena hal itu, aku memesan identitas baru pada Wito. Di tahun itu cukup mudah untuk berganti identitas, tentunya tidak seperti sekarang yang serba digital. Wito memakai identitas korban kecelakaan yang sebatang kara untuk aku gunakan. Maka sejak hari itu, Melati sudah mati, yang ada adalah Sulastri," ucap Mak Lastri memberi penekanan pada kalimatnya.
"Dengan identitas baru, aku tidak mungkin membawa kalian. Aku harus sembunyi hingga pengaruh Sumiran benar-benar hilang di kota ini. Aku mencoba menawarkan cara hidup yang seperti ini pada Rumiarti. Aku sempat datang kepadanya. Tapi mereka menolak, dan hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Rumiarti tewas," lanjut Mak Lastri. Raut wajahnya terlihat sedih.
"Aku mempercayakan Angel pada Seruni, dan kamu Ngga, pada Wito. Ternyata garis takdir memiliki rencananya sendiri. Santoso mengambilmu Ngga. Aku lega, aku benar-benar bersyukur kamu dibesarkan oleh orang yang tepat," tukas Mak Lastri. Ada seulas senyum di sudut bibirnya.
"Ha ha ha kupikir kamu hanya membual, sialan! Jika apa yang kamu ceritakan itu benar adanya, lalu kenapa kamu tidak menengok kami? Bahkan saat nama Sumiran tidak ada lagi yang mengingatnya, kamu tidak pernah menunjukkan batang hidung di hadapan kami. Apa kamu tahu kesulitan yang sudah aku dan Angel lalui? Hah? Manusia macam apa yang sembunyi sendirian, membiarkan anaknya bersusah payah bertahan hidup?" Angga tertawa dengan air mata berderai. Sebuah tawa yang mengejek nasib pahit yang dialaminya sendiri. Mak Lastri kembali menghela nafas. Dia terlihat menggenggam ujung bajunya kuat-kuat.
Bersambung___