12 Badoet

12 Badoet
Patangpuluh Siji


Sinar mentari yang hangat menerpa wajah kusam yang tertidur di emperan swalayan. Kelopak mata hitam itu akhirnya mengerjap-ngerjap, tak tahan cahaya menyilaukan dari sekumpulan warna mejikuhibiniu yang bersatu. Dengan cekatan jari jemari tangan mengusap area bibir dan pipi yang sudah penuh dengan aliran air bersumber dari kelenjar parotis, sublingual dan submandibula.


Wildan terbangun dan menggeliat tertahan. Matahari sudah cukup tinggi, hampir tepat berada di atas kepala. Suasana sekitar sudah riuh ramai, meski tak satupun orang yang mempedulikan keadaan Wildan. Wildan melihat jam yang terpampang di layar handphone nya. Sudah lebih dari jam 10.


Dengan sedikit menyeret kakinya, Wildan masuk ke dalam swalayan. Dia numpang pinjam toilet untuk cuci muka. Meski pegawainya terlihat sinis, Wildan tak peduli. Selepas cuci muka, Wildan membeli minuman kopi kemasan. Dia memilih merk yang sedang memberikan diskon paling besar.


Wildan kembali duduk di emperan swalayan. Tas ransel bututnya masih setia menempel di punggung. Wildan merasa hidupnya kembali ke pengaturan awal. Menjadi sampah yang tak tahu arah dan tujuan. Hari ini, nanti, ataupun esok, dia tak memiliki rencana hendak berbuat apa. Apalagi kini dia adalah seorang buron. Bisa saja tiba-tiba dia disergap aparat penegak hukum.


"Apa aku menyerahkan diri ke polsek saja ya," gumam Wildan sendirian, menegak tetes terakhir dari kopi kemasan dingin di tangannya.


Tiba-tiba handphone bergetar. Wildan sempat berharap, Angel atau Nilla yang menelpon. Terbersit di benaknya, Angel melunak dan meminta Wildan untuk kembali. Namun pada kenyataannya hal itu mustahil.


Nomor Inka muncul di layar handphone. Sedikit malas Wildan mengangkat telepon dari 'pacar' barunya itu. Inka mengatakan tengah rindu ingin bertemu. Wildan sedikit merinding mendengarnya. Antara geli dan risih mendengar ungkapan selayaknya gaya berpacaran remaja ABG.


Inka terus menerus memaksa untuk bertemu. Bahkan terdengar pula ancaman kalau tidak dituruti, maka dia akan menelpon polsek terdekat. Tanpa Inka tahu, Wildan sebenarnya sudah keluar dari rumah Nilla.


Pada akhirnya Wildan memberitahukan kalau dirinya saat ini tengah duduk di emperan swalayan tak jauh dari wilayah perumahan. Inka terdengar girang dan segera menutup telepon. Selang beberapa menit, perempuan aneh itu datang menunggangi motor matic dengan lampu depan neon warna warni.


Inka duduk di sebelah Wildan, dan langsung menyalakan sebatang rokok filter di tangannya. Sembari tersenyum dia menghembuskan asap rokok tepat ke wajah Wildan. Asap putih menyesakkan itu, membuat Wildan terbatuk-batuk.


"Kamu ngapain duduk sendirian disini, Sayang?" tanya Inka penasaran.


"Bukan urusanmu," sahut Wildan singkat. Inka nampak cemberut.


"Inka, demi kebaikanmu menjauhlah dariku. Aku itu laki-laki yang buruk dan tak berguna. Seorang buron, hanya sampah. Tak ada yang lebih buruk dari aku," ucap Wildan setelah menghela nafas panjang.


"Kamu perempuan yang unik, tapi jangan terlalu menuruti rasa penasaranmu. Tidak ada satupun kebaikan jika kamu bersamaku. Pergi dan menjauhlah," lanjut Wildan menatap Inka dalam-dalam.


Inka terdiam. Dia merasakan ketulusan hati Wildan.


"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Sayang. Kupikir setiap orang pernah menganggap dirinya tak berguna, saat berada pada titik terendah dalam hidup. Namun, kamu akan selalu berharga untuk orang-orang yang menyayangimu," sahut Inka sembari tersenyum penuh arti.


Kali ini giliran Wildan yang terdiam mendengar setiap kalimat yang muncul dari bibir perempuan di hadapannya itu. Aroma rokok masih menguar, di antara kata-kata mutiara yang menenangkan untuk Wildan resapi.


"Aku memutuskan pergi dari rumah itu," ucap Wildan kemudian. Inka nampak terkejut dengan penuturan Wildan.


"Kamu bertengkar dengan teman-temanmu di rumah itu?" tanya Inka penuh selidik.


"Ya bisa dikatakan begitu. Kurasa aku mau ke polsek saja untuk menyerahkan diri," jawab Wildan lesu.


"Kenapa begitu? Kamu kehilangan tujuan setelah bertengkar dengan temanmu? Bukankah kemarin kamu mengatakan bahwa sebenarnya tidak bersalah dan tak layak menjadi buron? Oh ayolah, buktikan dirimu tak bersalah sesuai kata hatimu Wildan," ujar Inka menggebu-gebu. Suaranya lantang, hingga beberapa orang di sekitarnya menoleh dan memperhatikan beberapa saat.


"Hah? Kamu anggap apa aku ini?" Inka melotot.


"Sejujurnya kamu orang asing Inka. Memaksa menerobos masuk, saat pintu hatiku terkunci rapat," jawab Wildan.


"Baiklah. Aku memiliki ide agar kamu tak lagi menganggapku sebagai orang asing." Inka memicingkan matanya.


"Hah?" Wildan mengernyitkan dahi.


"Ikut denganku," ajak Inka sembari menarik-narik tangan Wildan.


"Kemana?" Wildan bertanya.


"Hotel," jawab Inka lantang. Wildan terbelalak kaget. Namun juga tak kuasa menolak ajakan Inka. Saat tangannya ditarik, Wildan pun menurut. Dia berdiri dari duduknya. Dan berjalan mengekor Inka.


Wildan termenung dengan pikiran yang kosong, kala dibonceng Inka menggunakan motor matic. Menyusuri jalanan kota yang mulus nan halus, motor melaju dalam kecepatan yang cukup tinggi. Cuaca cukup terik dan belum masuk jam istirahat kerja, membuat jalanan terasa tak terlalu padat.


Motor Inka berbelok di sebuah hotel bintang 3 yang berdiri kokoh di pinggiran kota. Wildan hanya menurut saja, saat Inka mengajaknya ke resepsionis, hingga akhirnya mereka berdua sudah berada di dalam kamar dengan single bed yang bersih dan cukup mewah.


"Untuk apa kita kemari?" tanya Wildan setelah beberapa saat termenung. Dia duduk di sudut tempat tidur.


"Kamu bilang kita seperti orang asing. Ya kurasa kita bisa mengakrabkan diri di tempat ini. Tempat yang hanya ada kita berdua," sahut Inka menyeringai.


Inka menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Wildan. Masih tersisa aroma rokok yang menusuk indera penciuman Wildan.


"Di rumah kemarin, kamu hanya bercerita sedikit tentangmu. Sekarang aku mau kamu menceritakan semua tentangmu. Kenapa kamu bisa menjadi buron, bagaimana awal pertemuanmu dengan dua gadis pemilik rumah itu. Aku ingin tahu semuanya," ucap Inka merengek.


"Kenapa ingin tahu? Semakin sedikit yang kamu tahu tentangku, semakin tenang hidupmu Inka," kilah Wildan.


Inka memutar tubuhnya, menghadap Wildan. Tanpa sanggup dilawan, perempuan itu menyentuhkan bibirnya di bibir Wildan. Inka begitu lihai dalam permainan ini. Terasa mahir dan syarat akan pengalaman. Sayangnya aroma rokok, membuat Wildan enggan mengimbangi.


"Kamu ganteng, dan berhati baik. Bahkan saat ada perempuan yang melakukan hal seperti ini padamu pun, kamu tak berusaha memanfaatkan keadaan. Aku bukan hanya penasaran padamu. Tapi sepertinya aku jatuh cinta padamu," bisik Inka di telinga Wildan.


Serta merta Wildan mengangkat tubuh Inka dan membaringkannya di tempat tidur. Wildan mencengkeram erat dua pergelangan tangan Inka. Perempuan itu hanya bisa menggeliat, tak mampu melepaskan diri. Wildan mendekatkan wajahnya, mengarahkan bibirnya di daun telinga Inka.


"Aku mau mandi. Dan terimakasih atas apapun yang kamu tawarkan. Kurasa aku sudah membulatkan tekad untuk pergi ke polsek terdekat. Setelah ini kumohon, hiduplah dengan lebih baik. Jauhi orang-orang sepertiku," bisik Wildan menyembunyikan sorot matanya yang penuh kesedihan.


Bersambung___


Sejujurnya aku kurang puas dengan tulisanku kali ini. Entah kenapa kayak ada yang kurang, atau terlewat. Mungkin teman-teman bisa memberi kritik atau saran. Terimakasih.