
Apakah mungkin ada manusia yang tidak pernah gagal dalam hidupnya? Manusia dikatakan kuat bukan karena tak pernah mengalami kegagalan, melainkan siap bangkit saat kegagalan itu datang padanya. Siapapun bisa berhasil, tapi tidak semua sanggup menanggung sakitnya kegagalan.
Adi menarik nafas panjang di bawah lampu ruang kerjanya yang bersinar putih terang. Dia memungut kertas berserakan dari map yang jatuh, sembari mengumpulkan juga semangatnya yang berceceran. Otaknya tengah menyusun strategi, pikirannya mengawang jauh.
Dengan sedikit kasar, Adi memasukkan berkas yang dirasa penting ke dalam ransel. Dia berjalan keluar dari ruangannya setelah menghela nafas panjang. Beberapa orang bawahannya nampak memberi hormat dan menatap Adi dengan prihatin. Semua orang tahu, Tarji adalah rekan yang sangat penting untuk Adi. Hal yang wajar melihat Adi kehilangan kendali diri kala Tarji menghilang dan kemungkinan besar dalam kondisi luka parah.
Tidak ada yang bisa membantu Adi kini. Semua hanya bisa melihat dan mengamati. Adi pun hanya bisa pasrah untuk beberapa hari ke depan dibebastugaskan sebagai hukuman atas tindakan yang dinilai ceroboh dan lalai.
Adi mengendarai motornya dalam kecepatan tinggi. Orang-orang di kantor berpikir Adi akan langsung pulang ke rumah. Namun ternyata Adi memiliki rencana lain. Motor yang dikendarainya menepi di halaman depan homestay bernama Mbut Gawe itu.
Pengintaian adalah keahlian Adi. Sebelum menjadi kepala satuan, hampir setiap hari Adi mendapat tugas untuk melakukan pengawasan, dan penyelidikan. Meski kali ini berbeda, Adi mengawasi warga sipil atas kemauan sendiri bukan dari perintah pimpinan. Hal yang berbahaya untuk karier nya jika pimpinannya tahu apa yang dia kerjakan saat ini.
Adi berbaur dengan orang-orang. Duduk di warung kopi dan memesan wedang jahe kesukaannya. Apalagi udara malam sedang teramat beku. Heci dan tempe mendoan panas pilihan yang terasa pas. Saat itulah handphone di saku jaket Adi bergetar.
Sebuah pesan suara dari Sinta. Suara merdu perempuan cantik itu menanyakan apakah Adi sudah pulang? Apakah pekerjaannya lancar hari ini? Ataukah ada hal yang ingin Adi ceritakan padanya?
Pesan dari Sinta membuat Adi tersenyum seketika. Perempuan itu sangat perhatian, padahal Adi tahu toko bunga yang dijalankan Sinta sedang ramai-ramainya. Adi membalas jika semua baik-baik saja. Dia tidak ingin Sinta tahu soal Tarji, juga dirinya yang sedang dibebastugaskan sementara. Adi tak mau Sinta merasa cemas dan khawatir.
"Mas nya cakep bener. Sudah punya pasangan?" tanya ibu-ibu pemilik warung sambil menyodorkan wedang jahe membuyarkan lamunan Adi.
"Ah, memangnya kenapa Buk?" Adi balik bertanya santai. Bersosialisasi dan berbaur dengan orang-orang adalah salah satu trik dalam pengintaian.
"Ya ibuk punya anak cewek, cantik. Mau tak kenalin?" Ibuk pemilik warung mengangkat salah satu alisnya. Nampak menggelikan di hadapan Adi.
"Wah, aku percaya sih Buk. Soalnya Ibuk kan juga sangat cantik. Pantaslah putrinya cantik," goda Adi sembari menyeruput wedang jahe pesanannya.
"Nih lihat fotonya," sahut Ibuk pemilik warung menunjukkan foto gadis di handphone nya. Memang terlihat cantik dengan rambut panjangnya yang hitam.
"Waahh kalau ini sih sudah banyak yang ngincer Buk," seloroh Adi sembari tertawa.
Pada saat itu Adi melihat sosok Inka berjalan keluar dari homestay Mbut Gawe. Perempuan itu terlihat masuk ke dalam mobil hitam. Dari stiker yang tertempel di body, sepertinya mobil itu adalah armada angkutan online.
"Buk, maaf obrolannya kita sambung nanti. Ini uang untuk bayar jahenya." Adi meletakkan selembar uang lima puluh ribuan dan mengacuhkan Ibuk pemilik warung yang masih berusaha menceritakan kecantikan putrinya.
Dari jarak beberapa puluh meter, Adi mematikan motornya. Dengan segera dia mendorong motor ke semak-semak tepi sungai. Adi berjalan berjingkat sambil tetap mengawasi Inka yang turun dari mobil. Meski dari kejauhan, terlihat jelas Inka membawa kantong kresek berwarna gelap.
Inka terlihat masuk ke dalam gudang terbengkalai. Sedangkan mobil yang Adi duga sebagai taxi online itu nyatanya tetap berhenti dengan pintu sebelah kursi penumpang dibiarkan terbuka. Adi terus bergerak maju sambil tetap berusaha tidak menimbulkan bunyi sedikitpun.
Tak berselang lama Inka keluar dari gudang. Kantong plastik yang tadi dijinjing kini sudah tidak ada di tangannya. Inka masuk ke dalam mobil. Adi segera merunduk tengkurap di antara rumput dan semak belukar tepi sungai. Mobil kembali melaju, meraung meninggalkan gudang terbengkalai mencurigakan itu.
Selepas kepergian Inka, Adi segera melompat dari tempatnya bersembunyi dan berjalan cepat, trengginas namun tetap senyap. Dia berhasil mencapai pintu gudang tanpa kesulitan. Adi tetap berusaha menjaga fokus dan waspada. Perlahan dia mendorong pintu seng dengan beberapa karat menempel di bagian bawah.
Adi menyelinap masuk ke dalam gudang. Dia penasaran apa yang sedang dilakukan Inka di tempat itu. Pencahayaan yang temaram membuat indera penglihatan Adi agak terganggu.
"Huhh. Huuhh huuhh," sebuah suara aneh mengagetkan Adi. Dia mengedarkan pandangan, dan akhirnya menemukan seseorang tengah duduk di kursi bagian tengah ruangan.
Perlahan Adi mendekat, dengan tangan terkepal erat, dia telah siap memghadapi siapapun di hadapannya. Dan betapa terkejutnya Adi kala menyadari orang yang duduk di kursi adalah Tarji.
Tarji terlihat lemas. Mata terbuka namun tatapannya nampak kosong, dengan perban menutupi kepalanya yang sedikit peyang. Di hadapan Tarji, nampak beberapa jenis makanan yang sepertinya diantarkan oleh Inka tadi.
Adi segera menghambur dan memeluk Tarji yang terkulai lemah. Hampir saja dia menangis melihat rekan kerjanya itu menderita luka luar di seluruh bagian tubuhnya.
"Ji, ayo kita keluar dari tempat ini!" ucap Adi sambil melepas ikatan yang membelenggu kaki Tarji. Sedangkan tangan Tarji menggenggam sebuah sendok dengan mulut belepotan penuh dengan butiran nasi.
Tak ada jawaban dari Tarji. Ekspresi laki-laki itu terlihat aneh dan linglung. Adi segera merangkul dan sedikit menarik paksa tubuh Tarji agar mau berdiri dan segera menyeret langkah meninggalkan ruangan yang terasa pengap itu.
Sambil melangkah, Adi memindai setiap sudut dari tempat kosong dan terbengkalai tersebut. Dia tidak menemukan sesuatu yang dirasa bisa menjadi sebuah petunjuk. Mereka berdua akhirnya berhasil keluar dari gudang.
Saat ini prioritas Adi adalah menyelamatkan Tarji. Kondisinya benar-benar mengkhawatirkan. Luka di kepala hanya dirawat dan diperban seadanya. Hati Adi terasa perih, kemarahannya sudah di ubun-ubun. Dia bersumpah dalam hati, akan memberi Inka dan siapapun yang ada di baliknya balasan berkali lipat atas apa yang sudah dilakukan pada Tarji.
Adi sadar betul bahwa dendam tidak akan membawa penyelesaian. Namun saat orang terdekat dicelakai, bahkan bisa saja kehilangan nyawa, manusia macam apa yang bisa tenang atau memaafkan. Adi bersumpah akan menghancurkan lawannya.
Bersambung___