
Rembulan berpendar di balik awan putih tipis, memancarkan sinarnya yang temaram. Warna kuning dominan menerpa bumi dalam suasana malam yang dingin. Kerlap kerlip bintang menambah indah langit, meski tak menyumbang cahaya terang untuk daratan.
Salah satu ruko di pinggiran kota nampak ramai. Ruko yang terletak persis di perbatasan kota kabupaten. Bukan riuh oleh pembeli barang dagangan toko yang memang sudah tak beroperasi, melainkan banyak petugas kepolisian berlalu lalang. Garis polisi berwarna kuning pun telah terbentang menghalangi warga yang ingin tahu serta penasaran apa yang telah terjadi.
Mobil biru dongker menepi di seberang jalan. Dua orang keluar dari mobil dengan raut wajah yang berbeda. Satu yang berseragam nampak serius dengan langkahnya yang tegap. Dan satu lagi yang mengenakan batik terlihat enggan dengan langkah yang gontai.
"Di, kenapa kita kesini sih?" protes Tarji melipat dan menggulung lengan baju batiknya.
"Ya ada kasus. Gimana sih kamu?" sergah Adi.
"Ya maksudnya kan ada petugas sektor sini. Yang di pusat nggak perlu juga kan mesti selalu datang ke lokasi." Tarji masih melanjutkan protesnya.
"Sudah jangan banyak komplain. Toh kita juga lagi ada di kantor. Sudah takdirnya kita dituntun ke tempat ini," sahut Adi dengan sedikit kesal.
Adi bergegas masuk ke tempat kejadian perkara. Tarji mengekor meski dengan wajah tertekuk. Namun saat melirik arloji emas di pergelangan tangan kanannya, dia tersenyum sumringah kembali.
Beberapa petugas membungkuk saat mengetahui Adi datang. Dan seorang petugas forensik mendekat, menyodorkan sebuah catatan pada Adi.
"Biar aku yang baca," ucap Tarji merebut catatan hasil penyelidikan sementara, dari tangan Adi.
"Korban bernama Trisno. Usia 74 tahun sesuai data kependudukan dan pencatatan sipil. Tinggal sendirian, belum pernah menikah. Memiliki riwayat stroke, hampir seluruh tubuhnya tidak berfungsi. Kehidupan sehari-hari dibantu keponakan bernama Bejo." Tarji membaca tulisan huruf tegak bersambung yang terlihat rapi meski ditulis secara terburu-buru.
"Ditemukan bekas suntikan di paha kanan korban. Berdasar laporan hasil laboratorium, sampel darah mengandung natrium bikarbonat dalam jumlah yang tidak wajar," pungkas Tarji.
"Tidak salah lagi, korban meninggal karena dib*nuh," sambung Adi, mengamati kursi roda yang ada di depan tv yang masih menyala. Jenazah korban sudah dibawa ke rumah sakit terdekat guna dilakukan otopsi lebih lanjut.
"Yang menemukan korban pertama kali siapa?" tanya Adi kemudian.
"Keponakannya bernama Bejo. Yang duduk di kursi itu," jawab Tarji menunjuk laki-laki gemuk yang terlihat gelisah di ruang tamu. Adi mengangguk, dan berjalan menghampiri laki-laki gemuk itu.
"Pak Bejo? Perkenalkan saya Adi, petugas yang menangani kematian paman Njenengan," ujar Adi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Saya. . . Saya sudah cerita tadi. Sudah ditanya-tanya. Sudah pokoknya," ucap Bejo meracau, menepis tangan Adi. Pandangan matanya nampak kosong. Bejo benar-benar terguncang.
"Ji, ambilkan minum," perintah Adi pada Tarji.
"Siap Pak," jawab Tarji sigap. Bukan untuk bercanda atau guyonan, meski Adi adalah sahabat karibnya, Tarji selalu berusaha untuk bersikap profesional dalam bekerja.
Selepas meneguk air mineral pemberian Adi, Bejo terlihat lebih tenang.
"Tarik nafas perlahan dan hembuskan Pak," ucap Adi sembari menepuk-nepuk pundak Bejo.
"Maafkan saya. Saya syok," ucap Bejo kemudian.
"Kalau Bapak sudah tenang, Bapak bisa cerita pada kami detail yang Bapak ketahui soal kematian Pak Trisno." Adi tersenyum. Bejo seperti terhipnotis oleh aura dan wibawa Adi. Tatapannya meneduhkan, menghilangkan ketakutan yang sebelumnya menguasai hati Bejo.
Bejo sempat menghubungi nomor tersebut, namun tak ada jawaban. Akhirnya karena merasa tertipu Bejo pun bergegas pulang. Sebelum sampai di rumah, dia menyempatkan diri menengok kondisi pamannya, memastikan apakah pria tua itu sudah tidur.
Keanehan mulai Bejo sadari saat mengetahui gembok pagar depan nampak rusak, dicongkel paksa. Saat Bejo melihat ruang tv, seperti biasa Trisno masih duduk di kursi rodanya. Sayangnya sang paman itu ternyata sudah tak bernyawa.
"Adakah barang-barang di rumah ini yang hilang?" tanya Adi setelah Bejo menyelesaikan ceritanya.
"Tidak ada Pak. Di rumah ini barang berharga hanya TV LED yang biasa ditonton paklik. Bahkan surat-surat tanah pun sekarang ada di rumah saya," jawab Bejo yakin.
"Awalnya saya pikir ada pencuri masuk ke dalam rumah dan mengagetkan Paklik hingga akhirnya Paklik meninggal. Tapi saya lihat sendiri, ada bekas suntikan memerah di paha kanan Paklik. Saya panik dan telpon kenalan saya di polsek," lanjut Bejo.
"Berarti memang bukan pencurian atau perampokan dengan kekerasan," sahut Tarji.
"Ngomong-ngomong soal perampokan, waktu maghrib tadi ada 3 orang berkunjung kemari dan dua diantaranya juga membahas soal perampokan Pak," ucap Bejo mengingat-ingat.
"Siapa mereka?" tanya Adi penuh selidik. Sebuah informasi baru yang sebelumnya tidak disampaikan oleh Bejo karena batinnya yang terguncang.
"Saya nggak kenal. Seorang laki-laki berambut silver, dan dua orang perempuan yang salah satunya berkacamata. Awalnya ban mereka bocor, saya bantuin. Kemudian si laki-laki minta diantar ke kamar mandi. Saat balik dari kamar mandi itu anu, saya melihat dua perempuan asing itu sedang mengerubuti Paklik. Kalau nggak salah mereka menyebut perampokan gitu pokoknya," terang Bejo. Ucapannya sedikit membingungkan, mungkin karena rasa syok nya belum sepenuhnya hilang.
Adi berpikir sejenak, kemudian merogoh saku celana. Dia mengeluarkan handphone dan membuka galeri foto miliknya. Sejurus kemudian menyodorkan handphonenya itu pada Bejo.
"Apa laki-laki yang kamu lihat tadi, orang ini?" tanya Adi memperlihatkan foto Wildan. Bejo mengernyitkan dahi.
"Wajahnya sih mirip. Tapi tadi rambutnya putih, pakai tindik pula. Pokoknya nggak rapi kayak di foto ini. Orangnya urakan kok," kilah Bejo.
"Emm, baiklah. Terimakasih atas keterangannya, silahkan duduk dengan nyaman. Njenengan istirahat saja dulu disini. Kalau butuh apapun bisa memanggil saya," ucap Adi berbalik badan dan berjalan menjauh. Adi kembali ke ruang TV, mengamati kursi roda dalam diam. Tarji menyusul dan mendekat.
"Melihat senjata pelaku yang memakai jarum suntik, jelas pelaku sudah tahu riwayat penyakit korban. Sebuah pembun*han yang direncanakan. Apalagi tidak ada barang-barang yang hilang," gumam Adi perlahan.
"Tapi nggak ada hubungannya dengan guru ngaji kemarin kan?" tanya Tarji.
"Saat kamu bertanya seperti ini tandanya kamu pun curiga kasus ini berhubungan." Adi tersenyum sekilas.
"Menurutku, laki-laki yang datang kemari sebelum Pak Trisno terbun*h adalah Wildan. Orang yang kita cari," lanjut Adi.
"Dia pasti merubah penampilannya. Edit foto Wildan pakai aplikasi, dan sebar penampilan baru Wildan. Rambut silver dan anting di telinga," perintah Adi bersungguh-sungguh.
"Berarti sudah pasti kan, Wildan adalah pelaku semua ini?" tanya Tarji sedikit mendesak.
"Belum pasti Ji. Bisa saja, dia ada di waktu dan tempat yang tidak tepat. Pertanyaannya, siapa dua perempuan yang bersamanya? Lalu apa hubungan Trisno, Anwar dan Umar semasa hidup mereka?" Adi bergumam. Kepalanya berdenyut, terasa berat. Sungguh, kasus yang rumit. Adi belum menemukan benang merah yang masih terasa kusut.
Bersambung___