
Mobil Pak Wito menepi di depan rumah dengan banner bertuliskan 'Warung Pecel Mak Lastri'. Ada 3 mobil lain yang terparkir di sekitar warung pecel itu, namun suasana terasa sunyi. Pengawal dengan bekas luka di wajah turun dari mobil terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu untuk majikannya.
"Sepertinya Mak Lastri memiliki beberapa tamu Bos," ucap pengawal.
"Tidak masalah. Kita membaur saja, berpura-pura menjadi seorang pembeli," sahut Pak Wito santai. Pengawal mengangguk setuju.
Pak Wito berjalan di depan, diikuti pengawalnya dengan langkah tegap tanpa keraguan. Warung pecel Mak Lastri memang seringkali ramai pembeli. Sambal pecelnya terkenal nikmat dengan kacang sangrai nya yang gurih, juga gula merah legit serta rawit yang membuat lidah tersengat. Maka, Pak Wito tidak merasa heran jika hari ini pun banyak pelanggan yang menyambangi rumah Mak Lastri.
Sopir Pak Wito ikut turun dari mobil, meski tidak turut serta masuk ke dalam rumah. Dia bersandar pada kap depan dan menyalakan rokok ber merk Saryu itu. Menyesap bagian gabusnya yang manis dan menghembuskan asap pembakaran penuh nikotin. Gerimis masih turun dalam wujud rintik yang halus.
Beberapa menit dalam lamunan, sopir Pak Wito mengalihkan pandangan pada mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Nampak ada bercak cairan merah di trotoar. Pak Sopir menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas apa kiranya cairan itu.
Dibayangi rasa penasaran, akhirnya Pak Sopir berjalan mendekati cairan mencurigakan itu. Setelah benar-benar dekat, barulah terlihat bercak merah marun yang mulai memudar diterpa hujan sore hari yang menyisakan gerimis halus. Cairan merah itu berada di trotoar berbahan tegel tepat di bawah rimbunnya pohon ketapang. Meski hujan deras baru mengguyur, cairan itu belum sempat tersapu air seluruhnya.
"Apa ini? Darah?" Pak Sopir berjongkok, menyentuh cairan dengan ujung telunjuknya. Tercium aroma anyir yang membuat Pak Sopir yakin benda cair itu adalah darah.
Pak Sopir mengedarkan pandangan dan menemukan pegangan pintu mobil di hadapannya juga terdapat bercak yang sama. Warna merah maroon beraroma anyir yang menyengat. Dengan bekas jari tangan yang tak beraturan.
Pak Sopir meraih sapu tangan di saku celana. Dia cukup berpengalaman, tidak mau menyentuh pegangan mobil yang mencurigakan itu dengan tangan telanj**g. Perlahan pintu mobil terbuka dan terlihat sosok laki-laki di kursi belakang dengan kepala berlumuran dar*h.
Ada hembusan nafas terlihat dari dada yang membusung dan mengempis. Pak sopir memastikan laki-laki asing itu masih hidup. Pada saat yang sama Pak Sopir melihat sekelebat bayangan dari kaca pintu mobil tempat laki-laki berlumuran darah bersandar.
Sebuah dongkrak besi mengayun dari belakang. Pak Sopir sempat mengelak. Sehingga bagian kepala terselamatkan meski bahu kanan tetap terhantam besi putih mengkilat itu. Pak Sopir terjatuh. Dia sempat menendang membabi buta, sebelum serangan kedua datang. Tendangan yang tepat mengenai lawan. Terdengar bunyi sesuatu jatuh berdebum dan suara mengaduh yang lirih.
Saat Pak Sopir berdiri dan menoleh, dalam cahaya langit sore yang temaram, nampak sosok perempuan cantik yang tak lain adalah Inka terjengkang di trotoar. Tangan kanan perempuan itu menggenggam erat sebuah dongkrak besi.
"Jal**g! Siapa kamu?" Pak sopir menendang tangan Inka tanpa ampun. Dongkrak terlepas, berputar nyaring di atas trotoar.
Inka mendesis kesakitan. Sorot mata perempuan itu penuh rasa takut. Dia sama sekali tidak menduga, mendapatkan lawan yang sigap dan waspada.
Pak Sopir berjongkok di depan Inka. Memandangi perempuan dengan rambut merah kusut bekas terguyur hujan. Pundak Pak Sopir terasa ngilu dan berdenyut. Sepertinya tulang selangka patah atau retak. Sekujur tangan kanan tak mampu digerakkan, hanya ada rasa kebas yang terus menerus.
"C*k! Kamu mematahkan tulangku. Jawab aku sialan! Siapa kamu? Siapa laki-laki di dalam mobil? Lalu apa urusanmu dengan rumah Mak Lastri?" bentak Pak Sopir. Inka diam saja.
Pak Sopir kehilangan kesabaran. Dengan tangan kiri, dia mencengkeram leher Inka sekuat tenaga. Inka tidak melawan, tidak pula menjerit. Hal yang terasa janggal bagi Pak Sopir. Tiba-tiba dia teringat bos nya yang masuk ke dalam rumah.
"Jangan-jangan kamu punya komplotan! Brengsek!" Pak Sopir mendorong tubuh ramping Inka ke trotoar.
Pak Sopir berdiri dan hendak melangkah meninggalkan Inka. Namun kini di hadapannya berdiri seorang laki-laki dengan tongkat berukiran naga di tangannya.
"Waahh, komplotannya muncul nih. Seorang pengecut yang menyergap saat musuhnya sudah terluka," ejek Pak Sopir.
Pak Sopir merangsek mendekat. Mencoba melayangkan tinju dalam jarak dekat. Namun tiba-tiba tubuhnya berhenti bergerak. Ujung tongkat laki-laki asing itu ternyata berupa plat baja yang runcing, menembus dada kiri Pak Sopir yang terbuka.
"Pertarungan yang seimbang? Apakah kamu juga berpikir demikian? Sungguh naif. Dunia ini milik orang yang punya strategi," ucap laki-laki bertongkat naga.
Cairan kental merah maroon mengucur deras. Tenggorokan Pak Sopir tercekat. Batuk yang sewajarnya mengeluarkan dahak, kali ini memuntahkan dar*h. Nafas pun menyusul terasa sesak. Jalur pernafasan sepertinya menyempit.
Kekurangan oksigen terasa, kepala seolah hendak meledak. Mata mulai berkunang-kunang dan buram. Pada akhirnya, sebuah tendangan dari laki-laki bertongkat naga mengakhiri hidup Pak Sopir Sang Arloji emas.
Sementara itu Pak Wito atau sang arloji emas memasuki rumah Mak Lastri dan menemukan perempuan itu tengah bersama dua sahabat lamanya. Jumani dan Nuryanto terlihat kaget bertemu pandang dengan Pak Wito. Ada juga dua tamu asing yang sedang duduk menghadap Mak Lastri.
"Wahh, ada apa ini? Kenapa semua berkumpul disini?" Pak Wito tersenyum masam.
"Sepertinya takdir membuat kita berkumpul Wito," jawab Mak Lastri singkat.
"Kalian berdua gagal mendapat perlindungan dariku. Lalu datang ke tempat ini. Apa kalian pikir emak-emak satu ini bisa menolong kalian?" Wito terkekeh mengejek Nuryanto dan Jumani.
"Wito, jangan mengolok-olok mereka," sergah Mak Lastri.
"Jangan memerintahku Lastri! Aku bukan antekmu!" bentak Wito. Mak Lastri menghela nafas sejenak, dan memandangi Angga yang terlihat bingung.
"Wito, apa kamu tidak bisa mengenali pemuda yang ada di hadapanku ini? Dia seorang petugas dari bidang IT," ucap Mak Lastri mengubah topik pembicaraan.
Pak Wito menatap Angga. Dahinya mengkerut. Dia terlihat berpikir dan mengingat-ingat. Kemudian menggeleng perlahan.
"Bocah lima tahun yang pernah diasuh di panti oleh istrimu," lanjut Mak Lastri kalem.
"Angga? Putramu? Lalu berarti perempuan ini adiknya? Anak dari Sumiran?" Pak Wito mundur satu langkah. Sebaliknya pengawal dengan bekas luka di wajah maju beberapa langkah dan memasang kuda-kuda.
Tiba-tiba saja kepulan asap muncul dari semua penjuru rumah. Aroma sangit tercium menyengat. Udara pun berubah panas dan pengap.
"Apa ini? Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan Wito?" teriak Mak Lastri histeris.
"Bukan aku!" bantah Wito terbatuk-batuk.
Bersambung___
Maafkan daku lama tidak update, dikarenakan baru nyungsep pas naik motor.