
Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib berkumandang di kejauhan. Langit semburat kemerahan mengantar sang surya beristirahat di balik bukit hijau di bagian timur. Beberapa burung terbang di bawah mega mendung kembali ke sarangnya.
Waktu yang disebut sebagai 'surup'. Orangtua seringkali berpesan jangan bepergian di waktu surup. Lebih baik tutup pintu dan masuk ke dalam rumah. Banyak mitos buruk dan berhubungan dengan kesialan di waktu pergantian siang dan malam itu.
Dua motor matic bergerak lambat di bawah bayang-bayang lampu jalan yang sudah dinyalakan. Langit mulai gelap, saat motor yang berada di depan nampak terseok-seok kemudian berhenti di area tanah lapang, cukup jauh dari pemukiman penduduk.
"Sial! Bannya bocor!" gerutu Angel menyadari ban belakangnya tak terisi angin sama sekali.
"Benar kata orangtua jaman dulu. Kalau waktu surup jangan keluyuran, diam di rumah saja. Banyak apesnya," gerutu Wildan.
"Bertahanlah. Di depan ada pemukiman warga. Pokoknya gas saja motormu," ucap Nilla memberi saran.
"Hey Wildan, sekarang waktu untuk membuktikan kegunaanmu dalam tim ini." Angel tersenyum menatap Wildan yang berkendara di sebelahnya.
"Hah?" Wildan mengernyitkan dahi.
"Sudah hentikan motormu. Se-ka-rang!" Angel melotot ke arah Wildan.
Wildan pun menepikan motornya. Masih dengan pertanyaan di benaknya, Wildan turun dari motor. Sedangkan Nilla nampak tersenyum jahil dan masih duduk tenang di jok belakang.
"Sekarang kita tukar posisi. Biar aku yang membonceng Nilla, kamu urus motornya," perintah Angel ketus.
Wildan menghela nafas pasrah. Dia menaiki motor yang bocor ban belakangnya, sementara Angel kini bertugas membonceng Nilla. Motor Wildan bergerak aneh, megal megol seperti cara berjalan angsa sambil menggerakkan ekor.
"Kutunggu di pemukiman warga sana ya," ucap Angel sembari menarik gas motor dalam-dalam. Nilla tertawa meringkik. Dua gadis itu meninggalkan Wildan sendirian terseok-seok di jalanan sepi nan sunyi.
"Lhah, sial!" gerutu Wildan kesal.
Langit mulai menghitam. Udara terasa kian dingin, suasana sekitar pun semakin gelap dan lengang. Sesekali terdengar suara derik jangkrik. Tengkuk Wildan mulai merinding. Bukankah surup juga merupakan waktu yang dikeramatkan.
Banyak orang bilang, waktu surup adalah saat di mana setan berkeliaran. Ada juga mitos yang mengatakan, jika bermain atau berada di luar rumah saat dan menjelang malam hari, nanti akan diculik kolong wewe. Begitu banyak mitos yang berkembang di masyarakat, dan sebagian dipercayai oleh Wildan.
Meski gerak motor terseok-seok dan sulit dikendalikan Wildan memaksa menarik gas lebih dalam. Sendirian di tempat asing nan sunyi membuatnya ketakutan. Angin semilir terasa meniup tengkuknya yang terbuka.
"Amiitt. Nuwun sewuuu," ucap Wildan sambil membunyikan klakson beberapa kali.
Sepuluh menit berikutnya, Wildan sampai di sebuah ruko dengan pintu teralis besi yang tertutup rapat. Angel dan Nilla duduk di pelataran ruko dengan senyuman yang terlihat mengejek.
"Pucet banget wajahmu," ledek Angel saat Wildan memarkir motor di hadapannya.
"Besok-besok lagi, percaya deh sama omongan orangtua jaman dulu. Kalau surup tuh diam di dalam rumah. Jangan keluyuran. Begini kan endingnya," gerutu Wildan. Dia mengusap peluh yang membasahi dahinya.
Tiba-tiba terdengar suara berderit. Pintu ruko terbuka dari dalam. Teralis besi bergesekan dengan lantai keramik menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.
Seorang laki-laki paruh baya berbadan tambun keluar dari dalam ruko. Dia hanya memakai singlet berwarna putih dan celana kolor bergambar angry birds yang nampak kedodoran.
"Laki-laki di daerah sini gemar sekali memakai singlet," gumam Angel lirih. Dia teringat dengan pemilik toko genit yang tadi sempat merayunya.
"Maaf, siapa kalian?" tanya laki-laki gemuk pemilik ruko.
"Ah, kami numpang istirahat saja kok Pak," jawab Wildan masih mengusap-usap keningnya yang berkeringat.
"Ban motor kami bocor Pak. Tambal ban terdekat dimana ya?" Wildan balik bertanya.
Laki-laki bertubuh gemuk itu tidak menjawab. Wajahnya terlihat sinis. Dia kembali masuk ke dalam rumah. Wildan bertukar pandang dengan Angel. Keduanya sama-sama bingung dengan tingkah pemilik ruko itu.
"Ruko ini nggak ada di maps," gumam Nilla memeriksa handphone nya.
"Kenapa Pak?" tanya Angel penasaran.
"Ruko ini milik paman saya. Dia sudah sepuh, hidupnya sebatang kara. Nggak punya anak istri," jawab laki-laki gemuk itu santai. Kemudian dia meminta Wildan menyingkir dari motornya.
Tak lebih dari lima belas menit ban motor sudah nampak terisi angin. Laki-laki gemuk itu tersenyum puas atas hasil kerjanya.
"Waah, terimakasih banyak Pak," ucap Wildan sumringah.
"Untung saja alat-alat untuk nambal ban masih ada disini," sahut laki-laki gemuk.
"Emm mohon maaf Pak. Pemilik ruko ini, paman Njenengan sekarang dimana?" tanya Angel penuh selidik.
"Ada di dalam. Dia kena stroke. Makanya toko tutup. Sudah ya, kalian bisa melanjutkan perjalanan," sahut laki-laki bertubuh gemuk sinis setelah memperhatikan Angel sekilas.
Nilla segera mendekati Wildan dan mencubit tangan laki-laki itu.
"Apa sih?" Wildan meringis kesakitan.
"Pura-pura numpang ke toilet sana! Cepet! Sibukkan laki-laki itu!" bisik Nilla dengan mata melotot.
"Ngapain? Aku nggak kebelet," balas Wildan ikut berbisik.
"Aku dan Angel mau meriksa pemilik ruko. Ngerti gak sih?" Nilla terus melotot. Bola matanya nampak menonjol di balik kacamata tebal. Wildan menepuk dahinya sendiri, baru sadar niat dari Nilla dan Angel.
"Emm, pak pak," pekik Wildan menghentikan langkah laki-laki gemuk.
"Ada apa lagi? Tambal bannya gratis. Gak perlu bayar," sahut laki-laki gemuk memicingkan matanya.
"Anu Pak, ini. Saya kok kebelet e. Bisa numpang toilet? Saya nggak biasa buang air sembarangan. Ingat pesan orangtua dulu. Katanya setiap tempat itu ada yang nunggu, nggak boleh sembarangan," ucap Wildan sembari menjepit kedua pahanya.
"Byuh. Ya udah masuk sana. Toilet di belakang," perintah laki-laki gemuk.
"Saya penakut Pak, apalagi di tempat baru. Minta tolong diantarkan." Wildan merengek.
"Dasar, merepotkan saja. Ayok! Cepet!" bentak laki-laki gemuk. Wajahnya cemberut tertekuk menahan rasa kesal.
Wildan mengekor di belakang laki-laki gemuk. Masuk ke dalam rumah yang sangat luas untuk ukuran pedesaan. Lantai granit yang kurang terawat, juga langit-langit ruangan dengan pernak pernik gypsum yang sebenarnya elok dipandang namun sayang penuh sarang laba-laba.
"Rumah ini besar, namun tak terawat," ucap laki-laki gemuk. Meski Wildan diam saja, sepertinya dia menyadari pikiran tamunya itu.
Melewati ruang tamu, Wildan sampai di sebuah ruang keluarga dengan TV LED cukup besar yang terpasang di dinding bercat putih kusam. Mata Wildan tertuju pada seorang laki-laki sepuh yang duduk di kursi roda menghadap TV.
Laki-laki yang terlihat renta, memandangi gambar bergerak dalam TV. Dia menoleh, menatap Wildan. Bibirnya nampak bergerak-gerak aneh namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tangan kanannya gemetar, menunjuk-nunjuk wajah Wildan.
Bersambung___
*Jangan lupa, tambahkan ke koleksimu
Novel cetak Rumah Tengah Sawah
dijamin SERRUUUU
Follow Instagram* : bung_engkus