12 Badoet

12 Badoet
Patangpuluh Nem


Aroma anyir menguar di udara. Sensasi lengket, basah nan dingin terasa mengalir di kepala bagian belakang. Cahaya bohlam berpendar terlihat buram dan bergoyang kesana kemari. Sementara suara derasnya hujan menerpa atap seng terdengar riuh ramai.


Tarji mengerjap, kesadarannya dipaksakan untuk pulih. Rasa penasaran membuat dirinya enggan untuk menyerah oleh rasa nyaman jika memilih untuk terus memejamkan mata. Nyeri di bagian belakang kepala mencoba merenggut kembali kesadaran yang susah payah diusahakan.


Dalam benak petugas kepolisian itu timbul beragam pertanyaan. Siapa yang sudah menyerangnya? Lalu apa tujuan penyerangan itu? Perampokan kah? Kini dia menyesali keputusannya untuk menemui perempuan yang dikenal dari media sosial. Seharusnya Tarji lebih waspada. Namun nyatanya, dia dibutakan oleh foto profil yang menarik dan chating yang terasa nyambung.


Saat pandangan dan kesadaran Tarji benar-benar pulih, dia akhirnya bisa mengamati ruangan tempatnya berbaring. Semacam kamar sempit dengan cat warna hijau yang mengelupas di beberapa bagian. Tarji berada di atas ranjang kayu tanpa kasur yang terasa keras. Di ujung ruangan terdapat pintu triplek yang penuh coretan cat tak beraturan.


Cairan merah yang mulai mengering menempel di pipi kiri. Saat Tarji hendak mencoba untuk bergerak, dia sadar kaki dan tangannya tengah diikat dengan sangat kuat. Sedangkan mulut dibiarkan terbuka tanpa disumpal atau diplester apapun. Tarji merasa inilah kesempatan untuk berteriak minta tolong.


Dengan susah payah, Tarji berhasil duduk bersandar pada dinding kamar. Dia mendongak dan menemukan sebuah jendela di atas kepalanya, berdekatan dengan langit-langit. Tarji menghela nafas sejenak.


"Siapa saja! Toloongg!" teriak Tarji sekuat tenaga. Dia yakin meski hujan deras, suaranya dapat terdengar dengan jelas.


"Hey! Ada orang di luar? Tolongg! Toloongg!" lanjut Tarji berteriak.


Serta merta terdengar langkah kaki mendekati ruangan tempat Tarji disekap. Terdengar suara kunci beradu dengan knop pintu di ujung ruangan. Beberapa detik berikutnya pintu pun terbuka. Cahaya lampu dari luar terlihat sangat terang, menyilaukan mata Tarji yang belum terbiasa.


Seorang laki-laki, tinggi besar berjalan mendekat. Wajahnya tertutup oleh buff masker berwarna hitam. Terkena cahaya dari luar, rambut laki-laki itu nampak putih beruban. Satu hal yang mencolok adalah cara berjalannya yang sedikit pincang.


"Berteriaklah sepuasmu. Bahkan jika pita suaramu pecah pun takkan ada yang mendengarnya," ucap laki-laki ber masker hitam.


"Kamu tahu kenapa? Karena tempat ini jauh dari rumah warga," lanjut laki-laki ber suara serak itu.


"Siapa kamu? Apa maumu?" tanya Tarji. Meski dia dalam kondisi terikat, tidak ada perasaan gentar di hati. Nyalinya sudah terasah menghadapi para penjahat selama ini.


"Aku membawamu kemari karena jam tangan ini." Laki-laki ber masker, menunjukkan arloji emas di genggaman tangannya.


Tarji terkesiap. Dia baru menyadari arloji emas kesayangannya tak ada lagi di pergelangan tangan kiri.


"Rupanya kamu mengincar arloji itu. Dasar perampok!" Tarji tersenyum sekilas. Dia menduga laki-laki di hadapannya itu mengincar arlojinya karena nampak mahal. Tarji teringat dengan kekhawatiran Adi, yang kini benar-benar menjadi kenyataan. Mempercayai orang yang dikenal dari media sosial ternyata memang membawa Tarji pada marabahaya.


"Perampok katamu? Dasar hewan tak berotak!" bentak laki-laki ber masker. Arloji emas di tangannya digenggam erat, dengan gigi gemeretak beradu menahan amarah.


Laki-laki ber masker berjalan mendekat dan langsung mendaratkan tendangan tepat di ulu hati Tarji. Kakinya yang sedikit pincang rupanya tidak mengurangi tenaga dan kelincahan. Sepertinya laki-laki itu terlatih dengan ilmu beladiri yang mumpuni.


"Upphh! Hooweekkk!" Tarji muntah seketika. Rasa pahit menyelubungi pangkal lidah. Nyeri di ulu hati tak tertahankan. Sedangkan air mata mengalir tak terbendung, membuat sklera yang awalnya berwarna putih berubah kemerahan. Tarji tertunduk. Bagian belakang kepalanya pun kembali berdenyut, nyaris saja merenggut kesadarannya sekali lagi.


"Apa kamu tidak tahu siapa aku? Beraninya melakukan seperti ini," ancam Tarji di antara nafasnya yang tersengal.


Tarji terdiam sejenak. Dia ingat, dompetnya tertinggal di dalam dasboard mobil. Kartu identitasnya ada disana. Itu berarti si penculik tidak mengenal dan mengetahui jika Tarji adalah seorang petugas kepolisian.


"Kenapa kamu tertarik dengan arloji itu jika bukan karena harganya?" Tarji mencoba mengorek informasi.


"Jawab saja pertanyaanku. Jangan balik bertanya!" bentak laki-laki ber masker hitam.


"Aku takkan sudi menjawab pertanyaanmu, jika kamu tidak memberitahu alasan kenapa tertarik pada arloji milikku itu," ucap Tarji sambil tersenyum.


"Milikmu?" laki-laki ber masker hitam melotot. Detik berikutnya sebuah tamparan melayang dengan telak menghantam pipi kiri Tarji.


Rasa panas dan nyeri menjalar di kulit pipi yang nampak tirus itu. Aroma anyir kembali menusuk. Cairan merah kental mengucur melalui lubang hidung Tarji, menetes membasahi kaos baru yang dia kenakan malam ini.


"Sudah kukatakan aku takkan menjawabnya meski harus kehilangan nyawa." Tarji menyeringai. Membuat lawan kesal juga merupakan taktik saat dirinya sudah di ambang batas. Kesadarannya mulai sulit untuk dipertahankan.


"Arloji ini bukan milikmu. Darimana kamu mendapatkannya?" tanya laki-laki ber masker kemudian.


"Bagaimana kamu yakin arloji itu bukan milikku?" Tarji balik bertanya. Laki-laki bermasker hitam mendengus kesal.


"Lambang S yang menggantikan angka 12 ini yang menjadi bukti. Tahun 91, seorang pengusaha sepatu kulit kaya raya memberikan hadiah sepatu kulit terbaiknya pada pengusaha jam tangan dari negeri tetangga. Dan tak berapa lama setelahnya arloji emas ini dikirimkan untuk sang pengusaha sepatu. S itu melambangkan huruf depan dari nama sang pengusaha sepatu kulit," jelas laki-laki bermasker hitam.


"Waahh, kamu sepertinya salah menduga boy. Jam tangan ini kuterima dari seseorang yang tidak ada hubungannya dengan sepatu kulit." Tarji terkekeh.


"Aku tahu! Jam ini direbut oleh orang lain. Sekarang, katakan padaku! Kamu dapat darimana arloji emas ini?" bentak laki-laki bermasker hitam.


Tarji diam termenung. Dia memang tak sepintar Adi. Namun kali ini dia sedikit bisa menduga siapa lawannya itu. Tarji teringat dengan cerita dan penyelidikan Adi tentang kasus perampokan tahun 91.


Adi mencurigai, salah satu pensiunan memiliki keterkaitan dengan perampokan pengusaha kaya raya bernama Sumiran. Dan kini, Tarji disekap oleh seseorang yang mencari tahu sosok pensiunan yang telah memberi Tarji arloji emas. Arloji yang ternyata kemungkinan besar milik Sang pengusaha sepatu kulit. Inisial S untuk Sumiran.


"Jawab aku sialan!" bentak laki-laki bermasker hitam hilang kesabaran. Dia menarik kerah kaos Tarji dengan kasar.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Tarji lirih. Kepalanya semakin berdenyut. Rasa nyeri hebat yang tak tertahankan, seolah mencengkeram bagian belakang kepalanya. Menggerogoti kesadaran yang kian lama semakin memudar.


"Hey! Jangan pingsan dulu! Jawab pertanyaanku! Darimana kamu dapatkan arloji ini!" Laki-laki ber masker hitam mengguncang-guncangkan tubuh Tarji. Namun percuma, petugas polisi itu terlanjur memejamkan mata, menyerah dengan rasa sakit yang dirasa.


Bersambung___