12 Badoet

12 Badoet
Nemlikur


Langkah kaki mengendap-endap. Gerakannya yang lincah dengan tumit yang mungil begitu senyap nyaris tanpa suara. Dua tamu tak diundang itu masuk ruang depan dan terus melangkah sembari mengedarkan pandangannya yang nyalang bagai mata burung elang.


Pada akhirnya langkah itu berhenti di belakang seorang laki-laki tua yang duduk di kursi roda. Suara TV terdengar kencang, menampilkan acara komedi yang terkadang terasa garing. Tak ada suara tawa, laki-laki di kursi roda nampak hanya memandangi layar TV tanpa ekspresi.


Angel mendekat terlebih dahulu. Dia berdiri di hadapan sang pemilik rumah. Mereka beradu pandang dalam diam. Angel mengamati lengan kanan keriput, bagai tulang yang terbalut kulit tua semata.


Laki-laki di kursi roda itu berambut putih, dengan lingkar kebotakan di bagian ubun-ubunnya. Wajahnya cekung, dengan tulang pipi yang menonjol. Tubuhnya nampak gemetar. Mulutnya terlihat bergerak hendak berbicara, namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokan.


Satu hal yang membuat Angel tak bisa memalingkan pandangannya. Di bagian lengan kanan laki-laki tua itu terdapat sebuah gambar. Meski samar, namun masih cukup terlihat jelas sebuah tattoo berwarna hijau. Gambar kalajengking yang meliuk, mengikuti kulit tua yang menggelambir.


Angel menoleh pada Nilla yang masih berdiri terpaku dan menunggu. Dia mengangguk memberi tanda pada Nilla, bahwa laki-laki tak berdaya ini lah yang mereka cari. Tidak salah lagi, dari gambar di lengan kanannya, dan usia yang sesuai, laki-laki itulah Badut nomor 5.


"Mungkin kamu tidak mengenalku Pak Tua. Tapi aku mengenalmu dengan jelas. Kamu adalah Badut nomor 5, salah satu pelaku kejahatan di tahun 91," ucap Angel dengan tatapannya yang tajam.


Laki-laki di kursi roda itu menggeliat dengan matanya yang melotot. Hanya sebelah tangannya saja yang bisa digerakkan, mencoba meraih kerah jaket Angel.


"Melihatmu seperti ini sebenarnya aku pun prihatin. Tuhan memang adil. Meskipun bergelimang harta rampasan, nyatanya masa tua mu tak bahagia. Bahkan bergerak pun tak bisa." Angel tersenyum sinis.


"Mungkin kamu bertanya-tanya dalam hatimu, jika memang masih punya hati. Siapa kami, kenapa kami datang mengunjungimu dan mengenalimu sebagai sosok penjah*t," sambung Nilla, berdiri di samping Angel. Dua perempuan itu tersenyum sinis pada Sang Badut Nomor 5.


"Pak Tua, dengarkan ini baik-baik. Badut nomor 2 telah tew*s gantung diri. Dihantui rasa bersalah, dia memilih mengakhiri hidup. Sebenarnya tujuan kami kemari untuk menanyakan tentang surat wasiat yang dituliskan badut nomor 2. Sayangnya, tubuh sepuhmu tak mampu untuk berbicara," lanjut Angel.


"Perjalanan jauh kami memang terasa sia-sia, karena tak bisa mendapat informasi apapun darimu. Tapi melihat kondisimu yang seperti ini, aku cukup puas. Nyatanya takdir menghukummu dengan cara yang tak terduga. Tetaplah hidup, kudoakan umurmu panjang untuk menikmati segala penderitaan," sambung Nilla terkekeh.


Terdengar langkah kaki mendekat. Wildan dan laki-laki gemuk sudah kembali dari kamar mandi.


"Kalian sedang apa disini?" bentak laki-laki gemuk kala melihat Angel dan Nilla tersenyum-senyum di hadapan pamannya yang lumpuh.


"Tenang om, kami hanya ingin menyapa," sahut Angel santai.


"Masuk rumah orang seenaknya sendiri. Jangan-jangan kalian itu komplotan peramp*k!" hardik laki-laki gemuk dengan mata melotot.


"Waahh, anda salah om. Kalau soal perampasan hak milik orang lain, paman njenengan inilah yang paling berpengalaman. Jangan membicarakan perampokan di hadapan pelakunya sendiri," jawab Angel menatap sinis pada laki-laki di kursi roda.


"Hah? Apa maksudmu? Sudah nggak waras kamu?" laki-laki gemuk berteriak geram.


Tiba-tiba laki-laki di kursi roda menggeram. Dia berusaha berteriak dengan wajah merah padam. Mulutnya komat kamit, dengan tangan yang gemetar menunjuk-nunjuk para tamu tak diundang.


"Kelihatannya pamanku merasa terganggu. Kalau sudah tidak ada kepentingan silahkan keluar dari rumah ini!" sekali lagi pria gemuk membentak.


"Maafkan kami Pak. Terimakasih sudah membantu," ucap Wildan berusaha menenangkan.


"Selamat tinggal badut nomor 5. Semoga suatu saat nanti kamu berkumpul dengan badut lain di neraka," bisik Angel lirih, sembari menepuk-nepuk bahu sang tuan rumah dengan lembut.


Laki-laki di kursi roda menggeliat-menggeliat liar. Masih dengan tangan gemetar, dia berusaha menunjuk-nunjuk tamunya yang berjalan keluar rumah.


"Itu tadi badut nomor 5? Tato kalajengking?" tanya Wildan sesudah berada di atas motornya.


"Iya. Teman Bapakmu. Perampok rumah Bapakku," jawab Nilla. Kini dia kembali duduk dibonceng Wildan.


"Apa yang kalian lakukan padanya tadi?" tanya Wildan sekali lagi.


"Hanya say hello, dan mendoakan dia awet menderita," sahut Angel. Dia tersenyum puas.


"Apa kalian tidak merasa iba dengan kondisi yang demikian itu? Tubuh renta dan berpenyakit." Wildan menghela nafas. Wildan memang perasa, begitu lembut hatinya. Mudah trenyuh gampang tersentuh.


"Aku tak tahu kamu dibesarkan dengan cara seperti apa. Tapi menurutku kamu benar-benar lembek Wildan. Kamu memiliki empati pada seorang penjahat. Tapi kurang bisa mengerti perasaanku sebagai korban sesungguhnya dari peristiwa 91," sambung Nilla. Suaranya terdengar sedikit bergetar.


"Yang kamu lihat hanyalah masa sekarang. Tapi kamu melupakan tahun-tahun pahit kehidupanku," lanjut Nilla.


"Karma akan selalu berlaku. Dunia ini berputar secara berulang. Siang dan malam bergantian. Hari ini kamu tanam kejahatan, maka esok hari kejahatan itu akan menjerat dirimu sendiri," sahut Angel. Wildan kali ini terdiam, tak berkutik. Kata-kata dua gadis itu meresap di hati Wildan.


Dendam memang menakutkan. Bagai bara api di bawah tumpukan kayu kering. Secara perlahan akan membakar dan melahap hati manusia. Lalu, apa yang tersisa setelah dendam terbalaskan? Tidak ada. Hanya ada arang dan abu, hati yang menghitam, meranggas, dan kehilangan cinta.


...****************...


Jam delapan malam, laki-laki bertubuh gemuk pamit keluar pada pamannya. Malam ini dia memang ada janji dengan seseorang di kota. Pamannya hanya diam saja, nampak melamun setelah kedatangan orang-orang asing beberapa saat yang lalu. Ada sedikit penyesalan di hati laki-laki gemuk kenapa tadi dia membiarkan dua gadis dan satu laki-laki asing itu masuk ke dalam rumah.


Setelah menutup pagar teralis, laki-laki gemuk berkendara menuju kota. Dengan motor bebek yang nampak kotor penuh lumpur, dia membelah udara dinginnya malam. Tanpa disadari, ada seseorang yang tengah mengawasi rumahnya dari kejauhan.


Setelah kepergian laki-laki gemuk, sosok yang sedari tadi bersembunyi di balik kegelapan akhirnya keluar. Sosok itu berbadan tegap, berjalan dengan gagahnya. Selepas mencongkel kunci gembok, dia membuka pagar teralis dan masuk ke dalam rumah.


Tanpa di sadari oleh pemilik rumah, sosok asing berdiri mematung di belakangnya. Memperhatikan dan mengamati beberapa saat dalam diam. Kemudian dengan sebuah senyuman di bibirnya yang menghitam sosok itu berjongkok di depan sang tuan rumah.


"Halloo Pak Trisno. Njenengan adalah Trisno, sang badut nomor 5. Hidup bergelimang harta, tapi tak ada guna karena sakit yang diderita. Aku datang untuk membebaskanmu dari penderitaan," ucap sosok asing itu mengeluarkan sebuah jarum suntik yang sudah berisi semacam cairan. Dengan gerakan tiba-tiba dia menyuntikkan cairan ke paha Tuan rumah yang tak berdaya.


"Tenang saja, itu hanya natrium bikarbonat Pak Trisno." Sosok asing itu terkekeh dan menyeringai lebar.


Bersambung___


Dan lagi, update tersendat. kali ini keluarga di rumah pada tumbang. si bocil panas, begitupun nyonya pemegang kunci kamar kurang fit. alhasil dua hari belum sempat nulis. semoga pembaca yang baik hati masih bersedia menunggu 12 Badoet.


Avatar Aang pengendali kayu. Teeenggg Kiyuuu