
Bulan Januari Tahun 1992
Siang yang terik. Meski udara semilir terasa cukup sejuk menerpa kulit yang terbungkus kain katun, nyatanya sang matahari begitu menyengat dan mencipta gerah yang tak tertahankan. Pohon trembesi menjadi tempat yang teduh dan nyaman untuk mencari kesejukan.
Santoso menyingsingkan lengan kemejanya. Berusaha mengusir rasa gerah dengan sebotol air putih yang dia bawa dari rumah. Sepeda jengkinya bersandar di pohon trembesi yang tumbuh tinggi besar di sebelahnya.
Di seberang jalan nampak bangunan sederhana dengan papan kayu bertuliskan Panti Asuhan milik pemerintah kabupaten. Banyak anak kecil berlari-lari dengan suara tawa yang bergema di halaman panti yang rindang. Mereka terlihat bahagia meski tidak memiliki keluarga yang utuh.
Santoso menggigiti kuku jarinya sendiri. Setelah ikut dalam perampokan di rumah Sumiran, majikannya sendiri beberapa minggu yang lalu, hidupnya tidak tenang. Dia kesulitan untuk tidur di malam hari karena teringat wajah majikannya kala meregang nyawa.
Orangtua Santoso sakit parah, membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk pengobatan. Kemudian datanglah Umar, yang mengajak Santoso untuk menjarah rumah majikannya sendiri. Sebagai penjaga rumah kepercayaan Sumiran, Santoso ditugaskan untuk menyelidiki dimana saja Sumiran menyimpan kekayaannya.
Tergiur dengan ajakan Umar, apalagi dia berjanji bahwa identitas para perampok akan aman selama semua orang bergerak sesuai rencana, akhirnya Santoso pun bersedia ikut andil. Sayangnya, rencana tidak berjalan baik. Sumiran tewas. Santoso kehilangan majikan. Dan yang lebih membuatnya terpukul, uang hasil rampasan tak mampu menyelematkan nyawa orangtuanya.
Berjarak satu minggu setelah perampokan, orangtua Santoso menghembuskan nafas terakhir. Santoso sangat terpukul. Apalagi orang-orang yang dia anggap teman, para gerombolan Badut itu tak satupun yang muncul di pemakaman orangtuanya. Padahal seringkali mereka berucap satu sama lain bersaudara. Namun, saudara macam apa saat Santoso ditimpa kemalangan tak satupun yang hadir meski hanya sekedar mengucapkan bela sungkawa?
Kini, Santoso merasa memiliki kesempatan untuk menebus dosa. Anak dari Sumiran dititipkan pada panti yang ada di seberang jalan. Santoso berniat untuk merawat dan memberinya kehidupan yang lebih baik.
Lamunan Santoso buyar, ketika dia melihat seorang laki-laki berbadan tegap keluar dari panti. Laki-laki berambut klimis dengan arloji emas melingkar di tangan kiri. Setengah berlari Santoso menghampirinya.
"Hey, sedang apa kamu disini nomor 7?" tanya Arloji emas dengan sebuah senyuman terkembang di antara kumis yang tipis tercukur rapi.
"Aku yang seharusnya bertanya. Sedang apa anda ada disini?" Santoso balik bertanya. Dia sangat tidak suka pada orang yang ada di hadapannya itu. Seorang petugas, namun malah membantu tindak kejahatan. Santoso kehilangan rasa hormatnya.
"Yahh, aku mengunjungi bocah itu. Membawakannya makanan, juga beberapa baju baru. Kamu sendiri mau apa?" Arloji emas tersenyum lebar. Tubuhnya yang tinggi besar menghalangi cahaya matahari yang menyilaukan. Mencipta bayang-bayang gelap yang menutupi tubuh Santoso.
"Aku mau menjemputnya," ucap Santoso singkat.
"Apa maksudmu?" Arloji emas nampak terkejut.
"Aku akan mengurus dan membesarkannya Pak," jawab Santoso. Dia hendak melangkah, meninggalkan Arloji Emas. Namun petugas kepolisian itu langsung mencengkeram lengan Santoso.
"Jangan bertindak konyol. Bocah itu harus tetap disini," ucap Arloji emas. Tatapannya tajam, menebar ancaman.
"Kenapa? Aku hanya ingin anak itu mendapatkan kasih sayang dari orang yang dikenalnya. Dia masih sangat kecil. Hanya aku yang dikenalinya kini," ucap Santoso dengan suara yang bergetar.
"Panti ini dikelola oleh istriku. Meskipun bocah itu masih sangat belia, tapi dia merupakan saksi kunci. Bisa berbahaya jika dia mengingat kejadian kemarin. Tak perlu merasa bersalah dan mencoba melakukan penebusan dosa. Cukup jalani hidupmu, nikmati apa yang kamu miliki. Biarkan semua ini seolah tak pernah terjadi," bisik Arloji emas. Garis rahangnya yang kotak nampak tegas dan mengintimidasi.
Entah apa yang sebenarnya sudah terjadi. Kenapa sampai seorang petugas dengan karir yang cemerlang harus ikut andil untuk membungkam Sumiran hingga ke garis keturunannya. Santoso benar-benar merasa terjebak pada sebuah konspirasi besar yang menakutkan.
Santoso menjatuhkan tubuhnya. Kini dia berlutut di hadapan Arloji emas. Santoso menangis, memegang kaki laki-laki berwajah penuh wibawa namun aura nya menakutkan itu.
"Apa maumu? Berdirilah!" bentak Arloji emas.
"Aku mohon padamu Pak. Ijinkan aku untuk merawat anak itu," pinta Santoso sambil menangis. Dia sadar tidak memiliki kemampuan dan kuasa apapun kecuali berlutut dan memohon.
"Sialan! Berdirilah! Jangan sampai ada yang melihat tingkahmu seperti ini!" Arloji emas terlihat panik. Menoleh kanan dan kiri, khawatir ada yang melihat mereka.
"Sungguh aku hanya ingin mengasuhnya. Aku ingin memberikannya kasih sayang dan pendidikan yang layak, sehingga kelak dia jadi orang yang sukses. Setiap anak memiliki takdirnya Pak. Jangan sampai kita merenggut tunas-tunas itu." Santoso terus mengiba.
"Kasihan Pak jika anak itu tetap berada di tempat ini. Aku sungguh mengenalnya. Dia tidak suka keramaian. Aku berjanji, akan membawanya pergi jauh dari wilayah ini. Aku bersumpah tidak akan menunjukkan batang hidungku di hadapanmu lagi," lanjut Santoso. Air matanya tumpah tak terbendung.
Arloji emas terdiam. Seburuk-buruknya manusia, masih tetap ada organ hati yang memiliki nurani. Melihat rekannya yang memohon seperti itu, arloji emas melunak. Kemudian dia berjongkok di hadapan Santoso.
"Besarkan dia selayaknya putramu sendiri. Buat lupa siapa dia sebenarnya. Buat dia melupakan bahwa Bapaknya adalah Sumiran. Itu tugasmu, sekaligus penebusanmu," bisik Arloji Emas. Aura laki-laki itu memang berbeda. Terasa mencengkeram dan membuat Santoso begidik ngeri.
"Iya. Aku berjanji," ucap Santoso dengan bibir gemetar.
"Kuantarkan kamu ke dalam. Jemput bocah itu," perintah Arloji Emas berdiri kembali. Kemudian berbalik badan dan berjalan mendahului. Santoso pun mengekor di belakangnya. Mengusap air mata dan ingusnya di pipi.
Santoso masuk ke panti yang ternyata bagian dalamnya cukup luas dan nyaman. Ada beberapa mainan anak-anak di bagian teras. Congklak, karambol, gasing dan juga puzzle yang terbuat dari kayu.
Santoso terus berjalan, mengekor Arloji Emas. Hingga sampai di sebuah kamar yang berada di area belakang. Perlahan kaki Santoso memasuki kamar itu.
Kamar yang tak terlalu luas, dengan pencahayaan yang temaram. Sebuah dipan dari besi ber cat warna biru berada di sudut kamar. Sedangkan meja belajar berada di sudut lain.
Seorang perempuan paruh baya terlihat tengah membujuk bocah balita laki-laki untuk makan. Bocah itu terlihat tampan, berkulit bersih dengan rambutnya yang lurus lepek. Namun tatapannya nampak kosong. Hingga akhirnya dia melihat kedatangan Santoso, wajahnya berubah berbinar.
"Om Antoso," pekik bocah berusia 5 tahun itu.
"Den Angga," ucap Santoso seraya menghambur ke arah anak majikannya. Mereka berpelukan dan menangis. Tangisan yang terasa berbeda. Bagi Santoso, dia tengah merasa sedih, pilu dan merasa bersalah pada Angga. Sedangkan bagi Angga, dia bahagia bertemu dengan orang yang dikenalinya.
Bersambung___