
Hari berganti, pagi datang seharusnya membawa semangat baru. Namun, laki-laki berambut cepak itu nampak tak bergairah dan kurang sehat. Kelopak matanya menghitam dengan pupil yang terlihat penuh bercak kemerahan. Ada rasa kantuk yang tertahan, namun otaknya terus bekerja hingga membuatnya terjaga sepanjang malam.
Wildan menguap lebar, menghembuskan nafasnya yang sudah pasti beraroma jus jengkol mix pare mentah. Setelah pulang dari rumah Ki Sarno dia tak bisa memejamkan mata. Dalam benaknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang belum ada jawabannya.
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh. Wildan enggan keluar dari kasur lantai lusuh di depan televisi. Dia malah meraih handphone yang tergeletak di atas kepalanya. Asyik berselancar di dunia maya hingga melupakan rasa kantuknya.
Mata yang lelah itu mendadak terbuka lebar kala menemukan sebuah artikel berita kriminal yang diupdate jam 11 tadi malam. Bukan hal yang mengherankan sebenarnya. Jaman sekarang penulis berita bisa update setiap jam, seolah tak ada waktu untuk istirahat ataupun tidur barang sekejap.
Sebuah artikel yang membuat tenggorokan Wildan terasa kering. Matanya tak bisa berpaling dari tulisan yang tercetak tebal. Ki Sarno Legowo Sang dukun kondang, menjadi korban penyerangan misterius. Kakek kaya raya itu tewas dengan kepala yang terlepas dari badan. Tidak ada harta benda yang hilang. Satu-satunya saksi adalah penjaga rumahnya yang saat ini dalam kondisi kritis.
Wildan segera keluar dari selimutnya dan berlari menuju kamar depan. Dengan gusar dan tergesa-gesa, Wildan menggedor pintu kamar Nilla dan Angel. Selang beberapa detik saja, Angel membuka pintu kamar dengan kasar. Perempuan itu tetap terlihat cantik mengenakan piyama abu-abu meski rambutnya semrawut.
"Jam berapa ini brengsek!" Angel membentak. Emosinya mudah sekali meledak.
Nilla menyusul, berjalan gontai di belakang Angel. Dia mengenakan piyama transparan yang memamerkan ********** yang berwarna gelap. Nilla memeluk boneka berbentuk beruang besar berwarna merah maroon.
"Lihat ini!" Wildan menunjukkan artikel di layar handphone nya. Angel dan Nilla membacanya sekilas. Nilla tanpa kacamata nampak kesulitan melihat huruf-huruf yang terpampang di layar android itu.
"Baguslah. Itu artinya hukum karma berlaku di dunia ini. Kematian yang layak didapatkan," ucap Angel santai.
"Kalian sudah gila! Ini bukan lagi hukum karma atau kebetulan semata. Para Badut yang baru kita temukan, baru kita kunjungi, semuanya tewas dengan mengenaskan. Siapa pelakunya? Komplotan kalian kah?" tanya Wildan berapi-api.
"Jaga mulutmu! Bukankah sudah jelas yang menghabisi Anwar si nomor 6 adalah nomor 8 atau arloji emas. Kamu lihat sendiri kan waktu itu? Jadi besar kemungkinan, arloji emas memang berniat menghabisi semua rekan-rekan Badut nya," bantah Angel tak kalah garang.
"Itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kematian demi kematian selalu datang setelah kita berkunjung? Di kejadian Pak Anwar, memang arloji emas pelakunya. Tapi untuk Trisno dan Ki Sarno, aku yakin bukan arloji emas. Karena sang pembunuh kemungkinan besar bergerak dalam waktu yang sama dengan kita. Artinya, dia membuntuti kita atau dia sudah tahu tujuan kita. Tidak bisa dipungkiri kecurigaanku mengarah pada orang yang memberi kalian informasi identitas dan lokasi para Badut. Siapa dia? Jawab aku!" Wildan benar-benar meledak kali ini. Dia merasa dimanfaatkan dan dijebak.
"Kamu tak perlu tahu Wildan!" bentak Angel dengan bola mata membulat. Sedangkan Nilla mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia hanya mampu memperhatikan perdebatan dua rekannya itu.
"Kupikir otakmu mulai bisa bekerja dan berpikir. Ternyata kamu tidak se tol*l yang kukira. Namun satu hal yang perlu kamu camkan di benakmu, baik aku, Nilla atau siapapun yang ada di balik kami, tidak memiliki rencana untuk melakukan penghakiman. Para Badut tewas oleh tangan orang lain!" lanjut Angel dengan nafasnya yang mulai tersengal menahan emosi.
"Lalu apa tujuan kalian sebenarnya? Untuk apa menemui para Badut? Hanya sekedar memastikan mereka hidup dalam penyesalan? Begitukah?" desak Wildan.
"This isn't your business!" Angel melangkah maju, mendekatkan wajahnya di hadapan Wildan. Kini mereka bisa saling merasakan hembusan nafas masing-masing.
"Kamu terlalu banyak bertanya J*nc*k!" Angel mengumpat dengan wajah merah padam.
"Bukankah sudah kukatakan, kalau kamu masih ingin bergerak bersama kami jangan banyak omong. Tutup mulutmu dan jadikan dirimu berguna," ucap Angel dengan suaranya yang bergetar.
"Oke kalau begitu. Aku keluar! Lebih baik aku ditangkap polisi meski tidak bersalah daripada harus berkomplot dengan para pembun*h," sahut Wildan setelah menghela nafas.
"Pergilah! Dan selamat hidup dalam pelarian, sendirian!" Angel menyeringai.
"Hei, tak bisakah ini dibicarakan lagi? Kalian sama-sama tengah emosi," sela Nilla dengan wajah penuh kekhawatiran. Jujur saja, dia tak ingin Wildan pergi.
"Diamlah. Ini keputusannya sendiri," bantah Angel.
Wildan bergegas memungut ranselnya yang tergeletak di sudut ruang televisi. Dia berjalan keluar tanpa menoleh pada Angel dan Nilla. Udara subuh yang dingin tak mampu memadamkan api kemarahan di hatinya.
"Ngel, kita butuh dia," ucap Nilla saat Wildan melangkah keluar.
"Untuk apa? Toh kita sudah tahu isi surat wasiat dari Badut nomor 2. Kita bisa mencari tempat disimpannya harta rampasan itu berdua saja," jawab Angel sembari membanting pintu depan sekuat tenaga.
Sementara itu, Wildan terus melangkah menyusuri jalanan perkotaan yang masih lengang. Di waktu subuh, dengan udara dingin yang menyayat kulit memang membuat orang-orang enggan untuk keluar dari selimut tebalnya.
Wildan berhenti di depan emperan swalayan yang buka 24 jam. Dia melirik layar handphone nya. Jam 5.15 pagi. Wildan duduk di kursi besi yang tersedia di teras swalayan.
Beberapa saat memandangi handphone nya, Wildan memilih mengetik deretan angka dan melakukan sebuah panggilan. Dia berusaha menghubungi Ika, sang mantan. Entah bagaimana saat dirinya sendirian dan gundah, Ika lah yang teringat di benaknya.
Panggilan telepon diterima. Terdengar suara Ika yang terasa merdu menyapa telinga Wildan. Namun pada akhirnya, Wildan mematikan panggilannya. Dia memutuskan tak mengucapkan sepatah katapun.
Wildan merasa berdosa jika harus merepotkan Ika di saat terpuruk seperti sekarang. Lagipula Ika sudah bersuami. Bagi Wildan, seburuk-buruknya laki-laki adalah yang tega merusak pagar ayu rumah tangga orang lain.
Wildan menghela nafas. Mendongak, menatap langit-langit emperan swalayan yang ber cat merah dan kuning. Tanpa disadari rasa kantuk menyerangnya kini. Udara dingin dan angin semilir sepoi-sepoi yang menyegarkan, membuat mata laki-laki itu mulai terpejam. Dan Wildan pun tertidur dalam kondisi terduduk di kursi besi.
Bersambung___